Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Sekutu Terakhir
Hujan menderas menghantam kaca jendela Ruang VVIP Anggrek 01, menyamarkan suara perbincangan dua manusia yang sedang menyusun rencana mematikan di dalamnya. Di atas ranjang rumah sakit, Nando Pratama duduk dengan raut wajah yang tak lagi terlihat seperti pasien kritis. Insting predator bisnisnya yang sempat tertidur selama koma kini bangkit sepenuhnya, diasah oleh ketajaman sukmanya yang baru saja kembali dari neraka Alas Roban.
"RUPSLB—Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa," Nando mengulangi kata-kata itu perlahan, seolah sedang mengecap rasa kemenangan di ujung lidahnya. Jarinya yang masih pucat mengetuk pelan map kulit hitam di pangkuannya. "Bara mengadakan rapat itu lusa di hotel milik jaringan perusahaan kita. Tujuannya hanya satu: mempresentasikan laporan palsu tentang kondisiku, menyatakan bahwa aku cacat mental atau fisik permanen, dan meminta dewan direksi untuk meresmikan posisinya sebagai CEO definitif."
Luna, yang masih mengenakan seragam perawat kebesaran dan masker yang diturunkan ke dagu, berdiri di sisi ranjang. Matanya menatap tajam peta kekuatan yang baru saja digambarkan Nando di udara. "Jika dia resmi menjadi CEO, dia akan memiliki kuasa penuh untuk memindahkan seluruh asetmu, kan?"
"Tepat," Nando tersenyum miring. "Dia akan melikuidasi sahamku perlahan, mencuci uangnya melalui perusahaan-perusahaan cangkang, dan dalam enam bulan, NaturaGlow yang kubangun dari nol hanya akan tinggal nama, sementara dia menjadi triliuner baru di Jakarta."
"Kita tidak akan membiarkan itu terjadi," geram Luna, mengepalkan tangannya. "Kita punya bukti transfernya pada Mbah Suro. Kita punya bukti bahwa dia adalah bagian dari keluarga yang menyogok dan membunuh orang tuaku."
"Bukti ini kuat, Luna, tapi tidak cukup jika hanya kita serahkan ke kantor polisi biasa," Nando memegang pergelangan tangan Luna, sentuhannya hangat dan menenangkan. "Bara punya orang-orang bayaran di kepolisian. Dia bisa membuat bukti fisik ini 'hilang' dalam semalam. Kita harus menjatuhkannya di ruang terbuka. Di depan para pemegang saham utama dan media massa. Saat reputasinya hancur di depan publik, tidak akan ada satu pun pejabat korup yang berani melindunginya."
"Tapi bagaimana caranya, Nando?" Luna menatap pria itu dengan cemas. "Kau... kau belum bisa berjalan. Kakimu masih terlalu lemah. Dan ada dua gorila berjas di luar pintu yang akan mencekik siapa pun yang mencoba membawamu keluar dari kamar ini."
Nando terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah pintu kayu ek yang tertutup rapat. Kelemahannya secara fisik adalah fakta yang paling dibencinya saat ini. Dulu, ia bisa menembus beton tebal, sekarang ia bahkan butuh bantuan untuk duduk tegak.
"Aku punya sekutu," ucap Nando akhirnya. "Satu-satunya orang di dewan direksi yang tidak pernah menyukai Bara. Namanya Pak Dirman. Dia adalah pemegang saham terbesar kedua setelahku, seorang pengusaha tua yang sangat menjunjung tinggi integritas. Dia yang mendanaiku saat bank menolak proposal NaturaGlow di tahun pertama."
Nando menoleh menatap Luna. "Pak Dirman pasti mencurigai Bara sejak awal, tapi dia tidak punya bukti untuk melawan faksi Bara di dewan direksi. Luna, aku butuh kau pergi ke rumah Pak Dirman besok pagi. Berikan map hitam ini padanya. Ceritakan semuanya."
"Semuanya?" Luna menelan ludah. "Termasuk soal rohmu yang keluar dari tubuh dan terbang bersamaku ke Jawa Tengah untuk melawan dukun santet? Pak Dirman akan menelepon rumah sakit jiwa, Nando."
Nando terkekeh pelan. "Tidak perlu bagian mistisnya. Cukup katakan padanya bahwa kau adalah perawat pribadiku yang berhasil menemukan dokumen ini di brankas Bara. Tunjukkan bukti transfer dan sertifikat tanah sengketa itu. Pak Dirman adalah orang yang sangat logis. Bukti aliran dana gelap bernilai miliaran itu sudah cukup untuk membuatnya bertindak membatalkan RUPSLB atau membalikkan keadaan."
"Di mana Pak Dirman tinggal?"
"Di kawasan elit Menteng," jawab Nando. Ia menyebutkan alamat lengkapnya, yang langsung direkam baik-baik oleh Luna di dalam kepalanya. "Dia biasanya sarapan di beranda belakang rumahnya jam enam pagi. Kau harus mencegatnya sebelum dia berangkat ke kantor."
Luna mengangguk pelan. Misi ini terdengar jauh lebih masuk akal dan aman dibandingkan melawan Banaspati di jembatan tali. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang membuatnya enggan melangkah pergi.
"Lalu... bagaimana denganmu malam ini?" tanya Luna, suaranya melembut, dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Matanya menyusuri wajah pucat Nando, perban di kepalanya, dan kabel monitor jantung yang masih menempel di dada pria itu. "Bara menyadari dokumennya hilang. Dukunnya di Karang Mayit juga sudah mati. Saat dia tahu ilmu hitamnya dipatahkan, dia tidak akan tinggal diam. Dia bisa saja menggunakan cara kasar... secara fisik... untuk membunuhmu di ranjang ini."
Nando tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat ketampanannya semakin tidak masuk akal meski dalam keadaan sakit. Ia meraih tangan Luna dengan kedua tangannya, menggenggamnya erat.
"Kau mengkhawatirkanku, Nona Ghostbuster?" goda Nando pelan.
"Jangan bercanda, Nando," pipi Luna merona merah, namun ia tidak menarik tangannya. "Aku serius. Di dunia gaib kau mungkin bosnya, tapi di ruangan ini sekarang, kau hanyalah manusia yang bahkan tidak bisa berlari."
"Aku tahu," Nando menghela napas, sorot matanya kembali serius. "Tapi Bara tidak akan membunuhku malam ini. Dia butuh aku 'hidup tapi koma' untuk RUPSLB lusa. Jika aku mati malam ini, proses hukum warisan dan saham akan menjadi sangat panjang dan dia tidak bisa langsung mengambil alih perusahaan. Keparat itu terlalu serakah untuk mengambil risiko hukum sebesar itu. Dia akan menungguku dinyatakan tidak kompeten secara medis."
Meski logika Nando masuk akal, insting Luna tetap berteriak waspada. Namun ia tahu, jika ia tidak memberikan dokumen itu pada Pak Dirman, mereka berdua akan kalah telak.
"Baiklah," Luna menarik napas panjang. "Aku akan ke Menteng besok pagi. Setelah Pak Dirman setuju membantu, aku akan langsung kembali ke mari."
Nando mengangguk. "Berhati-hatilah, Luna. Saat ini, nyawamu berada dalam bahaya yang sama besarnya denganku. Bara akan mencari siapa yang membobol apartemennya. Gunakan maskermu, jangan sampai terekam kamera CCTV tanpa penutup wajah."
Luna meraih map kulit hitam dari pangkuan Nando, melipatnya kembali, dan memasukkannya ke dalam saku dalam seragam perawatnya. Ia memperbaiki letak topi perawatnya dan menaikkan maskernya hingga menutupi hidung. Saat ia berbalik menuju pintu, tangan Nando menahan pergelangan tangannya untuk terakhir kalinya.
Luna menoleh.
"Luna," panggil Nando, suaranya berat dan bergema di relung hati gadis itu. "Terima kasih. Untuk semuanya. Saat semua ini selesai, aku berjanji kau tidak akan pernah lagi merasa sendirian atau ketakutan."
Hati Luna mencelos mendengarnya. Kata-kata itu lebih terdengar seperti janji seorang pria kepada wanita yang dicintainya, bukan sekadar janji antar rekan bisnis atau rasa utang budi.
"Tepati janjimu untuk tetap hidup sampai besok pagi, Nando. Itu sudah cukup bagiku," bisik Luna dengan senyum yang tertahan di balik maskernya. Ia melepaskan genggaman Nando perlahan, dan melangkah keluar dari Ruang VVIP Anggrek 01.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Sebentar lg berita mereka bkl viral nih, apkh Kala ank mngenali Luna ya. 😃
lanjut thor.
up lagi kak Tanty 😍😍
Semangat 💪💪 KK