"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: GERGAJI PENYABUT NYAWA
Haidar mencoba mengatur napasnya yang terasa seperti menghirup uap mendidih langsung ke dalam paru-parunya. Setiap kali ia berkedip, kelopak matanya yang meradang terasa seolah digesek oleh serpihan kaca halus yang sangat tajam. Rasa panas yang tertinggal dari pertempuran sebelumnya di lorong perakitan belum juga surut; justru, suhu di ruangan baru ini—Sektor Pemotongan—terasa jauh lebih menyengat. Udara di sini begitu berat oleh aroma oli terbakar dan gesekan logam, membuat keringat Haidar langsung menguap sebelum sempat menetes ke lantai besi yang membara.
"Jangan terus memegangi wajahmu, Haidar. Itu hanya akan membuat infeksi frekuensinya semakin parah," suara Sersan bergema di antara deru mesin press raksasa yang bekerja secara otomatis di kejauhan. Bunyi dentum... dentum... dentum... itu terasa seperti palu godam yang menghantam gendang telinga Haidar secara ritmik, menggetarkan tulang-tulang di sekujur tubuhnya.
"Kau tidak merasakannya, Sersan! Mataku... rasanya seperti ada bara api yang sengaja ditinggalkan di dalam tengkorakku!" bentak Haidar. Suaranya parau, tenggorokannya terasa kering dan kasar seperti amplas. Ia mencoba menyeka darah yang mulai mengering di sudut matanya, namun tangannya yang gemetar justru membuat luka itu kembali terbuka dan terasa perih luar biasa. Rasa sakit itu berdenyut, seirama dengan detak jantungnya yang berpacu kencang.
Sersan berhenti tepat di depan sebuah ban berjalan raksasa yang membawa potongan-potongan pelat baja berkarat menuju kegelapan di ujung ruangan. "The Welder tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke ruang singgasananya tanpa melewati sistem keamanan yang ketat. Sektor ini dirancang untuk memilah mana rongsokan yang bisa didaur ulang dan mana ancaman yang harus dimusnahkan. Dan di sini, kau akan bertemu dengan algojo pertamanya."
Belum sempat Haidar membalas, sebuah suara dengungan bernada tinggi—seperti suara ribuan lebah mekanik yang marah—mulai memenuhi ruangan. Dari balik tumpukan limbah baja yang menjulang seperti gunung rongsokan, tiga piringan logam melayang muncul ke udara. Itu adalah The Cutter.
Bentuknya sungguh mengerikan; sebuah bola inti bermata satu yang memancarkan cahaya merah statis yang dingin, dikelilingi oleh piringan gergaji sirkular yang berputar dengan kecepatan ribuan RPM. Logam itu berkilat tajam di bawah lampu merkuri yang berkedap-kedip, mengeluarkan suara desing yang sanggup merobek kesadaran manusia normal. Angin yang dihasilkan oleh putaran gergaji itu membawa hawa panas yang menyambar wajah Haidar.
"Tiga unit Cutter-Drone," Sersan menghunuskan pedangnya dengan gerakan yang sangat halus, namun ia tetap berdiri tegak di tempatnya, tidak menunjukkan tanda-tanda akan maju memberikan bantuan. "Ingat, Haidar. Jangan gunakan Mata Niskala kecuali kau benar-benar tidak punya pilihan lain. Sisa panas di sarafmu bisa memicu overload permanen yang akan menghanguskan sisa kesadaranmu."
Zinggg!
Salah satu gergaji terbang itu meluncur dengan kecepatan seperti peluru nyasar. Haidar terpaksa menjatuhkan diri, berguling di atas lantai besi yang permukaannya sudah melepuh. Sreeet! Piringan itu memotong tiang penyangga baja di belakangnya semudah pisau panas membelah mentega. Percikan api menyambar wajah Haidar, membuat mata kirinya yang sudah meradang kembali berdenyut hebat.
Haidar bangkit dengan susah payah, mencoba menebas drone terdekat dengan belati hitamnya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Belati itu kini terasa begitu berat, seolah-olah massanya bertambah secara ajaib setiap kali suhu ruangan naik. Setiap ayunan lengan Haidar terasa lambat dan kikuk, seolah-olah ada beban berat tak kasat mata yang mengikat pergelangan tangannya, memaksa otot-ototnya bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.
"Sial, kenapa senjata ini makin berat?!" umpat Haidar sambil menahan beban belatinya yang mulai menguras tenaga di lengannya yang gemetar.
Krang!
Mata belatunya beradu langsung dengan piringan gergaji yang sedang berputar kencang. Getaran dahsyat merambat dari logam senjata itu, naik ke pergelangan tangan, hingga mengguncang tulang bahu Haidar. Ia hampir saja melepaskan genggamannya. Drone itu terus menekan, maju dengan gergajinya yang mengeluarkan bau logam terbakar yang menyengat. Haidar terdesak mundur, tumitnya tersandung tumpukan baut raksasa yang berserakan, dan ia terjatuh dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Dua drone lainnya tidak memberikan napas sedikit pun. Mereka meluncur dari arah samping secara bersamaan, membentuk pola serangan silang yang mematikan. Haidar terjebak di tengah kepungan gergaji penyabut nyawa yang siap memotong-motong tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil.
"Gunakan instingmu, Haidar! Jangan hanya mengandalkan penglihatan yang sudah cacat itu! Fokuskan pendengaranmu pada frekuensi mesinnya!" teriak Sersan dari kejauhan. Suaranya terdengar sangat jauh, seolah terhalang oleh tembok suara mesin yang bising.
Haidar memejamkan mata kanannya yang masih sehat, mencoba memfokuskan pendengarannya pada desing angin yang dihasilkan oleh putaran gergaji drone tersebut. Namun, rasa perih di mata kirinya terlalu mendominasi segalanya. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat kilatan-kilatan merah yang kacau dan menyakitkan. Rasanya seperti ada jarum panas yang ditusukkan berulang-ulang ke lobus otaknya, membuat fokusnya buyar.
Aku tidak bisa bernapas... panas ini membunuhku... aku harus melihat!
Haidar benar-benar nekat. Di tengah himpitan maut yang hanya berjarak beberapa inci dari lehernya, ia kembali memaksa frekuensi Niskala untuk terbuka secara paksa.
ZUUUUUT!
Dunia di sekitarnya seketika berubah. Warna-warna memudar menjadi monokrom abu-abu dan garis-garis merah pekat yang melambangkan aliran energi. Namun, aktivasi kali ini datang dengan harga yang jauh lebih brutal. Haidar menjerit tertahan saat ia merasa bola mata kirinya seolah-olah mendidih di dalam cairannya sendiri. Pembuluh darah di pelipisnya menegang hingga hampir pecah, dan darah segar kembali mengucur deras, membasahi separuh wajahnya hingga meresap ke kerah bajunya.
Tapi di sana, di balik kabut darah itu, ia bisa melihatnya. Garis sirkuit penggerak drone-drone itu berkedip di pusat piringan, tepat di bawah sensor mata merah mereka yang dingin.
Dengan gerakan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh manusia yang sedang sekarat, Haidar menendang lantai besi, melenting ke udara menggunakan teknik Blink. Ruang di sekitarnya seolah terdistorsi sebentar, meninggalkan bayangan semu yang membingungkan sensor drone tersebut.
Jleb!
Haidar menancapkan belatinya tepat ke inti mata merah drone pertama. Mesin itu kejang hebat, meledak dalam percikan listrik biru yang menyambar tangan Haidar, namun ia sudah tidak merasakan sakit fisik lagi. Rasa panas di matanya telah mematikan saraf perasanya yang lain. Ia memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan berat belatunya yang luar biasa untuk memberikan momentum tambahan, lalu menghempaskan drone kedua ke arah mesin press raksasa yang baru saja turun dengan kekuatan puluhan ton.
KRAK!
Drone kedua hancur tergilas hingga menjadi lembaran besi tipis yang tak berbentuk, menyisakan serpihan baja tajam yang beterbangan ke segala arah.
Tinggal satu drone tersisa. Mesin itu tampak jauh lebih agresif, berputar lebih cepat hingga menciptakan pusaran angin panas yang mengaburkan pandangan. Mata Niskala Haidar mulai mencapai batas kritisnya. Pandangannya mulai tertutup kabut hitam yang pekat. Suhu di dalam kepalanya terasa begitu tinggi hingga ia yakin kulit kepalanya mulai melepuh.
"Matikan matamu, Haidar! Sekarang atau kau akan buta selamanya!" Sersan berteriak, kali ini dengan nada yang terdengar lebih keras.
Haidar tidak mendengarkan. Ia sudah terlanjur tenggelam dalam amarah dan rasa sakit yang murni. Ia tidak akan berhenti sampai algojo ini hancur menjadi debu. Dengan sisa tenaga yang ada di lengannya yang mati rasa, ia melemparkan belati hitamnya. Senjata itu berputar seperti baling-baling maut di udara, membelah uap oli yang tebal, dan menembus tepat di pusat piringan gergaji drone terakhir.
BOOM!
Ledakan energi frekuensi terjadi dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Drone itu jatuh berdentum ke lantai, terbakar dalam api jingga yang kotor. Bersamaan dengan hancurnya mesin itu, Mata Niskala Haidar mati secara paksa karena overload.
Haidar jatuh berlutut, kedua tangannya menekan wajahnya yang terasa seperti baru saja dicelupkan ke dalam minyak mendidih. Ia mengerang, raungan yang panjang dan menyakitkan. Napasnya terengah-engah, paru-parunya terasa seperti menghirup debu besi yang panas dan tajam.
"Sudah kukatakan..." Sersan mendekat dengan langkah pelan yang konstan. Bayangannya yang panjang menutupi tubuh Haidar yang bergetar hebat di lantai besi. "Kau belum siap untuk mengendalikan panas yang sesungguhnya. Kau masih membiarkan emosimu membakar sarafmu sendiri."
Sersan menarik tangan Haidar yang menutupi wajahnya dengan gerakan kasar. Mata kiri Haidar kini benar-benar terlihat mengerikan; tidak hanya berdarah, tetapi bagian putih matanya tampak memerah permanen karena pembuluh darah yang pecah, seolah-olah ada bara api yang masih menyala di dalam pupilnya.
"Sektor Pemotongan sudah dilewati," ucap Sersan dingin, matanya menatap ke arah gerbang uap berikutnya yang menjulang tinggi di kejauhan. "Tapi perjalananmu menuju singgasana The Welder masih sangat panjang. Kita masih memiliki dua penjaga sektor lagi yang jauh lebih berbahaya dari ini. Simpan tenaga dan sisa penglihatanmu, Haidar. Jika kau buta sebelum kita sampai di jantung kota ini, aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu di sini sebagai rongsokan sejarah yang terlupakan."
Haidar menatap Sersan dengan sisa pandangan mata kanannya yang mulai kabur. Ia tidak mampu membalas kata-kata dingin itu. Ia hanya bisa merangkak perlahan, mengambil kembali belati hitamnya yang kini terasa sepuluh kali lebih berat dari sebelumnya. Ia menyadari dengan rasa takut yang amat sangat bahwa setiap langkah menuju Niraksara mungkin akan merenggut satu demi satu bagian dari dirinya, hingga tak ada lagi yang tersisa selain mesin dan rasa sakit.
Di tengah kesadarannya yang mulai menipis, sebuah bayangan wajah melintas—seorang wanita yang tersenyum lembut sambil menggendong seorang anak kecil. Namun, wajah itu terasa semakin jauh, seolah tertutup oleh kabut uap panas Niskala yang tak berujung. Haidar mencengkeram belatunya lebih erat, mencoba mempertahankan potongan memori itu sebelum semuanya hangus terbakar oleh api frekuensi di kepalanya.