Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Lorong pengadilan Los Angeles pagi itu terasa seperti lorong eksekusi. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangan dua sosok yang menjadi pusat perhatian dunia selama satu minggu terakhir.
Briella Zamora berjalan dengan langkah yang ia usahakan tetap tegak, meski di balik gaun formal berwarna hitamnya, lututnya terasa goyah.
Di sampingnya, dalam jarak yang sangat tipis namun terasa sejauh galaksi, Lexington Valerio berjalan dengan keangkuhan yang sudah menjadi kulit keduanya.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang sidang utama. Para wartawan ditahan di balik barikade di ujung lorong, menyisakan keheningan yang mencekam, hanya diinterupsi oleh ketukan sepatu hak tinggi Briella yang beradu dengan langkah tegas sepatu pantofel Lexington.
Tepat beberapa meter sebelum pintu ruang persidangan yang besar itu terbuka, Briella menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma maskulin Lexington yang sialnya masih menjadi aroma favoritnya.
"Kau benar-benar menghancurkanku, Lexington," ucap Briella dengan nada suara yang rendah, serius, dan sedingin es. "Kau menghancurkan cintaku, kau menghancurkan klinik yang kubangun dengan darah dan air mata... dan kau menang. Apakah egomu sudah merasa kenyang sekarang?"
Lexington menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan, menatap Briella dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya—sebuah senyum kemenangan yang membuat Briella ingin mencakar wajah itu.
"Semoga setelah ini kau bisa menjadikannya pelajaran, Briella," sahut Lexington tenang. "Bahwa kau harus bisa menjaga jari-jari lentikmu itu berada di tempat yang seharusnya, bukan di kolom komentar media sosial untuk merusak reputasi orang lain. Dan semoga pengacaramu berhasil menang, meski aku ragu dia bisa melakukan banyak hal hari ini."
Briella terkekeh getir. Ia menatap mata Lexington, mencoba mencari sisa-sisa pria yang dulu pernah memeluknya erat saat badai datang. Namun yang ia temukan hanyalah dinding baja.
"Hari ini, detik ini juga, aku melepaskanmu, Lexington Valerio. Aku bersumpah akan melupakanmu. Aku akan menghapus setiap jengkal kenangan tentangmu dari otakku," ucap Briella dengan sumpah yang ia tujukan lebih kepada dirinya sendiri.
Mendengar itu, Lexington menutup matanya erat-erat selama satu detik—seolah ada kilatan rasa sakit yang mencoba menembus pertahanannya—sebelum ia kembali membuka mata dengan tatapan datar. "Itu harusnya sudah kau lakukan sejak lima tahun lalu, Briella. Kau membuang waktu."
"BRENGSEK!"
Ledakan amarah Briella pecah. Ia tidak lagi peduli mereka berada di gedung pengadilan yang suci. Ia merangsek maju, mencengkeram kemeja putih Lexington yang licin dan mahal dengan kedua tangannya, menariknya dengan kuat hingga kancing kemeja itu tampak menegang.
"Bagaimana mungkin kau melakukan hal ini padaku, hah?! Bagaimana bisa kau begitu santai sementara kau sedang mengulitiku hidup-hidup di depan umum?!" suara Briella bergetar karena emosi yang meluap.
Hatinya panas. Ia merasa dunia ini sangat tidak adil. Pria ini, yang fotonya masih tersimpan di folder tersembunyi ponselnya, yang namanya masih ia sebut di malam-malam nya, kini berdiri di depannya sebagai algojo.
"Setiap malam aku berharap kita bisa bersama lagi, berharap kau akan mengetuk pintuku dan meminta maaf. Tapi lihat! Kau benar-benar bajingan!" Briella melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Dengan gerakan impulsif, ia masuk menuju pintu sidang dan sengaja menabrakkan bahunya dengan keras pada bahu kokoh Lexington saat melewatinya.
Namun, karena tubuhnya yang jauh lebih kecil dan Lexington yang sekokoh karang, justru Briella yang terhuyung ke samping. "Ahh..." desisnya pelan saat hampir kehilangan keseimbangan.
"Makanya hati-hati, Dokter Zamora," ucap Briella pada dirinya sendiri dengan nada mengejek, mengulang kata-kata yang sering Lexington ucapkan padanya.
Hadiyan yang berdiri di belakang Lexington spontan menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak melihat tingkah kekanakan mantan kekasih bosnya itu.
Sementara itu, Lexington hanya memijat pangkal hidungnya, mencoba meredam denyut di kepalanya yang sebenarnya tidak pusing, tapi terasa sangat lelah menghadapi drama ini.
Persidangan berlangsung dengan tensi tinggi, namun hasilnya sudah bisa ditebak. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum Valerio terlalu kuat. Hakim memutuskan bahwa Briella Zamora bersalah atas pencemaran nama baik.
"Menetapkan pihak tergugat untuk membayar ganti rugi sebesar 600 juta atas kerugian imaterial yang diderita pihak penggugat," ucap Hakim sambil mengetukkan palunya.
TOK!
Suara ketukan palu itu bergema di seluruh ruangan, menandakan berakhirnya kasus tersebut secara hukum. Briella berdiri dengan dagu terangkat.
Baginya, uang 600 juta bukanlah masalah besar. Pendapatan kliniknya dalam sebulan bisa menutupi itu. Namun, harga diri yang diinjak-injak oleh Lexington adalah luka yang tidak akan sembuh hanya dengan uang.
Tiba-tiba, saat semua orang mulai bersiap meninggalkan ruangan, Briella berdiri dan berteriak ke arah bangku Lexington.
"Aku menceraikanmu, Lexington Valerio! Pernikahan kita telah selesai tepat saat palu pengadilan itu jatuh!"
Seluruh ruangan mendadak senyap. Para jurnalis yang ada di sana langsung sibuk mencatat.
"Aku bersumpah, suatu hari nanti kau akan berlutut dan memohon maaf padaku! Rekam ini, Belle! Rekam!" teriak Briella pada sahabatnya yang tampak malu setengah mati di barisan belakang.
Lexington, yang baru saja hendak melangkah keluar, berhenti dan berbalik. Ia menatap Briella dengan tatapan menantang.
"Aku berterima kasih atas kata perceraianmu itu, Briella. Rekam itu baik-baik, Hadiyan! Jangan sampai wanita ceroboh ini memintaku untuk memuaskannya di masa depan karena dia merasa 'merindukan' suaminya."
"BRENGSEK! Kau yang selalu bernafsu dan mengajakku bercinta lebih dulu setiap malam selama tiga tahun kita tinggal bersama!" balas Briella, wajahnya merah padam karena amarah dan malu yang bercampur.
"Dan kau akan mengajakku untuk mati bersama dalam kenikmatan, bukan?" Lexington membalas dengan seringai nakal yang mematikan. "Kau pikir aku mau mati dalam kenikmatan? Itu adalah kata kiasan gila yang pernah kudengar dari mulutmu, Briella. Kau yang selalu memohon agar aku tidak berhenti."
"Oh ya?!" teriak Briella, tidak mau kalah. "Semoga mulutmu yang biasa kau gunakan untuk memuaskanku itu tidak lagi berkata dusta di depan Kekasihmu! Semoga kau ingat rasanya saat kau berlutut di hadapanku, bukan untuk memohon maaf, tapi untuk hal lain!"
Belle menutup wajahnya dengan tas tangan, benar-benar ingin menghilang dari muka bumi. Sementara Hadiyan tetap setia dengan ponselnya, merekam setiap detik pertengkaran paling memalukan sekaligus paling panas dalam sejarah pengadilan Los Angeles.
Lexington hanya menatap Briella untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. "Kita lihat siapa yang akan berlutut lebih dulu, Dokter Zamora."