NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Teratai Di Atas Abu

Bab 35 — Pedang Melawan Petir

Panggung batu giok hitam di bawah kaki Lian Hua masih menyimpan sisa hawa tajam Jian Chen, namun lawan yang kini melangkah masuk ke arena membawa suasana yang jauh berbeda. Sosok itu bertubuh kekar, kulitnya gelap, rambutnya berdiri tegak seolah tersengat listrik. Pakaiannya berwarna ungu pekat, di dada terlukis awan berputar yang dikelilingi kilatan petir — lambang Sekte Guntur Ungu, cabang terkuat dari aliran guntur yang kekuatannya konon mampu menandingi langit itu sendiri.

Namanya Lei Kun, murid inti utama sekte itu, jenius yang sejak kecil dijuluki Anak Petir. Kekuatannya sudah berada di puncak Inti Roh Tingkat Kedua, nyaris menyentuh ambang tingkat ketiga, dan konon ia telah menyatu sepenuhnya dengan energi alam berunsur kilat. Saat ia berdiri diam saja, udara di sekelilingnya sudah berdesir, aroma ozon dan panas menyengat hidung, serta bunyi krak-krak halus seolah petir sedang bergemuruh di dekat telinga.

Lian Hua berdiri di seberang sana, memegang erat gagang pedang kayunya. Ia merasakan tekanan yang jauh lebih berat dibandingkan saat melawan Lin Feng atau murid Sekte Pedang Langit tadi. Ini bukan lagi sekadar adu teknik, tapi pertarungan melawan kekuatan alam yang buas dan tak terduga.

“Kau Pendekar Teratai yang sedang ramai dibicarakan itu ya?” ucap Lei Kun, suaranya berat dan bergetar, persis seperti guruh yang menggelinding di bukit jauh. Matanya bersinar ungu redup, penuh percaya diri dan sedikit penghinaan. “Kau beruntung bisa melewati ronde pertama. Tapi sampai di sini saja perjalananmu. Di hadapan kekuatan guntur sejati, segala bunga dan dedaunan akan hangus menjadi abu.”

“Kekuatan alam memang dahsyat,” jawab Lian Hua tenang, napasnya panjang dan teratur, memutar aliran Seni Teratai Langit hingga batas maksimal. “Tapi teratai tumbuh di tengah badai, tumbuh subur saat petir menyambar. Kau pikir kilatmu bisa memadamkan cahayaku?”

Wajah Lei Kun mengeras. Tanpa aba-aba, ia menghentakkan kakinya ke lantai batu.

DUK!

Retakan menyebar ke segala arah, dan seketika itu juga, kilatan cahaya ungu menyembur keluar dari tubuhnya. Ia bergerak bukan lagi seperti manusia, melainkan seperti petir yang melesat di udara. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan wajah Lian Hua, kepalan tangannya diselimuti bola listrik besar yang berdenyut mematikan, menghantam dada pemuda itu dengan kekuatan yang mampu membelah bukit karang.

“Teknik Guntur Menghancurkan Gunung!”

Lian Hua tidak berani menangkis secara langsung. Ia tahu betul sifat petir: cepat, tajam, dan bisa merambat masuk ke dalam tubuh menghancurkan urat nadi jika disentuh. Ia memutar pinggangnya secepat kilat, menjalankan Langkah Bayangan Teratai hingga puncaknya. Tubuhnya melebur menjadi kabut putih tipis, mundur selangkah persis saat kepalan tangan Lei Kun lewat di depannya, angin dahsyat menyapu pipinya hingga terasa panas terbakar.

Lantai tempat ia berdiri sedetik yang lalu meledak berantakan, pecahan batu beterbangan ke segala arah.

“Cukup gesit,” geram Lei Kun. “Tapi lihat saja, berapa lama kau bisa terus lari!”

Ia mengaum, kedua tangannya terbuka lebar. Cahaya ungu makin pekat, hingga seluruh panggung itu seolah berubah menjadi awan badai yang gelap dan berkilauan. Dari jarinya, puluhan anak panah petir melesat keluar, menembus udara dengan kecepatan tak terbayangkan, menyambar Lian Hua dari segala arah sekaligus.

“Hujan Panah Kilat!”

Serangan itu menutup seluruh jalan lari. Lian Hua terdesak hebat. Ia memutar pedang kayunya menjadi perisai cahaya putih-hitam, menangkis dan menepis setiap sambaran petir itu. Bunyi benturan bergema terus-menerus, seolah ribuan gendang dipukul serentak. Setiap kali senjatanya bersentuhan dengan petir, tubuhnya terguncang hebat, rasa kebas dan panas menjalar ke seluruh lengan.

Tenaga dalamnya terkuras deras. Lei Kun memang benar-benar lawan yang mengerikan. Kecepatannya nyaris menandingi langkahnya, dan kekuatannya begitu murni hingga sulit dinetralkan.

“Kau sudah habis-habisan, anak kecil?” seru Lei Kun sambil terus menyerang tanpa henti. “Aku bisa bertarung tiga hari tiga malam tanpa lelah. Sedangkan kau? Kau sudah mulai terengah-engah!”

Memang benar. Keringat dingin membasahi dahi Lian Hua. Ia terpaksa mundur terus, punggungnya hampir menyentuh batas panggung. Di sekeliling arena, penonton menahan napas, banyak yang mulai berpikir Pendekar Teratai akan tumbang di sini. Di tribun, Tetua Bai mengepal tangan erat-erat, wajahnya pucat menahan cemas.

Namun di mata Lian Hua, justru bersinar kilatan tajam. Semakin terdesak, semakin ia sadari pola gerakan lawannya. Petir memang cepat, memang dahsyat, tapi ia bergerak dalam garis lurus, tegas, dan kaku. Ia melesat ke satu titik, menghantam, lalu bergerak ke titik lain. Tidak seperti air yang mengalir, atau teratai yang berputar menyeimbangkan segala arah.

Ia kuat, ia cepat... tapi ia kurang luwes, batin Lian Hua menganalisis di tengah serangan bertubi-tubi itu. Kekuatannya besar, tapi boros. Semakin ia menyerang, semakin cepat tenaganya habis.

Lian Hua sengaja membiarkan dirinya terdesak makin jauh, sengaja memancing lawannya untuk mengerahkan seluruh sisa kekuatannya.

“Mati saja kau!” teriak Lei Kun, matanya merah oleh semangat bertarung yang membara. Ia melompat tinggi ke udara, seluruh energi di tubuhnya berkumpul di kedua telapak tangan, membentuk tombak petir raksasa yang menyilaukan mata.

“Teknik Pamungkas: Guntur Menyambar Langit!”

Ia menjatuhkan diri ke bawah bagai bencana alam. Cahaya ungu itu membelah udara, menutupi seluruh panggung, tak ada jalan lari lagi. Semua orang yakin, serangan ini akan meremukkan tulang-belulang Lian Hua seketika.

Saat tombak petir itu tinggal sejengkal lagi dari tubuhnya, Lian Hua tiba-tiba memejamkan mata. Ia membuang rasa takut, membuang rasa sakit, memusatkan seluruh kesadaran ke aliran darahnya.

Seni Teratai Langit — Putaran Segi Delapan!

Di detik terakhir itu, tubuh Lian Hua tidak mundur, tidak menangkis. Ia justru berputar di tempat dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata biasa. Langkah Bayangan Teratai dijalankan hingga puncak mutlak, menciptakan pusaran angin dan cahaya putih-hitam yang berputar kencang di sekelilingnya.

Tombak petir itu menghantam tepat ke tengah pusaran itu.

Bukan benturan keras yang terjadi. Melainkan hisapan dahsyat. Kekuatan petir yang buas itu, bukannya menghancurkan sasaran, justru tersedot masuk ke dalam putaran teratai, diputar, dibelokkan, dan dikembalikan lagi ke arah asalnya dengan kekuatan berlipat ganda.

Lei Kun terbelalak kaget, belum sempat mengerti apa yang terjadi. Ia melihat serangan pamungkasnya sendiri berbalik arah, menyambar kembali ke tubuhnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.

BLARRRR!

Ledakan besar mengguncang panggung batu. Lei Kun terpental mundur bagai boneka yang dilempar, jatuh terguling jauh ke belakang, menggeser tubuhnya di atas batu hingga berhenti tepat di pinggir garis batas arena.

Ia terbaring diam, rambutnya hangus, tubuhnya berasap, napasnya tersengal berat. Ia mencoba bangkit, namun kakinya gemetar hebat, tenaga dalamnya kacau balau habis tersedot dan dikembalikan. Ia menatap pemuda yang masih berdiri tegak di tengah asap debu itu dengan mata penuh ketidakpercayaan.

Lian Hua berdiri agak terhuyung, napasnya berat, wajahnya pucat. Lengan dan dadanya penuh memar bekas sambaran listrik, rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhnya. Ia juga hampir kehabisan tenaga, sisa kekuatannya tinggal sedikit saja. Kemenangan ini nyaris tak cukup, sangat tipis, sehelai rambut saja bedanya dengan kekalahan.

Namun ia tetap berdiri.

Ia mengangkat pedang kayunya perlahan, menunjuk ke arah lawannya.

“Kau... melampaui batas garis arena,” ucapnya dengan suara parau namun jelas.

Penonton hening sekejap, sebelum akhirnya meledaklah sorak sorai gemuruh yang mengguncang langit. Lei Kun menunduk lemas, lalu mengangkat tangan tanda menyerah.

“Aku... aku kalah,” ucapnya pelan, penuh rasa lega sekaligus kekaguman. “Langkahmu itu... bukan sekadar gerakan cepat. Itu adalah seni bergerak yang menyatu dengan alam. Aku kalah dengan pantas.”

Lian Hua menghembuskan napas panjang, rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatinya. Ia memenangkan pertarungan yang nyaris mustahil. Ia mengalahkan kekuatan petir dengan keluwesan dan keseimbangan teratai.

Saat ia melangkah turun dari panggung, kakinya terasa berat seolah menapak timah panas, namun punggungnya tetap tegak. Di matanya, tekadnya makin menguat. Ia tahu sekarang, sejauh apa batas kemampuannya, dan betapa berat jalan yang masih harus ia tempuh.

Di tribun, Su Yan tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Ia melihat betapa tipisnya selisih kemenangan itu. Ia melihat betapa besar risiko yang diambil pemuda itu.

“Kau menang,” gumamnya pelan. “Tapi kau sudah mempertaruhkan nyawamu demi satu langkah itu. Lian Hua... kau benar-benar gila. Tapi justru kegilaan itulah yang akan membawamu melampaui semua orang.”

Lian Hua kembali ke tempat duduk rombongan Sekte Gunung Awan Putih dengan tubuh yang lelah namun hati yang puas. Kemenangan ini bukan sekadar angka di papan skor. Ini adalah bukti nyata: bahwa teratai, meski rapuh di mata orang lain, justru makin kokoh dan indah saat diterpa badai sebesar apa pun.

Dan nama Pendekar Teratai, kini tercatat makin tebal dan makin berwibawa di hati seluruh penonton Kota Langit Utara.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!