NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Dua Penguasa

Hutan itu sunyi setelah makhluk merah bertanduk itu mengangkat kedua tangannya ke langit. Awan hitam yang tadinya mengumpul tiba-tiba berhenti bergerak.

Angin yang tadinya bertiup kencang mendadak padam. Api obor biru kehijauan yang tadinya menyala tinggi kini mengecil, nyaris padam, menyisakan cahaya remang yang membuat bayangan-bayangan pepohonan terlihat panjang dan menakutkan.

Bu Sumarni tidak peduli dengan semua itu. Ia berlari masuk ke dalam lingkaran—kali ini tidak ada dinding tak terlihat yang menahannya. Ritual telah selesai.

Formasi darah di tanah telah terinjak-injak oleh kaki makhluk besar itu. Kekuatan yang menjaga lingkaran telah lenyap bersama dengan asap merah kehitaman yang kini mulai menghilang.

"Aisyah! Nak, Aisyah!"

Bu Sumarni berlutut di samping putrinya. Tubuh Aisyah terbaring di tanah yang basah oleh embun dan bercampur abu. Daster putih yang ia kenakan kini robek di beberapa bagian, kotor oleh tanah dan darah—darah dari bibirnya yang tergigit hingga berdarah, darah dari goresan di lengannya entah kapan terjadi.

Wajahnya pucat pasi, matanya terbuka lebar menatap langit malam yang mulai memperlihatkan bintang-bintang lagi. Bulan purnama muncul dari balik awan, cahayanya yang keperakan menyinari wajah Aisyah yang dipenuhi air mata.

"Bu... Bu..." suara Aisyah keluar lirih, parau, seperti suara orang yang sudah berteriak berjam-jam. Tangannya yang gemetar meraih tangan ibunya.

"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu melakukan ini padaku? Kenapa?"

Bu Sumarni tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis, memeluk putrinya, membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut Aisyah yang kusut berserakan di tanah.

Telapak tangannya yang keriput berusaha merapikan daster Aisyah yang robek, berusaha menutupi tubuh putrinya yang telanjang di bagian yang seharusnya tertutup. Tapi tangannya gemetar hebat, tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik.

"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu. Ibu hanya ingin... Ibu hanya ingin kalian selamat. Ibu tidak tahu... Ibu tidak tahu akan begini..."

Tono masih terbaring di sisi lain lingkaran, tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang kurus kering itu tidak bergerak, hanya dadanya yang naik turun pelan tanda ia masih hidup. Bu Sumarni tidak punya tenaga untuk mendekatinya. Ia hanya bisa duduk di samping Aisyah, memeluk putrinya, menangis dalam diam.

Juru berdiri di tepi lingkaran. Pria bertato itu masih telanjang dada, rompi kulit hitamnya tergenggam di tangan kiri. Tubuhnya dipenuhi keringat yang mengilap di bawah cahaya bulan, membuat tato-tato hitam di kulitnya terlihat seperti ular-ular yang merayap.

Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah. Tidak ada penyesalan. Ia hanya berdiri di sana, menatap Aisyah dan Bu Sumarni dengan mata hitam tanpa putih yang dingin, sambil melengos dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.

"Jangan menangis," katanya. Suaranya datar, tanpa emosi. "Ini harga yang harus dibayar. Kalian mau selamat, bukan? Kalian mau terbebas dari teror, bukan? Maka korbankan sesuatu. Itu hukum dunia. Tidak ada yang gratis."

Ia berbalik, mengambil pisau dan gentanya dari tanah. Perlahan, dengan gerakan tidak tergesa, ia memakai kembali rompi kulit hitamnya. Jari-jarinya yang penuh tato merapikan ikat kepala dari bulu elang hitam yang sempat miring.

"Aku akan kembali ke Kalimantan besok," katanya tanpa menoleh. "Penguasa sudah bangun. Dia akan melakukan bagiannya. Tugasku selesai."

Ia melangkah pergi, meninggalkan Aisyah dan Bu Sumarni di tengah hutan. Langkah kakinya yang berat menimbulkan suara di dedaunan kering. Tidak ada satu kali pun ia menoleh ke belakang.

Bu Sumarni memeluk Aisyah lebih erat. "Ayo, Nak. Kita pulang. Kita tinggalkan tempat ini. Jangan pernah kembali."

Aisyah tidak menjawab. Matanya yang kosong menatap langit malam, menatap bulan purnama yang bulat sempurna, menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip tanpa peduli pada penderitaan manusia di bawahnya.

Pertanyaannya masih menggantung di udara malam yang dingin. Kenapa Ibu melakukan ini padaku?

---

Ratusan kilometer dari hutan itu, di sebuah rumah kecil di pinggir desa di Jawa Barat, Rafiq sedang duduk bersila di ruang tamu. Lilin di depannya menyala, api kecil berwarna jingga normal, tidak bergerak meskipun angin malam bertiup dari celah-celah dinding.

Di sekelilingnya, ruangan gelap. Hanya lilin itu yang menjadi sumber cahaya, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang pelan di dinding kayu.

Tiga huruf di dahinya—ك ف ر—menyala. Bukan redup seperti biasanya. Terang. Sangat terang. Cahaya merah kehitaman keluar dari goresan-goresan hitam di jidatnya, memancar seperti bara api yang ditiup angin.

Huruf-huruf itu berdenyut cepat, seperti jantung yang berdetak kencang, seperti ada sesuatu yang sedang berkomunikasi dengannya.

Rafiq tidak sedang memanggil. Ia tidak sedang membaca mantra. Ia hanya duduk diam, mencoba memahami apa yang baru saja ia rasakan. Getaran dari timur. Getaran yang kuat. Getaran yang mengganggu ketenangan di sekelilingnya.

Bayangan-bayangan hitam yang biasanya bergelantungan di pohon beringin di belakang rumahnya mulai gelisah. Mereka bergerak cepat, berbisik-bisik dengan suara yang tidak bisa didengar telinga manusia, saling bertukar informasi dalam bahasa kegelapan yang hanya mereka pahami.

Dan kemudian, udara di ruangan itu berubah.

Dingin. Dingin yang tiba-tiba. Dingin yang tidak berasal dari luar. Dingin yang muncul dari pusat ruangan, dari titik kosong di depan Rafiq.

Dingin yang membuat api lilin berkedip-kedip, hampir padam, lalu menyala kembali dengan warna yang berbeda—bukan jingga, tapi biru kehijauan.

Rafiq tidak bergerak. Ia sudah tidak asing lagi dengan hal-hal aneh. Matanya yang sejak ritual di rumah Mbah Jaya terbuka untuk melihat dunia lain tetap terbuka lebar, menatap titik kosong di depannya.

Dan dari titik kosong itu, asap mulai muncul. Asap merah kehitaman, seperti yang keluar dari tanah di hutan Kalimantan. Asap itu berputar, membentuk pusaran, semakin padat, semakin pekat. Dan dari pusaran itu, sesosok makhluk muncul.

Makhluk itu besar. Tingginya hampir menyentuh langit-langit rumah Rafiq yang rendah. Kulitnya merah gelap, seperti daging mentah, seperti darah yang mengering.

Otot-ototnya menonjol tidak proporsional di lengan dan dada, membuatnya terlihat seperti patung dari neraka. Sayap besar terbentang di belakang punggungnya—sayap seperti kelelawar, dengan tulang-tulang yang terlihat di balik kulit tipis yang merah.

Di kepalanya, dua tanduk melengkung menjulur ke atas, hitam pekat, runcing di ujung. Matanya merah menyala, besar, menatap Rafiq dengan tatapan yang tidak bersahabat.

Penguasa hutan Kalimantan.

Ia berdiri di ruang tamu kecil itu, terlalu besar untuk ruangan yang sempit. Kepalanya hampir menyentuh langit-langit, tanduknya menekan anyaman bambu di atap. Sayapnya yang terbentang menyentuh dinding kiri dan kanan.

Udara di sekelilingnya berubah menjadi panas—panas yang aneh, panas yang membuat keringat di dahi Rafiq menguap sebelum sempat menetes.

Rafiq tidak bergerak. Ia tetap duduk bersila di lantai, kedua tangannya bertumpu di lutut, punggungnya tegak. Matanya yang kosong menatap makhluk besar di depannya tanpa rasa takut. Tiga huruf di dahinya menyala lebih terang, seperti sedang bersiap untuk sesuatu.

Penguasa Kalimantan itu menunduk. Matanya yang merah menyala menyorot Rafiq dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengendus udara, seperti binatang yang sedang mencium bau mangsa. Kemudian ia tertawa. Tertawa pelan, dalam, menggema di ruangan sempit itu, membuat dinding kayu bergetar.

"Manusia," suaranya keluar dari mulutnya yang gelap, berat, seperti suara yang keluar dari perut bumi.

"Kau manusia yang menerima kekuatan dari penguasa tempat ini? Kau terlihat lemah. Lemah seperti cacing yang menggeliat di tanah."

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang tidak terpengaruh oleh ucapan makhluk di depannya.

"Apa yang kau lakukan di wilayahku?" kata Rafiq. Suaranya datar, tenang, tidak ada ketakutan sama sekali. "Apa urusanmu di sini?"

Penguasa Kalimantan mengangkat alisnya yang tidak ada—tidak ada alis di wajah merahnya, hanya tonjolan tulang di atas mata merah.

"Wilayahmu? Manusia sombong. Kau hanya boneka. Kau hanya wadah. Penguasa di sini meminjam tubuhmu karena dia belum bisa muncul sepenuhnya. Jangan kau merasa memiliki apa pun."

Ia melangkah maju. Tanah di bawah kakinya bergetar. Retakan-retakan kecil muncul di lantai kayu.

"Aku datang karena penguasa di sini mulai mengganggu keseimbangan. Dia terlalu berisik. Dia mulai merambah ke wilayah yang bukan haknya. Aku datang untuk mengingatkan. Atau jika perlu... menghentikan."

Rafiq tertawa. Tertawa pendek, pahit, tanpa kebahagiaan.

"Menghentikan? Kau pikir kau bisa menghentikan kami?"

Kata "kami" itu keluar dengan sendirinya. Rafiq tidak bermaksud mengatakannya. Tapi setelah kata itu keluar, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya. Getaran. Getaran yang merespons.

Tiga huruf di dahinya menyala terang, dan dari tubuhnya, dari bayangannya di lantai, sesuatu mulai muncul.

Bayangan hitam.

1
La Rue
duh Rafiq 🫣
Afri
kafir .. Rafiq telah kafir ..
d balut dendam yg tak berkesudahan
TPI memang mereka yg jahat itu hrus dbalas
Afri
Thor tolong donk ada arti bahasa Indonesia nya .. GK semua org ngerti bahasa Jawa 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Bp. Juenk: siap. diusahakan berikutnya dibuatin terjemahan nya 🙏
total 1 replies
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!