Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen
Tiana melangkah lebar keluar dari kamar mandi dengan hati yang hancur sekaligus membara. Ia tidak peduli lagi pada ancaman Alex. Dengan tangan gemetar, ia mengganti seragam pelayannya yang basah kuyup dengan pakaian lamanya yang tersisa. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah mansion mewah yang kini terasa seperti neraka, ia berlari menembus gerbang utama, meninggalkan segala kehinaan itu di belakangnya.
Di dalam kamar mandi, Andriana menatap pintu yang tertutup dengan bingung sekaligus puas. "Alex... kau benar-benar membiarkan pelayan itu keluar begitu saja?"
Alex hanya menatap ke arah pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilat kemarahan namun juga rasa penasaran di matanya. "Pergilah, Andriana. Apa kau tidak punya kesibukan lain?" ketusnya dingin, membuat Andriana tersentak dan akhirnya melangkah pergi dengan gerutuan kesal.
Sementara itu, suasana di Kediaman Warming sangat kontras. Gelak tawa dan dentingan gelas kristal memenuhi ruang tamu yang mewah.
"Ibu, aku sangat bahagia mendapatkan seluruh kekayaan dari ayah Tiana!" seru Liona sambil memutar-mutar kunci mobil sport barunya. Wajahnya berseri-seri, tidak ada sedikit pun rasa bersalah atas penderitaan sepupunya.
Angelia menyesap teh mahalnya dengan anggun. "Ibu juga sangat senang, Liona. Akhirnya kita tidak perlu tunduk lagi pada Tiana dan kakak ayahmu yang kolot itu. Sekarang semua ini milik kita."
Namun, di tengah tawa mereka, Liona tiba-tiba terdiam sejenak. "Ibu... apa mungkin Tiana benar-benar diinginkan oleh Alex Ferguson? Kenapa pikiranku ke sana terus ya? Pasti dia dihukum habis-habisan sebagai penebus dosa mendiang paman."
Liona menyeringai kejam, membayangkan Tiana yang sedang meratap di kaki Alex. "Ah, tapi sudahlah! Siapa peduli nasibnya. Yang penting sekarang kita hidup enak dan bisa membeli apa pun yang kita mau tanpa harus minta izin pada siapa pun."
Di tengah dinginnya malam London, Tiana berjalan sendirian di trotoar yang sepi. Ia tidak punya uang, tidak punya rumah, dan tidak punya identitas lagi. Ia baru saja menyadari bahwa kebebasan yang ia cari ternyata jauh lebih menakutkan daripada penjara Alex Ferguson.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar melambat di sampingnya. Kaca jendela terbuka perlahan, menampilkan sosok pria yang sangat ia kenali—bukan Alex, melainkan Alen Ferguson.
"Hai, Mawar kecil. Kau tampak sangat menyedihkan di bawah hujan begini," ucap Alen dengan senyum charming yang misterius. "Mau ikut denganku? Aku berjanji tempatku jauh lebih hangat daripada jalanan atau kamar mandi Alex."
"Tidak perlu..." jawab Tiana dengan suara parau. Ia terus berjalan, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil tertimpa angin malam London. Harga dirinya yang baru saja ia ambil kembali dari Alex membuatnya enggan menerima bantuan dari klan Ferguson lainnya.
Alen terkekeh rendah, ia menjalankan mobilnya pelan, mengikuti langkah kaki Tiana yang mulai goyah. "Hei, lihatlah di depan sana, Mawar kecil. Banyak serigala berhidung belang yang sudah mengincarmu."
Tiana refleks menoleh ke arah yang ditunjuk Alen. Di bawah temaram lampu jalanan yang remang-remang, tampak tiga orang pria bertampang preman sedang berdiri di pojok gang. Mereka menatap Tiana dengan tatapan lapar dan menjijikkan, seolah-olah Tiana adalah mangsa empuk yang baru saja terlepas dari kandangnya.
Tiana menelan ludah, langkahnya terhenti. Ia baru sadar bahwa tanpa nama Luxemburg atau perlindungan Ferguson, ia hanyalah seorang gadis cantik tak berdaya di tengah kerasnya malam.
"Ayo, Mawar... kau ikut atau kutinggal di sini?" tanya Alen lagi, kali ini nadanya lebih mendesak. Ia membuka pintu mobil penumpang dari dalam. "Pilihanmu hanya dua: duduk manis di mobil mewahku, atau menjadi 'mainan' pria-pria di sana."
Tiana melirik para pria itu sekali lagi yang mulai melangkah mendekat ke arahnya. Rasa takut seketika mengalahkan ego dan harga dirinya.
"Iya, iya! Aku ikut!" seru Tiana panik. Ia segera berlari kecil dan masuk ke dalam mobil Alen, menutup pintunya dengan bantingan keras seolah-olah sedang menutup pintu neraka.
Alen menyeringai puas, sebuah senyum yang sulit diartikan. Ia langsung menginjak pedal gas, menjauhkan Tiana dari ancaman para preman itu. "Pilihan cerdas, Baby. Tapi ingat, aku tidak melakukan ini secara cuma-cuma."
Sementara itu, di mansion, Alex sedang menatap rekaman CCTV gerbang melalui tabletnya. Matanya berkilat penuh amarah melihat Tiana masuk ke mobil Alen. Ia meremuk gelas wiskinya hingga pecah berantakan di tangannya.
"Berani sekali kau mencari perlindungan pada sepupuku, Tiana," desis Alex dengan suara yang sangat mematikan.
"Kenapa kau lari dari tempat Alex, Tiana?" tanya Alen sambil memutar kemudi, melirik Tiana yang duduk di sampingnya dengan wajah yang masih merah padam karena emosi.
"Hah! Sepupumu itu iblis jahat! Aku benci sekali!" sembur Tiana tanpa ragu. Ia meremas ujung pakaiannya yang kering, namun ingatannya masih tertuju pada kejadian di kamar mandi tadi. "Bisa-bisanya dia menyuruhku memandikannya, sampai aku dikira wanita penggoda oleh Mak Lampir itu! Dia benar-benar tidak punya perasaan!"
"Hahaha!" Alen tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang renyah memenuhi kabin mobil mewah itu. Ia tidak menyangka gadis di sampingnya ini memiliki nyali untuk menghina Alex Ferguson sebagai 'iblis jahat' dan menyebut Andriana sebagai 'Mak Lampir'.
"Kau lucu sekali, Mawar kecil," ucap Alen setelah tawanya sedikit mereda. "Kau adalah orang pertama yang berani menyebut Andriana seperti itu. Dan soal Alex... yah, dia memang punya cara yang 'istimewa' untuk menyiksa orang."
Alen menepikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen elit yang menjulang tinggi di pusat London. Ia menatap Tiana dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah kagum, setengah penasaran.
"Tapi kau harus tahu, Tiana. Alex tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke wilayah pribadinya, apalagi menyuruh memandikannya. Kau mungkin menganggapnya sebagai siksaan, tapi di dunia kami, itu adalah tanda bahwa dia sangat terobsesi padamu," lanjut Alen dengan nada yang lebih serius.
Tiana mendengus meremehkan. "Obsesi untuk menghancurkanku, maksudmu? Aku lebih baik tidur di jalanan daripada kembali ke mansion itu!"
Alen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia. "Malam ini, tidurlah di tempatku. Alex tidak akan bisa masuk tanpa izin dariku. Tapi jangan berpikir kau sudah bebas sepenuhnya, Mawar. Di klan Ferguson, tidak ada yang benar-benar bisa melarikan diri."
------------------------------
Sementara itu, di mansion, Alex sedang berdiri di balkon, menatap kosong ke kegelapan malam. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih saat asistennya melaporkan bahwa Tiana masuk ke apartemen Alen.
"Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik punggung sepupuku?" desis Alex dengan suara yang sangat rendah namun mematikan. "Alen sudah bermain dengan api, dan aku tidak keberatan membakar seluruh gedungnya untuk mengambil kembali milikku."
Mobil Alen berhenti tepat di depan lobi pribadi gedung penthouse yang sangat eksklusif. Pencahayaan di sekitar gedung itu temaram, memberikan kesan privasi yang tinggi namun juga terasa sangat sunyi bagi Tiana.
Tiana turun dari mobil mewah itu dengan langkah yang masih sedikit ragu. Ia menengadah, menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya. Rasanya baru saja ia keluar dari satu sangkar emas, kini ia sudah berada di depan sangkar yang lain.
"Kamu di sini sendiri, Alen...?" tanya Tiana lirih, suaranya sedikit bergema di halaman gedung yang sepi itu. Ia melirik Alen yang sedang menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet yang berjaga dalam diam.
Alen berjalan menghampiri Tiana, menyampirkan tangan di saku celananya dengan gaya yang sangat santai. "Kenapa? Kau takut aku akan melakukan hal yang sama seperti Alex?"
Alen tertawa kecil melihat ekspresi waspada Tiana. "Tenanglah, Mawar Kecil. Aku lebih suka menikmati malam dengan tenang daripada harus memaksa pelayan galak sepertimu untuk melakukan hal-hal aneh. Di sini hanya ada aku, beberapa staf keamanan, dan tentu saja... kau."
Ia melangkah menuju pintu masuk otomatis yang terbuat dari kaca tebal. "Ayo masuk. Udara malam ini tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi setelah mandi sampanye tadi. Aku punya kamar tamu yang jauh lebih baik daripada sel bawah tanah Alex."
Tiana hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Alen masuk ke dalam lift yang sangat modern. Ia merasa terjebak dalam pusaran klan Ferguson yang tidak ada habisnya. Namun, di balik rasa amannya sejenak, Tiana tidak tahu bahwa di kejauhan, sebuah mobil hitam sedang mengawasi mereka dengan lampu yang sengaja dimatikan.
Tiana menyandarkan tubuhnya yang lelah pada sofa beludru mewah milik Alen. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma pengharum ruangan yang menenangkan—sangat berbeda dengan aroma maskulin yang mengintimidasi di mansion Alex.
"Syukurlah... yang penting aku tidak bertemu iblis itu lagi," gumam Tiana lirih. Ada rasa lega yang besar, namun hatinya tetap terasa kosong karena ia tahu paman kesayangannya kini membencinya akibat fitnah Liona.
Tak lama kemudian, Alen datang membawa dua gelas minuman dingin dan meletakkannya di meja marmer. Ia duduk di hadapan Tiana, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Apa kau tidak punya HP, Tiana?" tanya Alen tiba-tiba.
Tiana mendongak, lalu menggeleng pelan dengan raut wajah sedih. "Tidak, Alen... Bibiku menyitanya sesaat setelah Ayah meninggal. Dia bilang aku tidak butuh berhubungan dengan dunia luar lagi."
Alen menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut sekaligus geram mendengar betapa jahatnya keluarga Warming. "Licik sekali. Mereka benar-benar ingin memutus aksesmu agar kau tidak bisa meminta bantuan pada siapa pun."
Alen kemudian merogoh saku hoodie-nya dan mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang masih tersegel. Ia menggesernya ke arah Tiana.
"Pakailah ini. Ini kartu baru, atas namaku. Alex tidak akan bisa melacak sinyalnya dengan mudah," ucap Alen dengan nada santai. "Kau butuh ini jika suatu saat ingin melarikan diri dariku juga."
Tiana menatap ponsel itu dengan ragu. "Tapi Alen... kenapa kau membantuku sejauh ini? Kau kan sepupunya."
Alen hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tulus namun menyimpan misteri. "Anggap saja aku sedang melakukan investasi pada 'Mawar' yang paling berharga di London."
Tiba-tiba, ponsel milik Alen yang berada di saku celananya bergetar hebat. Alen melirik layarnya dan rahangnya mengeras. Nama Alex Ferguson berkedip-kedip di sana.
------------------------------
Alen pun mengangkat telepon itu dengan santai, menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memberikan kode pada Tiana untuk tetap diam.
"Bajingan! Kembalikan tawananku sekarang juga!" Suara menggelegar Alex terdengar dari seberang telepon, bahkan sanggup menembus heningnya ruangan itu.
Alen terkekeh rendah, memutar-mutar gelas minumannya. "Ada apa, Sepupu? Kenapa tiba-tiba marah begitu? Suaramu bisa merusak suasana malamku yang tenang."
"Jangan pura-pura tidak tahu, Alen! Kau membawa Tiana, kan? Cepat bawa dia keluar dari sana sebelum aku meratakan gedungmu!" geram Alex, suaranya terdengar seperti singa yang sedang terluka harga dirinya.
Alen melirik Tiana yang kini mematung ketakutan mendengar suara Alex. Sebuah ide jahat muncul di kepala Alen untuk memancing emosi kakaknya. "Alex, tenanglah... kau ini pelit sekali. Aku belum mencicipinya sama sekali, Baby ini tampak sangat menggoda setelah kau buat dia basah kuyup," goda Alen dengan nada suara yang sengaja dibuat manis.
Tiana membelalakkan matanya, ingin sekali ia melempar bantal ke wajah Alen yang bicara sembarangan itu.
"BAJINGAN!" Alex berteriak murka, terdengar suara benda pecah di latar belakang teleponnya. "Aku akan masuk sekarang juga. Jangan menyesal jika tanganku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari sana, wahai Sepupu!"
Pip.
Sambungan terputus secara sepihak. Alen melempar ponselnya ke meja dengan wajah puas, seolah baru saja memenangkan lotre.
"Dia benar-benar akan datang," bisik Tiana, wajahnya pucat pasi. "Alen, tolong... dia akan membunuhku."
Alen bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Di bawah sana, sorot lampu mobil Rolls-Royce hitam terlihat melaju kencang menuju gerbang apartemen.
"Biarkan dia datang," ucap Alen dingin. "Dia harus belajar bahwa di klan Ferguson, apa yang sudah dilepaskan berarti sudah siap untuk diperebutkan kembali."