Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Jalan di Bawah Pasir
Pagi belum menyentuh Kota Pasir Putih ketika Xiao Fan dan Liu Ruyan sudah berdiri di ruang bawah tanah markas Serikat Pedagang.
Shang Bo memimpin mereka melewati koridor batu yang lembap, diterangi lentera minyak yang digantung di dinding setiap beberapa langkah. Udara di sini dingin dan pengap, sangat kontras dengan hangatnya kota di permukaan.
"Jalur ini dibangun 2.000 tahun lalu," jelas Shang Bo sambil berjalan. "Awalnya untuk menyelundupkan barang-barang yang... tidak ingin diketahui pihak tertentu. Sekarang, lebih sering digunakan untuk alasan yang lebih mulia."
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi tebal dengan ukiran kuno. Dua penjaga berdiri di kiri-kanan, membungkuk saat melihat Shang Bo.
"Di balik pintu ini, terowongan menuju Gurun Tulang. Panjangnya sekitar setengah hari perjalanan kaki." Shang Bo menyerahkan sebuah tas kain pada Xiao Fan. "Perbekalan. Air, roti kering, dan peta Kuil Bayangan. Juga... sesuatu yang mungkin berguna."
Xiao Fan membuka tas itu. Di dalamnya, selain perbekalan, ada sepasang botol kecil berisi cairan hitam pekat.
"Racun Bayangan," kata Shang Bo. "Sangat langka. Cukup untuk melumpuhkan kultivator Inti Emas selama beberapa detik. Gunakan hanya jika terdesak."
Xiao Fan memasukkan botol itu ke sakunya. "Terima kasih."
Shang Bo mengangguk. "Aku tidak akan bilang 'hati-hati', karena ke mana kalian pergi, kehati-hatian saja tidak cukup. Jadi... kembali dengan selamat. Dan bawa Air Mata Kegelapan itu."
Pintu besi terbuka dengan suara berderit. Di baliknya, kegelapan pekat. Xiao Fan menyalakan api kecil di telapak tangannya, lalu melangkah masuk. Liu Ruyan mengikuti di belakangnya.
Pintu besi tertutup di belakang mereka.
Terowongan itu sempit—hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan jika merapat. Dindingnya dari batu kapur yang dipahat kasar, dengan bekas-bekas pahatan yang masih terlihat jelas. Lantainya tidak rata, kadang menanjak, kadang menurun. Udara di dalamnya lembap dan berbau tanah.
Mereka berjalan dalam diam selama satu jam pertama. Hanya suara langkah kaki dan tetesan air dari langit-langit yang menemani.
"Guru," suara Liu Ruyan memecah keheningan. "Shang Bo bilang ramalan tentang Pedang Hitam dan Mata Ungu. Apa Guru percaya pada ramalan?"
Xiao Fan tidak langsung menjawab. Cahaya api dari telapak tangannya menari-nari di dinding batu. "Aku percaya pada pilihan. Ramalan hanya menunjukkan kemungkinan. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan dengan kemungkinan itu."
"Tapi ramalan itu menyebut kita berdua. Seolah-olah... kita ditakdirkan bertemu."
"Mungkin." Xiao Fan melangkahi genangan air. "Tapi takdir tidak berarti kita tidak punya pilihan. Kau bisa saja menolak mengikutiku. Kau bisa tinggal di Kota Pasir Putih, hidup aman sebagai gadis biasa. Tapi kau memilih ikut."
Liu Ruyan terdiam, merenungkan kata-kata itu.
Mereka terus berjalan. Terowongan mulai berubah—dindingnya tidak lagi batu kapur polos, tapi mulai dihiasi ukiran-ukiran kuno. Sama seperti di gua Pegunungan Tulang Putih. Adegan pertempuran, ritual, dan dua sosok yang selalu muncul bersama.
"Tempat ini lebih tua dari 2.000 tahun," kata Xiao Fan sambil mengamati ukiran. "Shang Bo mungkin tidak tahu, atau tidak memberitahu kita. Terowongan ini awalnya adalah bagian dari kompleks bawah tanah peninggalan Raja Kegelapan."
Liu Ruyan menyentuh salah satu ukiran—seorang wanita bermata ungu menatap langit, tangannya terentang seolah memeluk bintang-bintang. "Mereka ada di mana-mana. Peninggalanku. Tapi aku tidak ingat apa-apa."
"Ingatan itu terkunci dalam segelmu. Saat segel itu terbuka sepenuhnya, kau akan mengingat semuanya." Xiao Fan melanjutkan langkah. "Sampai saat itu tiba, kita hanya bisa mengumpulkan potongan-potongan yang tersisa."
Sekitar tiga jam kemudian, mereka tiba di persimpangan. Tiga terowongan bercabang ke arah berbeda. Xiao Fan mengeluarkan peta dari Shang Bo.
"Kiri menuju gurun. Tengah... runtuh, tidak bisa dilewati. Kanan... tidak ditandai."
Liu Ruyan menatap terowongan kanan. "Aku merasakan sesuatu dari sana."
Xiao Fan mengangkat alis. "Apa?"
"Energi Kegelapan. Tapi... berbeda. Seperti bisikan yang memanggil."
Xiao Fan merenung. Mereka bisa langsung ke kiri, mengikuti peta. Tapi panggilan yang dirasakan Liu Ruyan mungkin penting. Peninggalan lain yang bisa membantu mereka.
"Apa kau ingin melihatnya?"
Gadis itu ragu sejenak, lalu mengangguk. "Hanya sebentar. Aku ingin tahu apa yang memanggilku."
Mereka mengambil terowongan kanan. Semakin dalam, semakin gelap. Ukiran di dinding semakin rapat, semakin detail. Lalu mereka tiba di sebuah ruangan bundar.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah altar batu. Di atasnya, sebuah kotak kristal bening. Dan di dalam kotak itu—sehelai rambut hitam panjang, diapit di antara dua lembar kaca tipis.
Liu Ruyan mendekat dengan langkah hati-hati. Tangannya menyentuh kotak kristal itu. Seketika, ruangan dipenuhi cahaya ungu lembut.
"Putriku..."
Suara itu bergema di seluruh ruangan. Bukan dari telinga, tapi langsung ke dalam pikiran. Suara pria. Dalam, berat, tapi penuh kelembutan yang tak terduga.
Liu Ruyan terpaku. "A-ayah? Raja Kegelapan?"
"Kau telah kembali. Akhirnya. Aku menunggu begitu lama..."
Xiao Fan mengamati sekitar, waspada. Tapi tidak ada ancaman. Hanya suara itu, dan cahaya ungu yang menenangkan.
"Rambut ini adalah milikmu. Dari kehidupan pertamamu. Aku menyimpannya, berharap suatu hari kau akan menemukannya. Dengarkan, Putriku. Para Penyegel bukan musuh sejatimu. Mereka hanya boneka. Dalang sebenarnya adalah mereka yang menyebut diri 'Pengamat Langit'. Merekalah yang ingin melihat darah kita punah. Waspadalah..."
Cahaya ungu meredup. Suara itu menghilang. Ruangan kembali gelap.
Liu Ruyan berdiri terpaku, air mata mengalir di pipinya. "Ayah..."
Xiao Fan meletakkan tangan di bahunya. "Kau dengar itu. Musuh sejatimu bukan para Penyegel. Mereka hanya alat. Pengamat Langit—aku pernah mendengar nama itu di kehidupan sebelumnya. Faksi misterius yang bahkan para Kaisar tidak berani usik."
Gadis itu menyeka air matanya. Ia membuka kotak kristal dan mengambil rambut itu. "Aku akan menyimpannya. Sebagai pengingat."
Mereka meninggalkan ruangan dan kembali ke persimpangan, kali ini mengambil terowongan kiri. Perjalanan dilanjutkan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
Setelah dua jam lagi, mereka melihat cahaya di ujung terowongan. Bukan cahaya matahari, tapi cahaya bulan. Mereka keluar di sebuah celah batu, tersembunyi di antara bukit pasir.
Di depan mereka, terbentang Gurun Tulang.
Pasirnya tidak putih seperti di Kota Pasir Putih, tapi abu-abu pucat—seperti warna tulang yang sudah lama mati. Angin malam berembus, membawa butiran pasir yang menerpa wajah. Di kejauhan, di tengah gurun, sebuah bangunan hitam menjulang. Siluetnya samar, tapi jelas bukan formasi alam.
Kuil Bayangan.
"Di sana," kata Xiao Fan. "Fragmen ketiga dan Air Mata Kegelapan."
Mereka melangkah keluar dari celah batu, memasuki lautan pasir abu-abu. Di belakang mereka, Kota Pasir Putih sudah tak terlihat. Di depan, kuil yang menyimpan harapan dan bahaya menanti.