NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shower

"Dan satu lagi," tambah Alana.

"Satu lagi apa?"

"Mas Juna masih ganteng kayak dulu. Malah sekarang menurutku jauh lebih ganteng."

Kupingku seketika memerah dan terasa panas.

"Kamu bisa aja," gumamku sambil tersenyum kecil.

"Oh ya, Mbak Liliana udah bilang kan sama Mas Juna, aku sementara mau tinggal di sini. Aku mau cari kerja di kota ini."

"Udah."

"Mas Juna nggak keberatan, kan?"

"Enggak lah. Kamu bebas tinggal di sini."

"Makasih, Mas Juna."

Dia tersenyum ke arahku. Senyum yang terkesan manja.

Tap ... Tap ... Тар ....

Liliana kembali ke ruang tamu. Ia membawa nampan berisi air putih dingin yang direques Alana.

"Nih, diminum dulu."

Liliana meletakkan minuman tersebut di atas meja, tepat di hadapan Alana.

"Makasih, Mbak." Alana segera meminumnya. Meneguknya sampai hampir habis.

"Yuk, aku anterin ke kamarmu sekarang! Soalnya bentar lagi Mbak mau pergi. Nanti nggak ada yang bisa ngarahin kamu." ajak Liliana. Ia terkesan tak ingin berlama-lama.

Alana beranjak. Ia segera mengikuti langkah Liliana. Masuk ke dalam, pergi menuju ke kamar tamu yang mulai hari ini menjadi kamar Alana.

***

Beberapa jam kemudian ....

Aku duduk di depan laptopku. Iseng bermain game untuk mengisi waktu luang.

Biasanya setiap liburan seperti ini, aku ke gunung. Melakukan solo tracking. Merefreskan otak dengan melihat pemandangan-pamandangan indah dari puncak gunung yang tinggi. Tapi kali ini, tubuhku sangat capek. Mungkin karena semingguan ini pasienku lumayan membludak. Setiap harinya aku sampai susah beristirahat.

"Mas Juna! Mas! Tolongin aku, Mas!"

Samar-samar aku mendengar suara seseorang memanggilku. Aku hampir lupa bahwa di rumah ini selain aku dan Liliana, ada Alana yang tinggal di sini. Dan suara itu adalah suara Alana.

"Dia kenapa ya? Kok, minta tolong?" gumamku.

Buru-buru aku menyudahi permainan gameku. Aku mematikan laptop dan menutupnya.

Aku keluar dari kamarku. Aku masih mendengar suara Alana. Suara itu berasal dari kamarnya. Aku pun berlari ke arah ruangan tersebut.

Begitu sampai, aku tak langsung masuk. Aku malah hanya berdiri di depan pintu.

"Alana! Kamu kenapa?" tanyaku dengan suara lantang.

"Tolongin aku, Mas. Cepetan!" timpal Alana dari dalam.

"Jadi aku harus masuk?"

Aku malah melemparkan pertanyaan aneh.

"Iya, Mas. Masuklah. Buruan!" perintah Alana.

Meski ragu, tetapi akhirnya aku pun masuk juga. Namun begitu di dalam, aku tak melihat sosok Alana. Kamarnya kosong tak ada siapa-siapa.

"Aku di kamar mandi, Mas."

Terdengar suara Alana kembali. Aku pun berjalan mendekat ke arah ruangan lembab tersebut. Ruangan yang ada di kamar ini.

"Masuklah, Mas!" perintah Alana lagi. Lagi-lagi aku begitu ragu. Tapi aku tetap harus masuk ke dalam.

Seketika aku langsung melihat air dari shower muncrat ke mana-mana. Menyembur dari sisi pipa yang retak. Dan aku melihat Alana dengan tangan kanannya berusaha menutupi lubang bocor tersebut. Tetapi sia-sia. Air tetap menelusup dari sela-sela jarinya. Memercik ke arah dirinya dan seluruh dinding kamar mandi ini.

"Ini gimana, Mas. Tadi aku mau mandi, aku putar kerannya. Eh, malah muncrat kayak gini." Alana mengadu dengan suara panik.

Aku pun mendekat. Aku menggantikan Alana yang sedari tadi memegang pipa shower.

Lalu aku mengutak-atiknya sebentar. Aku berusaha memperbaikinya. Walau aku tak akan mampu mengembalikan seperti semula, tapi setidaknya aku pasti berhasil untuk menghentikan semburan air.

Dan keyakinanku pun tepat.

Air tak lagi keluar. Shower tersebut sudah tak menimbulkan keriuhan.

"Showernya tadi agak eror.

Nanti untuk sementara__" Ucapanku terhenti. Aku yang semula begitu fokus pada pipa shower, refleks melihat ke arah Alana. Dan aku tertegun melihat penampilannya.

Glekkkk....

Aku menelan ludah. Aku baru menyadari Alana hampir bertelanjang. Ia hanya memakai handuk yang terlilit untuk menutupi tubuhnya.

"Untuk sementara apa, Mas?" Alana kebingungan. Karena aku tak juga meneruskan ucapanku yang baru saja.

"Itu... anu.." Isi kepalaku seperti tiba-tiba kosong. Ngeblak hanya karena apa yang aku lihat saat ini.

"Itu apa?" kejar Alana.

"Kamu bisa menggunakan shower yang satunya dulu."

Akhirnya aku bisa menjawab.

Meski ucapanku sangat jelas terbata.

"Hahahaha ...." Alana tertawa kecil.

"Mas Juna lagi grogi ya?" godanya. Wajahku pun langsung memerah dan terasa panas.

"Grogi? E-enggak. Ngapain Mas grogi." Aku berusaha mengelak. Tetapi gelagatku makin memperlihatkan bahwa aku sedang berbohong. Bahwa aku memang sedang nervous karena gadis di hadapanku ini.

"Masak. Kirain Mas Juna tiba-tiba pengen karena lihat penampilanku yang sekarang ini."

"Hah!" Aku tertegun dengan ucapannya. Aku tak habis pikir, kalimatnya seberani itu.

"Pengen apa?" Aku pura-pura tak mengerti.

"Sa_ng_eeee," celetuknya.

Kedua mataku langsung membulat.

"Belajar dari mana kamu kata-kata kayak gitu?" tanyaku. Aku pura-pura tegas ingin tahu.

"Dih, Mas Juna jawab dulu dong pertanyaanku. Baru ngomongin yang lain. Bener kan, Mas Juna lagi itu?"

"Enggak. Kamu kan adiknya Liliana, berarti adik Mas juga. Jadi Mas nggak akan mungkin merasakan yang kayak gitu sama kamu."

"Masak. Nggak percaya. Tuh, buktinya." Alana menunjuk sesuatu. Tepat ke arah pal listrikku yang sebetulnya memang tengah menegang.

Aku pun langsung kelincutan.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!