"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERTEMUAN DUA MAWAR
"Jangan pernah menunjukkan durimu terlalu cepat, Nona. Biarkan mereka mengira Anda masih mawar putih yang layu, sampai mereka menyadari bahwa mereka sedang menggenggam belati."
Suara rendah Ergino terdengar tepat saat ia membukakan pintu mobil untuk Nerina di depan butik mewah Madame Celine. Nerina melangkah keluar, mengenakan kacamata hitam besar yang menyembunyikan kilat kebencian di matanya. Ia merapikan gaunnya sebentar, menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap.
"Aku bukan lagi mawar putih, Gino. Aku adalah racun yang mereka telan sendiri," sahut Nerina dingin.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita masuk dan mulai pertunjukannya," ujar Ergino sambil memberikan bungkukan hormat yang sangat formal, namun matanya memberikan isyarat protektif yang kuat.
Begitu pintu butik terbuka, suasana hangat dan harum parfum mahal langsung menyambut mereka. Namun, di tengah ruangan itu, suasana terasa canggung. Andrew Fred Fidelis berdiri di samping Anora Lynn, dan di depan mereka, duduk seorang gadis muda dengan gaun sederhana yang tampak ketakutan namun sangat cantik.
Itu dia. Elysia Lynn.
"Nerina! Akhirnya kamu sampai!" Andrew berseru, nada suaranya terdengar antara lega dan tidak sabar. Ia tidak mendekati Nerina, melainkan tetap berdiri di dekat gadis itu. "Kenapa lama sekali? Kenapa ponselmu sulit dihubungi?"
Nerina melepaskan kacamata hitamnya perlahan, menyerahkannya pada Ergino tanpa menoleh. Ia melangkah maju dengan tenang, mengabaikan omelan Andrew. Matanya terkunci pada Elysia yang kini mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa dia, Ibu?" tanya Nerina, suaranya sangat lembut, namun bagi siapapun yang mengenalnya, nada itu terasa seperti hembusan angin sebelum badai.
Anora Lynn melangkah maju, wajahnya tampak dipenuhi emosi yang meluap. Ia menggandeng tangan Elysia dan membawanya ke depan Nerina. "Nerina... ini keajaiban. Ini Elysia. Putri kandung kami yang selama ini kita kira sudah tiada. Dia ditemukan di sebuah desa kecil di perbatasan."
Elysia berdiri dengan gemetar, wajahnya yang polos tampak sangat kontras dengan aura Nerina yang dominan. "K-kakak... benarkah kamu Kak Nerina? Ibu banyak bercerita tentangmu," bisik Elysia, suaranya terdengar sangat rapuh, jenis suara yang membuat semua pria ingin melindunginya.
Nerina menatap tangan Anora yang menggenggam erat tangan Elysia—genggaman yang tidak pernah ia rasakan selama sepuluh tahun ini. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang tampak tulus di permukaan namun beracun di dalamnya.
"Putri kandung? Keajaiban yang luar biasa," ujar Nerina pelan. Ia mendekati Elysia, membuat gadis itu refleks mundur selangkah. "Senang bertemu denganmu, Elysia. Nama yang indah untuk seseorang yang kembali dari 'kematian'."
"Nerina, bersikaplah sopan!" Nero yang tiba-tiba muncul dari ruang ganti membentak. "Elysia sudah banyak menderita. Jangan buat dia merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri."
"Rumahnya sendiri?" Nerina mengangkat alisnya, lalu terkekeh pelan. "Tentu saja, Kak Nero. Ini rumahnya. Aku hanya tamu yang sudah terlalu lama menginap, bukan?"
Andrew berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Nerina, jangan bicara begitu. Tapi... karena Elysia sudah kembali, aku rasa jadwal pernikahan kita harus sedikit disesuaikan. Elysia butuh waktu untuk beradaptasi, dan orang tuamu ingin dia juga terlibat dalam pesta kita."
Nerina melirik Andrew. Di kehidupan dulu, di momen inilah ia menangis dan memohon agar pernikahan tidak ditunda. Sekarang? Ia hanya merasa ingin tertawa.
"Tentu, Andrew. Tunda saja sesukamu. Bahkan jika kamu ingin membatalkannya, aku tidak keberatan," sahut Nerina santai, membuat seluruh ruangan mendadak hening.
"Apa maksudmu, Nerina?!" Elyas Lynn masuk dengan wajah merah padam. "Jangan kekanak-kanakan! Pernikahan ini menyangkut bisnis dua keluarga!"
"Aku hanya memberikan pilihan, Ayah. Karena sepertinya, Andrew jauh lebih tertarik menatap 'adikku' ini daripada menatap calon pengantinnya sendiri," sindir Nerina sambil melirik Andrew yang memang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Elysia.
"Kak Nerina... maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengacaukan segalanya," Elysia mulai menangis, air mata jatuh dengan sempurna di pipinya. "Aku akan pergi saja... aku tidak ingin merusak kebahagiaan Kakak."
"Elysia, jangan! Ini rumahmu!" Anora memeluk Elysia dengan posesif, lalu menatap Nerina dengan tajam. "Nerina Aralynn! Minta maaf pada adikmu sekarang juga! Kamu sudah merebut posisinya selama sepuluh tahun, dan sekarang kamu masih ingin menyakitinya?"
Nerina menatap ibu angkatnya itu. Rasa sakit di hatinya terasa tumpul, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Ia merasakan sebuah kehadiran di belakangnya—Ergino berdiri di sana, sangat dekat, memberikan kekuatan diam yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Minta maaf untuk apa, Ibu? Untuk sepuluh tahun aku bekerja tanpa henti menjaga bisnis kalian? Atau untuk fakta bahwa aku masih bernapas di saat kalian ingin aku menghilang?" tanya Nerina, suaranya kini bergetar karena amarah yang terkendali.
"Cukup!" Nero melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menampar Nerina.
Namun, sebelum tangan Nero menyentuh wajah Nerina, sebuah tangan lain menangkap pergelangan tangan Nero dengan sangat kuat.
Ergino.
Pria itu berdiri di antara Nerina dan Nero, wajahnya sangat tenang namun matanya memancarkan aura kematian yang sanggup membuat Nero membeku di tempat.
"Tuan Nero, saya rasa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah di ruang publik ini," ujar Ergino, suaranya rendah dan sangat berbahaya.
"Lepaskan tanganku, Pelayan sialan!" Nero meronta, namun cengkeraman Ergino tidak goyah sedikit pun.
"Gino, lepaskan dia," perintah Nerina tenang.
Ergino melepaskan tangan Nero dengan sentakan kecil yang membuat pria itu hampir terjatuh. Nero menatap Ergino dengan murka, namun ada rasa takut yang tersirat di matanya.
Nerina kembali menatap keluarganya dan Andrew. "Nikmati waktu kalian bersama 'putri asli' kalian. Aku akan pergi mencari udara segar. Dan Andrew... gaun pengantin itu? Berikan saja pada Elysia. Sepertinya dia jauh lebih butuh penyamaran sebagai putri daripada aku."
Nerina berbalik dan berjalan keluar dari butik dengan langkah anggun. Ergino mengikuti di belakangnya seperti bayangan yang setia.
Begitu sampai di mobil, Nerina menarik napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya di kursi kulit, memejamkan mata.
"Anda melakukannya dengan sangat baik, Nona," gumam Ergino sambil mulai menjalankan mobil.
"Aku merasa mual, Gino. Melihat drama mereka membuatku ingin membakar butik itu sekalian," sahut Nerina lirih.
"Sabar, Nona. Pembakaran yang sesungguhnya belum dimulai," Ergino melirik melalui spion tengah. "Tapi ada satu hal yang harus Anda tahu. Andrew tidak hanya menunda pernikahan karena Elysia. Dia sudah mulai memindahkan beberapa investasi bersama kalian ke akun pribadi yang tidak Anda ketahui."
Nerina membuka matanya, kilat kemenangan muncul di sana. "Dia terlambat, Gino. Aku sudah mengosongkan rekening utama keluarga Lynn sore tadi. Andrew akan segera menyadari bahwa dia sedang mencoba mencuri dari dompet yang sudah tidak ada isinya."
Ergino tersenyum tipis. "Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan menangis lebih dulu saat tagihan-tagihan itu mulai berdatangan."