NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Terlihat Menakutkan?

Hari pun berganti... pagi itu langit terlihat cukup cerah, awan putih berarak santai di atas ufuk saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat dan Rhea akhirnya tiba di halaman kampus.

Mobilnya perlahan meluncur memasuki area parkiran fakultas, lalu berhenti di salah satu sisi yang masih cukup lengang. Mesin mati, menyisakan keheningan sesaat di dalam kabin.

Beberapa detik Rhea hanya duduk diam di balik kemudi, tangannya masih bertumpu lembut di atas setir sementara tatapannya kosong menatap lurus ke depan, menembus kaca depan yang bersih. Ada berat yang terasa mengganjal di dada, meski ia sendiri tak bisa menjelaskan bentuknya seperti apa.

Lalu perlahan, ia mengembuskan napas panjang, berusaha mengeluarkan segala kegelisahan yang semalam tertahan, sebelum akhirnya menarik gagang pintu dan turun dari mobil.

Brak.

Suara pintu tertutup terdengar jelas. Angin pagi yang sejuk langsung menerpa wajahnya lembut, membuat beberapa helai rambutnya yang terurai bergerak pelan terkena hembusan itu.

Rhea merapikan rambut itu sekilas dengan gerakan tangan yang biasa saja, lalu menyampirkan totebagnya lebih mantap di pundaknya, sebelum mulai melangkah menuju gedung fakultas.

Suasana kampus pagi itu sudah cukup ramai.

Beberapa mahasiswa berjalan tergesa sambil membawa tumpukan buku menuju kelas masing-masing, sebagian lagi duduk bergerombol di bangku panjang depan lorong sambil berbicara pelan dan tertawa kecil. Suara langkah kaki, obrolan, dan deru kendaraan samar bercampur memenuhi area gedung fakultas yang sejak pagi sudah sibuk seperti biasanya.

Rhea terus berjalan menyusuri lorong terbuka itu dengan wajah yang berusaha tetap tenang, bahkan terlihat sedikit datar. Namun, pikirannya sama sekali tidak benar-benar setenang itu.

Rhea langsung mendecih pelan dalam hati, lalu kembali mengembuskan napas pendek, mempercepat langkah kakinya seolah dengan begitu ia bisa lari dari pikiran-pikiran itu.

Beberapa saat kemudian ia akhirnya sampai di depan pintu kelasnya. Dan saat melihat daun pintu kayu itu yang sudah tertutup rapat, Rhea langsung tahu bahwa perkuliahan pagi itu sudah dimulai beberapa menit yang lalu.

“Astaga...” gumamnya pelan sambil melirik jam di pergelangan tangan kirinya sekilas, mengerutkan keningnya sendiri karena keterlambatan kecil ini.

Tanpa membuang waktu lagi, Rhea langsung mengetuk pintu itu dua kali dengan ketukan singkat, sebelum perlahan mendorong daun pintu tersebut hingga terbuka.

Ceklek.

Dan seketika itu juga...seluruh isi ruangan langsung menoleh ke arahnya secara bersamaan. Suasana kelas yang tadinya dipenuhi suara penjelasan dosen yang tenang, mendadak menjadi lebih sunyi beberapa detik lamanya.

Hening yang tiba-tiba.

Termasuk pria yang berdiri di depan kelas, tepat di samping meja dosen.

Arga.

Pria itu berhenti berbicara. Tubuhnya tegak seperti biasa, namun gerakan bibirnya yang tadi sedang menjelaskan materi terhenti begitu saja. Tatapan mereka bertemu, singkat namun terasa panjang.

Dan entah kenapa, tepat saat manik mata mereka bersentuhan, dada Rhea langsung terasa sedikit sesak sendiri, jantungnya berdetak kencang tak beralasan meski ia berusaha keras menahannya.

Namun gadis itu cepat-cepat memasang wajah datarnya kembali, menutup rapat segala gejolak di dalam sana.

Ia membalas tatapan itu dengan sorot mata yang sama tenangnya, bahkan sempat menatap tajam ke arah Arga beberapa detik...seolah ingin berkata sesuatu yang tak bisa diucapkan...sebelum akhirnya ia menundukkan kepala singkat sebagai tanda permisi masuk.

Dengan langkah tenang namun hati-hati, Rhea berjalan melewati deretan bangku, menuju kursi kosong di bagian tengah ruangan, berusaha secepat mungkin menghindari tatapan itu.

Sementara di depan kelas, Arga tetap berdiri tegak dengan kedua tangan tersilang di belakang tubuhnya. Ekspresinya masih setenang biasanya, dingin dan tak terbaca, persis seperti dosen yang ia kenal sebelum kejadian semalam.

Meski begitu, tak ada yang tahu bahwa detik tadi, saat ia melirik Rhea sekilas, tenggorokannya terasa kering dan ia harus menelan ludah pelan untuk mengembalikan ketenangannya yang sempat goyah.

Ia memalingkan wajah perlahan, mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis di hadapannya, berusaha fokus kembali pada materi.

Beberapa mahasiswa mulai saling melirik kecil satu sama lain. Sebagian terlihat bingung, sebagian lagi diam saja. Ada rasa yang sedikit berbeda pagi ini.

Suasana di antara dosen mereka dan asisten dosen itu terasa... aneh. Ada jarak yang tak terlihat namun terasa jelas, juga ketegangan samar yang menggantung di udara. Tapi tak ada satu pun yang berani bersuara atau bertanya.

“Baik,” ucap Arga akhirnya dengan nada suara yang tetap tenang dan berwibawa, sambil kembali menatap seluruh mahasiswa di kelas, berusaha menghapus segala gangguan dari kepalanya.

“Kita lanjutkan pembahasannya.”

Pria itu kemudian berbalik menghadap papan di belakangnya sebelum kembali menjelaskan materi kuliah pagi itu dengan suara rendah dan stabil.

“Pada penelitian kuantitatif, validitas dan reliabilitas menjadi dua hal penting yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya sambil menuliskan beberapa poin.

“Karena data yang baik tidak hanya harus sesuai, tetapi juga konsisten.”

Suasana kelas kembali tenang.

Suara Arga terdengar jelas memenuhi ruangan, bercampur dengan bunyi ketikan laptop beberapa mahasiswa dan gesekan pena di atas kertas catatan.

“Misalnya,” lanjut Arga sambil menoleh ke arah mahasiswa di barisan depan, “ketika sebuah instrumen menghasilkan data yang berubah-ubah tanpa alasan yang jelas, maka reliabilitasnya perlu dipertanyakan.”

Suasana kelas kembali tenang. Suara Arga terdengar jelas dan berwibawa memenuhi ruangan, bercampur dengan bunyi ketikan laptop beberapa mahasiswa dan gesekan pena di atas kertas catatan.

Sementara itu, di tengah ruangan, Rhea duduk diam di kursinya sambil membuka buku catatannya perlahan. Gerakan tangannya lambat, seolah tak punya tenaga lebih, namun sejak tadi fokusnya sama sekali tidak berada pada materi kuliah atau layar perangkat di hadapannya.

Tatapannya justru terus tertuju ke arah Arga yang berdiri di depan kelas. Pria itu berdiri tegak, menjelaskan materi dengan ekspresi setenang biasanya.

Sangat tenang, bahkan terlihat dingin dan tak terbaca sama sekali. Tidak ada raut canggung, tidak ada tanda-tanda gugup, bahkan wajah pria itu terlihat biasa saja...persis seperti tidak ada sesuatu yang terjadi semalam.

Seolah ciu man itu, percakapan itu, dan segala kekacauan di apartemen itu hanyalah mimpi yang hanya Rhea yang mengalaminya.

“Nah, lihat deh…” batin Rhea sambil menatap tajam ke arah sosok di depan sana, matanya menyala karena rasa kesal yang perlahan naik.

“Wajahnya biasa aja, santai banget. Kayak gak ada rasa bersalah sama sekali. Atau emang pura-pura lupa?”

Tatapannya semakin menyipit tipis, menatap punggung maupun wajah Arga dengan pandangan yang cukup tajam dan menusuk.

Sementara di depan kelas, Arga yang sedang berjalan perlahan menjelaskan materi itu perlahan mulai menyadari adanya sepasang mata yang terus menatapnya lekat-lekat. Sejak tadi.

Pria itu sempat diam sepersekian detik, ucapannya terhenti sejenak di tengah kalimat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan penjelasannya dengan nada yang tetap datar. Namun di dalam sana, alisnya sedikit mengernyit samar, perasaannya mulai tidak tenang.

“Kenapa dia terlihat menakutkan sekali hari ini…” batin Arga pelan.

Ia sempat melirik sekilas ke arah Rhea, bertemu pandang hanya sepersekian detik sebelum buru-buru kembali menghadap papan tulis agar tidak ada yang curiga.

Arga menghela napas pendek dalam diamnya, berusaha fokus kembali pada materi.

“Karena itu,” lanjutnya lagi dengan nada suara yang tetap tenang dan tegas, berusaha menutupi kekalutan batinnya, “...uji reliabilitas dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen penelitian tetap stabil dan konsisten ketika digunakan berulang kali dalam kondisi yang sama.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!