REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.Masalah Elvan
Viska dan Vilna paham saat melihat kakak nya hanya murung, sejak kepulangan nya dari kota istri nya pria itu menjadi pendiam. Bahkan Elvan memindahkan Erkan untuk menggantikan pekerjaan nya sekarang.
Para sahabat Elvan mulai mengerahkan semua anak buah mereka untuk mencari keberadaan Azura.
Elvan hanya mengurung diri di kamar, pria itu hanya menangisi penyesalan yang telah terjadi.
"Kak,jangan seperti ini." ujar Viska menghampiri kakak nya.
"Lalu kakak harus seperti apa?"
"Semangat kak, kak Zura akan ketemu meski tidak sekarang."
Elvan mengacak rambut nya frustasi, pria itu kemudian mengambil figura kecil bergambar foto istri nya. Entah dapat dari mana sekarang kamar Elvan penuh dengan foto Azura.
Memandang wajah Zura yang tersenyum membuat hati Elvan teriris perih.
Di lain tempat, Risma dan Shinta sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Elvan. Mereka bahkan berencana menghancurkan nama baik Elvan dengan mengumbar aib Elvan menikahi Azura.
Dengan membayar beberapa wartawan, mereka berhasil membuat berita tentang Elvan tersebar luas.
Azura, wanita yang sudah berada di kota Y itu sangat murka dengan berita yang beredar, wanita itu bahkan sangat muak melihat wajah Elvan yang terpampang di setiap berita yang keluar.
Viska dan Vilna yang mengetahui berita tersebut langsung menghampiri kakak nya di dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Elvan.
Viska menyodorkan ponsel milik nya, "Apa yang mereka mau?" ujar Elvan geram "Ini pasti kerjaan Tante Risma dan adik nya itu tante Shinta dan Ines."
"Apa kakak yakin?" tanta Vilna.
"Hanya tante Risma yang tahu semua nya dan aku sangat menyesal telah memberitahu nya." ujar Elvan duduk lemas.
"Lalu apa yang akan kakak lakukan!" tanya Viska.
Elvan kemudian pergi, ia memilih menemui semua sahabat nya. Elvan melajukan mobil nya ke cafe Julian, setelah tiba Elvan langsung masuk. Saat Elvan masuk ia mendapatkan cibiran dari pengunjung cafe yang mengetahui pemberitaan tentang Elvan.
"Sabar, pasti ada solusi." ucap Erkan.
"Gue harus memberi pelajaran kepada ketiga wanita ulat bulu itu." ucap Elvan geram.
"Raka, lo punya kuasa untuk menghentikan semua berita ini sekarang juga tutup semua berita." pinta Elvan dan langsung di iya kan oleh Raka.
"Azura pasti terpuruk dengan berita ini." ujar Julian.
Elvan mangacak rambut frustasi, pria itu saat ini sangat merindukan istri nya.
"Aku telah bersalah pada nya." ucap lirih Elvan.
Ketiga sahabat nya hanya saling pandang, mereka sangat mengerti dengan apa yang di alami Elvan sekarang.
Belum ada lima menit, semua berita tentang Elvan sudah hilang entah kemana, membuat Risma, Shinta dan Ines mengumpat kesal.
Belum habis kekesalan mereka, Risma di kejutkan dengan notifikasi pemberitahuan di ponsel milik nya jika sumber uang nya telah dibeku kan atau terblokir.
"Elvan, anak itu sudah gila." teriak Risma tidak terima "Aku bahkan berhak atas harta peninggalan Hermawan."
"Lalu nasib kita bagaimana kak?" tanya Shinta panik.
"Diam kamu Shinta." bentak Risma.
"Ines gak mau jadi gembel." sambung Ines.
Malam menjelang, pukul delapan Elvan pulang, namun seketika wajah nya berubah saat melihat Risma duduk manis di ruang tamu.
"Mau apa anda?" tanya Elvan dengan nada membentak.
"Aku masih berhak atas peninggalan suami ku." ujar Risma.
"Peninggalan yang mana?" tanya Elvan.
Viska dan Vilna hanya menonton, kedua gadis itu tidak mau ikut campur urusan kakak nya jika berkaitan masalah harta.
"Buka kembali semua yang telah kau bekukan, kau tidak berhak." pinta Risma.
Elvan terkekeh, lalu pria itu masuk ke ruang kerja papah nya. "Tunggu sebentar." ujar Elvan.
Risma duduk manis kembali, ia merasa geram karena rumah yang dulu ia tempati terpajang foto nya kini telah berubah.
Tak lama Elvan keluar, pria itu kemudian melemparkan selembar kertas.
"Kau baca, apakah ada nama anda di daftar ahli waris itu?" ujar Elvan.
Risma mulai membaca, di situ tertulis hanya nama tiga orang saja. "Bukankah Hermawan menulis nama ku di sini?" tanya nya yang mulai gelisah.
"Sebelum papah ku meninggal, beliau telah mengubah semua." tutur Elvan.
Wajah Risma pucat, ia bahkan lemas saat mengetahui nama nya tak tercantum. "Aku tidak terima, aku yang telah merawat kedua adik mu." ujar Risma.
"Kau merawat? sejak kapan? kau hanya sibuk mengurus diri mu dengan menikmati uang papah ku, saat Viska dan Vilna beranjak dewasa baru lah kau mengurus adik-adik ku."
Risma terdiam, wajah nya serasa di tampar namun tak sakit, wanita itu kemudian memilih untuk pergi. Elvan menjatuhkan bobot tubuh nya, pria itu pusing dengan apa yang di alami oleh keluarga nya sekarang.