NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Aroma Kopi dan Pertemuan yang Salah

Oke, mari kita geser latarnya ke tempat yang lebih tidak terduga dan jauh dari kesan formal kampus. Kita gunakan sifat clumsy Aisya di tempat umum yang membuat mereka bertemu kembali secara kebetulan.

​Sudah tiga minggu Aisya menetap di Toronto. Paman Hamdan mulai mengajarinya cara menggunakan transportasi umum agar ia mandiri sebelum perkuliahan dimulai. Hari itu, salju tipis mulai turun, dan Aisya memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe kecil yang tenang di sudut Downtown untuk menghangatkan diri.

​Kafe itu bernama The Noir Hearth. Aisya tidak menyadari bahwa nama "Noir" di sana bukan sekadar hiasan, melainkan salah satu bisnis sampingan milik keluarga Cassian.

​Aisya memesan sebuah hot chocolate. Saat hendak membawa minumannya ke meja di pojok ruangan, sifat cerobohnya kembali beraksi. Seseorang yang terburu-buru keluar dari pintu masuk menyenggol bahu Aisya.

​"A-ah!"

​Aisya kehilangan keseimbangan. Cangkir di tangannya miring, dan cokelat panas yang masih mengepul itu tumpah dengan sukses ke arah depan. Namun, tumpahan itu tidak mendarat di lantai, melainkan tepat di atas berkas-berkas dokumen tebal yang tergeletak di atas meja bundar di depannya.

​Seorang pria yang sedang duduk di meja itu membeku.

​Aisya mematung, matanya yang hitam pekat membelalak ngeri melihat cairan cokelat meresap ke dalam kertas-kertas putih yang tampak sangat penting itu. Ia segera meletakkan cangkirnya dan mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dengan panik.

​"Maaf! Saya benar-benar minta maaf! Saya tidak sengaja, Tuan!" Aisya mulai mengelap dokumen itu dengan gerakan terburu-buru, yang justru membuat noda cokelatnya semakin melebar.

​"Hentikan. Kau hanya memperburuknya."

​Suara itu rendah, dingin, dan sangat familiar.

​Aisya tersentak. Ia perlahan mendongak dan langsung berhadapan dengan sepasang mata biru abu-abu yang sedang menatapnya dengan tajam. Cassian Noir. Pria itu sedang duduk di sana dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual sekaligus berbahaya.

​"T-Tuan Noir?" suara Aisya mencicit. "A-astagfirullah, ini Anda lagi?"

​Cassian melepaskan kacamatanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kayu mahoni tersebut. Ia menatap dokumen kontrak bernilai jutaan dolar yang kini beraroma cokelat manis.

​"Sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menghancurkan hariku, Aisya," ujar Cassian datar. Namun, jika Aisya memperhatikan lebih teliti, ada kilatan ketertarikan di balik tatapan dinginnya.

​"Saya akan menggantinya... maksud saya, saya akan membantu mengeringkannya," ujar Aisya merasa sangat bersalah.

​"Menggantinya? Kontrak ini membutuhkan tanda tangan basah dari tiga negara berbeda yang baru saja selesai kukumpulkan," Cassian melipat tangannya di dada. "Sapu tangan kecilmu tidak akan bisa mengembalikan dokumen ini."

​Aisya menunduk dalam, merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. "Lalu... apa yang harus saya lakukan, Tuan? Saya benar-benar tidak sengaja."

​Cassian terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana gadis berniqab itu tampak begitu kecil dan rapuh di bawah tatapannya. Ia menutup map dokumennya yang basah, lalu berdiri. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Aisya harus mendongak.

​"Siapa nama pamanmu?" tanya Cassian tiba-tiba.

​"Paman Hamdan, Tuan. Kenapa?"

​"Berikan nomor teleponnya padaku," jawab Cassian singkat sambil menyodorkan ponsel pintarnya yang mahal ke arah Aisya.

​Aisya ragu. "Untuk apa, Tuan?"

​"Gadis ceroboh sepertimu tidak boleh dibiarkan berkeliaran sendiri di Toronto tanpa pengawasan. Karena kau sudah merusak dokumenku, pamanmu harus tahu bahwa keponakannya sekarang memiliki hutang padaku."

​Cassian menatap mata hitam Aisya dengan intens. "Dan aku selalu menagih hutangku, Aisya. Cepat tulis nomornya, atau aku akan melaporkan kejadian 'perusakan dokumen' ini ke pihak keamanan kafe."

​Aisya, yang merasa terpojok dan tidak punya pilihan, akhirnya menuliskan nomor telepon pamannya dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu bahwa ini adalah cara licik Cassian untuk memastikan gadis mata hitam itu tidak akan bisa lari darinya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!