Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Rencana [REVISI]
Kalender Phoenix Agung, Musim Gugur Tahun 9999, Dinasti Zhou, Kota Qingshi.
“Menjadi seorang sarjana?”
Di sudut kamar, Wang Yan menatap catatan-catatan kecil yang dulu ia tulis setiap hari, catatan polos seorang anak yang bercita-cita menjadi sarjana hebat saat dewasa. Namun kini, ketika ia benar-benar telah tumbuh, tak ada lagi kilau dalam sorot matanya saat mengenang semua itu.
“Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. 'Tidak ada cara lain'. Jika aku terus berjalan tanpa kekuatan yang sepadan. keluargaku akan hancur di tangan mereka.”
Wang Yan masih muda, berusia tujuh belas tahun. Berkat kecerdasannya yang luar biasa, ia telah menjadi sosok yang dikenal dan disegani di Kota Qingshi. Namun, ketenarannya masih belum sebanding dengan para ahli yang menempuh jalan kultivasi—mereka yang dikenal sebagai kultivator.
Sejak kecil, Wang Yan kerap mendengar kisah tentang kecerdikan ayahnya dari sang paman. Konon, ayahnya dahulu adalah seorang sarjana hebat yang menjadi tangan kanan Tuan Kota Qingshi sebelumnya—seorang ahli strategi yang paling dipercaya. Namun, nasib berkata lain. Ayahnya meninggal ketika Wang Yan baru berusia dua tahun. Kedua orang tuanya tewas dalam sebuah tragedi besar yang merenggut ratusan nyawa, akibat kesalahan Tuan Kota Qingshi sebelumnya.
Wang Yan tahu bahwa ayahnya tidaklah sehebat yang digembar-gemborkan dari mulut ke mulut masyarakat Kota Qingshi maupun kisah yang diceritakan pamannya. Meski begitu, ia tetap mengagumi sosok hebat di luar para kultivator, dan ingin mencoba jalan itu. Ia ingin menjadi seseorang yang melampaui ayahnya. Selama sepuluh tahun, ia menekuni keinginan yang dulu tampak naif itu.
Drak!
Wang Yan berdiri. Rambutnya panjang, hitam pekat, tergerai tanpa ikatan. Wajahnya tidak terlalu tampan, namun cukup untuk memikat hati seorang perempuan. Sebuah kalung giok berbentuk bulan sabit melingkar dilehernya. Matanya setenang permukaan air, memantulkan cahaya keemasan dari lampu minyak.
“Catatan Kitab Buddha menyebutkan bahwa usia tujuh belas tahun adalah batas paling akhir untuk menjadi seorang kultivator. Tapi...”
Wang Yan melirik ke arah rak buku di pojok kanan atas. Di sana terselip sebuah kotak persegi berwarna cokelat—berdebu, tampak aneh, dan usang. Permukaannya terbalut kertas kuning yang dipenuhi mantra-mantra rumit berwarna hitam keemasan.
Wang Yan tersenyum tipis saat melihat kotak persegi itu. Ekspresinya berubah seketika, seolah secercah kemungkinan muncul—sesuatu yang dapat mempercepat langkahnya di jalan kultivasi.
Di Kota Qingshi, terdapat banyak teknik seni bela diri tingkat rendah yang beredar luas dan mudah didapatkan, selama seseorang memiliki cukup uang. Wang Yan sendiri kerap membaca berbagai buku teknik bela diri untuk menambah wawasannya.
Namun, hal itu berbeda dengan teknik kultivasi. Benda semacam itu sangat langka dan dijaga ketat oleh organisasi-organisasi kuat, sehingga tidak diperjualbelikan secara sembarangan.
Mencari seorang mentor untuk latihan seni bela diri sebenarnya cukup mudah. Namun, hal itu tidak terlalu berguna, karena kebanyakan dari mereka hanyalah kultivator tingkat rendah tanpa afiliasi yang jelas. Bahkan, beredar rumor bahwa berlatih di bawah bimbingan mereka justru dapat menyebabkan penyimpangan dalam kultivasi.
“Tujuh tahun telah berlalu ya, ...”
“Feng Bo.”
Kotak persegi itu kini berada di atas telapak tangan Wang Yan. Tanpa sedikit pun keraguan, ia mulai membuka satu per satu segel kertas kuning beraksen keemasan yang membalutnya. Setiap segel yang terlepas membuat tekanan aura di sekitarnya semakin terasa; udara menjadi lebih dingin, seolah sesuatu perlahan terbebas.
Meski demikian, kilatan di matanya penuh keyakinan.
Srek!
Segel terakhir terlepas.
Cyashh!
Udara di dalam kamar mendadak membeku seiring dengan melesatnya sebuah batu hitam berbentuk jantung dari dalam kotak.
Batu itu melayang, berdenyut liar dengan aura kegelapan yang pekat.
“KAUUU! DASAR MANUSIA RENDAHAN! BERANINYA KAU MENYEGELKU SELAMA TUJUH TAHUN!”
Suara itu menggelegar langsung di dalam benak Wang Yan, penuh dengan kebencian yang murni. Feng Bo tidak menunggu sedetik pun, dendam yang tertahan selama tujuh tahun karena di segel di dalam kotak persegi membuat amarahnya meledak seketika.
Batu Hitam itu memancarkan gelombang energi hitam yang padat, melesat bak anak panah yang mengincar jantung Wang Yan. Serangan itu membawa tekanan yang cukup kuat.
Wang Yan tidak bergeming. Ia tidak menghindar. Saat ujung energi hitam itu hanya berjarak 10 inci dari dirinya, Wang Yan hanya mengangkat tangan kanannya.
Werr!
Seketika, sebuah riak hitam berlidah ungu, sangat asing—meledak dari tangan kanan Wang Yan. Ruangan yang tadinya membeku oleh aura Feng Bo mendadak hilang oleh tekanan kekuatan Wang yan yang lebih kuat.
Batu hitam itu terhenti di udara, bergetar hebat. Feng Bo merasakan jiwanya seperti sedang dihanyutkan kedalam derasnya arus sungai. Membuatnya teringat kembali kenangan 7 tahun lalu, alasan mengapa ia bisa disegel oleh bocah berusia 10 tahun.
Wang Yan melangkah maju, menatap batu itu dengan tatapan setenang permukaan air, “Kau masih mengingat kekuatan ini, bukan?” ucap Wang Yan pelan.
Suaranya datar, tanpa emosi, namun sanggup membungkam seluruh amarah Feng Bo dalam sekejap.
...