Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Warisan
Malam mulai turun ketika latihan ekstrakurikuler selesai..Pak Darto mengusap keringat di lehernya sambil meneguk minuman yang diberikan Maya tadi. Pria itu tampak puas setelah latihan. Sementara Maya berdiri tidak jauh dari sana dengan ekspresi santai.
“Terima kasih ya, Maya,” ujar Pak Darto.
“Sama-sama, Pak.”
Maya tersenyum kecil. Di dalam pikirannya, dia menghitung.
Belum sekarang. Sambudi sudah menjelaskan bahwa cairan itu tidak bekerja seperti sihir. Efeknya perlu waktu dan penggunaan berulang. Apalagi Maya sengaja memberikan dosis sangat kecil agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Kalau Pak Darto tiba-tiba tumbang hari ini, polisi bahkan anak TK pun akan curiga. Priska selalu menyukai cara yang rapi.
Maya memperhatikan Pak Darto berjalan menjauh sambil terus minum. Lalu ia mengambil tas dan pulang.
Sementara itu di rumah besar keluarga Maya, suasana jauh berbeda. Norma baru saja menutup pintu ruang kerja setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar.
Jamie duduk di sofa dengan wajah kesal. “Aku capek,” gerutunya.
Norma ikut duduk sambil memijat pelipis. “Aku juga.”
Sejak pengacara Sandi datang kemarin, hidup mereka benar-benar jungkir balik. Awalnya Norma mengira semua warisan sudah aman.
Rumah, tabungan, dan investasi. Pokoknya semuanya. Bukankah dulu Sandi pernah mengatakan bahwa ia mempercayakan semuanya kepada Norma? Setidaknya itulah yang selalu diyakini Norma selama bertahun-tahun. Namun kemarin pengacara tua bernama Pak Haris datang membawa dokumen asli. Isi dokumen itu membuat Norma hampir pingsan. Seluruh aset utama ternyata diwariskan kepada Maya.
Maya baru akan mendapatkan hak penuh ketika mencapai usia tertentu, tetapi secara hukum pemilik sahnya tetap Maya. Norma hanya ditunjuk sebagai wali pengelola sementara. Karena Maya kini sudah cukup besar, hak pengelolaan itu bisa dipindahkan kapan saja.
Artinya?bKalau Maya meminta audit. Kalau Maya meminta haknya. Kalau Maya mengusir mereka. Norma dan kedua anaknya bisa kehilangan segalanya.
Jamie menendang meja kecil di depannya.
Brak!
“Gue muak pura-pura baik sama dia!”
Norma menghela napas panjang.b“Pelankan suaramu.”
“Buat apa?!” bentak Jamie. “Anak itu udah mulai kurang ajar!”
Norma tidak membantah. Karena sebagian dirinya juga merasakan hal yang sama. Sejak Maya kembali ke rumah, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa syukur. Tidak takut dan tunduk. Tidak seperti Maya yang dulu.
Norma menggigit bibir. “Kalau saja surat itu tidak ada...” ujarnya.
Jamie mendengus. “Masih nggak masuk akal.”
“Apa?”
“Ayah jelas bilang semuanya buat Mama.”
Norma mengangguk cepat. “Nah itu!”
Ia ikut kesal mengingatnya.
“Sandi bilang aku yang akan mengurus semuanya. Tapi suratnya berkata lain.”
Norma mengepalkan tangan. “Entah apa yang terjadi.”
Mereka terdiam beberapa saat. Lalu Jamie bersandar ke sofa sambil menatap langit-langit. Matanya perlahan berubah gelap.
“Sebenernya ada cara gampang.”
Norma langsung merasa tidak nyaman. “Cara apa?”
Jamie menoleh. Tatapannya membuat Norma merinding. “Kalau Maya mati...”
Hening seketika. Norma membeku.
Jamie melanjutkan dengan nada pelan. “Masalah selesai.”
Deg.
Ruangan langsung terasa dingin. Norma menatap putranya tak percaya.b“Kamu gila?”
“Dengerin dulu.”
“Jamie!”
“Aku serius.”
Jamie duduk tegak. “Kalau dia hilang, meninggal, atau apa pun... warisan itu bakal jadi milik kita.”
Norma mulai pucat. Meski dia marah pada Maya, dirinya tidak pernah membayangkan pembicaraan sejauh ini.
“Kamu bicara apa sih?”
Jamie tertawa hambar. “Mama pikir aku nggak capek?”
“Aku harus minta maaf tiap hari. Aku harus pura-pura baik. Aku harus lihat dia sok berkuasa di rumah sendiri.”
Norma tidak menjawab. Karena sebagian kata-kata Jamie memang benar.
Jamie lalu merendahkan suara. “Aku nggak bilang kita bunuh dia sembarangan.”
Norma langsung menegang. “Diam!”
“Tapi kalau suatu saat terjadi kecelakaan...”
“Jamie!”
“Kalau dia hilang...”
“CUKUP!”
Norma berdiri. Dadanya naik turun.
Jamie ikut berdiri. “Mama juga mikir hal yang sama kan?”
“Tidak!”
“Tapi Mama takut kehilangan rumah ini!”
Norma membeku. Jamie tersenyum tipis. Karena ia tahu dirinya benar.
Norma memang takut. Sangat takut. Ia sudah hidup nyaman selama bertahun-tahun. Dia tidak mau kehilangan semua itu. Tidak mau kembali memulai dari nol. Tidak mau hidup sederhana lagi.
“Kita cari cara lain,” ujar Norma akhirnya.
“Kalau nggak ada?”
“Pasti ada.”
Jamie mendecakkan lidah kesal. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali duduk.
“Pokoknya aku nggak mau terus begini.”
Norma mengusap wajahnya. “Aku juga.”
Mereka tidak menyadari sesuatu. Sama sekali tidak menyadarinya. Di balik rak buku sudut ruangan, tersembunyi benda kecil seukuran ibu jari. Tampak tua. Cat hitamnya sudah terkelupas. Tapi lampu indikator kecilnya masih berkedip pelan.
Merekam setiap kata. Di tempat lain. Maya baru saja datang ke rusun Bobby. Ia menutup pintu. Lalu duduk di tepi kasur. Tangannya masuk ke dalam tas sekolah. Mengambil sebuah penerima sinyal kecil yang tampak usang. Barang itu dulu ditemukan Bobby dari pasar barang bekas. Awalnya cuma mainan. Namun setelah diperiksa Maya, ternyata itu alat penyadap sederhana yang masih berfungsi.
Sebelum berangkat sekolah tadi pagi, Maya diam-diam memasangnya di ruang kerja. Sekadar berjaga-jaga. Karena instingnya terus mengatakan sesuatu tidak beres.
Sekarang Maya menekan tombol pemutar. Suara berdesis muncul. Lalu perlahan berubah menjadi suara yang sangat familiar.
"...aku capek pura-pura baik sama dia..."
Maya langsung menyipitkan mata. Beberapa menit berikutnya ia mendengarkan tanpa menyela. Sampai selesai.
Kamar menjadi sunyi. Maya mematikan alat itu perlahan. Lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Ekspresinya datar. Matanya perlahan berubah dingin.
“Sudah gue duga...” gumamnya pelan. Ia bahkan tidak terlihat terkejut. Karena sejak awal memang tidak pernah percaya pada mereka.
Maya tertawa kecil. Tawa yang nyaris tidak terdengar. “Lucu.”
Ia membuka kembali foto lama Maya kecil bersama kedua orang tuanya. Tatapannya berhenti pada sosok ayah Maya.
“Jadi semua ini memang hakmu ya?”
Maya menaruh foto itu kembali. Lalu menyimpan alat penyadap ke dalam laci. Belum saatnya bergerak. Rekaman ini terlalu berharga untuk dibuang sembarangan.
Jamie baru mulai menunjukkan taringnya. Kalau Maya bergerak sekarang, mereka akan berhati-hati. Priska tidak suka itu. Dia lebih suka membiarkan musuh merasa aman. Merasa menang. Sampai waktunya tiba.
Maya berbaring di kasur sambil menatap langit-langit. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Main yang bagus ya, Jamie.” Matanya perlahan menutup.
“Karena sekarang... gue udah tahu kartu kalian.”
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔