"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RAHASIA DARAH DI KOTA EMAS
Angin musim dingin New York menusuk hingga ke tulang saat jet pribadi Adiguna mendarat di Bandara JFK. Gwen melangkah turun dengan setelan tweed hitam dan kacamata gelap, namun langkahnya tidak seanggun biasanya. Ada beban berat yang menggantung di pundaknya sejak Lili menyerahkan data terakhir dari peladen menara Jakarta.
"Kau yakin dengan koordinat ini, Hendra?" tanya Gwen sambil merapatkan mantel bulunya.
"Sangat yakin, Nona. Seluruh aliran dana ilegal yang tidak bisa kita lacak selama sepuluh tahun terakhir bermuara di satu alamat di Upper East Side. Sebuah penthouse yang dimiliki oleh yayasan misterius bernama 'The Ancient Crown'," jawab Hendra melalui tabletnya.
Elang berjalan di samping Gwen, tangannya terus menggenggam tangan kecil Bintang. Sejak kejadian di Semanggi, Elang menjadi jauh lebih protektif. Namun, ada kegelisahan lain yang terpancar dari matanya. Sejak mereka menginjakkan kaki di tanah Amerika, Elang terus mengalami flashback samar tentang sebuah lirik lagu nina bobo berbahasa Inggris dan sebuah liontin tua yang pernah ia lihat di masa kecilnya.
"Elang, kau baik-baik saja?" bisik Gwen, menyadari telapak tangan suaminya yang berkeringat.
"Hanya perasaan aneh, Gwen. Seolah-olah kota ini mengenaliku," jawab Elang lirih.
Penthouse The Ancient Crown, Upper East Side.
Mereka tidak datang dengan pasukan. Gwen ingin konfrontasi ini terjadi secara pribadi. Lift emas membawa mereka langsung ke lantai teratas. Saat pintu terbuka, mereka tidak disambut oleh moncong senjata, melainkan oleh seorang pelayan tua berseragam rapi yang membungkuk hormat.
"Selamat datang, Nona Gwen. Tuan Besar sudah menunggu Anda di perpustakaan," ucap pelayan itu dengan aksen Inggris yang kental.
Gwen dan Elang saling pandang, lalu melangkah masuk. Ruangan itu dipenuhi buku-buku kuno dan lukisan minyak yang nilainya mungkin bisa membeli setengah dari aset Adiguna Group. Di ujung ruangan, di depan perapian yang menyala, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Meskipun usianya tampak sudah mencapai sembilan puluh tahun, auranya masih sangat mendominasi.
Pria itu adalah Maximilian Adiguna I—sang leluhur, kakek buyut Gwen yang selama ini dianggap sudah meninggal di sebuah sanatorium puluhan tahun lalu.
"Duduklah, Gwen. Dan kau... Elang," suara pria itu berat dan bergetar, namun penuh wibawa.
Gwen berdiri tegak, tidak mau menunjukkan kelemahan. "Cukup dengan sandiwara ini, Kakek Buyut. Kau membiarkan Diana menghancurkan keluarga kita, kau membiarkan laboratorium meledak, semua demi apa?"
Maximilian terkekeh pelan. "Diana hanyalah anak kecil yang bermain dengan api. Dia terobsesi dengan keabadian digital karena dia takut akan kematian. Tapi aku... aku tertarik pada satu hal yang lebih kuat dari data: Garis Darah murni."
Maximilian menatap Elang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Elang, apakah kau pernah bertanya-tanya mengapa kau memiliki kemampuan tempur yang melampaui batas manusia biasa? Mengapa kau begitu terikat pada Gwen melampaui logika?"
Elang menggeritkan giginya. "Jangan berputar-putar, Pak Tua!"
Maximilian berdiri dengan bantuan tongkatnya. Ia berjalan menuju sebuah lukisan besar di dinding. Di sana, tampak seorang pria muda yang wajahnya adalah salinan sempurna dari Elang, mengenakan seragam militer kuno.
"Dua puluh delapan tahun lalu, putra kesayanganku, pewaris asliku, melarikan diri dengan seorang perawat karena menolak perjodohan bisnis. Mereka menghilang di pedalaman Asia Tenggara," Maximilian bercerita sambil menatap Elang. "Aku mengirim orang untuk mencari mereka, tapi yang kutemukan hanyalah sebuah kecelakaan mobil yang tragis. Namun, jasad anak mereka tidak pernah ditemukan."
Gwen menahan napas. "Maksudmu..."
"Elang bukan sekadar pengawal yang dipungut dari jalanan oleh The Hive. Dia adalah Elang Adiguna, cucu laki-lakiku yang hilang. Keponakan dari ayahmu, Arthur," Maximilian menjatuhkan bom informasi itu dengan tenang.
Petir seolah menyambar di dalam ruangan. Elang mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Tidak... itu tidak mungkin. Aku adalah anak yatim piatu dari panti asuhan di pinggiran kota!"
"Panti asuhan yang didanai secara rahasia oleh Adiguna," sahut Maximilian. "Aku menempatkanmu di sana agar kau tumbuh menjadi pria yang kuat, bukan anak manja yang hancur oleh kekayaan. Aku yang mengatur agar kau masuk ke akademi The Hive. Dan aku yang mengatur agar kau ditugaskan menjaga Gwen."
Gwen merasa mual. Jadi selama ini, cintanya, pernikahannya, semuanya adalah bagian dari rencana pembiakan garis darah murni yang disusun oleh pria tua di depannya ini?
"Kau menjijikkan!" teriak Gwen. "Kau memperlakukan kami seperti hewan ternak!"
"Aku memastikan masa depan imperium ini tetap berada di tangan yang tepat, Gwen! Jika Elang dan kau bersatu, dan menghasilkan keturunan seperti Bintang... maka Adiguna akan memerintah dunia selama berabad-abad!" Maximilian menunjuk ke arah Bintang.
Bintang, yang sejak tadi diam, tiba-tiba melangkah maju. Matanya tidak bersinar merah, tapi tatapannya sangat tajam. "Kakek Tua... Ayah Elang bukan hewan. Ibu Gwen bukan mainan. Dan aku... aku tidak akan menjadi rajamu."
Tiba-tiba, pintu perpustakaan didobrak. Lili masuk dengan wajah panik. "Gwen! Kita harus keluar sekarang! Ini jebakan!"
Dari balik bayangan, muncul pasukan bertopeng emas dengan persenjataan yang jauh lebih canggih dari milik The Hive. Dan di tengah mereka, berdiri sosok yang membuat Gwen hampir pingsan karena terkejut.
Arthur Adiguna.
Ayah Gwen berdiri tegak, tanpa alat bantu, dengan seringai yang tidak pernah Gwen lihat sebelumnya.
"Ayah?" bisik Gwen lemas.
"Maafkan aku, Gwen," ucap Arthur dengan nada dingin. "Kakek Buyut benar. Emosi hanya akan menghambat kemajuan. Aku sudah bosan berpura-pura menjadi pria lumpuh yang penuh kasih sayang. Kekuasaan yang ditawarkan Kakek Buyut jauh lebih manis daripada cinta seorang putri kloning."
Gwen merasa jantungnya hancur berkeping-keping. Ayahnya—satu-satunya tempat ia bersandar—ternyata juga menjadi bagian dari konspirasi ini.
"Jadi... kau juga membohongiku di Tibet?" tanya Gwen dengan suara yang bergetar hebat.
"Tibet hanyalah cara untuk melenyapkan Diana AI yang sudah mulai memberontak pada Kakek Buyut," sahut Arthur tenang. "Sekarang, Elang... lepaskan Bintang. Dia harus menjalani inisiasi di bawah tanah New York malam ini."
Elang menarik pistolnya, membidik tepat ke arah Arthur. "Langkahi mayatku dulu, 'Paman'."
"Jangan panggil aku Paman, anak haram," balas Arthur sinis.
Suasana menjadi sangat mencekam. Gwen berada di tengah-tengah dua kubu: keluarganya yang haus kekuasaan dan suaminya yang ternyata adalah pemilik sah dari semua warisan ini.
"Elang, Gwen... lari!" teriak Lili. Lili melemparkan granat asap ke tengah ruangan.
BOOM!
Asap putih pekat memenuhi perpustakaan. Di tengah kekacauan, Elang menyambar Gwen dan Bintang. Mereka berlari menuju balkon penthouse.
"Kita tidak bisa lewat lift!" teriak Elang.
Ia menatap ke bawah. Ketinggian lantai 80. Namun, ada sebuah helikopter pembersih kaca yang tergantung di dekat sana.
"Lompat!" perintah Elang.
"Elang, aku tidak bisa!" Gwen ragu.
"Percayalah padaku, Gwen! Aku adalah suamimu, dan aku adalah seorang Adiguna! Darah ini tidak akan membiarkan kita jatuh!"
Mereka melompat. Di tengah gravitasi yang menarik mereka ke bawah, Elang memeluk Gwen dan Bintang erat-erat. Tangan Elang berhasil mencengkeram kabel helikopter tersebut dengan kekuatan yang tidak masuk akal—kekuatan garis darah murni yang baru saja terbangun.
Mereka berayun dan mendarat di atap gedung tetangga dengan keras.
Sambil terengah-engah, Gwen menatap Elang. "Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak punya uang, tidak punya pasukan, dan seluruh keluarga kita memburu kita."
Elang berdiri, menatap ke arah penthouse yang kini dipenuhi lampu sorot. "Kita akan melakukan apa yang dilakukan oleh para Adiguna sejati, Gwen. Kita akan melakukan pemberontakan dari bawah. Jika mereka ingin perang garis darah... maka kita akan berikan mereka perang yang paling berdarah dalam sejarah New York."
Gwen berdiri di samping Elang, menggenggam tangannya. Di belakang mereka, Bintang menatap ke langit malam New York. Cahaya biru tipis mulai muncul di telapak tangannya.
"Aku akan membantu, Ayah," ucap Bintang tenang.
Imperium Adiguna mungkin memiliki uang dan teknologi, tapi mereka tidak memiliki satu hal: Keberanian dari tiga orang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan selain cinta mereka.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia