Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Tak Bisa Disambung
Tiga bulan pernikahan mereka berjalan seperti putaran kaset rusak. Pagi yang dingin, siang yang penuh kepura-puraan di depan mertua, dan malam yang penuh ketakutan. Sheilla mulai terbiasa dengan suara pintu yang dibanting atau tatapan tajam Ardhito saat mereka berpapasan di dapur. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa ia biasakan: rasa sepi yang menggerogoti jiwanya di tengah rumah yang semewah ini.
Pagi itu, Sheilla berdiri di depan cermin kamar mandi, mencoba menutupi memar di tulang selangkangnya dengan concealer. Luka itu didapatnya semalam, saat Ardhito yang pulang dalam keadaan mabuk tidak sengaja mendorongnya hingga membentur sudut lemari hanya karena Sheilla mencoba melepas sepatunya.
"Kamu pucat banget, Sheil," bisik Sarah, sahabatnya, saat mereka bertemu di sebuah kafe siang itu. Sheilla terlonjak, hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
"Cuma kurang tidur, Sar. Kerjaan kantor lagi numpuk," kilah Sheilla, memberikan senyum yang ia harap terlihat meyakinkan.
Sarah menyipitkan mata, tangannya meraih tangan Sheilla yang berbalut blus lengan panjang meski cuaca Jakarta sedang terik-teriknya. "Lengan panjang lagi? Di cuaca sepanas ini? Sheil, jujur sama aku. Ardhito... dia nggak main tangan, kan?"
Sheilla menarik tangannya dengan cepat. "Enggaklah. Dhito cuma... dia cuma masih butuh waktu buat adaptasi."
"Tujuh tahun kamu nunggu dia, Sheilla. Harusnya sekarang kamu bahagia, bukan kayak mayat hidup begini," suara Sarah melembut, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Sheilla. "Cinta itu membangun, Sheil. Bukan menghancurkan."
--
Kalimat Sarah terngiang-ngiang di kepala Sheilla sepanjang perjalanan pulang. Cinta itu membangun, bukan menghancurkan. Lantas, apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah dia sedang membangun masa depan, atau justru sedang menggali kuburannya sendiri dengan tangannya yang gemetar?
Sesampainya di apartemen, pemandangan di ruang tamu membuat langkah Sheilla terhenti. Ardhito sudah ada di sana, tapi dia tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik yang sangat Sheilla kenal Valerie, mantan kekasih Ardhito yang dulu pergi ke luar negeri.
Mereka duduk berdekatan di sofa. Ardhito, yang selama ini hanya menunjukkan wajah dingin bak es pada Sheilla, kini tampak tertawa lepas. Ada binar di matanya yang sudah lama tidak Sheilla lihat.
"Oh, kamu sudah pulang?" sapa Ardhito datar begitu menyadari keberadaan Sheilla. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Valerie bakal sering mampir ke sini. Dia mau bantu projek kantor yang baru."
Valerie tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang tak tersembunyi. "Hai, Sheilla. Maaf ya kalau ganggu waktu kalian. Dhito bilang kamu orangnya pengertian, jadi aku pikir kamu nggak keberatan kalau aku sering ke sini."
Dada Sheilla terasa sesak. Dhito bilang aku pengertian? Bukan, Ardhito pasti bilang bahwa Sheilla adalah keset yang bisa diinjak-injak sesuka hati.
--
Malam itu, setelah Valerie pulang, Sheilla mencoba bicara. "Dhito, nggak seharusnya kamu bawa perempuan lain ke rumah kita. Apa kata tetangga? Apa kata orang tua kita kalau tahu?"
Ardhito yang sedang menuang wiski ke gelasnya berhenti sejenak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa mengintimidasi. "Rumah kita? Sheilla, berapa kali saya harus bilang, ini rumah SAYA. Kamu cuma numpang di sini karena belas kasihan."
"Aku istri kamu, Dhito!" suara Sheilla naik satu oktaf.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Sheilla. Panas dan perih. Ardhito menatap telapak tangannya sendiri sejenak, namun rasa benci di matanya lebih besar daripada rasa sesalnya.
"Istri yang dipaksakan. Istri yang menjebak saya," desis Ardhito. "Valerie adalah satu-satunya orang yang seharusnya ada di sini, bukan kamu. Jadi, berhenti bersikap seolah kamu punya hak untuk mengatur hidup saya."
Sheilla jatuh terduduk, tangannya memegangi pipinya yang berdenyut. Di tengah sunyinya ruangan itu, ia mendengar sesuatu yang retak di dalam dirinya. Itu bukan hanya hatinya, tapi juga tekadnya. Penantian tujuh tahun itu kini terasa seperti kebodohan yang tak berujung.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir, Sheilla bertanya pada dirinya sendiri: Berapa harga yang harus kubayar untuk sebuah cinta yang bahkan tidak menganggapku manusia?
To Be Continue...