NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Langkah Baru Sang Mentor

Keheningan yang damai menyelimuti ruang tengah markas Black Viper saat matahari pagi mulai meninggi, menembus gorden tipis dan menyinari trofi-trofi kecil di atas lemari pajangan. Di atas meja kerja Reno, layar laptopnya masih menampilkan halaman konfirmasi dari NovelToon yang menyatakan bahwa data pengajuan kontrak eksklusifnya sedang berada dalam tahap peninjauan. Perasaan lega yang mendalam masih membekas di dadanya, namun bagi seorang Reno Aditya, sebuah akhir dari satu pertempuran hanyalah tanda bahwa persiapan untuk pertempuran berikutnya harus segera dimulai.

"Reno, ada surat resmi yang datang ke alamat warnet Cyber Zone subuh tadi," ucap Coach Ardi yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah amplop putih tebal berlogo resmi Federasi E-Sport Internasional. Wajah Ardi tidak lagi lesu seperti kemarin malam; kini ada gairah baru yang terpancar dari sepasang matanya. "Federasi tidak hanya membersihkan nama kita, tapi mereka juga mengirimkan undangan resmi untuk menghadiri *Grand Final* dunia di Seoul, Korea Selatan, dua bulan dari sekarang. Kita masuk melalui jalur undangan kehormatan atas kontribusi membongkar jaringan mafia taruhan."

Reno mengambil amplop tersebut, merasakan ketebalan kertas di jemarinya. Skena internasional yang sesungguhnya kini telah membuka pintunya lebar-lebar tanpa ada lagi manipulasi dari pihak seperti Victor. Namun, tantangan baru yang menghadang mereka di Seoul akan jauh lebih brutal. Di sana, mereka tidak akan lagi melawan tim yang mengandalkan kode curang, melainkan para jenius murni yang memiliki fasilitas latihan bernilai miliaran rupiah dan kedisiplinan tingkat tinggi.

"Kita tidak bisa lagi berlatih dengan cara yang sama seperti saat kita bersiap di warnet, Coach," kata Reno sambil meletakkan amplop tersebut di atas meja. "Di Singapura dan Tanjung Priok, kita menang karena kita berhasil mengejutkan mereka dengan improvisasi dari keterbatasan. Tapi di Korea, semua tim akan menganalisis gaya permainan kita hingga ke detail terkecil. Kita butuh struktur yang lebih profesional."

"Aku setuju," sahut Ardi sambil menarik kursi di hadapan Reno. "Beberapa sponsor lokal di Jakarta sudah mulai menghubungi ponselku sejak berita penangkapan Victor viral. Mereka menawarkan dana operasional, komputer spesifikasi terbaru untuk markas ini, dan gaji bulanan yang layak untuk anak-anak. Kita bukan lagi tim *Wildcard* yang harus patungan uang saku hanya untuk menyewa server latihan."

Mendengar percakapan serius itu, Marco, Bimo, dan Leo perlahan berkumpul di sekitar meja kerja Reno. Tidak ada lagi sisa ketakutan di wajah mereka; yang ada hanyalah rasa haus akan tantangan baru yang lebih besar. Mereka tahu bahwa perjalanan dari lantai warnet yang dingin menuju panggung megah di Seoul adalah kesempatan sekali seumur hidup yang tidak boleh mereka sia-siakan.

"Reno, jika kita mendapatkan fasilitas baru, apakah kita akan tetap menggunakan gaya permainan 'Phantom Walk' yang biasa kita pakai?" tanya Leo dengan nada penasaran. "Beberapa analis di internet mulai membuat video bedah strategi tentang bagaimana kamu menjatuhkan Silent Reaper di Singapura."

Reno menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah senyuman taktis terukir di sudut bibirnya. "Strategi yang sudah diketahui oleh dunia adalah strategi yang sudah mati, Leo. Mulai besok, kita akan melatih variasi baru yang kusebut sebagai 'Inverse Echo'. Jika sebelumnya kita mengacaukan frekuensi suara untuk bersembunyi, kali ini kita akan sengaja membiarkan musuh mendengar suara kita untuk menggiring mereka masuk ke dalam area jebakan silang."

Ia membuka laptopnya kembali, namun bukannya membuka game, ia justru membuka aplikasi catatan taktis untuk merancang jadwal latihan baru bagi rekan-rekan setimnya. Di sela-sela kesibukannya merancang strategi e-sport, Reno juga menyempatkan diri untuk menuliskan beberapa draf cerita baru untuk novelnya. Baginya, menulis bukan lagi sekadar pelarian dari kenyataan pahit, melainkan sebuah cara untuk mendokumentasikan setiap perjuangan, emosi, dan filosofi hidup yang ia pelajari di dunia nyata.

"Kalian bertiga, dengarkan aku," ucap Reno sambil menatap satu per satu sahabatnya dengan tatapan seorang mentor yang bijaksana. "Uang sponsor dan komputer mewah yang akan datang besok tidak akan mengubah siapa kita. Kita adalah anak-anak warnet yang bertahan hidup karena kita saling percaya satu sama lain. Di Korea nanti, tekanan mentalnya akan sepuluh kali lebih berat daripada teror dari Victor. Jangan pernah biarkan kesombongan merusak kerja sama tim kita."

"Kami mengerti, Capt," jawab Marco dengan sikap hormat yang setengah bercanda namun tersirat rasa hormat yang sangat dalam. "Kami tidak akan pernah melupakan rasa perih di mata saat latihan monitor gelap delapan puluh persen kemarin."

Sore harinya, Reno berjalan kaki sendirian menuju ke warnet Cyber Zone yang terletak tidak jauh dari markas mereka. Ia ingin merasakan kembali atmosfer tempat yang telah membentuk instingnya. Saat ia melangkah masuk, suasana di dalam warnet langsung mendadak hening sejenak sebelum akhirnya meledak dalam sorak-sorai riuh dari para pengunjung setianya. Pemilik warnet bahkan sengaja memasang foto besar tim Black Viper di dekat meja kasir dengan tulisan emas: Rumah Dari Sang One Top God.

Reno menyapa mereka semua dengan ramah, lalu berjalan menuju ke bilik nomor 12 yang kini sudah dipasangi plakat kecil tanda penghormatan. Ia duduk di kursi usang itu, merasakan kehangatan yang akrab. Ia membuka ponselnya dan melihat sebuah email masuk dari alamat yang tidak dikenal, namun ia tahu persis siapa pemiliknya dari gaya bahasanya yang singkat dan misterius.

> [S]: Selamat atas tiket menuju Seoul, Reno. Tapi ingat, skena Korea dikuasai oleh konglomerat teknologi yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada Victor. Mereka tidak menggunakan cara kotor seperti sabotase fisik, melainkan manipulasi psikologis di atas panggung melalui media massa. Jangan pernah lengah di bawah sorotan lampu mereka.

Reno menatap layar ponselnya selama beberapa saat sebelum mengunci layarnya dengan senyuman tipis. Ancaman dan tantangan baru akan selalu datang, menguji sejauh mana ia bisa mempertahankan prinsip kejujurannya di dunia yang penuh dengan kepalsuan. Namun, selama jemarinya masih bisa bergerak dengan presisi murni dan hatinya tetap kokoh seperti batu hitam obsidian, ia tidak akan pernah takut pada siapa pun yang berdiri di hadapannya.

Ia memasang *headset* lamanya, mendengarkan lagu instrumental yang tenang, lalu mulai mengetikkan baris kalimat pertama untuk bab baru di dalam novel digitalnya. Cerita tentang seorang anak warnet yang berhasil meruntuhkan konspirasi internasional kini telah selesai, dan sekarang saatnya menulis tentang bagaimana anak itu melangkah maju untuk menaklukkan para dewa e-sport yang sesungguhnya di negeri ginseng.

"Permainan baru telah dimulai," bisik Reno pada dirinya sendiri saat karakter *Phantom* miliknya muncul di layar monitor warnet, siap untuk memulai simulasi latihan pertama menuju Seoul.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!