NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 7 : Sang penguasa kembali

Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kereta kuda kayu milik desa yang berguncang pelan menuju arah bukit. Kereta ini jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan kereta kencana Kerajaan Valley yang ditinggalkan Celestine di kastil. Di dalamnya hanya ada tumpukan jerami yang dilapisi kain wol kasar dan beberapa lembar kulit beruang untuk menahan hawa dingin yang masih menggigit.

Celestine perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pusing yang berdenyut di pelipisnya dan rasa perih di telapak tangannya yang dibalut kain putih bersih. Ia menoleh dan menemukan George duduk tepat di hadapannya.

Pria itu tampak sangat terjaga, matanya yang kelabu menatap lurus ke arah jalanan bersalju di luar jendela, namun tangannya tetap memegang ujung selimut yang membungkus Celestine agar tidak melorot.

"Kau sudah bangun?" tanya George tanpa menoleh. Suaranya terdengar lebih parau dari biasanya.

"Kepalaku rasanya seperti dihantam palu Boris," bisik Celestine sambil mencoba duduk tegak. "Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

George akhirnya memalingkan wajahnya. Ada gurat kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan di bawah matanya. "Hanya beberapa jam sejak fajar. Kita hampir sampai di gerbang bawah kastil."

Celestine menatap telapak tangannya yang terbalut kain. "Kau yang membalut ini?"

"Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menghentikan kebodohanmu," jawab George dingin, namun ada nada getir dalam suaranya. "Kenapa kau melakukannya, Celestine? Kau hampir membekukan jantungmu sendiri demi mencairkan tanganku."

"Karena kau tidak akan bisa bertarung lagi jika tanganmu menjadi es abadi, bukan?" balas Celestine dengan senyum lemah. "Aku hanya menjaga aset investasiku. Aku sudah memilihmu sebagai calon suamiku, jadi aku tidak ingin calon suamiku cacat di hari pertama aku menetapkannya."

George mendengus pelan, ia membuang muka kembali ke arah jendela. "Kau selalu punya alasan yang terdengar angkuh untuk menutupi ketololanmu."

"Dan kau selalu punya cara untuk tidak mengucapkan terima kasih, George Augustine," sahut Celestine.

Kereta kuda itu mendadak berhenti dengan sentakan pelan. Suara derit pintu gerbang besi yang berat terdengar dibuka. Mereka telah sampai di halaman dalam Kastil La’ Mortine. George bangkit dan membuka pintu kereta, lalu ia mengulurkan tangannya. Kali ini Celestine menyambutnya tanpa ragu. Saat kakinya menyentuh tanah, ia sedikit limbung, namun George dengan cepat menahan pinggangnya.

"Bisa jalan?" tanya George singkat.

"Tentu saja bisa. Aku hanya sedikit pusing," jawab Celestine, meskipun wajahnya masih pucat pasi.

Di depan pintu utama kastil, Marquess de La’ Mortine sudah berdiri menunggu dengan wajah yang sangat gelap. Di sampingnya, beberapa pelayan tampak panik melihat kedatangan mereka yang menggunakan kereta desa dan dalam kondisi yang berantakan.

"George! Apa yang terjadi di desa?" suara Marquess menggelegar saat mereka mendekat. "Thomas mengirim pesan singkat bahwa ada serangan sihir hitam. Dan kenapa Putri Celestine terlihat seperti baru saja melewati medan perang?"

George melepaskan pegangannya pada Celestine dan membungkuk hormat pada ayahnya. "Ksatria Valtor menyerang desa. Dia menggunakan sihir hitam yang sangat tidak stabil. Aku berhasil menanganinya, Ayah."

Marquess menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah lengan George yang tadi sempat membeku. "Valtor? Pengkhianat dari Valley itu? Bagaimana kau bisa menanganinya sendirian tanpa bantuan pasukan utama?"

George terdiam sejenak. Ia melirik Celestine melalui sudut matanya. "Aku menggunakan sihir es tingkat tinggi. Itulah sebabnya badai tadi malam menjadi begitu besar."

Marquess kemudian beralih menatap Celestine. "Dan Anda, Tuan Putri? Kenapa tangan Anda dibalut seperti itu?"

Celestine menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Saya terjatuh saat mencoba berlindung dari runtuhan bangunan, Marquess. George menyelamatkan saya tepat waktu."

"Terjatuh hingga harus membalut tangan?" Marquess melangkah mendekat, auranya sangat menekan. "Laporan dari desa mengatakan ada cahaya biru muda yang murni memancar di tengah badai. Cahaya yang belum pernah terlihat dari sihir putraku. Bisa kalian jelaskan itu?"

"Itu adalah pantulan sihir esku pada salju yang sangat padat, Ayah," potong George dengan nada yang sangat yakin. "Anda tahu sendiri bahwa dalam kondisi badai tertentu, warna sihir bisa berubah karena pembiasan cahaya."

Marquess menatap putranya lama sekali, seolah sedang mencari celah kebohongan di mata George. "Baiklah. Masuklah ke dalam. Rawat luka kalian. Aku akan mengirim utusan ke Kerajaan Valley untuk melaporkan serangan pengkhianat mereka."

"Tunggu, Marquess," kata Celestine tiba-tiba. "Jangan kirim laporan itu sekarang. Jika Theodore tahu ada ksatria Valley yang menyerang dengan sihir hitam, dia akan menarik saya pulang dengan alasan keamanan. Dan urusan diplomasi kita belum selesai."

Marquess menaikkan sebelah alisnya. "Anda lebih peduli pada diplomasi daripada nyawa Anda sendiri, Putri?"

"Saya lebih peduli pada kebenaran," jawab Celestine tegas. "Saya ingin tahu siapa yang mengirim Valtor ke sini sebelum kakak saya membuat keputusan yang salah."

Marquess terdiam sebentar, lalu ia mengangguk tipis. "Sangat ambisius. George, bawa Putri ke kamarnya. Biarkan tabib kastil memeriksa lukanya. Kita akan bicara lagi saat makan malam."

George memberikan isyarat agar Celestine mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri koridor yang sunyi menuju sayap barat. Begitu mereka cukup jauh dari jangkauan pendengaran sang Marquess, George menarik Celestine ke sebuah ceruk jendela yang gelap.

"Kau pandai berbohong," bisik George, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Celestine.

"Aku belajar dari yang terbaik, Tuan Muda," sahut Celestine. "Tapi ayahmu tidak percaya sepenuhnya, bukan?"

"Ayahku adalah seorang jenderal perang. Dia bisa mencium bau kebohongan dari jarak satu mil," kata George. "Tapi dia akan diam selama itu menguntungkan posisi La’ Mortine. Masalahnya bukan Ayah, tapi sihir yang kau keluarkan tadi malam. Kau sadar apa artinya itu?"

"Artinya aku memiliki kekuatan yang bisa membantumu?" tanya Celestine polos.

George mencengkeram bahu Celestine, tidak keras, namun penuh dengan rasa frustrasi. "Artinya kau adalah sasaran empuk. Jika pihak pengkhianat tahu bahwa seorang putri Valley memiliki darah murni sihir es, kau tidak akan pernah aman lagi. Mereka akan memburu mu untuk diambil jantungnya atau dijadikan alat pemurni sihir hitam mereka."

Celestine menatap mata George yang tampak berkaca-kaca karena amarah dan kekhawatiran. "Maka jangan biarkan mereka mengambilku, George. Kau adalah pengawal pribadiku sekarang, bukan?"

George melepaskan cengkeramannya dan memalingkan muka. "Aku tidak bisa selalu ada di sampingmu, Celestine. Aku punya perbatasan yang harus dijaga."

"Kalau begitu bawa aku ke perbatasan setiap kali kau pergi," tantang Celestine.

"Kau benar-benar gila," gumam George sambil menggelengkan kepala.

"Aku serius, George. Aku tidak ingin menjadi putri yang hanya menunggu di kamar. Ajari aku cara mengendalikan cahaya biru itu. Jika itu adalah bagian dari diriku sekarang, aku ingin menguasainya, bukan malah menjadi tawanannya."

George menatap Celestine dengan tatapan yang sangat dalam. Ada rasa kagum yang mulai tumbuh di atas rasa takutnya. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengajarinya. Sihirmu berbeda dengan sihirku. Milikku adalah kehancuran, sedangkan milikmu adalah pemurnian."

"Kita akan mencarinya bersama di perpustakaan ayahmu," kata Celestine optimis. "Pasti ada catatan tentang hal ini."

"Makan malam nanti akan sangat canggung," George mengubah topik pembicaraan. "Ayah akan terus mengamatimu. Pastikan kau tidak melakukan hal aneh dengan tanganmu."

"Aku akan memakai sarung tangan panjang," sahut Celestine. "Dan kau, George... cobalah untuk tidak terlalu terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta. Itu akan membuat ayahmu semakin curiga."

George tersentak, wajahnya yang pucat mendadak memerah sedikit. "Siapa yang jatuh cinta? Aku hanya menjalankan tugasku!"

Celestine tertawa kecil, suara tawanya yang jernih menggema di koridor kastil yang dingin. "Tentu saja, Tuan Muda. Jalankan tugasmu dengan baik kalau begitu."

Celestine berjalan meninggalkan George yang masih terpaku di tempatnya. George menatap punggung Celestine yang menjauh, lalu ia menatap tangannya sendiri yang tadi dicairkan oleh darah sang putri. Ia merasakan kehangatan yang masih tersisa di sana, sebuah kehangatan yang kini ia tahu akan menjadi kelemahannya sekaligus satu-satunya alasannya untuk tetap menjadi manusia.

"Bencana," bisik George pada dirinya sendiri. "Dia benar-benar sebuah bencana yang indah."

Malam itu, di kamar tidurnya, Celestine duduk di depan cermin. Ia melepas balutan kain di tangannya dan melihat luka goresan itu sudah menutup sepenuhnya, hanya menyisakan bekas garis putih tipis yang bersinar sangat redup. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sama dengan Celestine yang turun dari kereta kuda beberapa hari lalu. Ia adalah seorang putri yang telah menyerahkan hatinya pada es, dan kini ia harus bersiap menghadapi badai yang jauh lebih besar dari sekadar ksatria pengkhianat.

Diplomasi antara Valley dan Heavenorth kini hanyalah sebuah kedok. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah pertempuran untuk memperebutkan cahaya yang ada di dalam tubuhnya, dan Celestine bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun memadamkannya, termasuk kakaknya sendiri jika diperlukan.

Malam itu, Aula Perjamuan Kecil terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meskipun perapian besar telah diisi kayu ek yang menyala-nyala. Celestine duduk di sisi meja panjang, mengenakan gaun malam berwarna perak dengan sarung tangan sutra yang menutupi hingga ke siku. Di hadapannya, George duduk dengan posisi kaku, sementara Marquess de La’ Mortine berada di kursi utama, memotong daging rusa dengan gerakan yang sangat mekanis.

Denting alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu.

"Jadi, Putri Celestine," Marquess memecah keheningan tanpa mendongak. "Apa pendapat Anda tentang ksatria kami, Valtor? Maksud saya, ksatria Anda yang kini menjadi pengkhianat itu."

Celestine meletakkan garpunya dengan tenang. "Dia bukan lagi ksatria Valley sejak dia memilih sihir hitam, Marquess. Valley tidak mengajarkan penghancuran diri seperti itu."

"Menarik," gumam Marquess, kini ia menatap Celestine dengan mata yang menyipit. "Sihir hitam membutuhkan wadah yang kuat. Valtor mampu menembus segel George bukan karena dia hebat, tapi karena ada kekuatan besar yang menyokongnya dari jauh. Apakah menurut Anda, kakak Anda, Theodore, tahu tentang ini?"

George meletakkan gelas anggurnya dengan sedikit hentakan. "Ayah, jangan menuduh tanpa bukti. Theodore mengirim adiknya ke sini untuk aliansi, bukan untuk mengirim pembunuh."

"Aku tidak menuduh, George. Aku bertanya," sahut Marquess dingin. "Dunia ini sedang berubah. Es di utara semakin tipis, dan kegelapan di selatan semakin pekat. Kita tidak bisa hanya percaya pada janji di atas kertas."

Celestine menatap Marquess dengan berani. "Jika kakak saya terlibat, dia tidak akan mengirim saya ke sini tanpa perlindungan sihir sedikit pun. Saya berada di sana, hampir mati. Apakah itu terdengar seperti rencana seorang kakak yang mencintai adiknya?"

Marquess terdiam sejenak, lalu ia tertawa pendek. "Atau mungkin itu adalah cara terbaik untuk memicu perang. Jika Anda mati di tangan kami, Valley punya alasan untuk menyerbu. Tapi, Anda tidak mati. Dan entah bagaimana, Valtor menjadi kristal es yang murni. George bilang itu sihirnya, tapi aku belum pernah melihat George mampu membuat es yang begitu... suci."

George mengepalkan tangannya di bawah meja. "Setiap ksatria punya puncak kekuatannya saat terdesak, Ayah. Anda sendiri yang mengajariku itu."

"Tentu saja," balas Marquess sambil tersenyum miring. "Tapi besok, aku ingin kau membawa Putri ke Danau Air Mata. Jika benar sihir esmu yang membekukan Valtor, maka danau itu akan bereaksi pada energimu. Jika tidak..." Marquess menggantung kalimatnya sambil menatap Celestine. "Maka kita punya tamu yang menyembunyikan identitas aslinya."

Suasana makan malam itu berakhir dengan ketegangan yang menyesakkan. Setelah Marquess meninggalkan ruangan, George segera menghampiri Celestine dan menariknya ke koridor yang sepi.

"Kau dengar itu? Danau Air Mata bukan sekadar danau," bisik George dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. "Itu adalah sumber mana dari keluarga La’ Mortine. Airnya akan bercahaya jika mendeteksi darah murni. Jika kau mendekat dan air itu bereaksi pada darahmu, Ayah akan langsung tahu bahwa kau adalah pemilik sihir itu."

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa menolak perintah ayahmu," kata Celestine, ia bisa merasakan telapak tangannya kembali berdenyut di balik sarung tangan.

"Kita harus pergi ke perpustakaan malam ini juga," kata George sambil menarik tangan Celestine. "Ada sebuah teknik kuno untuk menyembunyikan aliran mana. Jika kau tidak bisa menguasainya sebelum besok pagi, kita berdua dalam masalah besar."

Mereka menyelinap ke perpustakaan bawah tanah, menghindari penjaga dengan kemampuan George yang bisa memadamkan cahaya obor dari jauh. Di dalam ruangan yang berbau kertas tua itu, George mencari-cari di rak paling belakang hingga ia menemukan sebuah buku kecil bersampul kulit manusia yang sudah mengeras.

"Ini dia," gumam George. "Teknik *Suppression: The Still Heart*. Ini adalah cara para leluhur kami menyembunyikan kekuatan mereka saat berburu di wilayah musuh."

"Bagaimana caranya?" tanya Celestine sambil membuka buku itu.

"Kau harus menurunkan suhu tubuhmu hingga hampir mencapai titik beku, namun menjaga detak jantungmu tetap konstan. Ini sangat menyakitkan bagi orang yang tidak terbiasa dengan es," George menjelaskan sambil menatap Celestine dengan ragu. "Aku tidak yakin kau bisa melakukannya dalam semalam."

"Aku harus bisa," tegas Celestine. "George, ajari aku. Sekarang."

George menghela napas. Ia berdiri di belakang Celestine, meletakkan kedua tangannya di pundak sang putri. "Tutup matamu. Bayangkan mana di dalam tubuhmu adalah aliran sungai. Sekarang, bayangkan kau membendung sungai itu dengan dinding es yang tebal. Jangan biarkan ada satu tetes pun yang bocor keluar."

Celestine memejamkan mata. Ia mencoba mengikuti instruksi George. Namun, setiap kali ia mencoba membendung kekuatannya, rasa dingin yang luar biasa menyerang dadanya, membuatnya sesak napas.

"Sakit, George..." rintih Celestine.

"Bertahanlah! Jika kau melepaskannya sekarang, energimu akan meledak dan menghancurkan ruangan ini," perintah George dengan suara keras. "Fokus pada suaraku. Jangan fokus pada dinginnya."

George memeluk Celestine dari belakang, mencoba memberikan stabilitas fisik saat energi di dalam tubuh Celestine mulai bergejolak. Selama berjam-jam mereka terjebak dalam posisi itu. Celestine berkali-kali hampir pingsan karena hipotermia buatan yang ia ciptakan sendiri, namun George terus membisikkan kata-kata penyemangat di telinganya.

"Kau adalah mawar dari Valley, Celestine. Mawar tidak layu hanya karena salju satu malam," bisik George.

Menjelang subuh, Celestine akhirnya berhasil. Cahaya redup di tangannya benar-benar menghilang. Tubuhnya terasa sangat dingin saat disentuh, namun ia masih bernapas. George melepaskan pelukannya, ia sendiri tampak sangat lelah.

"Kau melakukannya," kata George sambil menyeka keringat dingin di dahi Celestine. "Tapi ini hanya sementara. Di depan danau nanti, tekanannya akan jauh lebih besar."

"Aku akan bertahan," jawab Celestine, suaranya terdengar lemah namun penuh tekad.

Pagi harinya, Marquess sudah menunggu dengan kuda-kuda yang siap. Mereka berangkat menuju Danau Air Mata yang terletak di puncak bukit tertinggi di wilayah La’ Mortine. Sepanjang perjalanan, George tidak bicara sama sekali, ia hanya terus memantau kondisi Celestine melalui ikatan batin yang entah bagaimana mulai terbentuk di antara mereka.

Saat mereka sampai di tepi danau, pemandangannya sangat indah namun mistis. Air danau itu berwarna perak bening, tidak membeku meskipun suhu di sekitarnya sangat rendah. Di tengah danau terdapat sebuah monolit batu kuno yang memancarkan aura biru yang kuat.

"Silakan, George. Berdiri di tepi air," perintah Marquess.

George maju, ia menyentuh permukaan air. Air itu bercahaya biru tua, warna standar sihir La’ Mortine. Marquess mengangguk puas, lalu matanya beralih ke Celestine.

"Sekarang Anda, Tuan Putri. Temani putraku di sana. Aku ingin melihat apakah 'berlian' yang dikatakan George semalam akan muncul lagi jika Anda berdiri di sampingnya."

Celestine melangkah maju. Ia bisa merasakan air danau itu memanggil mana di dalam tubuhnya. Dinding es yang ia bangun semalam mulai retak. Rasa sakit di dadanya kembali muncul, jauh lebih hebat dari sebelumnya.

"Celestine, ingat suaraku," bisik George melalui tatapan matanya.

Celestine menyentuh air itu. Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Air danau tetap tenang. Tidak ada cahaya biru muda, tidak ada bunga es yang mekar. Celestine berhasil menekan kekuatannya.

Marquess tampak sedikit kecewa, namun juga lega. "Mungkin penglihatanku sudah tua. Baiklah, George. Bawa Putri kembali. Sepertinya kita memang hanya menghadapi ksatria pengkhianat yang malang."

Namun, tepat saat Celestine hendak menarik tangannya dari air, sebuah getaran hebat terjadi di dasar danau. Monolit di tengah danau tiba-tiba mengeluarkan suara dentuman yang keras. Seluruh permukaan air yang tadinya perak kini berubah menjadi warna emas yang menyilaukan.

Marquess terbelalak. George langsung menarik Celestine menjauh, namun terlambat. Monolit itu retak, dan sebuah suara kuno seolah berbisik di udara.

"Sang Penguasa telah kembali..."

George menatap Celestine dengan wajah pucat. "Kebohongan kita baru saja dihancurkan oleh takdir, Celestine."

Celestine menatap air danau yang kini berwarna emas. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan hanya sihir es biasa. Ia adalah sesuatu yang jauh lebih kuno dan lebih berbahaya. Rahasia darah La’ Mortine kini bukan lagi masalah utama, melainkan rahasia darah Vallery yang selama ini disembunyikan oleh leluhurnya sendiri.

"Siapa aku sebenarnya, George?" tanya Celestine dengan suara gemetar.

George tidak menjawab, ia hanya menggenggam tangan Celestine erat-erat saat para penjaga dan Marquess mengepung mereka dengan pedang terhunus. Babak diplomasi telah berakhir, dan babak pelarian baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!