Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Sang Raja & Pengakuan Tiba-tiba
Suasana di dalam restoran mewah itu begitu hidup dan berkelas. Aroma masakan lezat bercampur dengan wangi wewangian mahal, menciptakan suasana yang nyaman namun tetap eksklusif. Di salah satu meja yang terletak di area makan umum, namun masih cukup tertutup, Arsen duduk bersandar sambil sesekali melirik jam tangannya dengan tatapan tidak sabar. Di hadapannya, Fathan, sang asisten pribadi, duduk dengan sikap tegap dan wajah bingung yang tak bisa disembunyikan.
Hari ini Arsen memiliki jadwal pertemuan bisnis penting dengan mitra kerja besar. Biasanya, untuk urusan sekelas ini, Arsen selalu memesan ruangan VIP paling rahasia dan paling mewah yang terpisah dari keramaian. Namun hari ini, ia justru memilih duduk di area terbuka seperti ini. Hal itu sudah cukup membuat Fathan bertanya-tanya dalam hati, namun ia tak berani bertanya langsung pada tuannya yang akhir-akhir ini sering berubah sikap secara mendadak.
Namun, alasan di balik pilihan aneh Arsen ternyata ada di balik punggungnya. Dari posisi duduknya, Arsen bisa melihat dengan jelas lorong menuju deretan ruangan privat di bagian paling dalam restoran itu. Beberapa menit yang lalu, saat baru saja melangkah masuk, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya, sosok yang belakangan ini selalu menghantui pikirannya siang dan malam.
Wanita itu berjalan cepat dan tegap menuju ruangan VIP nomor satu, ruangan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang dengan status sosial dan kekayaan tertinggi. Meski hanya melihat dari belakang dan samping sekilas saja, Arsen yakin seratus persen bahwa itu adalah Ziva. Cara berjalannya, gaya rambutnya, hingga wangi parfum khas yang samar tercium saat wanita itu lewat, semuanya milik Ziva.
Jantung Arsen berdegup kencang. Ada rasa lega sekaligus rasa penasaran yang meledak di dadanya. "Apa yang dia lakukan di sana? Sendirian? Atau ada yang menemaninya? Dan kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia akan ke sini?" bertanya Arsen dalam hati, matanya tak pernah lepas dari pintu kayu besar yang tertutup rapat itu.
"Fathan, kita akan melakukan pertemuan bisnis dengan Tuan Hartono di sini saja," ucap Arsen tiba-tiba dengan nada santai namun tegas, matanya masih terpaku pada pintu itu.
Fathan langsung mengerutkan kening, keterkejutannya makin menjadi. "Di sini, Tuan? Tapi... ini area umum, tidak privasi sama sekali. Biasanya Tuan selalu meminta ruangan tertutup agar aman dan tenang. Apakah ada sesuatu yang..."
"Cukup, di sini saja. Jangan banyak tanya, atur saja semuanya di meja ini," potong Arsen cepat, tanpa menoleh sedikit pun. Ia tak ingin melepaskan pandangannya dari pintu itu barang sedetik pun. Ia harus memastikan, ia harus tahu dengan siapa Ziva berada di dalam sana.
Fathan hanya bisa mengangguk patuh meski penuh tanda tanya, lalu segera bersiap menyambut tamu yang akan datang, diam-diam bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada tuannya hari ini.
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Arsen. Setiap detik ia menghitung, menunggu pintu itu terbuka kembali. Pikiran buruk mulai bermunculan satu per satu di kepalanya. "Dia ada janji dengan siapa? Pria? Wanita? Pria tampan? Kaya raya? Apakah dia punya kekasih yang disembunyikan dariku?" Semua pertanyaan itu membuat rasa tidak sukanya tumbuh menjadi benih-benih kecemburuan yang mulai membesar.
Dan akhirnya, penantian panjang itu berakhir.
Pintu ruangan VIP itu terbuka lebar. Keluarlah sosok Ziva yang tampak tenang namun berwibawa, wajahnya sedikit serius seolah baru saja membahas hal penting. Di sampingnya, melangkah seorang pria yang tinggi, tegap, berwajah sangat tampan dan tajam, dengan tubuh yang terlihat kekar dan berotot di balik pakaian rapi yang ia kenakan. Postur tubuh pria itu jelas terlatih, bak seorang atlet atau tentara elit. Pria itu tersenyum ramah sambil berjalan beriringan dengan Ziva, sesekali berbicara dan tertawa kecil.
Pemandangan itu seolah menyiramkan air mendidih ke atas kepala Arsen. Matanya membelalak, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya hampir menonjol karena menahan emosi yang meluap.
"Siapa dia?! Siapa pria itu?!" teriak Arsen dalam hati, api cemburu mulai membakar seluruh pertahanan dirinya. "Lihat saja, tubuhnya kekar sekali, bahunya lebar, ototnya terlihat jelas... Apakah ini tipe pria yang disukai Ziva? Apakah dia lebih hebat dariku?!"
Secara tidak sadar, tangan Arsen bergerak menyentuh dan meremas pelan bagian perut dan lengannya sendiri di balik kemeja. Ia mulai membandingkan dirinya sendiri dengan pria asing itu.
"Hhh... Memang badannya atletis sekali. Tapi aku juga punya otot yang bagus kok, hanya saja tertutup baju. Aku juga kuat, aku juga gagah. Dia tidak lebih hebat dariku," gumam Arsen mendengus pelan, penuh rasa percaya diri yang terselip rasa tersaingi. Rasa cemburu itu mendorongnya bertindak di luar kendali.
Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan tamu bisnis yang akan datang, dan tanpa pamit sedikit pun pada Fathan yang sedang sibuk menata berkas, Arsen langsung berdiri tegak, melangkah lebar dan cepat menghampiri pasangan itu. Tatapannya tajam, langkahnya berwibawa, memancarkan aura kepemilikan yang kuat.
"Ziva...!" panggil Arsen lantang, suaranya terdengar jelas hingga membuat kedua orang yang sedang berjalan itu serentak berhenti dan menoleh ke belakang.
Saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya dengan napas sedikit memburu dan wajah penuh emosi itu, mata Ziva membelalak tak percaya. Keterkejutan tergambar jelas di wajah cantiknya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Arsen di sini, apalagi dengan cara yang tiba-tiba dan intens begini.
"Arsen? Kamu... ada apa di sini?" tanya Ziva bingung, nada suaranya terdengar heran sekaligus curiga.
Namun, Arsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arah pria berbadan atletis di samping Ziva, dari ujung kepala hingga ujung kaki, penuh penilaian dan tantangan. Ia langsung bertanya pada intinya, tanpa basa-basi.
"Dia siapa?" tanya Arsen tegas, nada suaranya terdengar seperti pacar yang sedang marah karena dicurangi.
Ziva terdiam sejenak, menatap tingkah Arsen yang aneh itu dengan dahi berkerut, namun segera menjawab tenang. "Dia? Dia temanku. Seseorang yang cukup akrab denganku."
Pria bernama Gabriel itu hanya tersenyum tenang, menatap Arsen dengan pandangan tajam namun sopan. Ia tahu betul siapa pria di depannya ini, seseorang yang pernah ditolong tuanya. Namun Gabriel tetap tenang, ia pun bukan orang sembarangan.
"Halo, Tuan. Saya Gabriel. Saya teman dekat Ziva sejak waktu kami berada di luar negeri dulu," jawab Gabriel ramah sambil mengulurkan tangan.
Arsen menerima uluran tangan itu dengan cengkeraman yang sedikit kuat, seolah menguji kekuatan, lalu melepaskannya kembali. Dengan wajah yang sangat serius, Arsen menatap Gabriel tepat di manik matanya, lalu berkata dengan suara lantang dan tegas seolah sedang mendeklarasikan sesuatu di hadapan umum.
"Senang berkenalan denganmu, Gabriel. Dan perkenalkan, aku adalah... calon pacar Ziva."
Satu detik, dua detik... Keheningan menyelimuti lorong itu.
Mata Ziva dan Gabriel sama-sama membelalak lebar, rahang mereka hampir jatuh ke lantai karena keterkejutan yang luar biasa. Wajah Ziva seketika memerah padam menahan rasa malu sekaligus kaget. Ia menoleh cepat ke arah Gabriel, matanya berkedip-kedip berusaha memberi kode: 'Jangan percaya omongannya! Dia gila ya?!'
Sementara Gabriel, yang sudah paham betul tentang karakter majikannya dan seluk-beluk kehidupannya, segera menangkap situasi ini. Ia melihat wajah Arsen yang terlihat posesif dan jelas sekali sedang cemburu buta. Ia melihat wajah Ziva yang terlihat kaget dan malu campur bingung. Dan Gabriel pun mengerti, ia tidak boleh ada di sini mengganggu momen dua orang itu.
Gabriel kembali tersenyum lebar, kali ini senyum yang penuh makna dan pengertian. Ia mengangguk pelan ke arah Arsen.
"Hmm... Kalau begitu, saya rasa urusan saya sudah selesai. Saya permisi dahulu ya, Tuan. Saya titip Ziva kepada Anda," ucap Gabriel sopan namun ada nada menggoda di ujung kalimatnya.
Tanpa menunggu lama, Gabriel segera berbalik badan dan berjalan cepat, bahkan sedikit berlari menjauh dari sana. Di dalam hatinya ia bergumam geli: 'Waduh... Bahaya kalau saya tinggal lebih lama lagi, takutnya saya jadi sasaran tembak cemburunya Tuan Muda ini. Lebih baik saya minggir dulu. Biarkan Nona kita merasakan rasanya punya pengagum yang posesif dan galak begini. Sudah lama Nona tidak pacaran, saatnya merasakan dunia manusia biasa lagi.'
Gabriel menghilang di balik pintu keluar utama dengan langkah santai namun cepat, meninggalkan Ziva yang kini berdiri terpaku sendirian berhadapan dengan Arsen yang masih menatapnya dengan tatapan tak berkedip, tatapan yang penuh kehangatan, rasa suka, dan kepemilikan yang tak bisa disembunyikan lagi.
Ziva menghela napas panjang, menatap Arsen dengan pandangan tak percaya sekaligus gemas.
"Kamu... kamu bicara apa saja sih tadi?! Calon pacar? Sejak kapan kita ada perjanjian begitu?!" desis Ziva pelan, wajahnya masih memerah.
Arsen justru tersenyum lebar, senyum paling manis dan menawan yang ia miliki, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja.
"Mulai dari detik ini, Ziva. Mulai dari detik ini dan selamanya," jawab Arsen lembut namun tegas, suaranya bergetar penuh perasaan yang tulus. "Aku tidak peduli siapa pun yang datang mendekatimu, aku tidak mau ada pria lain yang mengganggumu atau menemanimu selain aku. Aku sudah cukup sabar menunggu, dan aku tidak mau menunggu lagi. Sekarang, kamu milikku, dan aku milikmu. Tidak ada jalan lain."
Di kejauhan, di meja makan tadi, Fathan hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak pening. Ia melihat tuannya yang baru saja meninggalkan pertemuan bisnis penting demi mengejar seorang wanita, dan kini berdiri tersenyum bak anak sekolah yang sedang jatuh cinta.
'Ya ampun... Perubahan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya ya Tuan...' batin Fathan pasrah.