"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Bau Ikan Busuk
Lena makan dengan lahap, tidak ada drama mogok makan sampai makanannya habis. Bocah kecil itu menyukai masakan Deana.
"Cuci mulut dan tangan cucuku, pakaikan sedikit bedak di wajahnya supaya tidak berminyak seperti itu." ujar Nyonya Ellen.
Walaupun tidak menyebut namanya, Deana tahu Nyonya Ellen itu mengucapkan perkataan untuknya.
"Ayo Lena cuci tangan dulu, kotor nih tangannya." Deana mengangkat tubuh Lena lalu menuntunnya.
"Mommy, kita mau ke mana?" tanya Lena mengayunkan tangan Deana.
Deana tersenyum hambar, ia benar-benar tidak tahu akan ke mana karena Nyonya Ellen tidak memberitahunya dan sudah pasti tidak akan mengajaknya.
"Emm... Sepertinya Lena mau bertemu dengan Kakak Vania dan Abang Azam."
Lena menampakkan deretan giginya, "Mommy ikut, kan? Di rumah Kakak Vania ada ikan besar-besar loh Mommy!"
Deana masih dengan senyumnya, "Mommy di rumah saja, badan Mommy masih belum sehat. Lena bisa pergi dengan Oma dan Opa ya sayang...."
"Daddy ikut?"
"Sepertinya Daddy tidak ikut. Dari pagi, Daddy sedang sibuk dengan pekerjaannya, tapi nanti Lena coba tanya Oma saja ya...."
Lena menganggukkan kepalanya pelan.
Lena sudah bersih dan sesuai dengan permintaan Nyonya Ellen, Lena sudah dibedaki tipis-tipis oleh Deana. Rambutnya juga sudah beda menjadi kuncir satu karena Lena menginginkan mengganti model rambutnya.
"Sudah cantik cucu Oma." senyum manis Nyonya Ellen terlihat. Nyonya Ellen menarik tangan Lena dan menggenggamnya.
Deana ditinggalkan, Deana hanya bisa mengambil napasnya dengan sedikit emosi yang mengganjal di hatinya. Padahal yang mendandani semua kebutuhan Lena menjadi cantik itu dirinya, tapi Deana sama sekali tidak mendapatkan pujian sedikitpun.
"Oma, kita mau pergi ke mana? Daddy mana?" Lena menatap ke arah Deana, "Oma, Mommy tidak ikut?"
Mulut Nyonya Ellen tercibir pelan, ia menatap tubuh Deana yang semakin hari terlihat semakin kurus itu, "Mommy-mu di rumah saja dengan Daddy." balas Mommy Ellen mengelabui Lena. Karena hari ini juga Reno tidak ikut dan masih mengurusi agenda pekerjaan untuk deadline bulan depan bersama Jordi.
"Mommy nggak mau ikut kita saja? Nanti Mommy dengan Bunda." tanya Lena dengan wajah yang cemberut.
Deana menggeleng pelan, ia berjalan menghampiri Lena dan merapikan poni rambutnya, "Mommy di sini saja, Lena dengan Oma dan Opa."
"Sudah cepat, nanti cuacanya panas dulu." ucap Nyonya Ellen bergegas.
"Ini isi tasnya sudah komplit kan? susu jangan lupa, kali saja nanti kami pulang sampai malam." ucap Nyonya Ellen mengambil tas kecil berkarakter kucing lucu itu.
"Sudah Nyonya. Sudah saya siapkan semuanya."
Nyonya Ellen tidak menyahutnya lagi, ia menggandeng Lena dan mengajaknya keluar karena Tuan Samuel sudah berada di luar untuk mengecek mobilnya. Bukan mengecek kondisinya tapi mengecek mobil mana yang akan ia gunakan untuk pergi hari ini.
***
Deana menatap kepergian mobil mewah berwarna hitam doff itu dari jendela saja.
"Nyonya, makan dulu, habis ini Nyonya harus minum obat." ujar Suster Ina, Deana terlonjak kaget karena Suster Ina tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Deana menggeleng pelan, "Mbak, ada pekerjaan yang bisa Dea bantu? Dea sudah sehat, perut Dea juga sudah kenyang."
Suster Ina terkekeh pelan, ia mengelus lengan Deana, "Nyonya, justru Nyonya sepertinya sudah kelelahan mengurus Nona Lena. Maafkan saya ya Nyonya, kalau saja Nona Lena mau dengan saya, pasti saya akan membantunya."
Kedatangan Deana, membuat Lena selalu menempel pada Deana. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, Lena menginginkan ini dan itu pada Deana. Entahlah jika Deana pergi dari rumah, Lena pasti akan mencarinya. Deana memikirkan hal itu setiap kali mengamati wajah Lena yang tidur memeluknya.
"Nggak apa-apa Sus. Dea juga senang kok direpoti Lena. Lena lucu sekali."
"Nyonya ayo makan dulu. Setelah makan dan minum obat, Nyonya bisa beristirahat lagi." ajak Suster Ina lagi.
Semenjak Lena menginginkan dengan Mommynya terus, Suster Ina bukan lagi menjadi baby sitter, melainkan sudah menjadi pelayan yang membantu menyiapkan di dapur dan membersihkan rumah karena Suster Ina tidak dipecat, maka dari itu, Suster Ina harus mencari pekerjaan supaya tidak memakan gaji buta.
"Mbak Yan sudah membuatkan Nyonya bubur ayam, khusus untuk Nyonya saja." ucap Suster Ina lagi.
Deana menggeleng pelan, kalau sudah seperti ini, dia tidak bisa lagi menolaknya, akan merasa tidak enak hati jika menolaknya karena semua orang sudah memperhatikan kondisinya dengan baik.
"Baiklah, Dea mau makan." balas Deana akhirnya.
Suster Ina tersenyum senang mendengarnya.
***
Satu jam sudah perjalanannya, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tuan Samuel itu telah sampai di depan taman dengan berbagai macam jenis permainan anak-anak itu.
"Oma cepat turun, Kakak Vania mana?" tanya Lena sudah tidak sabar. Tangan kecilnya memaksa buru-buru memakai sepatu di kaki kecilnya, walaupun mobil belum terparkir di parkiran.
"Hari ini dengan Aunty Fio. Lena main dengan Aunty Fio ya sayang." balas Nyonya Ellen sambil membantu memakaikan sepatu di kaki Lena.
Lena yang mendengarnya seolah dipatahkan, ia sudah berjanji akan pergi mengajak Daddy dan Mommy-nya. Kedua tangan kecilnya terlipat di depan dadanya, "Len tidak mau turun kalau sama Aunty Fio!"
"Lena tidak boleh seperti itu. Aunty Fio itu sangat baik pada Lena... Kan sekarang hanya menemani Lena main saja." ucap Tuan Samuel.
"Len mau sama Daddy dan Mommy!"
"Memangnya kenapa kalau dengan Aunty Fio? Kan sama saja." ujar Nyonya Ellen.
"Sudah cepat ayo kita turun, Aunty Fio sudah berada di pintu loket. Dad, Daddy ikut, kan?"
"Daddy menunggu di cafe biasa, Daddy mau ngopi saja. Kalau sudah selesai, kalian datang ke cafe saja sambil beristirahat." sahut Tuan Samuel.
"Baiklah. Ayo sayang." Nyonya Ellen membuka pintu mobil lalu mengajak Lena untuk berjalan. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi jika harus menggendong Lena.
"Hati-hati Mom, cucu Opa cantik."
Lena melambaikan tangannya ke arah Tuan Samuel yang masih berdiri di samping pintu kemudi itu.
Tuan Samuel membalasnya sambil tersenyum manis ke arah Lena.
***
Di rumah, Reno baru selesai dengan pekerjaannya, ia turun dari lantai atas.
"Suster Ina, apa Lena sudah berangkat?" tanya Reno pada Suster Ina. Ia melihat Deana sedang makan.
Deana yang mendengar suaranya tidak menggubrisnya, ia fokus dengan makanannya saja.
"Sudah Tuan. Nona Lena pergi dengan Tuan dan Nyonya besar." ucap Suster Ina.
Reno menyugar rambutnya dengan jemarinya, Reno pikir Deana akan ikut menemani, tapi nyatanya perempuan itu ada di rumahnya.
"Hm." Reno mengangguk.
Reno hanya berdiri jauh dari tempat makan itu, ia juga sudah berdandan rapi memakai jeans dan baju polo hitamnya. Hot Daddy itu memang selalu menarik di mata kalangan mama muda maupun para gadis.
"Tuan ingin pergi ke mana?" tanya Deana. Ia melihat ke arah suaminya.
Reno menatap sebal, "Bukan urusanmu."
Deana terkekeh geli, "Aku hanya bertanya, kali saja Lena pulang dan menanyakan keberadaan Anda. Jangan terlalu besar kepala."
Reno mengepal kuat tangannya, "Tidak perlu tahu, saya sudah pasti akan mengabari mereka."
Reno mendekat ke arah Deana, ia ingin mengambil kopi kemasan yang tertata rapi di dalam lemari pendingin itu.
Deana menutup hidungnya saat Reno mendekatinya.
"Hey! saya baru selesai mandi dan memakai parfum. Hidungmu sepertinya perlu diperhatikan supaya tidak salah mencium baunya!" Reno menatap kesal.
Suster Ina menggeleng pelan melihat kelakuan keduanya. Ia pelan-pelan berjalan keluar dari dalam ruang makan yang berada di samping dapur itu.
Hidung Deana memerah, ia kembali mencium bau yang tidak enak, kali ini seperti bau amis ikan yang belum dicuci bersih.
"Tuan, apa Tuan memakai parfum ikan busuk? Sungguh ini baunya benar-benar tercium tidak enak." Deana berdiri dan menjauh dari Reno.
Reno mencubit hidungnya sekilas, "Kamu beraninya berkata seperti itu padaku, Deana!"
Deana menutup mulutnya kala Reno mendekat ke arahnya, "Tuan, jangan ke sini!" ucapnya menahan mualnya.
"Cihh... Terlalu percaya diri sekali kamu." Reno mengambil sendok di dalam lemari dapur dan pergi dari sana. Keluar dengan emosi di hatinya.
Deana mengelus dadanya, "Kenapa dengan hidungku? Apa benar harus diperiksa ke Dokter?" Deana meraup wajahnya lalu menghela napasnya panjang.
Reno berdecak kesal, "Ck, bau yang bagaimana yang dia cium di tubuhku? ikan busuk katanya? Sepertinya memang harus diperiksa hidungnya."
Reno mengambil kunci mobilnya yang berada di kantong jeansnya itu, dan menuju garasi.
Pak Abas sedikit berlari kecil menuju garasi dan mendekati Reno, "Tuan ingin pergi?"
Reno menyipitkan matanya, ia mengangguk, "Iya Pak, saya ingin menemui Jordi di kantor sebentar."
"Biar saya siapkan mobilnya Tuan."
Reno menolak, "Tidak perlu Pak, biar saya saja, tidak apa-apa."
Pak Abas mengangguk, ia membantu membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi berwarna hitam itu.
Reno membawa mobil classicnya yang berwarna putih tulang menuju tempat yang akan ditujunya.