Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Wilson
Florin menyimpan kembali buku diary milik Bella ke dalam kardus saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Florin menghapus air matanya kemudian mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.
" Sayang, sudah mama duga kamu akan menangis. Rere sudah mengatakan pada mama kalau kamu memintanya untuk meninggalkan kenangan tentang Wilson di kamarmu. Ternyata dugaan Rere benar kamu kembali menangis." Jasmine terlihat memeluk Florin dengan lembut dan membelai rambut putri kesayangannya itu.
" Ti..tidak ma, aku hanya mengenang masa lalu makannya menangis. Lihat aku sudah tersenyum." Florin menunjukkan ekspresi bahagia di hadapan ibu Bella. Ia bisa melihat kesedihan di balik manik wanita paruh baya itu. Dan Florin juga sudah tahu kalau bibi yang tadi bernama Rere.
" Syukurlah kalau kamu sedang tidak bersedih. Papa mu sudah menunggu di bawah, dia ingin bicara denganmu." Ucap Jasmine pada putrinya.
" Iya ma, aku siap siap dulu." Florin memasang blezer rumah yang tergeletak di atas kursi di dalam kamarnya. Kemudian ia turun bersama wanita yang saat ini adalah ibunya. Florin memutuskan untuk menjalani kehidupan reinkarnasi nya yang kedua kali ini dengan baik. Di tambah lagi sepertinya gadis ini tidak memiliki musuh karena hidupnya di kelilingi kehangatan. Hanya saja ia harus menjalankan satu misi lagi yaitu menyatukan gadis ini dengan Wilson. Mungkin sebelum ia benar benar meninggalkan dunia, ia harus memberikan harapan baru untuk Wilson sebagai ganti ungkapan cintanya.
Mereka telah tiba di ruang tamu, Florin duduk tepat di tengah tengah ayah dan ibu Bella. Keduanya menatap hangat ke arahnya. Ada rasa sayang yang begitu besar dari tatapan mereka.
" Sayang, sudah sejak lama kamu tinggal di negara asing. Sejak kecil kamu memilih tinggal di Inggris bersama nenekmu, dan sekarang waktunya kamu untuk ikut papa dan mama ke Dubai. Di sana ada adikmu yang menunggu kedatangan kakaknya. Papa sudah memberikan izin padamu untuk mencintai Wilson, tapi nyatanya kamu tak pernah mendapatkan cintanya. Kedatangan papa dan mama kemari untuk membawamu pulang ke Dubai." Ujar Yusuf menjelaskan dengan nada lembut pada putrinya.
Mendengar penjelasan itu, florin membulatkan mata. Jika ia pergi ke Dubai, itu sama saja dengan meninggalkan misinya. Florin tidak mau membuat gadis ini kecewa, saat ia kembali ke akhirat, sudah di pastikan gadis ini akan kembali merasakan kesedihan mendalam.
" Tidak papa, aku akan tinggal di sini. Suatu hari nanti aku akan pulang bersama kalian tapi belum saatnya." jawab Florin mencoba menolak permintaan kedua orang tua Bella.
" Nak, kamu sudah menderita di sini. Papa sama mama tidak bisa melihatmu terus seperti ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu, papa dan mama akan sangat menyesal nak." ungkap Yusuf dengan khawatir.
" Tidak pa, aku akan aman. Ada hal yang harus aku lakukan!."
" Melakukan apa lagi? Mengejar cinta Wilson? Itu tidak akan mungkin nak. Wilson sudah berubah menjadi pria kasar semenjak wanita yang dia cintai telah tiada. Apa kau sudah dengar kalau Wilson pernah membunuh seorang gadis yang mencoba merayunya?." Jasmine yang awalnya lembut terlihat kasar, ia mengguncang tubuh Bella dengan kuat untuk menyadarkan putrinya. Ia punya alasan karena takut putrinya akan mengalami nasib yang sama seperti gadis yang dirumorkan meninggal di tangan Wilson.
" Apa? Wilson membunuh orang? Tidak mungkin. Wilson tidak sejahat itu ma, itu pasti berita bohong yang di buat untuk menjatuhkan reputasinya!." Florin menolak pernyataan tentang Wilson.
" Apa kamu tidak melihat berita itu nyata, pokoknya malam ini kamu harus ikut sama mama dan juga papa kembali ke Dubai! Wilson ada di kota ini, mama khawatir nak bukan nya mama melarangmu. Mama tidak mau kehilanganmu." ucap Jasmine kini ia mulai menangis.
Florin menghela nafas berat, " Baiklah jika mama dan papa ingin Bella pulang, tapi Bella masih mau di sini. Bella janji akan pulang suatu hari nanti. Bella tidak akan bertemu dengan Wilson, Bella janji!." Florin terpaksa berbohong agar tidak di bawa pergi dari kota ini.
Kedua orang tua Bella saling pandang, " Sekuat apapun mama dan papa memaksa mu kembali kau tetap tidak mau kembali. Baiklah kalau memang kamu ingin tinggal di New York lebih lama, tapi satu hal yang harus kamu ingat Bella, jangan pernah mendekati Wilson. Paham sayang?." ujar Jasmine.
" Iya mama, Bella janji." Florin tersenyum senang ke arah wanita yang saat ini adalah ibunya.
.
.
Di tempat lain, Wilson sedang menatap foto Florin yang tercetak begitu besar dalam kamarnya. " Sudah sepuluh hari kamu pergi meninggalkan aku, aku masih berharap kamu akan datang padaku Florin. Aku masih berharap sama seperti saat kau datang memelukku setelah mengusirku dari kehidupanmu. Demi Tuhan, aku percaya kamu akan kembali padaku. Setiap malam aku selalu membuka pintu kamarku, berharap kamu datang. Karena hanya kamu yang tahu apartemen ini. Aku yakin kamu akan datang." Wilson meneteskan air mata kesedihan di hadapan foto Florin. Batinnya begitu tersiksa hingga keadaannya berantakan. Sejak kematian Florin di malam itu, Wilson merasa hidup tanpa arah. Jika saja bunuh diri tidak dosa di agamanya, ia sudah melakukannya tepat di malam kematian Florin.
Wilson sangat yakin Florin akan datang, Florin tidak mungkin meninggalkannya sendirian di dunia ini.
Tanpa sadar, Wilson tertidur sambil menghadap pada foto Florin. Setiap malam ia melakukan aktifitas itu, tak ada yang di izinkan mengganggunya.
Terlihat di dalam kamar itu ternyata bukan hanya satu foto Florin yang ia pandang yang berada di ruangan itu, melainkan ada banyak sekali foto di dalam kamar itu hingga ruangannya penuh. Ruangan itu adalah tempat dimana Wilson selalu menghabiskan malamnya.
Bahkan ia sampai bermimpi Florin datang menghampirinya. Florin datang memeluknya sama seperti dulu, Florin membelai pipinya sama seperti dulu, dan menggenggam tangannya seperti dulu. Namun saat ia terbangun ia kembali menangisi kepergian Florin karena semuanya hanya mimpi.
Di malam yang dingin itu, Wilson kembali terjaga setelah bermimpi tentang Florin. Pintu kamar yang terus terbuka berderit nyaring di tiup angin. Cahaya remang remang membuat penglihatan Wilson perlahan kabur. Ia melihat bayangan Florin yang mendekat. Bayangan itu melakukan gerakan sama seperti Florin, memeluknya, membelai pipinya dan menggenggam tangannya. " Aku akan datang, aku sudah dekat denganmu. Tunggu aku." Wilson tak dapat bergerak, ia juga tak dapat membuka mulutnya untuk sekedar bicara. Wajah Florin begitu buram tapi ia mengenal suara itu. Perlahan bayangan Florin menghilang di balik pintu yang berderit nyaring.
" Florin..." Gumam Wilson seiring dengan pandangannya yang mulai terang. Wilson kembali berhalusinasi Florin datang menemuinya dan mengatakan akan kembali.