5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kebenaran Terungkap
"Baiklah," Jesi Brown memulai pembicaraan dengan nada serius. "Sebenarnya... kalian semua bukanlah manusia biasa."
"Hah?!" Kelimanya berteriak serempak dengan ekspresi tidak percaya.
"Ki... kita bukan manusia?" tanya Vera terbata-bata karena terkejut.
Olivia menimpali dengan ragu, "Kalau bukan manusia, lalu apa? Selama ini kami tidak pernah merasakan hal yang aneh pada diri kami."
Mark Xendrick, ayah Olivia, mengambil alih pembicaraan. "Kalian adalah putri-putri dari kerajaan yang mewariskan kekuatan sihir yang sangat besar. Kalian sebenarnya tidak berasal dari Bumi, melainkan dari negeri Euthopia."
Mata kelima gadis itu membelalak. Dunia seakan berputar.
"Kekuatan itu sudah ada di dalam diri kalian masing-masing," tambah Daniel Adams. "Hanya saja, karena kalian tidak mengetahuinya dan tidak pernah berlatih, kekuatan itu tetap tertidur."
"Oleh karena itu," lanjut Caryn Adams, "kami memindahkan kalian ke sekolah khusus bagi mereka yang memiliki kemampuan sihir, agar kalian bisa mengendalikan kekuatan tersebut."
"Dan sekolah itu berada di negeri Euthopia, tanah kelahiran kalian yang sebenarnya," jelas Zahira Wood, ibu Luna.
Luna bertanya dengan nada bingung, "Lalu, mengapa selama ini kami tidak dibesarkan di Euthopia? Mengapa harus di Bumi?"
Hening sejenak. Para orang tua saling melempar pandangan, namun tak ada yang langsung menjawab.
"Kenapa tidak ada yang menjawab?" desak Azzura heran.
Variz Brown akhirnya berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ehem... soal itu, nanti saja kami jelaskan. Sekarang kita harus berangkat sebelum terlambat."
Elia Dixion, ibu Vera, melangkah maju. "Baiklah, sebelum berangkat, ada sesuatu yang ingin kami berikan kepada kalian."
Para ibu kemudian menyerahkan sebuah kalung indah berbentuk hati kepada putri mereka masing-masing.
Azzura kalung hati berwarna merah
Rachel Kalung hati berwarna biru
Luna kalung hati berwarna putih
Olivia kalung hati berwarna hijau
Vera kalung hati berwarna ungu
"Wah, cantik sekali!" seru Olivia sambil tersenyum lebar. Kalung itu tampak berkilau indah di tangan mereka.
"Itu adalah kalung simbol kekuatan sekaligus pelindung bagi kalian," jelas Joy Xendrick.
"Jaga kalung itu baik-baik, jangan sampai hilang," pesan Caryn dengan sungguh-sungguh.
"SIAP!" jawab kelimanya serempak, kini dengan semangat baru.
Azzura kemudian menatap ayahnya. "Lalu, bagaimana cara kita pergi ke sana? Jika tempatnya bukan di Bumi, bagaimana kita mencapainya?"
"Melalui portal dimensi yang menghubungkan Bumi dan Euthopia," jawab Daniel Adams mantap.
"Bagaimana cara membuat portalnya, Paman?" tanya Rachel dengan wajah polos yang penuh rasa ingin tahu.
Daniel tersenyum kecil melihat wajah polos Rachel. Ia melangkah ke tengah ruangan yang cukup luas itu, sementara para orang tua lainnya membentuk lingkaran kecil di sekeliling kelima gadis tersebut.
"Membuat portal bukan sekadar merapal mantra, Rachel. Ini adalah perpaduan antara niat yang kuat dan energi yang terhubung dengan tanah kelahiran kalian," jelas Daniel.
Ia mengangkat tangan kanannya. Perlahan, cahaya biru keperakan mulai berpendar dari telapak tangannya. Cahaya itu merambat ke lantai, membentuk pola-pola geometris yang rumit dan bercahaya terang. Udara di dalam ruangan itu tiba-tiba terasa bergetar, seolah-olah ada arus listrik halus yang menggelitik kulit mereka.
"Wah... keren banget!" gumam Vera takjub, matanya tidak berkedip sedikit pun.
Tiba-tiba, di tengah ruangan, udara seolah 'robek'. Sebuah pusaran cahaya berbentuk oval muncul, menampilkan pemandangan yang sangat berbeda dari ruang tamu keluarga Adams.Di balik pusaran itu, mereka bisa melihat langit berwarna ungu kemerahan dengan bangunan-bangunan megah yang seolah melayang di kejauhan.
"Itu... Euthopia?" tanya Olivia dengan suara bergetar, antara takut dan kagum.
"Benar, Olivia. Itu adalah gerbang menuju Akademi Mageia, tempat kalian akan belajar," jawab Mark Xendrick sambil menepuk bahu putrinya.
Caryn melangkah mendekati Azzura dan teman-temannya. "Ingat pesan Ibu. Begitu kalian melintasi portal ini, kekuatan kalian mungkin akan mulai bereaksi. Kalung yang kalian pakai akan membantu menstabilkan energi tersebut. Jangan dilepas, apa pun yang terjadi."
Satu per satu, para sahabat itu saling berpegangan tangan. Rasa gugup menyelimuti mereka, namun rasa penasaran jauh lebih besar.
"Ayo, teman-teman. Kita lakukan ini bareng-bareng," ucap Azzura mantap, menatap keempat sahabatnya.