NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kunci Menuju Rumah yang Sesungguhnya

Kepulangan dari Maladewa tidak terasa seperti akhir dari sebuah liburan, melainkan awal dari sebuah eksistensi yang baru. Begitu mendarat di Jakarta, Adrian tidak mengarahkan sopir menuju rumah besar keluarga Pramoedya yang dingin dan kaku itu. Alih-alih melewati gerbang besi raksasa yang dulu membuat Arumi merasa tercekik, mobil mereka berbelok ke arah pinggiran Jakarta Selatan yang lebih hijau, menuju sebuah kawasan residensial yang tenang dengan pepohonan rindang di sepanjang jalannya.

"Mas, kita mau ke mana? Barang-barang kita kan masih di rumah lama," tanya Arumi heran sambil menatap deretan rumah bergaya kolonial modern di luar jendela.

Adrian hanya tersenyum misterius, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang riang.

"Barang-barangmu sudah dipindahkan asistenku kemarin sore. Aku ingin kamu masuk ke rumah ini tanpa harus memikirkan kardus-kardus kemasan."

Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang tidak terlalu luas namun memiliki arsitektur yang sangat hangat. Dindingnya didominasi oleh batu alam dan kayu, dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan cahaya matahari masuk dengan leluasa. Di halaman depan, pohon kamboja putih sedang berbunga, menyebarkan aroma harum yang lembut.

Adrian turun, lalu membukakan pintu untuk Arumi. Ia menyerahkan kunci perak dengan gantungan inisial 'A&A' yang ia berikan di Maladewa.

"Silakan, Nyonya Arumi. Ini rumahmu," bisik Adrian.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arumi memutar kunci tersebut. Begitu pintu terbuka, ia terpaku. Ruang tamunya tidak dipenuhi oleh furnitur mahal yang hanya berfungsi sebagai pajangan. Sebaliknya, ada sofa kain yang empuk, bantal-bantal warna pastel, dan sebuah perapian listrik yang memberikan kesan nyaman.

Namun, kejutan sesungguhnya ada di lantai dua.

Adrian menuntunnya menaiki tangga kayu yang kokoh. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu ganda. Begitu dibuka, Arumi hampir tidak bisa mempercayai matanya. Itu adalah perpustakaan impiannya. Rak buku dari kayu ek menjulang hingga ke langit-langit, sebagian besar masih kosong, menanti untuk diisi oleh karya-karyanya dan buku-buku favoritnya.

Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja tulis kayu jati yang menghadap langsung ke jendela besar. Dari sana, Arumi bisa melihat taman belakang yang asri dengan kolam ikan kecil.

"Ini... ini persis seperti yang aku ceritakan saat aku sedang mengantuk waktu itu," Arumi menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru mulai menggenang.

"Aku mencatatnya di kepalaku, Arumi. Setiap detailnya. Kursi baca yang bersayap ini, lampu meja antik ini... aku ingin kamu punya ruang di mana kamu tidak perlu merasa menjadi siapa-siapa selain dirimu sendiri," Adrian memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Arumi.

"Terima kasih, Mas. Kamu benar-benar mewujudkannya."

"Ini bukan hanya rumah untukmu, tapi untuk kita. Di sini, tidak ada bayang-bayang kontrak. Di sini, setiap sudutnya adalah cerita kita."

Malam pertama di rumah baru itu mereka lalui dengan sangat sederhana. Mereka memesan makanan dari warung favorit Arumi di dekat kampus lamanya—sesuatu yang dulu sangat dilarang oleh Adrian karena alasan diet dan prestise. Mereka makan di lantai beralaskan karpet, tertawa membicarakan betapa anehnya hidup mereka yang berputar 180 derajat.

"Bayangkan kalau paman-pamanmu melihat kita sekarang, Mas. CEO Pramoedya makan nasi goreng bungkus di lantai," goda Arumi.

"Biarkan saja. Mereka terlalu sibuk dengan saham sampai lupa rasanya kerupuk udang yang renyah ini," balas Adrian sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

Namun, ketenangan mereka terusik oleh sebuah pesan video dari Siska di Yogyakarta. Arumi membukanya dan memperlihatkan layar ponselnya pada Adrian.

Di video itu, Siska tampak sedang berada di sebuah sanggar seni lokal. Wajahnya polos tanpa make-up berat, mengenakan kaos oblong dan celana kain. Ia sedang mengajari anak-anak kecil melukis.

"Rum, Mas Adrian... lihat! Aku mulai mengajar di sini. Ternyata anak-anak di Jogja hebat sekali.

Ayah dan Ibu juga sudah mulai betah. Ayah setiap pagi pergi ke pasar burung, dan Ibu sedang sibuk menanam cabai di belakang rumah. Aku merindukan kalian, tapi aku merasa lebih 'hidup' di sini. Selamat atas rumah barunya ya!"

Arumi tersenyum lebar. "Lihat, Mas. Siska benar-benar berubah."

"Dia menemukan panggung yang tepat, seperti katamu. Terkadang kita harus kehilangan segalanya untuk menemukan apa yang benar-benar kita butuhkan," ujar Adrian bijak.

Seminggu kemudian, persiapan menuju London mulai menyita waktu mereka. Arumi harus menghadiri berbagai pertemuan daring dengan agen literasi internasional. Kabar bahwa novelnya akan diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa membuat Arumi menjadi komoditas panas di dunia sastra global.

Pandu datang ke rumah baru mereka untuk memberikan draf akhir kontrak internasional. Ia tampak terpukau dengan suasana rumah Arumi.

"Wah, Rum. Atmosfer di sini beda banget. Pantas saja tulisanmu di bab-bab terakhir novel keduamu terasa jauh lebih 'bernyawa'. Ternyata sumber inspirasinya ada di sini," ujar Pandu sambil melirik Adrian yang sedang sibuk menyeduh kopi di dapur terbuka.

"Adrian yang menyiapkan semuanya, Ndu," jawab Arumi bangga.

Pandu berdeham, lalu merendahkan suaranya. "Ngomong-ngomong soal London, ada satu hal yang perlu kamu tahu. Pihak penerbit di sana sangat tertarik dengan aspek 'istri pengganti' dalam bukumu. Mereka ingin melakukan wawancara eksklusif denganmu dan Adrian untuk majalah The Literary Times. Kamu siap?"

Arumi melirik Adrian. Adrian yang mendengar percakapan itu hanya mengangguk pelan.

"Asalkan mereka tidak bertanya soal saldo rekeningku, aku oke saja."

"Bagus. Karena mereka juga mengundang aktor pemeran filmmu, Reza, untuk ikut mempromosikan adaptasi filmnya di sana. Film itu akan diputar di London Film Festival bersamaan dengan peluncuran bukumu," tambah Pandu.

Wajah Adrian yang tadi rileks seketika menegang.

"Reza ikut?"

Arumi menahan tawa. "Mas, dia aktor utamanya. Tentu saja dia ikut untuk promosi."

"Aku harap dia sudah belajar memakai jasnya sendiri tanpa bantuan asisten," gerutu Adrian sambil menyerahkan cangkir kopi pada Pandu.

Hari keberangkatan pun tiba. London sedang memasuki musim gugur yang indah. Udara dingin yang menggigit disambut dengan hangatnya pelukan mantel wol. Arumi dan Adrian menginap di sebuah hotel butik di daerah South Kensington yang sangat artistik.

Peluncuran buku di Piccadilly Circus berlangsung sangat meriah. Arumi berdiri di depan kerumunan pembaca internasional yang antusias. Ia bicara tentang keberanian, tentang pengampunan, dan tentang bagaimana cinta bisa datang dari arah yang paling tidak terduga.

Di barisan depan, Adrian duduk dengan bangga.

Ia tidak lagi tampak seperti pengusaha yang menghitung untung rugi, melainkan seperti penggemar nomor satu Arumi.

Setelah acara selesai, mereka menghadiri gala dinner kecil. Reza Rahardian hadir di sana, tampak sangat menawan dalam balutan tuksedo Inggris yang klasik.

"Arumi, selamat! Bukumu sudah ada di jendela toko buku di seluruh London," sapa Reza, lalu ia beralih ke Adrian. "Pak Adrian, tenang saja. Di sini saya hanya aktor, tidak ada sesi bedah naskah yang intim."

Adrian tersenyum tipis, menjabat tangan Reza dengan lebih ramah kali ini. "Saya menghargai profesionalisme Anda, Reza. Dan filmnya... Anda melakukannya dengan baik."

Malam itu, di tengah gemerlap lampu London, Arumi merasa hidupnya telah mencapai puncak yang tidak pernah ia bayangkan. Namun, sebuah momen kecil di sudut ruangan menarik perhatiannya. Seorang wanita Inggris paruh baya, yang ternyata adalah kepala editor dari penerbitan ternama di Eropa, mendekatinya.

"Mrs. Pramoedya, cerita Anda sangat menyentuh.

Tapi yang paling mengesankan bagi saya adalah transformasi karakter suaminya. Jarang sekali ada penulis yang bisa menggambarkan kerentanan pria yang begitu berkuasa dengan begitu halus. Apakah Anda menulis itu berdasarkan pengamatan, atau berdasarkan pengalaman?" tanya wanita itu.

Arumi menatap Adrian yang sedang berbincang dengan Reza di kejauhan. "Berdasarkan pengalaman hidup bersama seorang pria yang cukup berani untuk mengakui bahwa dia salah, Madam. Itulah plot twist terbaik dalam hidup saya."

Begitu mereka kembali ke kamar hotel yang hangat, Arumi merasa sangat lelah namun puas.

Ia melepas sepatunya dan berbaring di sofa besar menghadap ke jendela yang memperlihatkan pemandangan kota London.

Adrian datang membawa secangkir teh Earl Grey hangat. "Lelah, Nyonya Penulis?"

"Sangat lelah, Mas. Tapi aku bahagia. Rasanya seperti seluruh beban yang aku bawa dari Jakarta dulu sudah meluap di sini."

Adrian duduk di sampingnya, membelai rambut Arumi lembut. "Arumi, aku ingin menanyakan sesuatu. Selama di London ini, banyak orang bertanya tentang bab berikutnya dari novelmu. Tapi aku ingin tanya tentang bab berikutnya dari hidup kita."

Arumi menatap mata Adrian. "Apa itu, Mas?"

"Rumah baru kita di Jakarta sudah jadi. Kariermu sudah mendunia. Apakah kamu tidak merasa ada yang kurang di rumah sebesar itu?"

Arumi mengernyit, mencoba mencerna maksud suaminya. "Apa yang kurang? Buku-bukunya belum penuh?"

Adrian tertawa kecil, ia meletakkan cangkir tehnya dan menggenggam tangan Arumi. Ia meletakkan tangan Arumi di atas perutnya sendiri, lalu menatap Arumi dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku sedang membayangkan seorang anak kecil yang berlarian di perpustakaanmu, mengganggu tulisanmu dengan meminta dibacakan dongeng. Bagaimana menurutmu?"

Jantung Arumi berdegup kencang. Ini adalah pembicaraan yang belum pernah mereka singgung secara serius.

"Mas... Mas ingin kita punya anak?"

"Aku ingin membangun masa depan bersamamu, Arumi. Yang nyata. Yang tidak berawal dari kontrak, tapi dari keinginan kita berdua," bisik Adrian.

Arumi tersenyum, menarik wajah Adrian mendekat dan menciumnya lembut. "Aku rasa perpustakaan itu memang akan terasa terlalu sunyi tanpa suara tawa anak-anak."

Di bawah langit London yang kelabu namun romantis, sebuah bab baru kembali direncanakan. Bukan bab tentang persaingan, bukan tentang penggantian, melainkan tentang penciptaan sebuah kehidupan baru yang murni dari cinta.

Arumi menyadari, menjadi "istri pengganti" hanyalah judul sampul yang diberikan orang lain padanya. Namun isi bukunya, akhir ceritanya, dan setiap halaman barunya, kini ada sepenuhnya di tangannya dan di tangan pria yang ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!