Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Siap, Bestie! Ini dia momen yang ditunggu-tunggu: **Malam Pertama di Rumah Baru**. Bukannya romantis-romantisan, malah jadi ajang perebutan wilayah kekuasaan kayak perang saudara.
Ini dia Bab 5 dengan porsi 1000 kata lebih!
# **Bab 5: Teritorial Kamar dan Perang Bantal**
Jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul dua pagi saat Rolls Royce milik Zyan (yang akhirnya menjemput mereka di jembatan layang setelah motor Alexa kehabisan bensin karena dipaksa nge-gas terus) memasuki gerbang sebuah *mansion* minimalis modern di kawasan Jakarta Selatan. Rumah itu terlihat sangat elegan dengan pencahayaan *warm white* yang menonjolkan tekstur marmer dan kaca-kaca besar.
Zyan turun dari mobil dengan langkah lelah namun tetap tegak. Jasnya sudah tersampir di lengan, kemejanya berantakan, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa ketegangan malam yang absurd. Di belakangnya, Alexa berjalan dengan langkah diseret, menjinjing sepatu hak tingginya di satu tangan, sementara tangan satunya lagi memegang helm. Gaun pengantinnya yang robek di bagian bawah kini sudah kotor terkena debu jalanan.
"Jadi ini penjara baru gue?" gumam Alexa sambil menatap bangunan dua lantai yang sangat sunyi itu.
"Ini rumah kita, Alexa. Dan saya harap kamu bisa menjaga sikap di sini. Saya punya asisten rumah tangga yang datang pagi hari, saya tidak ingin mereka melihat kekacauan di hari pertama kita," ujar Zyan sambil menekan kode akses pintu depan.
Begitu pintu terbuka, udara dingin dari AC sentral langsung menyambut mereka. Interior rumah itu sangat "Zyan banget": didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Tidak ada foto, tidak ada pajangan warna-warni, hanya ada kesunyian yang mewah.
"Gila, ini rumah atau kantor cabang bank? Dingin banget, Om! Nggak ada anget-angetnya pisan," kritik Alexa sambil langsung melempar helmnya ke atas sofa kulit mahal di ruang tamu.
Zyan menghela napas, mencoba menahan emosi. "Helm itu punya tempatnya, Alexa. Jangan ditaruh sembarangan."
"Halah, ntar juga dipindah. Sekarang gue mau tidur. Mana kamar gue?" tanya Alexa sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Zyan berjalan menuju tangga lantai dua. "Hanya ada satu kamar utama yang sudah disiapkan Mama. Kamar tamu masih kosong, belum ada kasur karena renovasi kecil minggu lalu."
Langkah Alexa langsung terhenti di anak tangga pertama. "Hah?! Satu kamar?! Maksud lo kita tidur bareng?"
Zyan menoleh ke belakang dengan tatapan datar. "Secara hukum dan agama, kita suami istri. Memangnya kenapa?"
"Ya nggak mau lah! Gue nggak kenal-kenal amat sama lo, tiba-tiba harus satu kasur? Gimana kalau lo khilaf terus gigit gue?"
Zyan mendengus remeh, ia melanjutkan langkah ke atas. "Saya punya standar yang tinggi untuk wanita, Alexa. Dan mahasiswi yang baunya seperti bensin dan aspal bukan tipe saya untuk melakukan hal... 'khilaf' seperti yang kamu bayangkan."
Alexa melotot. "Heh, sombong banget ya si Om! Gue ini idola kampus tahu! Cowok-cowok di teknik mesin tuh ngantri buat dapet senyum gue!"
Mereka sampai di depan sebuah pintu ganda yang besar. Begitu dibuka, terpampanglah kamar utama yang sangat luas. Kasur ukuran *king size* dengan sprei sutra warna abu-abu gelap berdiri angkuh di tengah ruangan. Ada balkon pribadi, *walk-in closet* yang luas, dan kamar mandi transparan dengan *bathtub* marmer.
Alexa langsung berlari dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk itu. "Wah... empuk banget! Oke, ini kamar gue. Lo cari tempat lain ya, Om. Tidur di sofa atau di balkon gih, kan lo suka yang dingin-dingin."
Zyan yang sedang melepas jam tangannya menatap Alexa dengan dahi berkerut. "Kamu pikir ini drama Korea? Ini rumah saya, kamar saya, dan kasur saya. Kamu yang tamu di sini."
"Tapi gue istri lo sekarang! Kata lo tadi secara hukum dan agama kan? Jadi gue punya hak atas setengah dari rumah ini!" balas Alexa sambil memeluk bantal guling dengan erat, seolah-olah itu adalah tameng pelindung.
"Setengah, Alexa. Bukan seluruhnya. Kamu ambil sisi kiri, saya sisi kanan. Dan jangan berani-berani melewati batas tengah," ujar Zyan sambil mulai melepas kancing kemejanya.
Melihat Zyan mulai membuka baju, Alexa langsung duduk tegak dan menutup matanya dengan bantal. "WOY! MAU NGAPAIN?! JANGAN MESUM YA!"
Zyan memutar bola matanya. "Saya mau mandi, Alexa. Saya gerah dan lengket gara-gara dibonceng kamu tadi. Jangan terlalu percaya diri, saya tidak akan melakukan apa-apa."
Zyan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Alexa yang masih deg-degan di atas kasur. Begitu mendengar suara kucuran air *shower*, Alexa langsung beraksi. Ia melihat ada tiga bantal besar dan dua guling di kasur itu.
"Oke, kalau dia mau main batas-batasan, gue kasih batas sekalian!"
Alexa menyusun bantal-bantal itu di tengah kasur, membentuk barisan panjang yang cukup tinggi sebagai pembatas. Ia bahkan mengambil beberapa buku tebal dari rak di sudut kamar dan menumpuknya di sela-sela bantal.
"Nah, ini Tembok Besar Alexa. Barangsiapa melewatinya, akan kena tendangan maut!" gumamnya puas.
Tiga puluh menit kemudian, Zyan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana *training* hitam dan kaos oblong putih. Rambutnya yang basah jatuh ke dahi, membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. Alexa yang baru saja selesai mengganti bajunya dengan kaos kegombrangan bergambar tengkorak dan celana pendek, sempat tertegun melihat penampilan Zyan yang "santai".
"Apa-apaan ini?" tanya Zyan sambil menunjuk tumpukan bantal di tengah kasur.
"Itu batas wilayah. Sisi deket jendela punya gue, sisi deket tembok punya lo. Kalau lo berani geser satu bantal aja, gue bakal pasang knalpot racing di mobil Rolls Royce lo besok pagi!" ancam Alexa sambil masuk ke balik selimut.
Zyan hanya bisa menggelengkan kepala. Ia terlalu lelah untuk berdebat lagi. Ia naik ke sisi kasurnya, menyandarkan punggung di kepala ranjang sambil membuka tabletnya untuk mengecek berita saham pagi ini.
"Lampu matiin, Om! Gue nggak bisa tidur kalau terang!" perintah Alexa.
"Saya masih harus membaca laporan."
"Baca di luar sana! Gue ngantuk!" Alexa meraih bantal di dekatnya dan melemparnya ke arah Zyan.
Zyan menangkap bantal itu dengan satu tangan tanpa melihat. "Alexa, jangan memancing kesabaran saya di jam tiga pagi."
"Bodo amat! Matiin!" Alexa melempar bantal kedua.
Kali ini Zyan meletakkan tabletnya. Ia menoleh ke arah Alexa yang bersembunyi di balik selimut. Dengan gerakan cepat, Zyan merangkak melewati tumpukan bantal itu—melewati batas yang dibuat Alexa—dan menindih tubuh Alexa (masih terhalang selimut) dengan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Alexa.
Alexa membelalak, napasnya tertahan. Wajah Zyan hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya. Aroma sabun mandi yang segar menusuk indra penciumannya.
"Dengar ya, Bocah," bisik Zyan dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi namun seksi. "Saya adalah pemilik rumah ini. Di sini tidak ada demokrasi. Jika saya ingin lampu menyala, maka lampu akan tetap menyala. Jika kamu keberatan, pintu keluar ada di sebelah sana."
Alexa menelan ludah. Keberaniannya yang biasanya meluap-luap mendadak menguap entah ke mana saat ditatap sedalam itu oleh Zyan. "Tapi... gue ngantuk, Om..." suaranya menciut.
Zyan menatap bibir Alexa sejenak, lalu kembali ke matanya. Ia menyadari jantung Alexa berdetak sangat kencang. Zyan tersenyum miring, lalu menjauhkan tubuhnya. Ia mematikan lampu kamar lewat panel kendali di samping kasur.
"Tidur. Besok pagi kita harus ke rumah orang tua kamu untuk acara syukuran," ujar Zyan sambil kembali ke posisinya dan menyelimuti dirinya sendiri.
Suasana kamar menjadi gelap gulita. Hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan. Alexa masih terpaku di tempatnya, jantungnya masih berdebar nggak karuan.
"Om..." panggil Alexa pelan setelah beberapa menit keheningan.
"Apa lagi?" sahut Zyan dengan suara serak khas orang mau tidur.
"Makasih ya udah nggak beneran marah soal motor tadi."
Hening sejenak.
"Jangan diulangi lagi. Dan satu lagi, Alexa..."
"Apa?"
"Besok-besok kalau bikin pembatas, jangan pakai buku hardback. Itu bikin punggung saya sakit kalau tidak sengaja tertendang."
Alexa menahan tawa. "Iya, iya. Cerewet lo, Om Duda."
"Tidur, Alexa."
"Iya, Suami Kaku."
Malam pertama mereka memang tidak berakhir dengan adegan romantis di film-film, tapi di balik tumpukan bantal pembatas itu, ada sebuah kesadaran baru yang muncul di hati keduanya. Hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Zyan yang tadinya hanya hidup dalam rutinitas yang membosankan, kini punya "gangguan" yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dan Alexa yang tadinya hanya peduli pada mesin motor, kini mulai menyadari ada mesin lain yang lebih rumit untuk dipahami: hati seorang Zyan Arsalan.
**Selesai Bab 5.**
Waduh, hampir aja ya Bestie! Si Om Zyan ternyata kalau lagi galak malah bikin baper ya? Hahaha! Mau lanjut ke Bab 6 pas mereka bangun pagi dan Alexa harus masak (tapi malah bikin dapur hampir kebakaran)? Atau pas mereka berantem lagi gara-gara baju?