NovelToon NovelToon
Takdir Sang Penanda Langit

Takdir Sang Penanda Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.

Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.

Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.

Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.

Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi

penjahat keji.

Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.

Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Keluarga Satu-satunya

Hari sudah gelap saat rombongan Yun Zhi datang dari hutan untuk berburu binatang iblis.

"Hahaha, saudari Yun aku benar-benar kagum padamu. Dalam waktu singkat saja kau sudah bertambah sangat kuat tanpa bantuan sekte atau keluarga yang mendukungmu."

"Kalau Yan'er tidak mengirimkan banyak sumber daya aku tidak akan sekuat ini". Batin YunZhi mengingat adiknya.

"Sebaiknya kalian masuk dulu, aku sudah meminta pelayan menyiapkan makanan saat kita pulang".

"Saudari Zhi, Adik Feng-mu ada disini". Ya Fei berlari dari dalam kediaman YunZhi yang disediakan oleh kota sebagai kapten penjaga.

"Adik Yan disini? Bocah kurang ajar itu masih berani datang padahal tidak pernah membalas surat-suratku." YunZhi yang sedang geram langsung berlari ke dalam rumah untuk mencari adiknya.

"Ya Fei, siapa Feng yang kau maksud?"

seorang yang juga kapten penjaga dan tak lain kekasih Ya Fei bertanya padanya.

"Apa kakak Yu lupa ceritaku tentang adik Saudari Zhi."

"Maksudmu adiknya yang tinggal di kota batu Besi? Ayo kita masuk, aku juga ingin kenalan dengan adiknya saudari Zhi."

"Sebaiknya kita di halaman saja dulu, sepertinya akan ada pertarungan." mendengar ucapan kekasihnya pria itu sedikit bingung.

Baru saja dia akan bertanya, tubuh seorang pria tiba-tiba saja melayang keluar dari rumah setelah menghancurkan jendela kamar tamu.

Brakk

Awww... addduuuuh..

"Kakak Ya Fei tolong aku, kalau tidak kakak galak ini akan membunuhku" Feng Yan berlindung di balik tubuh Ya Fei seperti orang ketakutan.

"Bocah rubah, masih berani kau menyebutku kakak! Kau bahkan tidak pernah mendengar ucapanku. Ya Fei, menyingkir dari sana" YunZhi mengacungkan pedangnya pada

Feng Yan.

"Kakak apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku?" Pemuda itu menjulurkan kedua telapak tangannya ke depan dengan langkah mundur. Karena Ya Fei sudah menyingkir dan membawa kekasih serta beberapa penjaga lain yang ikut berburu.

"Ya Fei, apa yang terjadi? Apa kau yakin mereka kakak adik?"

"Biarkan saja mereka, nanti juga capek sendiri."

"Bocah tengik jangan salahkan aku bila mengulitimu". Selesai bicara YunZhi melesat menebaskan pedangnya ke arah Feng Yan yang tak bersenjata.

Memutar tubuh pemuda itu menghindari mata pedang dan bersalto kebelakang karena ujung mata pedang sudah kembali mengarah ke dadanya.

"Kakak, aku bisa mati beneran kalau seperti ini." Namun YunZhi tidak mengindahkan ucapan adiknya.

Bergidik ngeri kapten Yu melihat pertarungan aneh antara adik dan kakak itu.

"Nona Ya Fei, apa kau tidak ingin

Menghentikan mereka, aku takut pemuda itu akan mati dihajar nona Yun." Seorang dari penjaga kota memberikan pendapat karena ia lihat pertarungan benar-benar seperti pertarungan antara hidup dan mati.

Feng Yan terpaksa mengeluarkan pedang Teratai Surga untuk menangkis serangan dari YunZhi.

"Sial, teknik pedang kakak masih saja sulit ditebak. kadang ia terlihat akan menusuk namun ternyata malah menebas."

Lelah bertarung sebuah tusukan mengarah ke leher Feng Yan, ia hanya diam saja memejamkan mata. Malah menyimpan kembali senjatanya ke dalam cincin penyimpanan.

Tusukan pedang YunZhi berhenti tepat hanya beberapa senti dari tubuh adiknya.

Ia menyentakkan pedangnya ke bawah lalu melongos masuk ke dalam rumah.

"Huft, selamat" gumam pemuda itu membuka satu matanya.

Enam orang makan dengan lahap setelah berburu binatang iblis seharian. Melihat kakaknya memiliki banyak teman membuat Feng Yan sangat senang. Ia bersyukur

Kakaknya tidak kesepian.

Apalagi menurut Ya Fei ia juga tinggal bersama YunZhi sejak hari pertama menjadi prajurit penjaga kota.

"Adik Feng kenapa makanmu sedikit sekali, dulu setahuku kau makan sangat banyak". Ya Fei bertanya karena melihat Feng Yan hanya makan sedikit dari kebiasaan-nya.

"Aku hanya tidak terlalu lapar"

"Andai saja kita sudah berada di ranah raja, kita tidak perlu lagi makan dan minum setiap hari, Kecuali mungkin saudara Bu" mendengar ucapan Cheng Yu semua orang menatap pria bernama Bu, satu-satunya berbadan gempal di dalam ruangan.

Hahaha

"Aku walau sudah berada di ranah kaisar sekalipun akan tetap makan sebanyak yang kumau." pria bongsor itu sangat percaya diri walau jadi bahan candaan teman-temannya.

"Adik Feng, kalau ada yang berani macam-macam denganmu katakan saja padaku, Cheng Yu" kekasih Ya Fei menepuk-nepuk dadanya.

"Terima kasih saudara Cheng, aku pasti

Pelan sambil menutup bibirnya. Sangat jarang mereka melihat YunZhi tertawa seperti itu.

"Hahaha, saudari Yun dan Feng sungguh lucu. Padahal tadi bertarung seperti akan ada yang mati. Ternyata Peri kota Padang Bulan yang terkenal dingin juga bisa tertawa".

Hahaha

Feng Yan dan yang lain juga ikut tertawa sedangkan YunZhi malah terlihat kesal.

"Adik Feng, sebaiknya kau tidak boleh jauh dari kakakmu, aku baru hari ini melihatnya sangat bahagia".

Heheh

Feng Yan hanya bisa cengengesan mendengar ucapan Cheng Yu.

"Aku tertawa karena dulu Ya Fei juga memberikan pil luka sebagai hadiah perkenalan pada Yan'er".

"Saudari Zhi sudah kubilang jangan ungkit-ungkit itu lagi, aku kan tidak tahu kalau dia sengaja tidak menyembuhkan luka di wajahnya".

"Ia malah membuatku malu dengan memberi Pil Penyembuh Raga".

Cukup lama mereka bercengkrama, dan para pria menghabiskan waktu dengan minum-minum.

Setelah Cheng Yu dan rekan-rekannya pulang, Feng Yan duduk diatas atap rumah memandangi kota Padang Bulan yang mulai sepi. Sementara itu Ya Fei sepertinya sudah masuk ke kamarnya.

YunZhi yang melihat adiknya duduk sendirian juga naik keatap dan duduk disamping adiknya.

Hening cukup lama, sebelum Feng Yan membuka mulutnya " apa kakak tidak ingin pulang? Kembali menjadi seorang putri"

itu?" "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal

"Bukankah usia kakak saat ini sudah dua puluh empat tahun"

Ptak

Aoww

"Tidak sopan membicarakan masalah umur dengan seorang gadis, kau mengerti".

"Iya...maaf. Kakak Main jitak seenaknya saja "

"Ya Fei cerita kalau kakak sudah punya kekasih, Apa kakak tidak ingin mengenalkannya padaku".

"Ya Fei mulutnya memang tidak bisa di kunci" Sungut YunZhi kesal.

Menghela napas berat YunZhi menjawab pertanyaan pertama adiknya "Sudah hampir sepuluh tahun aku pergi dari istana, aku bahkan sudah lupa kalau aku seorang putri kalau kau tidak mengungkitnya".

"Hidup bebas seperti ini lebih membuatku bahagia, aku bahkan tidak merindukan kedua orang tuaku".

"Mungkin karena dibesarkan oleh pengasuh yang ditunjuk oleh istana."

"Yan'er, aku sangat iri padamu. Bahkan setelah meninggalpun ibu masih menjagamu."

Feng Yan hanya diam mendengar kakaknya bercerita. Ia sedikit menyesal jauh dari kakaknya dalam waktu lama. Walau dikenal sebagai wanita tangguh, ia tetaplah seorang wanita.

"Yan'er, saat ini hanya kau satu-satunya keluargaku, kalau kau bepergian setidaknya sering-seringlah mengirim kabar pada kakakmu ini."

"Apa kau tahu kenapa tadi aku sangat marah padamu?" Feng Yan hanya menggeleng mendengar pertanyaan kakaknya.

"Saat masuk ke rumah aku melihat senjata balok yang mirip pedang, ciri-cirinya sama seperti senjata yang digunakan orang yang membasmi bandit Serigala Darah sendirian."

"Aku sangat kesal karena kau tidak minta bantuanku untuk hal yang berbahaya seperti itu."

"Aku tidak ingin lagi menunggumu seperti sembilan tahun lalu tanpa tahu kau hidup atau sudah mati, padahal kita baru saja ikrar jadi saudara".

Air mata mengalir di kedua pipi YunZhi, ini kedua kali Feng Yan melihat kakaknya mengalirkan air mata. Dulu saat ia menyelesaikan pelatihan bersama Jiwa ibunya, iya tidak menyangka kalau YunZhi masih menunggu di kota Awan Salju.

Konon menurut Ya Fei yang berkenalan dengan YunZhi pada saat itu, beberapa minggu lamanya ia selalu mengawasi gerbang kota dekat hutan menunggu Feng Yan kembali. Padahal sebelumnya pertemuan pertama kakak dan adik itu tidak dalam

Keadaan baik.

"Kakak maafkan aku, jangan menangis lagi."

ptaak

Aoww

"Kakak kenapa kau selalu memukulku" mengusap kepala yang dijitak, Feng Yan hanya tersenyum melihat kakaknya tertawa dengan masih berderai air mata.

"Saat memutuskan melawan bandit Serigala Darah, aku tidak punya waktu kecuali bertindak sendirian. Mereka menyandera temanku untuk di tukar dengan tebusan pada Raja Kota. Namun mereka orang-orang licik yang tidak menepati janji." Feng Yan memulai bercerita setelah kakaknya tidak menangis lagi.

Ia menceritakan semua hal yang terjadi padanya di kota Batu besi, terkadang YunZhi tertawa. Namun tak jarang juga ia marah saat mendengar adiknya mengambil resiko menempuh bahaya. Seperti melawan binatang roh yang jauh lebih berbahaya dari pada binatang iblis.

Ya Fei yang ternyata belum tidur tersenyum mendengar kakak dan adik yang

Tertawa-tawa di atas atap.

"Yan'er, Kenapa pedang Peri Teratai Hijau tadi berbeda warna saat kau gunakan?"

"Eh, hehehe"

"Gawat, ternyata kakak menyadarinya".

Menghela napas berat Feng Yan lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Sekte Teratai Hijau dan Perak.

"Terserah kau saja, pedang itu milikmu.

Tapi sangat disayangkan peninggalan ibumu justru berada ditangan orang lain".

"Aku juga tidak rela memberikannya, tapi aku yakin ibu pasti mengerti dengan pilihanku."

"Jadi, apa kau sudah memiliki petunjuk dengan keturunan Feng?"

Feng Yan hanya menggeleng "Kakak, apa mungkin aku keturunan terakhir dari klan Feng?"

"Ibu memintaku membangkitkan kembali berkah nama dan klan Feng" tapi ibu sudah mencari di kerajaan Xia dan Shu tapi ia tidak menemukan petunjuk apapun.

"Setiap orang yang memiliki inti pecah

Tiga yang kutemui, tidak satupun yang memiliki Akar elemen angin."

"Kakak tidak percaya kalau kau orang terakhir, mungkin mereka hanya tidak mengetahui lagi asal-usul mereka."

"Lalu kapan kau akan ke Sekte Bintang Abadi, bukankah ibumu juga mempercayakan sesuatu pada paman gurunya yang sekarang jadi leluhur sekte itu."

"Entah apa yang dititipkan ibu di sana, ia bahkan tidak mau memberi tahuku. Ia hanya bilang saat aku sudah cukup kuat, aku bisa mengambilnya dari leluhur bernama Chiang Tanru."

"Tiga hari lagi aku akan kesana, tapi hanya untuk menemui temanku. Ada yang dititipkan oleh orang tuanya padaku."

"Jangan bilang temanmu seorang gadis".

"Hehehe, aku hanya menganggapnya sebagai adik. saat ini terlalu banyak hal yang harus kulakukan. Belum lagi masalah keluarga Hui yang kuceritakan sebelumnya. Mereka pasti akan membuat masalah untukku."

"Berhati-hatilah bertindak, jika terpaksa bertarung aku kakakmu tidak akan tinggal

Diam. Kau sudah membunuh orang paling berbakat dari mereka serta membuat cacat anak kepala keluarga. Cepat atau lambat mereka pasti akan datang."

"Mereka tidak membuatku takut, kalau mereka datang jangan salahkan aku menghancurkan mereka".

"Yan'er walau mereka hanya keluarga kelas tiga, tetap saja mereka memiliki tiga orang di ranah Raja. Kau tidak boleh gegabah."

"Ibu memintaku mencari sekutu sebanyak mungkin, tapi yang kudapat hanya banyak musuh"

"Itu salahmu sendiri selalu bertindak menuruti hatimu."

"Satu hal lagi, kau sepertinya tidak mendapat berita tentang keluarga Xiao".

"Keluarga Xiao? Aku tidak ada hubungan lagi dengan mereka. Mana ada yang mau dengan sampah buangan sepertiku".

"Yan'er, sekali lagi kau mengatakan dirimu sampah, aku akan benar-benar marah".

"Hari sudah larut, besok pagi aku akan ceritakan tentang nona kedua Xiao. Sekarang

Kau tidurlah dahulu."

"Memang kenapa dengan Xiao FengYing? Paling pertunangan sudah dibatalkan. Untung saja ibu tidak marah saat tahu gelang hadiah untuk menantunya sudah kuberi pada gadis itu".

YunZhi hendak turun dari atap, namun Feng Yan menghentikan langkahnya saat melempar kantong pil dan sumber daya pelatihan untuk kakaknya.

"Berilah juga beberapa pada kakak Ya Fei".

"Hehehe, kau memang adik yang baik".

"Kakak berhentilah mengacak-acak rambutku, aku bukan anak kecil lagi".

1
Nanik S
Lanjutkan Tor .. walau sayang ada perjodohan
azizan zizan
alur yang membingungkan blok blak blok blak blok blak blok blak tak ada hujung pangkal tau2 cerita beralih ke padang dewa...lah 🤔🤔🤔 ini orang gila ka hapa yang buat novel Nih..
azizan zizan
ini cerita undur kembali kebelakang kah...pantasan like nol...
Nanik S
Kenapa mesti ada perjodohan masih kecil .. kadang cerita seperti ini amat membosankan
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!