Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok es di pesta membosankan
"Vi, sumpah, kalau gue tahu pesta relasi bokap lo semembosankan ini, mending gue di kosan drakoran sambil makan seblak," keluh Evara Swastamita sambil mengipasi lehernya dengan undangan pesta yang tebal.
Violet Aolani hanya memutar bola matanya. Ia sendiri merasa jenuh. Mengenakan gaun ungu pastel yang cantik, ia merasa seperti pajangan di tengah kerumunan orang tua yang sibuk bicara soal saham dan investasi.
"Sabar, Va. Habis ini kita kabur ke pasar malam," sahut Violet pelan.
Tiba-tiba, pintu besar aula terbuka. Suasana yang tadinya bising oleh tawa basa-basi mendadak agak meredup. Seorang pria melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan lantai marmer. Tubuhnya tinggi, rahangnya tegas, dan tatapannya lurus ke depan seolah tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang layak ia lirik.
Violet terpaku. Gelas minumannya tertahan di udara. "Siapa... itu?"
Avyanna Hazel yang sedang sibuk mengunyah kacang mede ikut menoleh. "Wuih, spek dewa. Tapi mukanya kayak orang yang belum gajian sepuluh tahun. Kaku banget!"
"Bukan kaku, Va. Itu namanya cool," gumam Violet. Matanya tidak lepas dari pria itu yang kini menyalami beberapa petinggi perusahaan. "Gue baru lihat ada orang sekaku itu tapi auranya... mahal banget."
"Jangan bilang lo naksir, Vi? Inget, si Arjuna masih hobi nongkrong di depan gerbang kampus lo tiap sore. Jangan nambah beban pikiran," celetuk Lavanya Purnama sambil merapikan rambut Violet yang sedikit berantakan.
"Arjuna itu masa lalu yang harusnya sudah difosilkan, Lav," balas Violet cuek. "Gue harus tahu siapa cowok itu."
"Oke, Challenge accepted!" Evara langsung semangat. Jiwa keponya meronta-ronta. "Gue bakal cari tahu. Tunggu di sini."
Evara, si paling nekat, pura-pura berjalan ke arah meja prasmanan yang dekat dengan kerumunan pria itu. Dengan sengaja, ia menjatuhkan sendok garpu di dekat sepatu mengkilap si pria misterius.
Prang!
Pria itu menunduk sebentar, hanya melirik tanpa niat membantu, lalu kembali bicara dengan koleganya. Evara kembali ke gengnya dengan wajah cemberut.
"Sialan, sombong banget! Gue udah pura-pura kesusahan, dia cuma ngelihatin doang kayak lihat kecoak lewat," gerutu Evara. "Tapi gue sempet denger bapak-bapak sebelah manggil dia 'Pak Arden'. Katanya dia CEO baru yang pindah dari luar negeri."
"Arden..." Violet mengecap nama itu di lidahnya. "Bagus juga namanya. Secakep orangnya."
"Gue dapet lebih lengkap!" Avyanna menunjukkan layar ponselnya. Sebagai anak IT, jarinya lebih cepat dari kilat. "Namanya Arden Elio Bayu. Umur 27 tahun. Baru balik dari London buat pegang kendali Bayu Group. Masih single, dan rumornya... dia nggak pernah deket sama cewek manapun. Hidupnya cuma kerja, kerja, dan kerja."
"Dua puluh tujuh?" Violet menghitung cepat. "Berarti beda delapan tahun sama gue. Paslah, dia yang bimbing, gue yang bikin pusing."
"Vi, dia itu CEO kelas kakap. Kita cuma mahasiswi semester dua yang kalau telat masuk kelas masih disemprot dosen," Lavanya memperingatkan.
"Justru itu serunya," Violet tersenyum licik. "Gue pengen tahu, seberapa kuat tembok yang dia bangun buat ngusir 'gadis kemarin sore' kayak gue."
Violet pun mulai bergerak. Ia tidak menyapa dengan sopan. Saat pria bernama Arden itu berjalan menuju pintu keluar, Violet sengaja memotong jalannya.
"Permisi, Tuan Arden Elio Bayu," panggil Violet dengan nada menantang.
Langkah Arden terhenti. Ia menunduk sedikit, menatap Violet dengan tatapan yang sangat asing—bukan tatapan memuja seperti yang biasa Violet dapatkan dari cowok-cowok di kampus. Ini tatapan... terganggu.
"Ya? Ada apa?" suaranya berat dan dingin.
"Nggak ada apa-apa sih. Cuma mau bilang, dasi Tuan miring sedikit. Mau saya benerin?" Violet mengulurkan tangannya yang mungil, berniat menyentuh dasi Arden.
Dengan gerakan cepat, Arden mundur satu langkah, menghindari sentuhan Violet. "Jangan lancang, Nona. Saya tidak kenal Anda."
"Nama saya Violet Aolani. Sekarang Tuan sudah kenal," balas Violet santai, sama sekali tidak gentar dengan tolakan kasar itu.
Arden hanya menatapnya dengan alis terangkat sebelah, lalu mendengus dingin. "Pulanglah. Pesta ini bukan tempat untuk anak kecil yang mencari perhatian. Belajar yang rajin di kampus."
Tanpa sepatah kata lagi, Arden melenggang pergi meninggalkan Violet yang masih berdiri mematung.
"Gila... gue dikatain anak kecil," bisik Violet.
Evara dan yang lain langsung menghampiri. "Tuh kan! Apa gue bilang, dia itu es kutub! Gimana, nyerah?"
Violet justru tertawa kecil, matanya berbinar penuh ambisi. "Nyerah? Baru juga pemanasan. Besok, kita cari tahu di mana kantor Bayu Group. Gue bakal pastikan Tuan Kaku itu tahu kalau 'anak kecil' ini bisa jadi mimpi buruk... atau mimpi indahnya."
Di kejauhan, di bayang-bayang pintu hotel, Arjuna memperhatikan interaksi itu dengan wajah memerah menahan amarah. "Violet... lo cuma milik gue. Nggak akan ada CEO mana pun yang bisa ambil lo."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...