Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01
"Hamil ?"
Suara Aditya memecah keheningan di ruang perpustakaan yang sepi. Ia berdiri mematung di sudut ruangan, membelakangi perempuan yang selama delapan bulan terakhir ini ia sebut sebagai kekasih, perempuan yang membuatnya langsung suka saat pertama kali melihatnya. Kekasihnya di sekolah.
Satu sekolah tau tentang hubungan mereka. Aditya yang tidak bisa jauh dari Elfa. Membuat beberapa siswi iri. Bahkan ada yang mengancam Elfa agar meninggalkan Aditya. Tapi Aditya selalu mengatakan semua baik baik saja selama bersama dia.
Hujan di luar perpustakaan tidak hanya membasahi halaman sekolah tapi membawa hawa lembab yang menyesakkan ke dalam ruangan perpustakaan. Sosok Aditya yang masih mengenakan baju sekolah, yang selalu terlihat sangat sempurna di mata Elfa, gadis yang saat ini hanya berdiri menatap punggung Aditya, menanti keputusan Aditya.
Elfa meremas jarinya yang terasa kaku, mengatur nafas dan mengumpulkan keberanian yang sudah menguap sejak satu jam yang lalu.
"Dua bulan Dit " Jawab Elfa lirih, suaranya tenggelam oleh bunyi hujan di atas atap perpustakaan itu, hampir saja tidak terdengar namun karena ini adalah hal yang akan membuat masa depannya hancur. Aditya bisa mendengar dengan jelas kata kata Elfa.
"Dua bulan ?"
"Aku udah masih menunggu berharap ini hanya terlambat biasa, bahkan aku sempat minum ramuan pelancar haid. Tapi....pagi ini aku memeriksanya dan hasilnya garis dua " saat Elfa melihat hasil tes, dia tidak harus melakukan tes berkali-kali untuk menyakinkan dirinya, saat itu juga dia tau dia hamil. Dua tespek dengan garis merah sudah membuktikan dia mengandung anak Aditya.
Aditya berbalik, tak ada lagi binar cinta atau tatapan memuja yang biasa Elfa temukan di sana. Mata pria itu hanya memancarkan kemarahan, sosok remaja 17 tahun yang selalu romantis dan baik, itu adalah hal yang menjadi kesukaan Elfa kini hilang. Berganti dengan raut wajah yang menahan amarah oleh kabar yang baru saja di dengarnya. Seolah-olah kabar yang ia dengar adalah penghinaan besar untuk harga dirinya.
" Dua bulan, ?" Aditya mengulangi kata itu, ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar asing di telinga Elfa.
"Dit, aku takut kamu akan seperti ini.." akhirnya Elfa menangis, Ia ingin meraih dan menggenggam tangan Aditya tapi Elfa merasa ada jarak yang tak terlihat. Membuat nya mengurungkan niatnya " aku harus menahan mual setiap pagi, bersikap biasa-biasa saja di rumah agar ibu tidak curiga, aku sendirian mencari cara menutupi ini dit, aku hanya ingin kamu mengatakan semua baik baik saja "
Aditya melangkah mendekat namun bukan untuk memeluk atau membelai lembut rambut Elfa seperti biasa yang Aditya lakukan jika Elfa punya masalah, ketika Elfa mendapatkan ancaman. Ia berhenti tepat di hadapan Elfa, berdiri menatap Elfa yang terlihat kecil di hadapannya.
"Baik baik saja ? Aditya mengulangi lagi kata Elfa " kamu tahu siapa aku ? Kamu tahu siapa orang tua ku ? siapa keluarga ku ? Asalkan kamu tahu, aku harus melanjutkan pendidikan ku setelah lulus dari sekolah ini. Dan beberapa hari yang lalu, ayah ku baru saja melakukan pertemuan dengan keluarga Hermawan pemilik beberapa penginapan terbesar di kota ini. Ayahku dan Ayah chelsea sudah menentukan pertunangan kami setelah aku dan Chelsea lulus. kami akan bertunangan dan itu sudah di umumkan di depan teman-teman bisnis mereka dan kau tahu Elfa, ayah Chelsea adalah orang yang banyak memberikan modal untuk usaha Ayah. kamu tau apa artinya itu ?"
Elfa tau keluarga Hermawan, ibunya bekerja sebagai tukang cuci di salah satu keluarga Hermawan dan Elfa tau siapa Chelsea, gadis cantik yang sedang bersekolah di SMA luar daerah. Mereka keluarga yang sangat kaya di kota Elfa.
Elfa tertegun " pertunangan? Kamu bertunangan? Lalu.... Bagaimana dengan ku ? bagaimana dengan bayi ini ? Ini darah daging mu Adit.."
Aditya memejamkan mata sesaat, menghela nafas kasar. Memijat pelipisnya seolah olah keberadaan janin dalam rahim Elfa hanyalah sebuah kesulitan kecil yang dia hadapi seperti saat ulangan kenaikan kelas. Tanpa berkata-kata apa apa, dia meraih tasnya mengeluarkan amplop putih yang terlihat tebal. Amplop di titipkan oleh ibunya untuk di berikan ke sekolah ini.
Dia melemparkan amplop itu di atas meja di hadapan Elfa
"Cari cara untuk menggugurkan kandungan itu, Kalau uangnya kurang. Aku akan tambah lagi " kata Aditya tanpa melihat Elfa.
"Kamu... kamu meminta aku menggugurkan anakku sendiri?"
"Anak kamu ? Hanya anak kamu?"Aditya memicingkan matanya "Kamu yakin itu anak aku ?" Kata Aditya dengan tatapan sinis.
"Apa maksud kamu, kamu mau bilang aku hamil anak pria lain, gitu? Lalu kamu mau aku membunuh anak aku sendiri?"
"Ini bukan pembunuhan, aku hanya menyelamatkan masa depanku dan juga masa depanmu , jadi jangan dramatis Elfa "
Elfa tertegun, ia menatap amplop putih di atas meja. Elfa merasakan panas sekujur tubuhnya.
"Bayangkan apa yang akan di lakukan orang tuaku jika mereka tahu aku menghamili gadis dari lingkungan.. lingkungan seperti ini, dari keluarga yang tidak jelas. orang tuaku akan mencoret namaku, mengusir aku dari rumah dan semua harta keluarga ku akan di miliki oleh kakakku, dan kamu ? kamu juga tidak punya apa-apa untuk menghidupi anak itu. Apa yang akan kamu lakukan di usia seperti ini, kamu saja masih berharap dari orang tuamu. Apakah kau akan menambah beban untuk ibumu yang hanya seorang tukang cuci panggilan ?"
Elfa berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap Aditya seolah-olah pria itu adalah penjahat menakutkan yang baru saja melepas topeng kebaikan.
"Jadi, karena aku anak dari seorang tukang cuci, anak dari keluarga miskin, bukan dari lingkungan seperti kalian. bayi ini tidak berhak hidup? "
Aditya menatap Elfa dengan tatapan meremehkan" Sadar Elfa, lihat keadaan kita. Kita ini ibarat langit dan bumi, tidak mungkin bersatu " Bentak Aditya, ia kehilangan kesabaran" Orang tuaku tidak akan pernah sudi melihatmu, apalagi menjadikan kamu menantu. Kamu hanya akan menjadi noda dalam keluargaku. Dan aku, aku juga ingin nantinya mendapatkan pendamping yang selevel denganku. kamu harus tau itu. Jadi, ambil uang itu lakukan saja apa yang aku katakan. Dan kita anggap ini hanya kesalahan yang kita lakukan, kita masih remaja, ini hal biasa yang di lakukan anak anak seusia kita "
Elfa masih diam dengan seluruh tubuh yang bergetar. Tak ada lagi air mata
"Dan aku juga akan memberikan uang ganti rugi atas apa yang aku lakukan, karena aku masih mengingat bahwa kamu adalah orang yang dekat dengan ku " Aditya tidak menyebut Elfa kekasih
Uang ganti rugi
Kata itu menjadi titik balik bagi Elfa, rasa cintanya yang selama ini begitu besar menguap tanpa sisa detik itu juga, berganti dengan rasa benci yang begitu sangat dalam.
Elfa meraih amplop itu, Aditya sempat tersenyum tipis mengira ia telah berhasil membuat Elfa mengikuti keinginannya. Namun senyum itu lenyap saat Elfa merobek amplop itu dan menghambur hamburkan isinya ke lantai perpustakaan. Elfa menginjakkan kakinya di atas lembaran uang yang berceceran di lantai.
Aditya terkejut..
"Elfa, jangan bodoh..!" Teriak Aditya
"Bawa semua uang mu,bawa kemewahan keluargamu yang kau bangga banggakan. Aku tidak Sudi menerima sepeserpun uang darimu, pergi dari hidupku, jangan pernah muncul di hadapanku. Kau akan menyesal suatu saat nanti Aditya" Teriak Elfa, dia tidak perduli dia berada di mana saat ini. Ada yang mendengar atau tidak teriakannya.
Aditya menunduk, memungut uang yang di hamburkan Elfa kemudian ia meraih tasnya dan merapikan bajunya " kamu yang akan menyesal Elfa" Ucap Aditya berlalu
"Kamu boleh menghina keadaanku saat ini, tidak bisa melakukan apapun, dan menganggap bayi ini beban tapi....." Elfa menatap Aditya yang baru saja meraih gagang pintu " ingat satu hal Aditya " Elfa bicara dengan nada yang begitu dingin, membuat bulu kuduk Aditya meremang tanpa sebab
"Kau boleh memiliki segalanya, Aditya ! Tapi setiap rasa sakit dan hinaan yang telah kau berikan Tuhan akan membalasnya. Demi nyawa yang ingin kau buang ini, kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidupmu, Aku bersumpah...!"
Aditya tertawa mendengar sumpah itu, sumpah gadis remaja seperti Elfa, sumpah orang miskin tidak ada artinya sama sekali.
"Aku lebih baik mengakui anak orang lain. Dari pada aku harus mengakui anak dari gadis miskin seperti mu "
Elfa tertawa pelan, tawa yang menakutkan "Kamu akan merangkak di bawah kakiku, memohon ampunan saat kau sadar bahwa hanya darah daging dari rahimku ini yang pernah kau miliki"
Aditya diam sesaat lalu berkata pelan "Sumpah orang melarat sepertimu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku Elfa. Kata katamu tidak akan mengubah takdirku " Guman Aditya lalu menghilang di balik pintu perpustakaan. Aditya berjalan menuju parkiran motor di depan sekolah yang sudah sepi.
Ia tidak pernah menoleh kebelakang, ia tidak pernah tahu saat itu karma baru saja mengikutinya, menutup celah celah yang akan menjadi harapan dan kebahagiaan dalam keluarganya.
.
.
.
Next....
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.