NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TWENTY SIX

Adryan yang mengira Della mulai goyah langsung membusungkan dadanya penuh percaya diri. "Tentu saja! Keluarga Juardi tidak semiskin itu. Katakan saja apa yang kamu inginkan, Della. Pakaian bermerek? Perhiasan? Aku bisa membelikannya untukmu sekarang juga!"

​Della membuka tas jinjingnya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, membiarkan Adryan menunggu dengan tidak sabar. Dari dalam tasnya, Della mengeluarkan tiga kartu kredit unlimited milik Aksa yang berwarna perak, hitam, dan emas, lalu menjajajarkannya di antara jari-jemarinya. Tidak lupa, ia juga mengeluarkan kartu ATM hitam legam milik Tuan Besar Jerry Herlos yang memancarkan logo khusus perbankan privat terkaya.

​Della menyodorkan keempat kartu itu tepat di depan mata Adryan yang langsung membelalak kaku.

​"Jika aku mau yang lebih dari sekadar pakaian bermerek, bagaimana?" tanya Della, nadanya terdengar sangat santai namun menghantam telak ego Adryan. "Hari ini, suamiku yang kamu sebut gila itu memberiku tiga kartu kredit unlimited ini untuk bersenang-senang, dengan pesan agar aku tidak pulang sebelum limitnya habis. Dan kakek mertuaku... dia memberikan satu kartu tabungan utama keluarga Herlos ini."

​Della memajukan wajahnya, menatap Adryan dengan pandangan intimidasi yang ia pelajari dari Aksa. "Di dalam kartu hitam milik Kakek Jerry ini, berisi dana cash sebesar sepuluh triliun rupiah yang bebas aku gunakan kapan saja. Pertanyaanku sekarang... Apakah kamu dan seluruh keluarga Juardi yang sombong itu mampu menyediakan tiga kartu kredit unlimited dan satu kartu tabungan berisi sepuluh triliun rupiah di dalamnya untukku saat ini juga? Bisa??"

​Wajah Adryan seketika berubah menjadi pucat pasi, lalu memerah padam menahan rasa malu yang teramat sangat. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan oksigen. Sepuluh triliun rupiah? Jangankan sepuluh triliun, bahkan total aset bersih seluruh korporasi keluarga Juardi jika digabungkan dan dijual sekalipun tidak akan pernah mencapai angka fantastis tersebut.

​"Kamu... kamu pasti berbohong, Della! Mana mungkin—" Adryan mencoba membantah dengan suara yang bergetar.

​"Jika kamu tidak percaya, mari kita buktikan di kasir toko sepatu ini sekarang," potong Della dengan kejam, tidak memberikan celah bagi Adryan untuk menyelamatkan harga dirinya.

​Della menyimpan kembali kartu-kartunya ke dalam tas, lalu menatap Adryan dengan tatapan meremehkan yang paling dingin. "Dengar baik-baik, Adryan Juardi. Di matamu, Dayaksa mungkin adalah orang yang tidak waras. Tapi di mataku, dia adalah pria yang jauh lebih berharga dan kuat daripada pria mana pun di dunia ini. Dan yang paling penting... dia memperlakukanku seperti seorang ratu, sementara kamu dan keluargamu hanya memperlakukanku seperti sampah."

​Della membalikkan tubuhnya, memberikan isyarat kepada kedua pengawalnya. "Pengawal, tolong singkirkan pria pengganggu ini dari hadapanku. Kehadirannya merusak selera belanjaku."

​"Baik, Nyonya Muda!" jawab kedua pengawal itu dengan serempak dan tegas. Tubuh tegap mereka langsung maju, mengunci pergerakan Adryan dan mendorongnya menjauh dari area outlet dengan paksa, mengabaikan protes dan makian Adryan yang terdengar menyedihkan di tengah keramaian mall.

​Della menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat karena emosi. Ia mengusap gaunnya yang sedikit kusut, lalu menatap toko sepatu di hadapannya dengan senyum yang kembali mengembang. Hari ini, ia telah membuktikan bahwa ia bukan lagi Della yang lemah yang bisa diinjak-injak oleh masa lalunya. Dengan dukungan penuh dari keluarga Herlos di belakangnya, ia siap menghadapi badai apa pun demi tetap berada di sisi Dayaksa.

...****************...

Malam telah melampaui puncaknya ketika pintu kamar tidur utama kediaman Herlos terbuka dengan sangat perlahan. Hanya ada bunyi klik super halus yang nyaris tak terdengar. Dayaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha seminimal mungkin tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan Della yang tampak sudah terlelap di balik selimut tebal.

Aksa berjalan mendekati sisi ranjang tempat Della berbaring. Ia menundukkan tubuh tegapnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat namun penuh kehangatan di kening sang istri. Ada rasa bersalah yang teramat sangat menyelusup ke dalam dadanya. Beberapa hari belakangan ini, ia selalu pulang larut malam dengan kondisi fisik yang terkuras habis.

Aksa menatap wajah damai Della dalam keheningan malam. Jika bukan karena ambisi besar untuk memberikan masa depan yang layak, aman, dan bergelimang kehormatan bagi istrinya, Aksa mungkin tidak akan pernah mau melakukan semua hal yang sangat melelahkan ini. Menghadapi intrik politik korporasi dan kemunafikan jajaran direksi adalah hal terakhir yang ingin dilakukan oleh jiwanya yang rapuh.

Ia teringat beberapa hari lalu, saat Tuan Besar Jerry Herlos memanggilnya ke ruang perpustakaan pribadi. Pria tua itu sempat memberikan beberapa nasihat mendalam, di antaranya mengenai esensi sejati dari seorang pria.

"Kewajiban utama seorang suami adalah memberikan kebahagiaan yang layak dan perlindungan penuh bagi wanita yang telah menyerahkan hidupnya kepadamu, Dayaksa," ucap Jerry malam itu, suaranya yang serak namun berwibawa membekas kuat di benak Aksa.

Aksa tersadar sepenuhnya. Sudah saatnya ia untuk sembuh. Sudah saatnya ia bangkit, mengubur semua trauma masa lalunya, dan menunjukkan kemampuan kejeniusannya yang sesungguhnya kepada dunia. Ia tidak boleh kalah oleh penyakitnya sendiri. Aksa bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, membasuh sisa-sisa kelelahan harian, lalu berganti pakaian tidur yang nyaman sebelum akhirnya merebahkan diri di samping Della, ikut tenggelam ke dalam istirahat malam yang sunyi.

Pagi-pagi sekali, ketika embun masih tebal membungkus taman mansion, Della sudah terbangun. Ia tidak ingin membuang waktu satu detik pun hari ini. Dengan cekatan, ia menyiapkan seluruh kebutuhan Aksa sebelum suaminya berangkat ke kantor pusat. Hari ini adalah hari penentuan, hari sidang pleno terbuka untuk melakukan voting atas masa depan kepemimpinan Herlos Grup. Tidak boleh ada satu pun kesalahan sekecil apa pun yang bisa memengaruhi atau merusak posisi Aksa sebagai pewaris takhta yang sah.

Sebenarnya, sejak semalam Della merasa tidak enak pada perasaannya. Ada sebuah firasat buruk yang terus-menerus menggelitik ulu hatinya. Oleh karena itu, di tengah malam buta secara sembunyi-sembunyi, Della sengaja menelepon Zacky untuk memastikan bahwa seluruh persiapan teknis telah steril. Della tahu betul, sekecil apa pun celah yang mereka tinggalkan akan langsung dimanfaatkan oleh faksi Fabio dan Emily untuk memancarkan kelemahan mental Aksa di depan publik.

Dalam telepon itu, Della meminta satu hal krusial kepada Zacky. "Zacky, begitu Aksa sampai di kantor, aku minta kamu segera memanggil Dokter Leon untuk berjaga secara rahasia di lobi atau ruang medis terdekat. Aku khawatir musuh sengaja mencari celah psikologis untuk memicu kondisi mental Aksa naik, dan membuat dia melakukan kesalahan fatal yang akan menjatuhkannya di depan para pemegang saham."

Kini, di dalam kamar yang sudah terang oleh sinar matahari pagi, Della sedang berdiri tepat di depan Aksa. Kedua tangannya bergerak dengan sangat terampil melilitkan dasi sutra hitam, lalu merapikan kerah serta potongan setelan jas premium milik suaminya.

Aksa menatap wajah Della dengan lekat, membiarkan istrinya mengurus penampilannya. Begitu selesai merapikan jas Aksa, Della mendongak. Ia berjinjit sedikit, lalu memberikan kecupan penyemangat tepat di bibir Aksa. Namun kali ini, kecupan itu terasa berbeda, lebih panjang, lebih dalam, dan sarat akan emosi yang tertahan.

Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Della menangkup kedua rahang tegas Aksa dengan jemarinya yang hangat. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata gelap suaminya.

"Kalah atau menang dalam sidang hari ini, itu tidak jadi masalah, Aksa. Ini semua hanya soal waktu," ucap Della, suaranya lembut namun bergetar penuh ketegasan. "Bila kali ini, dalam voting nanti kamu mendapatkan kekalahan, jangan berkecil hati. Masih ada banyak waktu lain di masa depan untuk meraih kemenangan yang sesungguhnya. Ingat pesan kakek dan pesanku, jaga dirimu baik-baik di dalam sana, dan kendalikan emosimu. Apa pun provokasi yang mereka lemparkan, kamu tidak perlu merasa gagal."

Della memberikan senyuman paling manis yang ia miliki, mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya kepada sang suami. "Di mataku... suamiku selalu menjadi seorang pemenang, tidak peduli apa pun hasil yang tertulis di kertas voting itu nanti. Ingat itu baik-baik, Tuan Muda Dayaksa."

Aksa tertegun, dadanya bergemuruh mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Della. Beberapa hari ini, tekanan berat luar biasa memang menghimpit pundaknya hingga rasanya ia hampir gila sungguhan. Namun, mendengar penuturan Della, separuh dari beban itu seolah luruh. Aksa mengangguk dengan sangat patuh, sepasang matanya memancarkan tekad yang kuat.

"Aku mengerti, Della. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal perusahaan Herlos. Demi kamu, demi kita," jawab Aksa dengan nada suara yang berat dan mantap.

1
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
pasti ada sesuatu dengan obat Aska 👀
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
aduh jangan kambuh sekarang 😳🥺
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
ciiih ngeselin lu sampah 🤢🤮
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mantabs
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
El Zèphyr
Emang ya, penyesalan selalu datang di akhir
El Zèphyr
ngeri banget kebayang sama aku 😭😭😭
El Zèphyr
Della, sesekali coba bergantung sama orang lain deh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!