NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan, Pertarungan Mulai Dekat

​Tiga tahun berlalu. Waktu berjalan seperti pasir yang meluncur di sela jemari, tak tertahan, namun meninggalkan bekas yang kasar. Jakarta tidak banyak berubah, tetap bising dan berdebu, namun di bawah permukaannya, sebuah arus gelap telah tumbuh menjadi monster yang siap menerjang.

​Bagi penghuni SMA tempat Jalal dan Satya bernaung, tiga tahun ini adalah masa transisi yang aneh. Jalal tetap menjadi sosok yang tak terlihat—si pemuda buta yang ramah, yang sering tersenyum meskipun dunianya gelap gulita. Sementara Satya, ia telah menjelma menjadi mitos. Ia adalah raja tanpa mahkota yang mengendalikan koridor sekolah dari balik kacamata hitamnya yang dingin.

​Namun, ketenangan semu itu baru saja diguncang oleh sebuah prahara besar sebulan sebelum kelulusan mereka. Sebuah kejadian yang tidak masuk akal bagi logika warga sipil, namun menjadi sinyal perang bagi mereka yang memahami kedaulatan bayangan.

​Malam itu, kantor Polresta Jakarta Barat berubah menjadi medan tempur. Semuanya bermula dari hal sepele: seorang pengemudi mobil mewah ditahan karena melanggar lalu lintas. Saat diperiksa, petugas menemukan keganjilan yang mengerikan. Pria itu tidak memiliki data diri. Tidak ada KTP, tidak ada SIM, bahkan sidik jarinya tidak terdaftar di pangkalan data mana pun seolah ia adalah manusia yang baru saja turun dari langit. Mobilnya disita, dan pria itu dijebloskan ke sel isolasi.

​Tepat tengah malam, sekelompok orang bertopeng menyerbu. Mereka bergerak dengan taktis, sunyi, dan mematikan. Mereka tidak menggunakan senjata api secara membabi buta, melainkan teknik baku hantam tingkat tinggi yang melumpuhkan puluhan petugas dalam hitungan menit. Penyerangan itu hampir berhasil meruntuhkan moral kepolisian sebelum akhirnya bantuan dari markas tentara terdekat tiba untuk memukul mundur para penyerang.

​Anehnya, saat fajar menyingsing, sel isolasi itu sudah kosong. Pria misterius itu menghilang tanpa jejak. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah telepon dari seorang jenderal di markas besar memerintahkan agar seluruh investigasi dihentikan. Berkas kejadian itu dibakar, dan kamera CCTV dinyatakan rusak total. Kasus itu menjadi lubang hitam yang tak boleh disentuh

.

​Satu bulan setelah horor di Jakarta Barat, suasana kontras terlihat di sebuah vila mewah di kawasan puncak, Bogor. Udara dingin pegunungan menusuk tulang, namun hangatnya api unggun dan tawa para siswa kelas dua belas yang merayakan perpisahan seolah mampu mengusir gigil tersebut.

​Jalal duduk di sebuah bangku kayu di sudut balkon vila. Di tangannya, ia memegang sebuah cangkir plastik berisi teh hangat. Meskipun matanya tidak bisa menangkap kemegahan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana, telinganya merekam segalanya: detak jantung teman-temannya yang melambat karena lelah, suara gesekan dedaunan diterpa angin, hingga getaran halus dari langkah kaki yang sangat ia kenali. Rafael sahabatnya dari kecil, mereka berdua tumbuh bersama. Ia kini sudah tumbuh lebih tegap namun tetap memiliki rona cemas yang sama seperti tiga tahun lalu, muncul dari balik pintu balkon. Ia membawa dua botol minuman soda.

​"Lal, lu beneran punya kuping kelelawar ya? Gua udah pelan-pelan padahal," keluh Rafael sambil duduk di samping sahabatnya.

​Jalal terkekeh kecil. "Suara sendimu itu berderit seperti pintu lama, Raf. Bagaimana perasaanmu? Besok kita sudah bukan anak sekolah lagi."

​Rafael menghela napas panjang, menatap api unggun di halaman bawah tempat teman-temannya sedang bernyanyi. "Bokap nyuruh gua kuliah di luar, tapi gua males kalau sendirian... Lu mau ikut, Lal... biar bokap yang bayarin."

​Jalal terdiam. "Gua nggak bisa El, ada takdir yang harus gua jalanin selepas masa sekolah ini."

Rafael menelan ludah, tatapannya memburam. "Jadi, malam ini malam terakhir?"

​Jalal mengangguk "Waktuku sudah tidak banyak lagi di sini, Raf. Nikmatilah malam ini," bisik Jalal.

​Sementara jauh dari keheningan Bogor, tepat di jantung ibu kota. Satya Wijaya berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan kemeja putih tanpa dasi. Kacamata hitamnya tetap terpasang meski di dalam ruangan. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat putih dengan kepala perak berbentuk naga.

​Pintu terbuka tanpa ketukan. Langkah sepatu hak tinggi Alexa, ibunya, terdengar mendekat.

​"Semuanya sudah beres, Satya. Pria yang ditangkap di Polres kemarin sudah kembali ke markas utama. Jenderal itu sudah menerima bagiannya," ucap Alexa dingin.

​Satya tidak bergerak. Ia mengarahkan wajahnya ke arah kota yang bercahaya oleh gemerlap lampu. "Mustika itu telah berenkarnasi, hari ini sama dengan waktu kelahiranku. Ibu... aku harus mendapatkan mustika itu." Satya menggeram.

​"Lalu bagaimana dengan anak itu? Jalal?" tanya Alexa.

​Satya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator. Suara tawa tergelak keluar dari mulut Satya. "Dia memang musuh abadiku, tapi belum waktunya aku berhadapan dengannya."

​Satya mengetukkan tongkatnya ke lantai lantai. Suara tak yang dihasilkan seolah mengirimkan gelombang kejut yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki sensitivitas luar biasa.

​Di balkon bawah, Jalal mendadak berdiri. Tehnya tumpah sedikit ke tangannya, namun ia tidak peduli. Ia merasakan getaran itu. Getaran yang sama dengan yang ia rasakan tiga tahun lalu, namun kini ribuan kali lebih tajam dan penuh kebencian.

​"Lal? Ada apa?" Rafael ikut berdiri dengan panik.

​"Besok aku pulang duluan, tolong titip surat untuk ibuku. bilang saja, Jalal sedang menempuh takdirnya. Suaranya tidak lagi ramah, ada otoritas yang keluar dari pita suaranya yang membuat Rafael merinding.

​"Lal, Lu jangan main-main."

​"Aku sedang tidak lagi bermain-main," potong Jalal. Ia memutar kepalanya ke atas, ke arah kota metropolitan.

​Meskipun keduanya buta total, meskipun ada dinding beton dan jarak yang memisahkan, di dimensi sensorik yang tidak bisa dipahami orang biasa, kedua pasang mata yang mati itu seolah sedang bertaut. Satya dengan kegelapan yang ia rangkul sebagai senjata, dan Jalal dengan cahaya batin yang ia sembunyikan sebagai tameng.

​Malam itu, di tengah perayaan kelulusan yang meriah, dua kutub itu telah menetapkan garis perang. Jalal tahu bahwa kepura-puraannya sebagai orang normal harus segera berakhir.

Dunia luar bukan lagi sekadar sekolah yang penuh drama remaja, melainkan rimba yang akan memangsa siapa pun yang tidak berani membuka "mata" yang sesungguhnya.

​Saat api unggun di bawah mulai meredup dan teman-temannya mulai jatuh tertidur di sofa-sofa vila, Jalal kembali duduk. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sehelai kain hitam yang biasa ia gunakan untuk membersihkan tongkatnya.

​"Tiga tahun yang tenang," gumam Jalal pada kegelapan di depannya. "Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat 'Mata Malaikat' itu sebenarnya."

​Ketukan tongkat Satya di lantai atas terdengar sekali lagi, seolah menjadi lonceng pembuka bagi babak baru kehidupan mereka yang akan penuh dengan sabetan baja dan aroma anyir yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Kelulusan ini bukanlah akhir; ini adalah upacara pengangkatan bagi dua titisan yang akan menentukan nasib Nusantara.

​Jalal menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma pinus yang bercampur dengan hawa dingin. Di dalam kepalanya, ia mulai memetakan setiap rute dan jalan dan setiap denyut jantung musuh yang mungkin bersembunyi di balik semak-semak. Perang dimensi ketiga telah dimulai, dan si buta yang tenang kini mulai bersiap untuk bangkit.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!