NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Laki-laki Asing

Rani mengernyit, mulai celingukan. "Darimana Non Ziva tau di sana ada perkebunan tebu?"

"Nggak tau, Mak. Pokoknya tau aja," jawaban Zivanna semakin membingungkan. Gadis itu berjalan santai menyusuri jalan semen seperti sudah terbiasa melewatinya, meninggalkan Rani terlihat enggan.

"Ayo, Mak. Kenapa malah ngelamun di situ?" Zivanna menoleh dan menemukan Rani diam di tempat.

"Eh ... Iya, Non." Rani bergegas menyusul lalu menyamakan langkahnya dengan Zivanna. "Non, pulang saja, ya. Mamak takut," bujuknya.

"Takut apa?"

"Perkebunan tebu itu sekarang angker." Rani mulai merinding. "Kalau Non Ziva memang ingin melihat perkebunan tebu, mending besok saja. Mamak janji besok mamak antar lagi, tapi pagi atau siang. Jangan petang begini," lanjutnya.

"Memangnya dulunya tidak angker?"

"Nggak sama sekali, Non. Sebelumnya malah perkebunan tebu itu jadi tempat bermain anak-anak, nanti kalau lelah bermain mereka motong tebu untuk dimakan. Kalau ketahuan mandor mereka kabur, lari terbirit-birit."

"Sekarang, jangankan anak kecil, orang dewasa saja mikir-mikir mau lewat jalan itu, apalagi hampir petang begini. Kita balik saja ya, Non?" pinta Rani dengan wajah memelas.

"Alahhh... Mak, tanggung. Tinggal sedikit lagi." Zivanna terus menatap kedepan dimana pohon tebu mulai terlihat di pandangan mereka. Zivanna melirik smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baru jam enam, Mak," ucapnya kemudian melanjutkan langkah. Mau tidak mau Rani mengekor di belakangnya.

Memasuki area perkebunan, tubuh Rani meremang. Kiri kanan jalan diapit oleh pepohonan tebu yang rapat membuat suasana yang sudah hampir gelap menjadi semakin gelap. Jalan semen yang mereka lewati terasa semakin sempit padahal sejak tadi lebarnya tidak berubah.

"Keluar dari perkebunan tebu ini nanti ada persawahan. Selanjutnya kalau jalan terus mengikuti jalan ini nanti sampai di kecamatan. Iya kan, Mak?"

Rani hampir saja menjawab bagaimana bisa Zivanna tahu, tetapi langsung mengurungkannya. Melihat dari kemarin Zivanna bertingkah aneh, rasanya pertanyaan itu tidak perlu lagi ditanyakan.

"Iya, kalau mengikuti jalan ini nanti kita sampai di kecamatan, tapi itu masih sangat jauh. Kalau Non Ziva mau berjalan sampai ke kecamatan, silahkan. Tapi mamak mau putar balik. Terserah kalau dimarahi Bu Minah mamak tidak peduli." Rani menyerah, setengah mengancam.

Jalan diantara perkebunan tebu ini saja panjangnya bisa lebih dari dua ratus meter. Rani tidak yakin dia bisa keluar hidup-hidup dari jalan angker ini, tetapi majikan kecilnya itu sudah membicarakan kecamatan yang letaknya masih belasan kilometer di depan.

"Siapa juga yang mau ke kecamatan? Aku cuma membicarakan jalan, bukan mau ke sana!" Ziva mengerucutkan bibirnya. "Ayo pulang," ucapnya menggandeng tangan Rani, lalu mengajaknya berjalan berputar arah.

Zivanna merasa area perkebunan ini begitu suram, mungkin benar yang dikatakan Rani kalau perkebunan ini angker. Makanya Zivanna tidak mau berlama-lama di sana. Kalau ditanya kenapa tiba-tiba ingin pergi ke perkebunan tebu, dia sendiri tidak tahu jawabannya.

"Kalau dulunya tidak angker, kenapa sekarang bisa jadi angker? Memangnya ada kejadian apa di sana?" tanya Zivanna ketika mereka sudah keluar dari area perkebunan tebu dan kembali memasuki area pemukiman.

"Nggak ada kejadian apa-apa. Tiba-tiba saja tempat itu auranya berubah. Katanya kalau menjelang petang seperti ini sering terdengar suara perempuan berteriak minta tolong."

"Sudah lama?"

"Belum lama, sih. Mungkin sekitar sebulanan ini."

"Oh... " jawab Zivanna singkat. Dia tidak begitu memerhatikan ucapan Rani. Matanya terus menyusuri jalan yang terasa sangat familiar. "Jalan tadi bukan jalan satu-satunya menuju kecamatan, kan? Soalnya dulu aku pernah ikut pak Budi ke kota kecamatan tetapi tidak lewat jalan yang tadi."

"Iya, yang Non Ziva lewati sama Pak Budi itu jalan utama. Jalannya sudah di aspal, lebih lebar dan lebih ramai, tetapi memutar jadinya lebih jauh. Yang kita lewat tadi semacam jalan pintas. Kalau mau ke kecamatan, puskesmas atau ke pasar lebih cepat lewat jalan itu. Tapi, ya itu masalahnya, sepi," terang Rani yang kini terlihat lebih santai karena bulu kuduknya tidak lagi berdiri.

Lampu penerangan di kiri kanan jalan sudah mulai dinyalakan. Bukan lampu tinggi dengan tiang besi atau baja. Hanya penerangan sederhana dari lampu bohlam sepuluh atau lima belas Watt yang digantung di tiang bambu di sudut-sudut jalan dan mendapat aliran listrik dari rumah terdekat.

"Cepetan Non, ini sudah malam. Nanti nenek khawatir." Rani mempercepat langkahnya.

Zivanna kembali melihat smartwatch-nya. "Baru juga setengah tujuh, Mak. Sebentar lagi."

Rani menghembuskan nafasnya menahan sabar. Majikan kecilnya ini kalau sudah memiliki kemauan sulit sekali ditolak. "Memangnya masih mau kemana lagi?" Zivanna tidak menjawab karena dia sendiri tidak tahu jawabannya. Sejak tadi dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah.

Kedua perempuan beda usia itu terus berjalan melewati jalan yang sama seperti saat mereka berangkat. Tepat ketika melewati belokan ke arah rumah Ida, Zivanna merasakan keanehan. Dia merasa seperti dipanggil untuk pergi ke sana.

Zivanna belum sempat melangkahkan kakinya berbelok ke rumah Ida, ketika sebuah suara mengagetkan keduanya.

"Bi Rani?!"

Rani menjengit kaget. "Cahyo?!! Mengagetkan bibimu saja!!!"

"Bibi ngapain di sini?!"

"Ini nganter Non Ziva jalan-jalan." Rani menoleh ke arah Zivanna yang sepertinya juga terkejut atas kehadiran Cahyo yang tiba-tiba.

"Oh ... Cucunya Bu Minah, ya?"

Rani mengangguk sementara Zivanna membeku menatap laki-laki di hadapannya.

Bagaimana cara menjelaskannya? Laki-laki di hadapannya ini asing tapi terlihat begitu familiar, bahkan Zivanna merasa seperti sudah mengenalnya seumur hidupnya. Tetapi Zivanna tidak tahu siapa dia.

Cahyo bertubuh tinggi dan badannya cukup berisi. Kulitnya sawo matang tetapi justru membuat laki-laki itu terlihat manis.

"Non, ini Cahyo. Dia ini kerabat jauh mamak."

"Saya Cahyo." Laki-laki yang terlihat sedikit lebih tua dari Zivanna itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah, tapi Zivanna tidak membalas.

Rani menyentuh pundak Zivanna, bermaksud menyadar majikan kecilnya itu yang terlihat sedang memandangi Cahyo. Kasihan juga Cahyo sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman tetapi Zivanna membiarkannya menggantung tanpa balasan. Rani tahu Zivanna bukanlah orang yang sombong dan tidak mau berbaur meski berasal dari keluarga berada.

Zivanna tersentak lalu membalas Cahyo. "Saya Ziva."

"Baru pulang kamu?" Rani melihat sepatu boot dan juga helm yang dikenakan Cahyo.

"Iya, Bi. Sebentar lagi panen. Jadi harus sering-sering ngecek kondisi kebun."

Perkebunan tebu ini adalah milik sebuah pabrik gula yang terletak di kecamatan Suka Makmur. Cahyo diangkat menjadi mandor menggantikan ayahnya yang meninggal akibat kebakaran perkebunan tebu yang terjadi beberapa tahun silam.

Zivanna terus saja menatap Cahyo. Orang yang melihat mungkin akan salah mengira jika Zivanna telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan laki-laki berpenampilan kalem itu. Padahal sebenarnya dia sedang berusaha mengingat-ingat dimana mereka pernah bertemu sebelumnya.

Tiba-tiba mata Zivanna berkaca-kaca, kemudian butiran bening menetes begitu saja, tetapi kali ini disertai dengan rasa sesak di dalam dadanya. "Mak, kita pulang sekarang."

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!