NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Mimpi

Kuku itu tidak hilang meski Endric sudah melemparnya sejauh mungkin dan menginjaknya dengan sepatu. Saat ia membuka telapak tangan, benda itu sudah kembali menempel di kulit.

“Ini gak lucu, cok,” bisik Endric.

Gandhul mendekat dan memperhatikan tangan Endric.

“Lihat tangan lo.”

Endric mengangkat tangannya pelan. Kuku itu berada di pangkal jari telunjuk, tidak menusuk namun jelas bukan bagian dari tubuhnya.

“Ini apaan...” suara Endric serak.

Gandhul menatapnya beberapa detik.

“Penanda.”

“Penanda apaan?!”

“Kalau lo sudah disentuh yang di sana, biasanya ada bekas.”

Endric langsung teringat Ningsih.

“Gue gak merasa dia pegang gue.”

“Makanya bahaya.”

Endric mengusap tangannya kasar.

“Bisa lepas gak ini?”

“Bisa.”

Endric merasa sedikit lega.

“Gimana caranya?”

“Kalau orang yang nempelin itu udah mati lagi.”

Endric membeku total.

“Gue harap lo bercanda.”

“Gue jarang bercanda soal ini.”

Endric menatap tangannya lagi. Kuku itu diam namun terasa berdenyut pelan.

“Ini bikin gue makin gampang dipilih?”

“Biasanya begitu.”

Endric tertawa pendek dan kering.

“Bagus. Progres gue cepat banget.”

“Lo memang fast learner.”

“Gue mau berhenti belajar aja.”

Mereka berjalan kembali ke rumah. Endric beberapa kali melirik tangannya dan benda itu selalu ada di tempatnya.

“Gue harus ngapain sekarang?”

“Jangan panik.”

“Sudah telat.”

“Ya minimal jangan tambah panik.”

Mereka sampai di depan rumah. Suasana tenang dan normal.

Endric masuk dan langsung duduk di kursi. Tangannya diletakkan di atas meja.

“Gue benar-benar bakal mati, ya?” katanya pelan.

Gandhul melompat ke meja dan duduk di seberangnya.

“Semua orang di sini jawabannya sama.”

“Yaitu?”

“Tergantung.”

“Jawaban lo makin nyebelin.”

“Karena lo nanya yang gak pasti.”

Endric diam beberapa detik.

“Gue gak mau jadi kayak lo.”

Gandhul terdiam.

“Gue juga dulu begitu.”

“Terus?”

“Ya sekarang gue kayak gini.”

“Motivasi lo jelek banget.”

“Ini namanya realistis.”

“Oke. Fokus. Malam ini gue datang. Gue gak boleh kelihatan takut. Gak boleh kelihatan siap.”

“Betul.”

“Dan sekarang gue ada tanda aneh di tangan.”

“Betul.”

“Gue minus semuanya.”

“Lumayan.”

“Gue suka cara lo support gue.”

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tok tok

Endric langsung menegang.

“Siang-siang begini?” bisiknya.

“Buka saja.”

Endric berdiri dan membuka pintu pelan.

Seorang anak kecil berdiri di sana. Matanya besar dan wajahnya datar.

“Mas Endric?”

“Iya.”

“Ada titipan.” Anak itu mengulurkan sebuah mangkuk kecil.

Endric melirik Gandhul. Gandhul mengangguk.

“Aman. Siang.”

Endric menerima mangkuk itu.

“Ini apa?”

“Dari ibu saya. Biar kuat.”

Endric hendak bertanya lagi, namun anak itu sudah pergi dengan cepat tanpa suara.

Ia menutup pintu dan menatap isi mangkuk. Cairan hitam dan kental, tanpa bau.

“Ini apaan lagi...”

“Minum saja.”

“Lo serius?”

“Serius. Itu bakal membantu.”

“Bantu apa?”

“Biar lo gak cepat dipilih.”

“Efek sampingnya?”

“Ada.”

“Ya jelas pasti ada.”

“Biasanya cuma mimpi.”

“Mimpi apa?”

“Yang seperti nyata.”

“Gue benci semua ini.”

“Udah minum saja.”

Endric menarik napas panjang.

“Kalau gue mati, gue bakal ganggu lo tiap hari.”

“Silakan. Biar gue ada teman.”

Endric meminum cairan itu. Rasanya sangat dingin, menusuk sampai ke tulang.

“Pahit, cok...”

“Ya namanya juga obat.”

Endric meletakkan mangkuk itu. Tidak ada perubahan langsung.

“Ini aja?”

“Biasanya harus nunggu beberapa saat.”

“Berapa lama?”

“Gak lama.”

Endric bersandar di kursi. Matanya terasa berat.

“Gue capek.”

“Tidur saja.”

“Kalau gue tidur terus gak bangun lagi?”

“Berarti lo bakal menghemat waktu.”

“Gue gak tahu kenapa gue masih ngomong sama lo.”

“Karena gue satu-satunya yang bakal menjawab semua keraguan lo.”

Mata Endric semakin berat dan tubuhnya terasa lemas.

“Eh, kok ngantuk...” gumamnya.

“Udah dimulai.”

“Ndhul...”

“Hm?”

“Kalau gue lihat yang aneh-aneh...”

“Anggap saja latihan.”

Endric tertawa pelan. Lalu semuanya gelap.

 

Endric bermimpi berdiri di tengah desa. Namun suasana berbeda. Langit berwarna merah dan rumah-rumah tampak lapuk.

“Gue mimpi. Harusnya.”

Suara Gandhul tidak terdengar. Endric berjalan pelan dan langkahnya bergema aneh.

Ia melihat bangunan di depan. Balai desa.

Pintu terbuka lebar. Suara bisik-bisik terdengar dari dalam.

Endric mendekat dan mengintip. Ia langsung membeku.

Di dalam, puluhan orang berdiri melingkar. Mereka mengelilingi sesuatu di tengah.

Endric mencoba melihat lebih jelas. Matanya membesar.

Di tengah lingkaran itu ada tubuh manusia yang terikat. Kepalanya tertunduk.

Saat tubuh itu mengangkat kepala, Endric melihat wajahnya sendiri yang menatap lurus ke arahnya dengan tatapan kosong.

“ANJIR.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!