NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Martabak Daging VS Martabak Manis

Sejak tinggal di sini, Melody jarang melihat Adden berkumpul bersama yang lain. Matanya menyapu ke arah sofa lain. Jojo duduk bersama dua cowok pemain sepak bola yang pernah dilihatnya di sekolah, salah satunya bernama Issac.

Kaki Melody menyentuh lantai setelah anak tangga terakhir. Adden seketika menoleh ke arahnya. Senyum di wajah pria itu lenyap seketika. Mata hitam pekatnya menatap tajam, mengamati setiap gerakan Melody.

Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Ditarik kembali ke masa lalu saat mereka sering bertemu di pagar pembatas halaman rumah Adden. Ingatan tentang percakapan soal Martabak muncul kembali. Perutnya bergolak, karena itu satu-satunya Martabak daging yang pernah ia coba dan tidak ia sukai.

Memang ia akan memakannya jika tak ada pilihan, tapi memori saat mereka berdebat sengit soal mana Martabak yang paling enak itu terputar jelas di kepalanya.

...(Flash Back On)...

"Martabak itu enggak enak," kata Melody sambil meringis dan menjulurkan lidahnya. "Katanya itu bukan telor asli, cuma kebanyakan tepung doang."

"Oh ya? Emang kamu tahu apa?" sahut Adden sinis.

"Tahu lah!" jawab Melody cepat. "Di kelasku ada cewek namanya Mega, orang tuanya kan cerai. Pas ulang tahunnya hari Jumat lalu, mamanya bawa martabak manis, terus papanya bawa martabak daging."

Melody yang mencoba dua jenis Martabak dan langsung merasakan perbedaannya. Martabak manis, rasanya lebih enak, dan potongannya besar. Sementara Martabak daging rasanya aneh, serta adonannya terlalu tebal.

Seorang temannya cowok bernama Vivo pernah bilang kalau rasanya mengerikan, dan Melody setuju dengan pendapat itu.

"Dasar Vivo itu bodoh, enggak ngerti apa-apa. Kalau aku ketemu dia, bakal aku bilangin langsung ke mukanya," celetuk cowok itu dengan nada kesal.

"Kok marah-marah sih?" tanya Melody pelan.

"Enggak marah. Vivo itu emang bego, enggak ngerti apa yang dia omongin, dan kamu juga sama. Martabak Daging itu yang paling enak karena banyak proteinnya," ucapnya tegas, ingin mempertahankan pendapatnya. "Kalau martabak manis, banyak gula bikin penyakit."

Melody terdiam. Dia memang tidak tahu soal itu, mana mungkin dia paham?

Adden itu tidak tahu kalau ini baru pertama kalinya Melody mencicipi kedua jenis Martabak itu.

Melihat matahari mulai terbenam, Melody sadar dia harus segera pulang. Kalau sampai ketahuan pergi oleh ayah tirinya, bahaya sekali. Luka dan rasa sakit dari kejadian terakhir pun belum sepenuhnya hilang.

"Aku harus pulang dulu."

"Kenapa buru-buru?"

"Papa mau sampai rumah, aku harus pastiin semua pekerjaan rumah selesai."

Cowok itu memasang wajah jijik. "Pekerjaan rumah tangga?"

Melody mengangguk pelan. "Iya, pekerjaan rumah."

Melody mengangkat bahu acuh tak acuh lalu menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan debu. Mereka sedang duduk di atas tumpukan papan kayu di antara dua pohon yang sedang dipakai untuk membuat rumah pohon.

"Kamu bakal balik lagi besok?"

Melody mengambil tas kresek berisi botol air plastik bekas. Dia menginjakkan satu kaki di pagar kayu, melompat melewatinya, lalu menoleh ke belakang.

"Aku usahain, tapi pasti balik kok."

Cowok itu menatap ke bawah sebentar, lalu menatap Melody kembali.

"Janji ya? Oke deh kalau kamu enggak suka Martabak daging, tapi aku tetap bilang Vivo itu orang bodoh."

Melody tersenyum tipis. "Janji."

... (Flash Back Close)...

"Ngapain dia ada di sini?" suara seorang cewek terdengar dari sebelah kiri Melody. Seingat Melody namanya Marlin. Dia salah satu anggota tim cheerleader, satu geng sama Luccy dan Mihoy.

Otaknya tidak nyambung, dapat nilai C di ujian terakhir pun saja karena nyontek jawaban yang tertulis di papan tulis.

"Ya dia tinggal di sini lah, pinter banget sih," sahut Giggi dari arah samping Melody. Tadinya Melody tidak sadar kalau Giggi duduk di sana karena tertutup pilar.

Giggi menoleh dan menyunggingkan senyum ramah. "Hai, kamu lapar enggak? Adden pesen Martabak. Tadinya aku kira Messy tahu selera kamu, ternyata enggak, jadi Adden yang pesenin."

Mata Melody mengamati kotak-kotak Martabak Daging yang berserakan di meja tengah ruangan yang luas itu.

"Maaf ya, Melody. Aku enggak yakin kamu suka apa," kata Messy gugup. Melody melihat dia menelan ludah, sepertinya dia merasa bersalah atau malu, entahlah.

Messy menunjuk ke arah kotak-kotak itu. Sisa makanannya sudah tinggal sedikit. Jelas sekali dari awal mereka memang tidak berniat menawarinya makan, bahkan Messy sendiri. Tapi Melody biasa saja, nanti dia cari apa saja di dapur. Dia memang tidak terbiasa melihat makanan melimpah seperti ini, apalagi pesan antar.

"Silakan dimakan aja. Kamu boleh ambil sedikit kok."

Melody mundur selangkah, dan tepat saat itu pandangannya bertemu dengan mata Adden.

"Itu kan Martabak Daging. Semua orang pasti suka Martabak Daging," kata Adden.

Jantung Melody berdegup kencang. Cowok itu ingat. Dengan segala pilihan yang ada, dia justru sengaja memesan makanan yang dia tahu sangat Melody benci. Tiba-tiba perut Melody berbunyi nyaring, mengkhianati rasa laparnya yang sebenarnya.

Adden mengangkat sebelah alisnya. "Lapar ya?"

Nada bicaranya menyindir. Melody tahu itu cara Adden mengejeknya tanpa orang lain sadar bahwa mereka punya masa lalu. Dia ingin memaksa Melody memakan potongan Martabak Daging dingin yang dia tahu Melody benci. Tapi Melody tidak akan mau.

Sudah seumur hidup Melody dipaksa melakukan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, dan dia sudah muak dipermainkan serta disakiti orang lain. Ada alasan kuat kenapa Melody sangat membenci Martabak Daging itu, bukan cuma karena orang tua Mega. Ada kenangan buruk yang jauh lebih mengerikan di baliknya, dan pikirannya seketika melayang kembali ke masa itu.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!