IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sampai di halaman rumahnya, ingin sekali Anin merebahkan tubuhnya segera. Meski hatinya penuh bunga-bunga tapi tubuh tetap merasa lelah. Yang ia pikirkan saat ini adalah secepatnya bersih-bersih lantas pergi ke alam mimpi. Namun harapan itu buyar ketika langkahnya sampai di ambang pintu rumah.
"Mana uang yang kemaren, gua mau pake!" bentak Bondan pada Istrinya.
"Lah kan elu sendiri yang ngasih, kok mau lu ambil lagi?" timpal Widya, dengan tangan terkepal.
"Udah, nggak usah banyak omong. Sini gua mau pake. Ntar kalo gua dapet lagi juga gua balikin lagi ke elu!" tutur Bondan, dengan suara tingginya di sertai kedua mata yang melotot.
Lantas Widya merogoh saku dasternya, tangannya sedikit gemetar. Jika Bondan sudah bersikap kasar begini, ia hanya bisa pasrah menuruti.
Dan dengan tangan yang gemetar itu, ia menyerahkan uang kertas berwarna merah pada Bondan.
Bondan merebut uang itu, dengan seringai mengerikan di wajahnya. Di elus nya lembar perlembar uang tersebut, lantas kembali wajahnya menegang. Rahangnya mengeras, dengan tatapan setajam bilah logam.
"Kenapa cuma delapan ratus, kan gua kasih ke elu satu juta. Cepet balikin dua ratusnya!" bentaknya, dengan tangan terangkat. Sebuah gerakan untuk mengancam Widya dengan tamparan.
Widya terlonjak, ketakutan kalau sampai telapak tangan yang besar milik Bondan itu mendarat di pipinya. Sontak ia pun menutup pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Anin mendekat, ia mencoba untuk melindungi ibunya.
"Apa-apaan sih Pak, bisa nggak ngomongnya baik-baik aja. Kasian Ibuk dari tadi ketakutan." tegur Anin, segera.
"Kamu nggak usah ikut-ikutan, masuk sana!" bentak Bondan, jari telunjuknya mengacung tepat di depan wajah Anin.
"Duitnya gua pake buat beli beras, tadi beras kita sudah mau habis. Jadi gua beli, pake uang yang elu kasih." terang Widya dengan suara bergetar.
"Halah alasan! Gua nggak mau tahu, sekarang juga lu balikin duit gua!" timpal Bondan, dengan kedua tangan terangkat ke udara.
"Gimana gua balikinnya, duitnya udah abis buat belanja. Kan buat makan lu juga sama anak-anak." Imbuh Widya, kesal.
Lantas Anin merogoh tasnya, dan menyerahkan uang dua lembar berwarna merah pada Bondan. "Nih aku ganti, asal jangan bentak-bentak Ibu lagi. Pusing tau nggak tiap hari denger orang berantem." tutur Anin, lantas ia menghela nafas kasar.
Bondan langsung menyerobot uang itu, senyuman licik terbit di wajahnya. Tatapannya menyelidik pada paperbag yang ada di tangan Anin. "Lagi banyak duit lu? Kayanya abis belanja barang mahal nih?" tanyanya.
Anin melengos, ia cukup kenal siapa Bondan. Seorang pria yang gila uang, hanya untuk memenuhi nafsu iblisnya. Judi, mabuk-mabukan, dan main perempuan tentunya. Lantas Anin memilih untuk tidak menanggapi.
"Serah lu deh, tapi lu harus inget. Siapa orang yang udah besarin dan sekolahin lu sampai lu bisa jadi kaya sekarang. Gua harap, lu tau sama yang namanya balas budi!" ujar Bondan, penuh penekanan.
Anin tersenyum sinis, karna faktanya ia tidak pernah merasa bahwa Bondan peduli dengannya. Ibaratnya, dia memperlakukan anak-anaknya dengan abai. Mau hidup terserah, mati juga nggak masalah. Lantas ia bicara perihal balas budi, apa itu pantas?
Bondan merasa tersinggung dengan senyum sinis Anin tadi, "Ah...udah deh, emang gua nggak dianggep di rumah ini. Mending gua pegi aja dari sini. Sialan semuanya, kaya tai semuanya!" sungutnya ketika bergegas pergi, lengkap dengan tendangannya di kursi plastik. Hingga kursi itu mental, mendarat di atas meja kayu tak jauh dari berdirinya Anin dan Widya. Tidak lupa dengan kerasnya ia membanting pintu, hingga terdengar suara menggelegar karnanya.
Anin menghela nafas panjang, lantas menggelengkan kepalanya. Sedang Widya kini sedang larut dalam isak tangis yang sedari tadi ia tahan.
Anin membimbing tubuh ibunya, untuk duduk di kursi jok yang sudah mulai mengelupas kulit permukaannya. "Ibuk kenapa nggak pisah aja sih sama Bapak?" tanya pelan.
Widya menyeka air matanya, tubuhnya lemas setelah mengalami ketegangan yang luar biasa. "Kalau Ibuk pisah, lu nanti gimana? elu itu anak cewek, butuh wali buat nikah. Dan elu juga butuh status punya Bapak, biar nggak di anggap remeh sama orang-orang." tuturnya.
Anin muak sebenarnya, jawaban itu yang selalu Widya ucapkan sebagai alasan. Padahal jelas-jelas, itu tidak berpengaruh apa-apa buat dirinya. Punya Bapak tapi berasa tidak punya, bahkan lebih baik kalau tidak ada sama sekali. Anin sudah di tahap tidak peduli lagi dengan status punya Bapak atau tidak. Toh bakal sama saja, punya juga kalau perannya tidak ada untuk apa? Percuma juga–pikirnya.
"Ibuk tu cuma kasian sama elu, padahal lu anak cewek. Tapi malah harus kerja banting tulang begini. Ibuk do'a in, nanti elu dapat suami yang pengertian. Yang sayang sama lu, yang bisa mimpin keluarga. Karna cuma elu harapan gua satu-satunya." Imbuh Widya, tangannya menggenggam erat tangan Anin.
Jika Ibunya sudah berbicara seperti itu, Anin hanya mampu terdiam. Apa iya ada seseorang yang seperti harapan Ibunya itu untuk menjadikan dirinya seorang istri. Karna pria baik-baik yang seperti Ibunya ucapkan itu, pasti akan memilih calon istri dari keluarga baik-baik. Memperhatikan gadis keturunannya. Mempertimbangkan seluk beluk asal keluarganya. Sedang dia? Apa yang akan di pikirkan keluarga calon suaminya nanti. Dan itu berarti adalah Naufal. Apa yang akan di pikirkan keluarga Naufal jika mereka sampai menikah nanti. Lantas Anin tertegun.
"Lu capek ya? Ya udah, lu makan aja sono. Tadi Ibuk udah masak sayur asem, sama ikan gurame goreng. Baru abis itu lu istirahat." tutur Widya lembut.
Anin menggeleng, "Anin udah makan, tadi sama temen. Mau langsung mandi aja, terus istirahat." timpalnya.
"Sama temen siapa? Cowok apa cewek?" tanya Widya antusias.
"Eng... Co... Eh cewek." Anin berdalih, belum siap jika harus menceritakan tentang Naufal.
"O...kirain temen cowok, bakal mantu gua. Ibuk udah pengen banget liat lu nikah, hidup bahagia. Nggak kaya sekarang, banyak beban." Imbuh Widaya dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak tahu lah Buk, Anin nggak mau nikah. Biarin sendiri aja, males nanti banyak nambah masalah." timpal Anin, lirih.
"Eh...nggak boleh gitu. Nikah itu kan ibadah yang di anjurkan. Nabi juga bilangnya begitu."
Anin menelan ludah, mendengar kata ibadah dari Ibunya. "Terus pernikahan Ibuk sama Bapak juga ibadah? Di mana letak ibadahnya? Kenapa Ibuk mau sih nikah sama Bapak? Pernikahan Ibuk cuma bikin Ibuk tersiksa, apa Ibuk belum menyadarinya juga?" cecar Anin, jengah.
Lantas Widya tertegun, ia pun tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang Anin ucapkan benar, dan tidak ada kata-kata untuk bisa menyangkal.
Entahlah, kadang hidup tidak bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaan. Yang ada hanya kita di paksa untuk terus menjalaninya saja, sampai nanti suatu saat akan ada hikmah di dalamnya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍