Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi itu, mansion keluarga Halstrom tetap berjalan dengan ritme yang terlihat sempurna di mata orang luar. Lorong panjang rumah dipenuhi langkah pelayan yang bergerak rapi, aroma kopi hitam bercampur wangi roti panggang memenuhi udara ruang makan, sementara bunga segar di setiap sudut rumah sudah terganti seperti rutinitas biasanya. Tidak ada yang tampak berubah jika dilihat sekilas. Rumah besar itu masih terlihat tenang, mewah, dan teratur seperti citra keluarga Halstrom yang selama ini dijaga dengan hati-hati.
Namun bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya, sesuatu mulai terasa berbeda. Tidak ada perubahan besar yang langsung terlihat, tidak ada suara tinggi, tidak ada keputusan mendadak yang menggemparkan rumah. Semuanya bergerak perlahan, terlalu halus untuk segera disadari, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang mulai berhati-hati ketika berhadapan dengan nyonya rumah mereka.
Karena Seraphina Halstrom tidak lagi sama.
Pagi itu, Seraphina duduk di ruang kerja pribadinya dengan suasana yang jauh lebih tenyap dibanding bagian rumah lainnya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar di sisi ruangan, jatuh lembut di atas meja kayu gelap yang penuh dokumen. Secangkir teh hangat diletakkan di samping laptop yang masih terbuka, tetapi hampir tidak tersentuh sejak setengah jam lalu. Perhatiannya terlalu fokus pada map-map yang tersusun rapi di depannya.
Di samping meja, Evelyn Hart berdiri dengan tablet di tangan. Wanita paruh baya itu tetap terlihat profesional seperti biasa, rambut tersisir rapi, ekspresi tenang, dan tatapan penuh kehati-hatian yang selama ini jarang benar-benar diperhatikan Seraphina.
“Semua data yang Anda minta sudah selesai saya kumpulkan,” ucap Evelyn pelan sambil menyerahkan beberapa dokumen tambahan. “Saya pastikan semuanya tidak menarik perhatian pihak lain.”
Seraphina menerima map itu tanpa banyak bicara. Jemarinya membuka halaman pertama dengan gerakan pelan namun teratur, membaca satu nama demi satu nama seperti seseorang yang sedang menyusun puzzle yang selama ini terlalu lama diabaikan.
Kepala administrasi.
Bagian keuangan internal.
Asisten rumah tangga senior.
Kepala pelayan.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun berada sangat dekat dengannya.
Dulu, nama-nama ini tidak pernah membuatnya berpikir dua kali. Selama pekerjaan selesai, selama rumah tetap berjalan dengan baik, selama perusahaan masih menghasilkan keuntungan, ia jarang mempertanyakan lebih jauh.
Ia terlalu percaya.
Terlalu terbiasa menganggap semua orang ada di pihaknya.
Sekarang pemikiran itu terasa hampir lucu.
Karena ternyata loyalitas tidak pernah sesederhana itu.
Seraphina berhenti pada satu halaman laporan keuangan internal. Matanya bergerak perlahan membaca transaksi kecil yang tampak biasa jika diperhatikan sekilas. Bonus tambahan. Transfer pribadi. Pengeluaran yang nominalnya tidak terlalu besar, tetapi muncul secara rutin dengan pola yang terlalu rapi.
Jika orang lain melihatnya, mungkin akan menganggap itu hal biasa.
Namun baginya, semuanya terasa terlalu bersih.
Terlalu teratur.
Seolah sengaja dibuat agar terlihat normal.
“Sudah dipastikan?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
Evelyn mengangguk kecil. “Saya cek ulang tiga kali. Dana itu tidak berasal langsung dari Tuan Darius, tapi jalurnya mengarah ke rekening perantara yang sering digunakan divisi investasi pribadi.”
Seraphina menyandarkan tubuh sedikit ke kursi. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya kesunyian panjang yang terasa jauh lebih dingin dibanding kemarahan.
Jadi memang benar.
Darius sudah membangun semuanya sejak lama.
Dan orang-orang di sekitar rumah ini perlahan sudah berpindah sisi tanpa ia sadari.
“Siapa saja yang sudah pasti bocor?” tanyanya lagi.
Evelyn membuka data di tabletnya. “Elric dari administrasi senior. Kepala pelayan bagian timur. Satu staf keuangan internal. Untuk sementara baru tiga orang yang paling jelas.”
Seraphina mengetukkan ujung pena di atas meja perlahan. Ritmenya stabil, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepala.
“Pecat.”
Evelyn sedikit diam.
“Sekarang?”
“Tidak sekaligus,” jawab Seraphina tenang. “Satu per satu. Pelan. Profesional.”
Tatapannya turun kembali ke dokumen.
“Gunakan alasan audit internal atau evaluasi kerja. Jangan beri ruang untuk drama.”
Nada suaranya begitu tenang sampai terdengar hampir datar. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam yang ditunjukkan secara terang-terangan, tetapi justru itu yang membuat Evelyn semakin sadar bahwa wanita di depannya benar-benar sudah berubah.
Dulu Seraphina terlalu lembut.
Terlalu banyak memberi kesempatan.
Sekarang semuanya terasa lebih tajam.
Lebih terukur.
“Dan satu lagi,” lanjut Seraphina sambil menutup map perlahan. “Pastikan mereka tidak sempat membersihkan jejak.”
Evelyn mengangguk kecil. “Saya mengerti.”
---
Tiga hari kemudian, Elric dipanggil ke ruang HR kantor pusat tanpa pemberitahuan apa pun.
Pria itu datang dengan langkah santai seperti biasa. Jas abu-abu masih rapi, senyum profesional tetap terpasang di wajahnya. Selama tujuh tahun bekerja, hampir tidak pernah ada masalah besar dalam kariernya. Bahkan beberapa atasan menganggapnya salah satu staf paling stabil.
Karena itu, saat ia duduk di ruang meeting kecil dan melihat ekspresi serius manajer HR di depannya, ada sedikit rasa aneh yang mulai muncul.
“Ada masalah?” tanyanya ringan.
Manajer itu mendorong map kecil ke arahnya.
“Ini hasil evaluasi internal.”
Elric membuka dokumen tersebut perlahan. Dahinya langsung mengernyit saat membaca kalimat pertama.
Pemutusan kerja.
Wajahnya berubah.
“Maaf, ini bercanda?”
“Keputusan resmi perusahaan.”
“Karena apa?” tanyanya cepat. “Saya tidak pernah melanggar aturan.”
Manajer HR tetap tenang.
“Pelanggaran akses data dan penyalahgunaan informasi internal.”
Jantung Elric terasa turun seketika.
Tangannya mengepal kecil di bawah meja.
Karena tuduhan itu terlalu dekat dengan apa yang selama ini ia lakukan diam-diam.
Terlalu spesifik untuk disebut dugaan.
“Saya mau bicara dengan Tuan Darius.”
Permintaan itu langsung dijawab tanpa banyak ekspresi.
“Keputusan berasal dari Nyonya Seraphina.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Elric membeku beberapa detik.
Seraphina?
Kenapa tiba-tiba wanita itu ikut campur?
Bukankah selama ini Seraphina hampir tidak pernah turun langsung mengurus bagian internal seperti ini?
Sebelum ia sempat membantah lebih jauh, kartu akses kerjanya langsung dinonaktifkan. Akun perusahaan ditutup, dokumen pribadi ditahan untuk audit tambahan, dan jadwal pengosongan meja kerja sudah dijadwalkan sore itu juga.
Cepat.
Bersih.
Tanpa ruang bergerak.
Persis seperti sesuatu yang sudah disiapkan sejak lama.
---
Hari berikutnya giliran kepala pelayan bagian timur dipanggil ke mansion.
Tidak ada keributan besar.
Tidak ada ancaman.
Bahkan Seraphina menerima pria itu di ruang kerja dengan ekspresi yang sangat tenang.
“Saya dengar Nyonya ingin bicara?” tanyanya sopan.
Seraphina mempersilahkannya duduk sebelum mendorong sebuah map kecil ke arah pria itu.
“Lihat dulu.”
Pria itu membuka dokumen perlahan.
Lalu wajahnya berubah.
Foto.
Riwayat transfer.
Daftar hadiah mahal yang diterima secara pribadi.
Jam tangan mewah.
Tas branded.
Pembayaran tunai.
Semua tercatat terlalu jelas.
“Saya bisa menjelaskan…”
“Saya tidak tertarik,” potong Seraphina tenang.
Nada suaranya lembut.
Namun terasa jauh lebih dingin dibanding bentakan.
“Saya hanya ingin rumah ini diurus oleh orang yang tahu batas.”
Kepala pelayan itu mulai terlihat gugup.
“Nyonya, saya sudah bekerja bertahun-tahun…”
“Justru itu yang membuat saya kecewa.”
Jawaban Seraphina keluar begitu saja tanpa perubahan ekspresi.
“Saya tidak akan memperpanjang masalah ini,” lanjutnya. “Anggap ini akhir yang baik.”
Pria itu terdiam.
Karena dari cara Seraphina berbicara, ia tahu keputusan ini tidak akan berubah.
Tidak ada ruang negosiasi.
---
Perubahan mulai terasa di seluruh rumah.
Pelayan bergerak lebih hati-hati dari biasanya. Obrolan kecil di dapur mulai dipenuhi suara pelan dan tatapan waspada.
“Aku dengar kepala pelayan timur diberhentikan…”
“Administrasi kantor juga katanya mulai dibersihkan…”
“Nyonya sekarang beda…”
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.
Namun satu hal mulai terasa jelas.
Seraphina Halstrom tidak lagi menjadi wanita yang hanya tersenyum lembut dan membiarkan banyak hal berjalan tanpa pengawasan.
Ia mulai memperhatikan.
Mulai mengawasi.
Dan yang paling membuat semua orang berhati-hati, ia bergerak sangat tenang.
Tanpa suara keras.
Tanpa ledakan emosi.
Justru karena terlalu tenang itulah semuanya terasa jauh lebih mengintimidasi.
---
Darius mulai menyadari perubahan itu sekitar seminggu kemudian.
Awalnya hanya hal kecil.
Satu laporan keuangan terlambat masuk.
Satu akses yang mendadak membutuhkan validasi tambahan.
Satu staf internal yang tiba-tiba menghilang dari sistem.
Ia masih mencoba menganggap semuanya kebetulan.
Sampai sore itu, saat duduk di ruang kerja kantor pusat, matanya berhenti pada laporan bulanan perusahaan.
Dahi Darius perlahan mengernyit.
Dana cadangan tertentu mendadak dibekukan.
Investasi yang sudah dijadwalkan tidak bergerak.
Dan beberapa perpindahan dana yang sebelumnya selalu mulus sekarang tertahan.
Ia langsung menekan tombol interkom.
“Masuk.”
Asistennya datang beberapa menit kemudian.
“Ada yang berubah di laporan ini,” ujar Darius sambil menunjuk layar. “Kenapa?”
Pria itu tampak ragu sebelum menjawab.
“Ada revisi internal, Tuan.”
“Revisi dari siapa?”
“Hak validasi sekarang lewat Nyonya Seraphina.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Darius berubah sedikit.
“Sejak kapan?”
“Sekitar beberapa hari lalu.”
Pria itu berhenti sesaat.
“Dan beberapa staf lama juga mulai diganti.”
Darius menyandarkan tubuh ke kursi.
Ekspresinya masih terlihat tenang, tetapi pikirannya mulai bekerja cepat.
Terlalu banyak kebetulan.
Terlalu banyak perubahan kecil.
Dan semuanya terjadi setelah laporan tentang Seraphina yang diam-diam mulai bergerak.
“Di mana Elric?” tanyanya tiba-tiba.
“Sudah diberhentikan.”
“Siapa yang memutuskan?”
“Nyonya Seraphina.”
Darius terdiam.
Lama.
Karena sesuatu mulai terasa tidak benar.
Seraphina tidak pernah bergerak seperti ini sebelumnya.
Wanita itu biasanya terlalu sibuk mengurus keluarga, terlalu lembut untuk masuk terlalu dalam ke persoalan internal perusahaan.
Tapi sekarang…
Ia seperti sedang mengambil sesuatu kembali.
Perlahan.
Sangat rapi.
Dan itu membuat insting Darius mulai terusik.
---
Malam harinya, makan malam keluarga tetap berlangsung seperti biasa.
Lysandra sibuk membahas acara sosial yang akan datang. Kael duduk diam sambil sesekali membaca sesuatu di tablet. Suasana terlihat normal, hampir seperti tidak ada apa pun yang berubah.
Namun sejak duduk di meja makan, Darius beberapa kali melirik istrinya.
Mengamati.
Mencoba membaca sesuatu.
Seraphina terlihat terlalu tenang.
Terlalu biasa.
Seolah semua perubahan yang terjadi bukan sesuatu yang besar.
“Akhir-akhir ini kamu sibuk?” tanya Darius tiba-tiba.
Seraphina mengangkat pandangan perlahan.
“Sedikit.”
“Dengan apa?”
Ia menyeka jemarinya menggunakan serbet sebelum menjawab dengan nada ringan.
“Merapikan hal-hal yang seharusnya sudah dirapikan sejak lama.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa membuat suasana berubah tipis.
Kael mengangkat kepala sedikit.
Tatapannya berpindah pada ibunya.
Lagi.
Perasaan aneh itu muncul.
Seolah wanita di depan mereka masih orang yang sama, tapi pada saat bersamaan terasa jauh berbeda.
“Maksudnya?” tanya Darius lagi sambil tersenyum tipis.
“Rumah,” jawab Seraphina tenang. “Perusahaan juga sedikit evaluasi.”
Nada suaranya begitu biasa sampai sulit dicurigai.
Namun justru itu yang membuat Darius semakin tidak nyaman.
Karena ada sesuatu yang tidak bisa ia baca dari wanita di depannya.
Dan itu mulai terasa berbahaya.
Sementara Seraphina tetap melanjutkan makan malam dengan tenang. Sesekali tersenyum tipis ketika perlu, menjawab seperlunya, memainkan peran seperti biasa.
Padahal di balik semua ketenangan itu, langkah kecil sudah mulai berjalan.
Dan kali ini…
Ia tidak akan berhenti di tengah jalan.