Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Siang itu, suasana kantor berjalan seperti biasa, sibuk, cepat, dan penuh tekanan. Namun, di dalam ruang kerja Harsa, ketenangan justru terasa berbeda. Bukan menenangkan, melainkan mengganggu.
Harsa duduk di kursinya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca isi yang terpampang di sana. Pikirannya masih tertinggal di rumah.
Tok! Tok!
“Masuk,” ucapnya singkat.
Pintu terbuka, dan Rina masuk dengan membawa beberapa berkas. Penampilannya rapi seperti biasa, namun sorot matanya tampak lebih tajam, lebih memperhatikan.
“Pak, ini laporan yang Bapak minta,” ujarnya sambil meletakkan berkas di meja.
“Terima kasih,” jawab Harsa datar.
Rina tidak langsung pergi.
Ia memperhatikan wajah Harsa beberapa detik, lalu berkata pelan, “Bapak terlihat tidak seperti biasanya.”
Harsa tidak mengangkat pandangannya. “Maksudnya?”
“Lebih banyak diam dan banyak melamun,” jawab Rina jujur.
Harsa menutup map di depannya. “Saya baik-baik saja.”
Rina tersenyum tipis, lalu duduk di kursi depan meja tanpa diminta. “Kalau Bapak bilang begitu … saya anggap memang begitu.”
Nada suaranya tenang, tapi jelas tidak sepenuhnya percaya.
Beberapa detik hening. Lalu Rina kembali berbicara, kali ini lebih pelan, seolah sengaja memilih kata-katanya.
“Pernikahan Bapak … dengan Arsyi,” ujarnya hati-hati, “pasti tidak mudah.”
Harsa menatapnya.
“Kamu sudah tahu dari awal,” balasnya singkat.
Rina mengangguk. “Iya. Dan jujur saja … sejak itu saya cukup banyak mendengar hal-hal yang … kurang menyenangkan.”
Alis Harsa sedikit berkerut. “Maksudmu?”
Rina menarik napas pelan, lalu menatap Harsa dengan ekspresi seolah ragu, padahal jelas ia sedang membuka sesuatu.
“Saya tidak tahu Bapak percaya atau tidak,” katanya pelan, “tapi banyak orang tua dulu bilang … menikah dengan adik ipar itu bukan hal yang baik.”
Ruangan seketika terasa lebih sunyi.
Harsa tidak langsung menanggapi.
Rina melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Katanya … bisa membawa dampak buruk. Bukan hanya untuk rumah tangga … tapi juga untuk karier.”
Harsa menatapnya tajam. “Kamu percaya hal seperti itu?”
Rina mengangkat bahu ringan. “Saya bukan orang yang mudah percaya mitos. Tapi … saya juga tidak bisa menutup mata dari kenyataan yang sering terjadi.”
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Pernikahan seperti itu seringkali penuh tekanan. Banyak konflik batin. Dan … tidak sedikit yang berakhir dengan keretakan.”
Kalimat itu seperti sengaja diarahkan. Tepat mengenai titik lemah Harsa. Rina melihat perubahan kecil di wajah pria itu, keraguan yang sekilas muncul, meskipun cepat disembunyikan.
“Maaf kalau saya terlalu jauh,” lanjut Rina, nada suaranya melembut. “Saya hanya … khawatir.”
Harsa menghela napas pelan. “Ini keputusan keluarga.”
“Dan keputusan pribadi Bapak,” tambah Rina cepat.
Harsa terdiam.
Rina tersenyum tipis, lalu berkata lebih dalam, “Saya tahu Bapak tidak menikah karena cinta."
“Dan menjalani sesuatu yang tidak diinginkan … dalam jangka panjang … itu melelahkan,” lanjutnya.
Harsa tidak membantah. Rina bangkit perlahan dari kursinya.
“Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Bapak,” katanya kembali ke nada profesional. “Saya hanya … tidak ingin melihat Bapak berada di situasi yang merugikan.”
Ia merapikan berkas di meja.
“Apalagi jika itu bisa berdampak pada pekerjaan dan masa depan Bapak.”
Sebelum berbalik pergi, Rina berhenti sejenak.
“Pak Harsa,” panggilnya pelan. Harsa mengangkat pandangan.
Rina menatapnya dengan dalam.
“Kadang … tidak semua keputusan yang kita ambil karena terpaksa harus kita pertahankan.” Lalu ia pergi, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.
Harsa tetap duduk di kursinya. Namun, pikirannya tidak lagi tenang. Kata-kata Rina berputar di kepalanya tentang mitos itu.
Langkah kaki Rina menjauh di koridor, meninggalkan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Kata-katanya masih menggantung di udara, seolah belum benar-benar pergi.
Harsa mengatupkan rahangnya.
“Tidak masuk akal…” gumamnya pelan, mencoba menepis semua itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Suara itu memecah keheningan dengan tajam. Harsa meraih ponselnya tanpa banyak pikir. Nama yang muncul di layar membuat alisnya langsung berkerut. Pak Daniel, Direktur Mitra
Ia segera mengangkat panggilan itu.
“Halo, Pak Daniel,” ucapnya profesional.
Di seberang sana, suara pria itu terdengar ragu dan tidak seperti biasanya.
[Pak Harsa … saya minta maaf sebelumnya.]
Harsa langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa, Pak?”
[Kami … memutuskan untuk membatalkan kerja sama proyek ini.]
Seolah waktu berhenti.
Wajah Harsa langsung berubah. “Apa maksud Bapak?”
[Keputusan ini sudah melalui pertimbangan internal perusahaan kami,] lanjut suara di seberang, terdengar kaku. [Kami merasa … ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan kerja sama.]
Harsa berdiri dari kursinya.
“Pak Daniel, ini proyek besar. Kita sudah sampai tahap finalisasi. Apa ada masalah yang bisa kita bicarakan?”
[Ada beberapa pertimbangan yang … tidak bisa kami jelaskan secara rinci saat ini,] jawabnya menghindar. [Kami harap Bapak bisa memahami.]
“Baik,” ucap Harsa akhirnya dengan suara yang tertahan. “Kalau begitu, saya tunggu penjelasan resmi dari pihak Anda.”
[Terima kasih atas pengertiannya, Pak Harsa.]
Panggilan terputus.
Ponsel itu masih berada di tangan Harsa, namun pikirannya seolah berhenti bekerja. Detik demi detik berlalu tanpa ia sadari.
Harsa mengusap wajahnya kasar, lalu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂