NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Di ujung sofa, seorang pria bertubuh tambun dengan tato ular di sepanjang lehernya, Bellucci, perlahan meletakkan gelas wiskinya. Meskipun napasnya memburu, ia mencoba memaksakan tawa remeh demi menjaga harga dirinya di depan para anak buahnya.

“Franklin!,” ujar Bellucci, suaranya parau akibat cerutu.

“Kau masuk tanpa izin ke wilayahku, membawa pasukan kecil, kau pikir kau sedang mengancam siapa?!”

Benedict tidak bergeming. Ia melangkah perlahan, mendekati batas undakan area VIP. Luca dan pengawal lainnya segera menyebar, mengunci setiap sudut dan menatap lurus ke arah para penjaga Bellucci dengan tangan yang sudah melekat di gagang senjata.

“Aku tidak pernah mengancamu, Bellucci,” balas Benedict datar, menghentikan langkahnya tepat di bawah sorotan lampu neon merah yang temaram.

“Aku mengunjungimu karena beberapa pertanyaan. Kau membayar Arthur untuk mencuri milikku. Berapa harga yang kau tawarkan untuk kepalanya?”

“Arthur? Siapa itu Arthur? Aku tidak kenal tikus kantoran!” elak Bellucci dengan kekehan kasar, meski matanya melirik gelisah ke arah pintu keluar darurat di belakangnya.

“Kau salah alamat, Franklin! jika saham perusahaanmu jatuh, jangan melimpahkan kekesalanmu pada bisnis malamku” lanjut Bellucci.

“Jangan mempermainkan kami, bajingan!” Bentak Albert, salah satu anak buah Bellucci.

“Kau pikir karena kau seorang Franklin, kau bisa mendikte kami disini?!” Albert memprovokasi dengan mengangkat pistolnya tinggi-tinggi ke arah dada Benedict.

Klik-klik.

Dalam waktu kurang dari satu detik, moncong-moncong senjata dari pengawal Benedict sudah terarah lurus ke kepala Albert. Suasana di dalam club mendadak begitu sunyi hingga deru napas Albert terdengar jelas.

“Kau memelihara anjing yang terlalu banyak menggonggong, Bellucci. Dan anjing yang berisik biasanya tidak berumur panjang” ucap Benedict tajam.

“Turunkan senjatamu, Albert!” perintah Bellucci ketakutan, suaranya meninggi satu oktav.

Albert menelan ludah dengan susah layah, lalu menurunkan senjatanya dengan tangan yang gemetar hebat. Bellucci kembali menatap Benedict.

“Dengar, Franklin. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin. Jika memang ada kesalahpahaman terkait proyek pelabuhan Brooklyn, kita bisa membagi wilayah itu. Kau dapat utara, aku ambil selatan. Tidak perlu ada pertumpahan darah untuk masalah sepele seperti ini,” ucap Bellucci.

“Kesalahpahaman?” Benedict mendengus. “Kau menyusup ke dalam wilayahku, mencuri milikku, dan sekarang kau sebut ini masalah sepele?”

“Aku bisa mengganti kerugian sahammu! Berapa? Sepuluh juta? Dua puluh? Tiga puluh juta dolar?!” seru Bellucci mulai panik, keringat dingin kini bercucuran dari pelipisnya yang botak.

Benedict menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis. Ia merogoh saku jasnya perlahan. Gerakan itu membuat seluruh anak buah Bellucci menahan napas, mengira pria itu akan mencabut senjata. Namun, benedict hanya mengeluarkan selembar kertas memo yang berisi rincian rekening cangkang milik Bellucci.

Benedict menjatuhkan kertas itu ke atas meja, tepat di samping wiski Bellucci.

“Aku sudah membekukan seluruh jalur logistik ilegal mu di dermaga Brooklyn sejak setengah jam yang lalu, Bellucci. Transaksi mu dengan kartel Kamboja hari ini? Gagal total,” bisik Bendict, suaranya begitu rendah namun menghujam bagai belati.

“Kau tidak punya uang lagi untuk membayarku. Kau miskin!” lanjut benedict.

Wajah Bellucci seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak menatap memo tersebut. “K—kau…. bagaimana bisa….”

“Sekarang pilihanmu hanya dua,” ucap Benedict. “Kau sebutkan siapa saja orang dibalik Arthur, atau kau akan membiarkan Luca meratakan tempat ini bersama dengan seluruh orang di dalamnya.”

“A-Albert” ucap Bellucci dengab bibir bergetar tanpa pikir panjang, mengkhianati anak buahnya sendiri demi menyelamatkan nyawanya.

“Albert yang mengatur pertemuan Arthur dengan pihak luar. Aku bersumpah, Franklin! hanya itu yang kutahu” ucap Bellucci.

Mendengar namanya disebut, Albert tersentak. “Bos! apa yang kau lakukan!”

Sebelum Albert melangkah mundur, Luca bergerak dengan kecepatan luar biasa.

Bugh!.

Sebuah hantaman gagang pistol mendarat di pelipis Albert, membuatnya langsung ambruk ke lantai dengan darah yang mengucur. Dua pengawal lainnya langsung meringkus tubuh Albert yang setengah sadar.

“Kerja sama yang bagus, Bellucci,” ucap benedict, mengisyaratkan dengan tangan agar anak buahnya membawa Robert keluar.

Benedict berbalik, melangkah pergi menuju pintu keluar. “Nikmati sisa hari terakhirmu di Brooklyn. Karena besok, tempat ini sudah menjadi milikku.”

Benedict melanjutkan langkahnya. Ia memberi instruksi untuk pergi ke Veto. Benedict tidak bisa membiarkan tikus pengkhianat bernapas lebih lama.

Eksekusi pun dimulai. Albert menjadi target pertama. Tubuhnya dikunci menggunakan kekangan rantai di atas kursi logam yang dipaku ke lantai. Di atas kepalanya, sebuah lampu sorot berdaya tinggi menyala terang, memanaskan kulitnya yang sudah gemetar ketakutan. Benedict mengamati dari sudut ruangan dengan tangan melipat di dada.

“Mulai,” perintah Benedict.

Luca melangkah maju, melepaskan jam tangan dan menyerahkan pada anak buah yang lain. Ia mengambi sebuah alat besi berat bersisi gerigi dari meja peralatan. Dan pengawal bertubuh kekar langsung mencengkeram bahu Albert dari belakang, mengunci pergerakannya.

“Mr. Franklin! demi Tuhan! Aku hanya melakukan yang diperintahkan!” teriak Albert, matanya terbelalak ngeri melihat alat itu mendekati tangannya.

“Siapa yang memerintahkan mu?” tanya Luca, suaranya datar tanpa emosi.

“Bellucci! hanya Bellucci! aku bersumpah!”

“Jawaban salah,” sahut Luca dingin.

Kretek.

Luca memberikan tekanan pada jemari Albert. Suara retakan kuku seketika memecah keheningan.

“ARGHHHH! BAJINGAN! SAKIT!” Albert melolong gila, tubuhnya kejang di atas kursi.

Rantai yang mengikat tubuh Albert bergemerincing keras. Keringat dingin mulai membanjiri wajahnya yang pias.

Luca tidak memberi jeda. Ia memberikan siksaan bertubi-tubi pada titik saraf di jemari Albert sehingga pria itu menjerit sampai suaranya serak habis, matanya memerah menahan siksaan yang luar biasa.

“Siapa yang membayarmu, Albert! napasmu selanjutnya tergantung pada jawabanmu!” desis Luca.

Albert terengah-engah, peluh membasahi seluruh wajahnya. Ia menoleh ke arah Benedict yang bergeming.

“Aku…. aku tidak bisa….” Albert terbatuk, napasnya tersedak. “Percuma…. aku memberitahumu sekarang. Kau tidak mengerti…..”

Benedict menegakkan badannya, melangkah mendekati Albert. “Aku tidak suka membuang waktu, Albert. Sebutkan siapa orang yang membayarmu.”

Albert menatap Benedict dengan tatapan sayu. “Jika aku memberi tahumu, aku tetap tidak akan pernah selamat dari orang itu,” ucap Albert, tubuhnya gemetar hebat.

“Orang itu…. dia bisa menghancurkan keluargaku, menghancurkanmu, menghancurkan segalanya!”

“Siapa dia?” tekan Benedict, suaranya merendah.

Albert menggelengkan kepalanya histeris. “Bunuh saja aku sekarang! aku mohon! lebih baik kau habisi aku saat ini juga daripada aku harus terus berada disini! aku tidak akan bicara! aku lebih memilih mati ditanganmu!”

Tanpa berkedip, benedict memberikan isyarat pelan dengan dua jarinya kepada Luca. Luca melangkah ke belakang Albert, menarik alat penumpas dari balik jasnya, dan menempelkannya tepat di pelipis Albert.

Puft.

Suara letusan diredam dengan sempurna, hanya menyisakan bunyi tubuh Albert yang mendadak lemas dan terkulai kaku di atas kursi besi.

“Bersihkan tempat ini. Bawa aku ke ruangan Arthur,” perintah Benedict.

Gema redam dari ruangan Albert entah bagaimana merembes lewat celah udara dan terdengar hingga ke ruangan sebelah.

Kondisi Arthur jauh lebih mengenaskan. Kedua pergelangan tangannya dirantai menggantung ke langit-langit, memaksa ujung kakinya bersusah payah menumpu berat badan diatas lantai. Kemejanya sudah terkoyak, memperlihatkan bilur kehitaman hasil kerja anak buah Luca sejak tadi siang.

“Mr. Franklin! tolong…. demi Tuhan, Mr. Franklin!” ratap Arthur begitu melihat benedict masuk. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

“Albert sudah mati, bukan? aku mendengar suaranya! kumohon jangan bunuh aku!” ucap Arthur.

Benedict berdiri didepan Arthur, melipat tangannya di belakang punggung.

“Albert memilih mati karena dia terlalu takut pada bosmu. Bagaimana denganmu, Arthur? apakah kau memiliki ketahanan yang lebih baik untuk bertahan?” ucap Benedict.

“Aku tidak tahu apa-apa!” jerit Arthur, tubuhnya bergoyang di atas kekangan rantai, membuat besi di langit-langit berderit.

“Albert yang memegang kendali aksesnya. Aku bersumpah demi nyawaku!”

Bendict tidak menampilkan emosi sedikit pun. Ia hanya menatap Luca, memberikan perintah tanpa suara. Luca berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah alat kejut dengan tegangan yang diatur khusus untuk merusak saraf. Dua pengawal maju, mengunci kaki Arthur yang menggantung agar tidak bisa menghindar.

“T—tidak…. tidak! jangan itu! Kumohon!” ratap Arthur, matanya terbelalak ngeri melihat alat itu mendekat.

Luca menempelkan alat itu tepat di ulu hati Arthur.

ZZZZZTTTTTTT!

Tubuh Arthur seketika menegang hebat, melengkung kaku di udara seiring rantai di pergelangan tangannya yang tertarik kencang. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar, wajahnya memerah padam.

Begitu Luca menarik alat itu, Arthur langsung terkulai lemas. Ia terengah-engah, napasnya putus-putus dengan sudut bibir yang mengeluarkan noda pekat.

“Siapa orang itu, Arthur?” tanya Benedict. “Albert memilih akhir yang cepat. Kau bisa mendapatkan akhir yang jauh lebih menyiksa jika tetap bungkam.”

Arthur mendongak dengan sisa kekuatannya, kelopak matanya bergetar hebat.

“Aku…. aku tidan akan membuka mulut” ucap Arthur, suaranya lemah.

Benedict memberi isyarat lagi. Luca kali ini menggeser alat setrum itu ke arah paha bagian dalam Arthur.

ZZZZZZZZZTTTTTTTTTTTT!

“ARRGHHHH!”

Tubuh Arthur kejang hebat selama beberapa saat sebelum akhirnya Luca mematikan dayanya. Kepala Arthur terkulai lemas ke dada.

Bendict maju satu langkah lagi. Ia mencengkeram Arthur dengan kasar, memaksa wajah pria itu mendongak tegak untuk menatap langsung ke dalam matanya.

“Ini kesempatan terkhirmu. Sebutkan satu nama, atau mau sendiri yang akan memastikan setiap detik hidupmu di sini menjadi neraka,” ancam benedict.

Arthur menatap mata Benedict. Di tengah rasa sakitnya, tiba-tiba sebuah senyuman terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Sebuah tawa lolos dari tenggorokannya.

“Ini…. ini adalah awal dari kehancuranmu, Franklin….” ucap Arthur, matanya membelalak lebar, menatap lurus ke dalam manik mata Benedict tanpa ada lagi rasa takut akan kematian.

“Kau pikir…. kau sudah menang dengan menangkapku? tidak….”

Arthur terbatuk, menyemburkan noda merah ke lantai sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Meski aku mati disini…… kau akan tetap hancur karena orang itu. Dia sudah mengincarmu sejak lama, kau tidak akan pernah bisa menghentikannya! Kau akan hancur!”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!