Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kendali
Candi Nawagraha yang semula ramai, kini menjadi sunyi. Ratusan mayat anggota Serikat Bulan Darah sudah dilemparkan ke jurang yang berada tak jauh dari tempat itu. Puluhan mayat prajurit Pangeran Mapanji Wijaya dan orang-orang Wanua Tuntang yang gugur dalam penumpasan kelompok perusuh ini juga sudah dikuburkan. Yang tersisa hanya puing-puing bangunan yang hancur, sisa-sisa bau darah dan puluhan anggota Serikat Bulan Darah yang masih hidup.
Diantara mereka ada Gandamana, satu dari keempat penjaga arah Serikat Bulan Darah yang tadi tidak terbunuh meskipun sempat pingsan beberapa saat lamanya. Dia sudah tidak berani melawan setelah tahu Ki Bayuseta, Sang Tuan Iblis Darah yang terkenal sakti mandraguna, bisa dikalahkan oleh Pangeran Mapanji Wijaya dan kawan-kawan. Menantang sang pangeran Medang sama juga mencari mati.
Di hadapan Gandamana kini, Pangeran Mapanji Wijaya berdiri sambil sedekap tangan. Rambutnya yang panjang sebahu, bergoyang ditiup angin selatan yang sepoi-sepoi membawa dingin. Matanya tajam menatap ke arah sisa-sisa Serikat Bulan Darah yang berlutut di halaman Candi Nawagraha.
"Aku ingin bertanya pada kalian semua, dengarkan baik-baik jangan sampai aku mengulangi nya. Karena jika aku mengulangi pertanyaan ku, itu adalah kata terakhir yang akan kalian dengar sebelum ajal menjemput.. "
Suara Pangeran Mapanji Wijaya ibarat suara malaikat kematian yang datang untuk mencabut nyawa. Suasana pun mendadak sunyi dan hening. Andaikan ada jarum yang jatuh pun pasti akan terdengar. Beberapa orang anggota Serikat Bulan Darah bahkan menahan nafasnya saking takutnya.
"Aku tadi mendengar Ki Bayuseta bicara bahwa ada orang yang ingin membunuh ku dan bersedia untuk membayar mahal nyawa ku ini.
Aku bertanya, siapa orang itu? Jawab dengan jujur, karena jawaban kalian menentukan nasib kalian selanjutnya", tegas Pangeran Mapanji Wijaya dingin.
Seketika kasak-kusuk pun terdengar diantara anggota Serikat Bulan Darah yang berlutut. Gandamana yang menangkap keresahan di suara suara anak buah nya, menghela nafas panjang.
"Aku tahu siapa orang itu Gusti Pangeran Mapanji Wijaya...
Tapi sebelum aku menjawabnya, aku minta satu syarat yang sangat mudah bagi Gusti Pangeran Mapanji Wijaya mengabulkannya", ucap Gandamana segera.
"Kau tidak dalam posisi tawar menawar dengan majikan ku, brengsek! Berani sekali kau memintanya", Warak yang sedari tadi hanya diam, ikut bersuara.
" Diam dulu Warak...! Jangan ikut bicara saat tidak dibutuhkan... ", bentak Pangeran Mapanji Wijaya yang seketika membuat Warak ciut nyali.
" Katakan, apa syarat mu? "
"Aku hanya meminta Gusti Pangeran Mapanji Wijaya mengampuni nyawa orang orang ini. Asalkan mereka tetap hidup, aku bersedia untuk menjadi budak mu dan membeberkan siapa orang yang berusaha untuk membunuh Gusti Pangeran", ujar Gandamana segera.
Hemmmmmmmmmm...
"Tak ku sangka, kau cukup murah hati juga pada mereka. Baiklah, aku kabulkan syarat yang kau minta.
Sekarang, katakan siapa orang yang membayar Serikat Bulan Darah untuk membunuh ku? ", mata Pangeran Mapanji Wijaya tajam menatap Gandamana.
" Orang itu adalah Ki Pragola, Gusti Pangeran. Dia adalah pendekar dari Lembah Hitam yang berjuluk Si Golok Sakti. Tapi sepertinya Ki Pragola tidak melakukan nya untuk dirinya sendiri karena hamba dengar ia di suruh seseorang yang ada di Kotaraja Watugaluh ", terang Gandamana segera.
Jawaban Gandamana membuat Pangeran Mapanji Wijaya terhenyak, pun juga dengan Warak dan Ludaka. Sekalipun Pangeran Mapanji Wijaya dikenal sebagai pangeran yang suka melanggar aturan dan tata krama istana, ia tidak pernah menyinggung pejabat ataupun bangsawan Watugaluh. Jika ada yang ingin membunuh nya, jelang punya rencana tersembunyi.
Dan tentang siapa orang yang ingin membunuh nya, jelas bisa ditelusuri dari Ki Pragola Si Golok Sakti dari Lembah Hitam. Ia adalah satu-satunya petunjuk untuk mengungkap dalang dibalik semua rencana pembunuhan nya.
"Baiklah, aku bisa melepaskan mereka. Mereka boleh pergi tapi kau tetap tinggal disini", Pangeran Mapanji Wijaya mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk sisa-sisa dari Serikat Bulan Darah pergi.
Tetapi keduapuluh lima orang itu malah bersujud pada Gandamana.
"Tuan Gandamana, aku tidak akan pergi dari tempat ini tanpa tuan. Aku berterimakasih tuan sudah menyerahkan hak hidup pada kami. Tetapi mulai detik ini kami bersumpah untuk ikut kemanapun Tuan Gandamana pergi.. ", ucap salah seorang anggota Serikat Bulan Darah yang diikuti oleh lainnya.
" Kalian ini... "
Gandamana benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi sikap sisa-sisa Serikat Bulan Darah. Tetapi ia juga tidak bisa mengusir mereka begitu saja karena mereka sudah menunjukkan kesetiaannya.
Pangeran Mapanji Wijaya tersenyum kagum melihat kesetiaan sisa-sisa Serikat Bulan Darah ini. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Pangeran Mapanji Wijaya.
"Karena kalian sudah mengikuti Gandamana, maka kalian harus mengikuti ku juga.
Gandamana, mulai sekarang kau adalah pimpinan pelaksana Serikat Bulan Darah. Seluruh harta peninggalan sebelumnya bisa kau gunakan sebagai alat untuk mengembangkan diri dan kemampuan orang-orang ini. Mulai sekarang aku adalah pimpinan Serikat Bulan Darah dengan nama samaran Malaikat Bayangan. Tetapi aku tegaskan bahwa Serikat Bulan Darah tidak akan lagi merampok sembarangan dan memeras rakyat. Jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menumpas kalian semua... "
Ucapan Pangeran Mapanji Wijaya membuat semua orang kaget setengah mati. Gandamana dan sisa-sisa Serikat Bulan Darah tersenyum lega sedangkan Warak dan Ludaka langsung mendekati Pangeran Mapanji Wijaya.
"Gusti Pangeran, untuk apa menghidupkan kembali kelompok penjahat ini? Seharusnya kita menumpas mereka sampai ke akar-akarnya", bisik Ludaka yang juga di dengar oleh Warak.
Pangeran Mapanji Wijaya langsung geram mendengar pertanyaan ini. Dia langsung mengayunkan telapak tangannya ke arah Ludaka. Yang dituju segera merunduk dan Warak yang berdiri di sebelahnya menjadi korban.
Pllaaaaaakkkkk!!!
"Aduh biyung, kok aku lagi yang jadi sasaran? ", rintih Warak sambil mengusap pipinya yang bergambar 5 jari.
" Kalian ini bodoh atau pura-pura bego sih..
Aku sedang dalam perjalanan ke Kalingga jadi tidak mungkin menyelidiki Ki Pragola. Kalau mengutus kalian berdua untuk menyelidikinya, sudah barang tentu akan ketahuan bahwa rahasia mereka sudah bocor dan itu sama juga dengan menakuti ular yang sedang bersembunyi di dalam liang nya.
Jadi aku butuh kendali satu kelompok yang tidak dicurigai oleh orang yang ingin membunuh ku. Dengan begitu, aku bisa menemukan orang itu secepatnya. Sampai disini paham kalian? ", geram Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Ludaka dan Warak mengangguk mengerti.
" Bagaimana Gandamana, kau bersedia? ", Pangeran Mapanji Wijaya mengalihkan perhatian pada Gandamana.
" Hamba bersedia Gusti Pangeran.
Gandamana dan anggota Serikat Bulan Darah akan menjadi kaki dan tangan, mata dan telinga Gusti Pangeran kedepannya ", ucap Gandamana sembari menyembah pada Pangeran Mapanji Wijaya bersama sisa-sisa Serikat Bulan Darah.
" Bagus..
Buat nama kelompok ini tetap menakutkan bagi semua orang untuk menghindari kecurigaan sementara waktu sampai aku memerintahkan untuk berhenti. Kalian boleh tetap merampok tetapi hanya untuk para pejabat yang menerima suap dan menyengsarakan rakyat.
Sedangkan untuk markas, kalian harus pindah ke kaki Gunung Wilis di barat Kota Dahanapura. Kembangkan kelompok ini menjadi beberapa markas, seperti di Alas Kabuh dan di kaki utara Gunung Penanggungan. Gunakan dana yang ada untuk merekrut para pendekar untuk memperbesar kelompok ini", perintah Pangeran Mapanji Wijaya segera.
"Sendiko dawuh, Pimpinan..!! "
Setelah cukup memberikan pengarahan pada Gandamana dan sisa-sisa anggota Serikat Bulan Darah yang kini menjadi pengikutnya, Pangeran Mapanji Wijaya bersama Warak dan Ludaka meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Wanua Tuntang.
Sepanjang perjalanan, Ludaka yang biasanya ceriwis menjadi banyak diam nya. Dia masih tetap memikirkan tindakan yang baru diambil oleh Pangeran Mapanji Wijaya baru saja. Mengembangkan kembali Serikat Bulan Darah dan menyebarkan nya menjadi beberapa titik dan itu semua tak jauh dari Kotaraja Watugaluh tentu bukanlah sekedar masalah sepele belaka.
'Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Gusti Pangeran ya? '