NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAWARAN SEKOLAH BARU

Suara Samudera yang rendah namun sarat akan penekanan membuat Ibu Yeni di seberang layar tampak menelan ludah dengan susah payah. Wajah guru itu memucat seketika, menyadari bahwa pria di hadapannya bukanlah orang sembarangan yang bisa ia sepelekan.

​"Ma–maaf, Pak Samudera... maksud saya bukan begitu. Saya hanya ingin menegakkan kedisiplinan—"

​"Kedisiplinan?" Samudera memotong kalimat itu dengan tawa hambar yang terdengar dingin dan mengerikan. Ia menegakkan tubuhnya, menatap kamera laptop dengan dagu terangkat, memancarkan dominasi yang mutlak.

​"Merendahkan mental seorang anak berusia empat tahun di depan teman-temannya karena status keluarga bukanlah kedisiplinan, Ibu Yeni. Itu adalah diskriminasi, intimidasi, dan tindakan yang sangat tidak terpuji dari seseorang yang menyebut dirinya seorang pendidik," cecar Samudera, setiap katanya terucap dengan artikulasi yang tajam dan menuntut.

​Alana yang berdiri tidak jauh di belakang mereka hanya bisa menahan napas. Ia tahu betul seberapa kejamnya Samudera jika sudah terusik, dan kali ini, singa itu mengamuk karena anaknya sendiri yang dilukai.

​"Perlu Anda ketahui," lanjut Samudera, suaranya naik satu oktav, membuat atmosfer di ruang tamu itu semakin mencekam. "Hari ini juga, saya sendiri yang akan mengirimkan laporan resmi beserta bukti rekaman kelas ini kepada kepala lembaga dan jajaran direksi institusi tempat Anda mengajar. Saya pastikan mereka tahu kualitas tenaga pengajar yang mereka pekerjakan."

​Ibu Yeni mulai panik. Tangannya gemetar di depan kamera. "Pak, tolong jangan diperpanjang... saya minta maaf, saya benar-benar tidak bermaksud—"

​"Sudah terlambat untuk meminta maaf," potong Samudera tanpa ampun. Sepasang matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Dan saya tidak akan berhenti sampai di laporan lembaga saja. Mengingat koneksi dan pengaruh yang saya miliki di dunia pendidikan dan hukum, saya secara pribadi akan memastikan nama Anda masuk dalam daftar hitam. Anda tidak akan pernah bisa mengajar di institusi mana pun di negara ini, baik online maupun offline."

​Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal. Alana tahu Samudera memiliki kekuatan untuk mewujudkannya dalam sekejap mata. Ibu Yeni di layar laptop kini tampak berkaca-kaca, seluruh keangkuhannya runtuh total digantikan ketakutan akan masa depannya yang hancur.

​Samudera tidak sudi mendengarkan pembelaan lebih lanjut. Dengan gerakan tegas, jemarinya bergerak di atas touchpad laptop dan langsung memutuskan sambungan kelas online tersebut. Klik. Layar seketika menggelap.

​"Arka, lihat Papa," bisik Samudera, meraih kedua tangan mungil Arka yang masih gemetar. "Jangan dengarkan kata-kata orang itu tadi, ya? Arka punya Papa. Papa ada di sini, dan Papa tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Arka lagi."

Setelah menenangkan Arkana dan memberikan bocah itu mainan legonya kembali, Samudera berdiri tegak. Ia menoleh ke arah Alana, lalu memberikan isyarat halus dengan anggukan kepala menuju ke arah dapur—sebuah kode bahwa ada hal serius yang harus mereka bicarakan berdua tanpa terdengar oleh sang putra.

​Alana yang paham maksud tatapan itu segera melangkah mengekor di belakang Samudera. Begitu mereka sampai di area dapur yang agak tertutup, Samudera berbalik, menyandarkan pinggulnya pada tepian konter dapur sambil melipat kedua tangannya di dada. Sisa ketegangan dari amarahnya tadi masih membekas di rahangnya yang kokoh.

​"Kita tidak bisa membiarkan Arkana sekolah di tempat seperti itu lagi, Alana," buka Samudera langsung pada intinya. Suaranya rendah, hampir berupa bisikan, namun sarat akan ketegasan yang tidak menerima penolakan.

​Alana menghela napas, bersedekap. "Aku tahu apa yang terjadi tadi keterlaluan, Samudera. Tapi mencari sekolah baru tidak semudah itu, apalagi di pertengahan semester seperti ini."

​"Aku sudah punya solusinya," potong Samudera cepat. Ia menatap Alana lurus-lurus. "Pindahkan Arka ke intercultural school elite yang berada di dekat kawasan tempat tinggal atau kantorku. Fasilitas mereka nomor satu, kurikulumnya internasional, dan yang paling penting: para pengajarnya disaring dengan sangat ketat. Tidak akan ada ruang untuk guru bermental picik seperti wanita tadi."

​Mendengar hal itu, Alana tertegun. Jantungnya berdesir hebat. Sekolah elite di kawasan elite tempat Samudera tinggal? Itu artinya biaya sekolahnya pasti selangit, belum lagi lingkungan sosialnya yang pasti jauh berbeda dengan kehidupan kesederhanaan mereka selama ini.

​"Samudera, sekolah di sana pasti sangat mahal. Aku tidak—"

​"Aku ayahnya, Alana," potong Samudera lagi, kali ini dengan nada yang melembut namun mengunci kalimat Alana. Ia melangkah satu ketukan lebih dekat. "Soal biaya, fasilitas, jemputan, semuanya adalah tanggung jawabku. Kamu tidak perlu memikirkan digit angka itu sedikit pun. Ini bukan soal gengsi, tapi soal mental dan masa depan Arkana. Dia berhak mendapatkan lingkungan terbaik dan teraman."

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!