Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta monyet
Sudah jam 4 sore tetapi Rinjani tidak terpikirkan untuk pulang kerumah neneknya. Ia terlalu menikmati angin dan pemandangan indah melalui balai-balai peristirahatan para pekerjaan nenek di ladang.
Sesekali ia memotret langit cerah, atau pun sekedar mengabadikan momen para petani yang tampak bahagia meski bekerja di bawah sinar matahari.
"Nenek kira Jani kemana," ujar nenek Ira.
Nenek Ira sendiri berasal dari ibu kota, tetapi takdir mempertemukannya dengan pria desa yang memiliki banyak sawah. Itulah mengapa nenek Ira bisa menyesuaikan dengan siapa dia berbicara.
"Taunya lagi dibalai-balai mengawasi."
"Anginnya enak Nek, Jani sampai terlelap tadi. Para pekerja nenek juga baik pol." Rinjani menghampiri neneknya yang duduk dengan kaki menjuntai. "Kenapa nenek nggak menjual sawah luas ini dan ikut ayah ke kota?"
"Sawahnya adalah peninggalan kakek, nenek nggak bisa menjualnya sebab banyak kenangan kakek di sawah ini."
"Sweet banget sih nenek." Rinjani memeluk gemes neneknya.
"Sekarang ceritakan alasan kenapa kabur ke kampung? Nenek dengar usahamu lancar-lancar saja."
"Itu." Rinjani menghela napas panjang. "Ayah terus mendesak Jani untuk menikah."
"Memangnya Jani nggak punya calon?"
Rinjani mengeleng pelan. "Satu minggu yang lalu ada tapi selingkuh. Jadinya sekarang nggak ada," ucapnya dengan bibir manyun.
Nenek Ira tertawa membuat Rinjani semakin merengut.
"Keputusan yang tepat pulang ke rumah nenek. Jika ayahmu datang dan memaksa menikah maka lawannya adalah nenek."
"Sayang nenek banyak-banyak." Rinjani merangkul lengan neneknya penuh senyuman.
"Memangnya ada yang salah jadi perawatan tua."
"Nenek!"
"Maksud nenek memangnya ada yang salah dengan wanita yang belum menikah? Terlambat bukan berarti gagal, dan cepat belum tentu tepat."
Lagi-lagi Rinjani tersenyum lebar, keputusan tepat menemui neneknya disaat hatinya tidak stabil akibat desakan orang tua untuk menikah dan rasa sakit akan pengkhianatan.
"Rencana Jani kedepannya apa?" Nenek Ira berjalan di antara jalan bebatuan yang sering di lalui mobil pick up untuk mengangkut hasil panen musiman.
"Karena berencana untuk menetap mungkin Jani mau buat kantor Nek. Ada ruangan kosong Jani lihat di rumah nenek."
"Rencana yang bagus, nenek jadi nggak sendiri lagi."
"Hj Ira!" Seseorang menghampiri keduanya. Nenek Ira berbincang dengan bahasa lokal yang tidak Rinjani mengerti sama sekali.
Alhasil ia terus berjalan sembari bersenandung.
"Ternyata jauh lebih sejuk sore-sore seperti ini," guman Rinjani.
Dia kembali menolak panggilan yang secara tiba-tiba masuk ke ponselnya. Ia sudah tahu siapa pengganggu itu.
"Rinjani."
Rinjani yang semula mengirim pesan pada Zira untuk mengurus apartemennya segera mendongak dan menemukan motor bebek di sampingnya.
"Apa?"
"Saya antar pulang, di suruh hj Ira." Ikhram menunjuk nenek Ira yang pergi lebih dulu dengan warga lain. Padahal tadi Rinjani masih melihatnya berbincang dengan petani.
"Saya ...." Rinjani menggantung kalimatnya, ia ingin menolak dan mengatakan akan berjalan kaki. Tapi mengingat jalan memutar cukup jauh mengurungkan niatnya. "Saya ikut karena perintah nenek!"
Langsung naik ke motor Ikhram dan membuang muka pada hamparan sawah sehingga tidak melihat senyum manis Ikhram yang lagi-lagi terlihat secara sembunyi-sembunyi.
"Besok lusa saya nggak ada kegiatan, kalau mau jalan-jalan boleh dipanggil."
"Nggak minat."
"Saya guru, anak kepala desa yang rumahnya tepat di depan rumah Hj Ira."
"Nggak nanya padahal," gerutu Rinjani.
"Siapa tau kamu penasaran."
"Nggak sama sekali, jadi berhenti ajak saya bicara."
Dan setelah itu keheningan pun menemani mereka di atas motor sampai tiba di depan rumah. Tanpa mengucapkan terimakasih, Rinjani membuka pagar neneknya. Wanita itu punya kesan pertama yang buruk untuk Ikhram. Di mana pria itu menegurnya saat olahraga.
Sedangkan Ikhram sendiri memarkir motor di depan rumah. Mencium punggung tangan ibunya.
"Dari manaki itu nak Ikhram. Kubilang maumaki pindah ke makassar besok."
"Darika sekolah Bu, tapi kayaknya nda jadika juga pindah."
"Ih kenapa iya? Bukannya sudah lama mako itu ajukan mutasimu ke makassar nak."
"Tidak mauka jauh-jauh dari kita sama bapak." Ikhram mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ke makassar ja besok, tapi maukuji uruski pembatalan mutasinya bu."
"Ada ini nusembunyikan sama ibu." Bu Tika menyipitkan matanya.
Melihat hal itu Ikhram langsung berpamitan ke kamarnya. Kebetulan kamarnya berada di depan dan saat membuka gorden dia dapat melihat seorang wanita di dalam sebuah ruangan tampak sibuk membersihkan.
Tidak sadar sudut bibirnya terangkat, seolah apa yang dilakukannya sekarang adalah hal membahagiakan. Padahal dia baru saja membuang keinginannya dan tetap mengabdi pada desanya.
Ikhram buru-buru menutup gorden ketika pemilik kamar di seberang sana memelototkan matanya.
"Dia masih sama seperti dulu," gumam Ikhram memandangi foto anak kecil di dompetnya.
.
.
.
Cinta monyet bersemi kembali🥰
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,