NovelToon NovelToon
Sang Pendekar Pengendali Naga

Sang Pendekar Pengendali Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: cici aremanita

Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.

Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari

Permintaan Ameng tidak sulit baginya, saat ada waktu Lue Ang tidak keberatan untuk mengabulkannya.

Serangan yang sengaja dilemparkan ke arah rumah Lue Ang membuat tanah bergetar hebat, Lue Ang yang baru tertidur satu jam yang lalu melompat dari tempat tidurnya dan berlari keluar.

"Hahahaha."

Lue Ang berjalan keluar menghampiri seniornya yang tertawa keras, para seniornya terlihat sangat segar padahal semalam tidak ada yang bisa bangun dari tempat masing-masing.

"Apa kamu terlalu mabuk berat sampai jam segini masih tertidur," ucap senior Ran.

"Maaf senior, semalam aku berlatih dan baru tertidur satu jam lalu," sahut Lue Ang.

"Kamu tidak perlu menghiraukannya, dia sendiri baru bangun karena terlalu mabuk," ucap senior Yun.

"Karena kamu juga sudah bangun sudah waktunya kita saling menunjukkan spirit, aku merasa penasaran apa sebenarnya spirit milikmu itu yang bisa membuat spirit murid ketua Qiu dan ketua Puang seperti ketakutan," sahut senior Ran.

"Aku setuju dengannya karena aku juga merasa penasaran dengan spiritmu," ucap senior Yun disambut anggukan kepala dua senior lainnya.

"Tidak masalah terima saja, akan ku buat mereka trauma karena terlalu penasaran," ucap Ameng

"Tidak perlu sampai seperti itu," sahut Lue Ang pelan.

"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu baru bersiap," ucap Lue Ang yang langsung masuk ke dalam rumahnya.

Karena dirinya sudah ditunggu para seniornya Lue Ang bergegas mandi dengan sangat cepat dan berganti pakaian, setelah selesai Lue Ang berjalan keluar dari rumahnya dan langsung pergi ke lapangan.

Di tengah lapangan keempat seniornya sudah tidak sabar ingin melihat spiritnya, belum sampai Lue Ang menghampiri keempat seniornya ketua Tiang lebih dulu menghampirinya.

"Aku akan membawanya ke perpustakaan kalian bisa melakukan itu lain waktu," ucap ketua Tiang yang langsung membawa Lue Ang menghilang.

"Ketua," sahut senior Ran sangat kesal sendiri.

"Sabar, benar kata ketua Tiang masih ada lain waktu," ucap senior Raksa.

"Padahal aku juga sangat tidak sabar ingin melihatnya," sahut senior Mandu.

"Kalian ini anak kecil saja, kita bisa menunggunya sampai kembali dari perpustakaan," ucap senior Yun dengan santai.

"Teruslah berpura-pura menjadi orang yang paling sabar padahal kamu sendiri juga tidak sabar ingin melihatnya," sahut senior Ran.

***

Lue Ang yang di bawa menghilang oleh ketua Tiang tiba di depan perpustakaan perguruan Langit Tinggi, Lue Ang berdiri di depan pintu karena dirinya baru pertama kali memasuki perpustakaan.

Bangunan tinggi dengan warna coklat hiasan ukiran kuno memenuhi dinding luar bahkan pintu, Lue Ang yang merasa kagum membuatnya terdiam beberapa saat.

"Apa yang kamu tunggu masuklah ke dalam sana, cari dua gulungan jurus atau kitab jurus yang ingin kamu kuasai, pastikan kamu memilihnya dengan tepat," ucap ketua Tiang.

"Baik," sahut Lue Angm

Lue Ang yang melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan menarik perhatian banyak orang, para murid yang sebelumnya ada di lapangan menyaksikan pertandingan saling berbisik satu sama lain.

Sebagian dari mereka sangat takjub dengan gaya menyerang Lue Ang, sebagian lagi berbisik satu sama lain kalau sebenarnya Lue Ang menang hanya karena murid senior mengalah padanya.

Lue Ang yang malas menghiraukan para murid langsung saja mencari kitab jurus yang cocok untuknya, setelah mengelilingi lantai pertama Lue Ang yang tidak menemukan kitab jurus yang cocok untuknya naik ke tingkat kedua.

"Anak muda memilih kitab jurus yang cocok untukmu bukan hanya dengan melihatnya saja tapi kamu harus merasakannya dengan hati," ucap pria tua penjaga perpustakaan.

"Aku mengerti, tapi memang di lantai bawah tidak ada yang cocok untukku," sahut Lue Ang.

Lue Ang bebas menyusuri lantai kedua untuk mencari kitab dan gulungan jurus yang cocok untuknya, sama seperti sebelumnya setelah mengelilingi tingkat kedua Lue Ang masih tidak menemukan yang cocok untuknya.

Sebenarnya Lue Ang yang mau memilih kitab jurus dibantu oleh Ameng, Ameng sangat tahu kitab jurus atau gulungan jurus seperti apa yang sangat cocok untuk pengendalinya.

"Anak muda, tingkat 3 tidak bisa dinaiki oleh sembarang orang tidak peduli kamu murid ketua utama sekalipun," ucap penjaga.

"Tapi di tingkat pertama dan kedua tidak ada yang cocok untukku," sahut Lue Ang.

"Kalau begitu kamu ikutlah denganku, akan ku bawa kamu ke sebuah ruangan mungkin saja di sana ada yang cocok untukmu," ucap penjaga perpustakaan sambil berjalan pergi.

Lue Ang bergegas mengikuti penjaga perpustakaan yang berjalan ke arah tempat yang sebelumnya sudah didatanginya, walau merasa kebingungan karena tempat yang didatanginya tadi tidak memiliki ruangan lagi Lue Ang hanya diam dan tidak banyak bertanya.

Sampai di pojok ruangan Lue Ang sangat yakin sebelumnya di sana tidak ada pintu, penjaga perpustakaan langsung membukakan pintu dan memintanya untuk masuk.

Memasuki ruangan yang baru dibuka penjaga perpustakaan Lue Ang disambut ruangan yang sangat gelap, Lue Ang yang tidak bisa melihat apapun tidak yakin ada kitab jurus di sana.

Di ruangan yang sangat gelap Lue Ang yang kebingungan harus berjalan ke arah mana tiba-tiba melihat dua cahaya yang berdekatan, cahaya yang terlihat sangat terang itu seperti mata yang sedang memperhatikannya.

"Aku sangat yakin kedua cahaya itu adalah gulungan atau kitab jurus yang sangat cocok untukmu," ucap Ameng.

"Tapi berhati-hatilah biasanya tidak mudah untuk seseorang mengambil kitab atau gulungan jurus yang dilindungi," sambung Ameng.

Lue Ang yang mengerti hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah dua cahaya yang berada tidak jauh di depannya, setelah cukup dekat dengan kedua cahaya Lue Ang merasakan kalau saat ini kakinya terasa sangat berat untuk melangkah maju ke depan.

"Sepertinya walau keduanya cocok untukmu keduanya masih enggan dengan mu," ucap Ameng.

"Mereka tidak lebih hanya benda mati memangnya apa yang bisa mereka lakukan," sahut Lue Ang.

Lue Ang mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk bisa terlepas dari sesuatu di bawah kakinya, setelah mengeluarkan seluruh kekuatannya Lue Ang kembali bisa berjalan dan mendekati kedua cahaya di depannya.

"Bukankah aku sudah bilang benda mati memangnya bisa melakukan apa," ucap Lue Ang.

"Jangan terlalu senang dulu," sahut Ameng.

Lue Ang yang mengangkat tangan ingin mengambil kedua kitab jurus di buat terjatuh, tanpa berbicara Lue Ang bangkit berdiri dan mencoba kembali mengambil kitab jurus yang berada di depannya.

"Ternyata kalian benar benar pemilih," ucap Lue Ang.

"Jika bukan aku yang mengambil kalian apa kalian akan tetap berada di tempat ini sampai kalian rusak," sambung Lue Ang.

"Seharusnya kalian tidak menjadi pemilih," ucap Lue Ang yang masih berbicara sendiri.

"Cekk, Bukankah aku sudah mengatakannya padamu," sahut Ameng.

1
Suciani Ade
Ditunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!