Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tantangan
Kania kini berencana akan menjauhi Bella karena sahabatnya itu tidak mendukung dirinya yang menyukai pamannya. Tentu saja kali ini dia hanya diam-diam saja mendekati Axel dan akan mencari tahu sendiri bagaimana itu Axel meski memang akan sangat sulit jika tidak di bantu sahabatnya itu.
"Ah, tapi susah juga ya kalau gue ngga cari tahu sama Bella. Dia kenapa lagi sih sama gue, kenapa dia marah lagi?" ucap Kania sendiri.
Sepanjang mata kuliah di berikan, Kania tidak juga masuk ke pikirannya karena memikirkan sahabatnya Bella dan juga pamannya Axel.
Pukul sebelas siang, waktu jam istirahat Kania menghampiri Bella. Gadis itu menatap sinis dia terus berjalan pergi meninggalkan Kania.
"Bella, Lo kenapa sih. Kemarin-kemarin baik banget, kok sekarang mulai lagi marah sama gue?" tanya Kania.
"Ya Lo pikirin sendiri, kenapa gue marah?" Bella balik bertanya sambil melengos.
"Gue kenapa? Gue ketemu sama om Axel?" tanya Kania lagi.
Bella terus melangkah pergi meninggalkan Kania, dan gadis itu terus mengejar Bella sampai mereka di kantin.
"Bel, Lo ngga boleh gitu dong. Apa salahnya sih gue suka sama om Axel? Om Axel kan duda."
Ucapan Kania membuat Bella menatapnya tajam dan mendengus kasar, gadis itu tidak percaya kalau ucapan Kania adalah benar adanya meski memang benar pamannya itu sudah menjadi duda beranak satu.
"Bel, tolong dong jangan marah terus sama gue. Gue juga ngga bisa mengendalikan rasa suka gue sama om Axel, dan apa salahnya juga Lo punya calon Tante yang imut dan lucu kayak gue?"
Kania terus saja nerocos membuat beberapa mahasiswa lain melihatnya aneh, Bella semakin kesal.
"Kania, si Dirga tuh suka sama Lo. Kenapa Lo ngga balas rasa suka dia itu?"
"Ya elah, kan gue udah bilang sama Lo dari dulu. Duluu, banget kalau gue ngga suka sama dia dan Lo juga setuju kan? Kenapa sekarang jadi nyuruh gue suka sama tuh cowok?"
"Ya, gue ngga mau aja Lo suka sama om-om. Lagi pula, Tante Laras pasti ngga setuju kalau Lo suka sama om-om kan?"
"Eh, kata siapa? Mama gue suka-suka aja tuh sama pilihan gue," kata Kania mencoba berusaha tenang.
Namun ternyata Bella mengetahui kebohongan Kania kalau mamanya menyetujui dirinya suka pada om Axel.
Bella tersenyum kecil dan kini dia yang memiliki rencana untuk Kania.
"Oke, gue akan beri informasi mengenai om Axel kalau Tante Laras itu setuju Lo suka sama om gue," ucap Bella memberi tantangan pada Kania, karena dia tahu Kania tidak mungkin di setujui anaknya bergaul dengan om-om apa lagi menyukainya.
"Ih, ko Lo kasih gue tantangan segala sih?" Kania balik bertanya.
"Lo takut?" tanya Bella meledek.
"Ya nggaklah, gue kemarin aja berantem sama mama," ucap Kania tanpa sadar.
"Nah kan? Lo ngga bakalan di setujui sama Tante Laras, mana mau Tante Laras punya mantu om-om yang seharusnya jadi om Lo," kata Bella lagi merasa menang.
Kania menatap sebal pada Bella, dia berpikir bagaimana bisa mendapatkan informasi tentang Axel. Jalan satu-satunya ya memang sama Bella, dia tidak tahu apakah Axel itu benar-benar duda atau masih beristri beranak satu.
"Oke, gue coba. Tapi Lo kasih gue foto om Axel dong," ucap Kania.
"Ih, ogah banget. Lo usaha dong yang keras, setelah Lo berhasil meyakinkan Tante Laras gue bukan hanya kasih informasi tentang om Axel. Tapi kasih Lo foto, bahkan emm,"
"Apa?"
"Nanti deh, setelah Lo bisa menaklukan Tante Laras dan meyakinkannya." ucap Bella lagi.
Kania semakin ragu, sekarang saja dia masih belum baikan sama mamanya. Apa lagi harus mendekatinya untuk membicarakan tentang Axel, itu semakin tidak mungkin.
Dia menatap sinis sekaligus sebal pada Bella, gadis itu sudah merasa menang karena dia tidak akan lagi di kejar Kania untuk menceritakan tentang Axel.
"Ayo, Lo berani ngga? Gue sih yakin Lo ngga berani deh cerita sama Tante Laras masalah rasa suka Lo yang aneh itu sama om Axel," kaya Bella meremehkan.
"Siapa takut? Gue bisa menaklukan tantangan, Lo. Apa lagi sama mama sendiri, ya pasti bisalah," ucap Kania tak mau kalah.
"Hmm, meski Tante Laras itu mama Lo. Tapi gue tahu kalau Tante Laras itu ngga suka dengan pilihan Lo."
"Siapa bilang? Gue pasti menaklukan tantangan Lo itu, jangan bangga dulu deh Lo akan menang."
"Oke, selama itu juga gue berharap om Axel itu dapat perempuan yang lebih dewasa dari Lo," ucap Bella.
"Jadi om Axel itu udah duda?!"
"Nggaklah, mana mungkin."
Kania menatap kecewa pada Bella, sedangkan Bella sendiri membuang muka ke arah lain agar tidak di ketahui sahabatnya kalau dia berbohong.
"Gue yakin om Axel itu duda."
_
_
******