Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.
Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.
Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Tamu Dari Cahaya Putih
Malam belum selesai.
Kabut masih menggantung rendah di atas desa.
Setelah kemunculan sosok tinggi di ujung jalan, warga tidak lagi berani kembali ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di balai desa, duduk berdesakan, menatap pintu yang seolah bisa terbuka kapan saja.
Lampu minyak tinggal dua.
Cahayanya kecil.
Bayangan orang-orang memanjang di dinding.
Rina duduk bersandar. Tangannya masih menggenggam kapur. Napasnya pelan, tetapi matanya tidak pernah benar-benar istirahat.
Damar berjaga di dekat pintu.
Tak ada yang berbicara.
Sampai—
Suara azan.
Pelan.
Jauh.
Namun jelas.
“Allahu akbar…”
Semua orang langsung menoleh.
Azan itu bukan berasal dari masjid desa.
Masjid desa sudah lama kosong sejak hujan kutukan turun.
Pak Wiryo berdiri perlahan.
“Siapa… yang azan?”
Tak ada yang menjawab.
Suara itu semakin dekat.
Tenang.
Tidak tergesa.
Tidak takut.
Berbeda dengan semua suara yang mereka dengar beberapa hari terakhir.
Rina merasakan sesuatu aneh.
Bukan ancaman.
Bukan dingin.
Ada… hangat.
Seperti pagi setelah hujan panjang.
Damar membuka sedikit pintu balai.
Kabut di luar bergerak perlahan.
Dan dari balik kabut itu muncul beberapa sosok.
Satu pria tua berjubah putih berjalan paling depan.
Di belakangnya seorang wanita berhijab sederhana.
Dua anak kecil berjalan tenang sambil membawa tas kecil.
Mereka berjalan tanpa ragu.
Tanpa rasa takut.
Padahal desa ini telah menjadi tempat yang bahkan warga sendiri ingin tinggalkan.
Pria berjubah putih itu berhenti tepat di depan balai.
Ia tersenyum lembut.
Matanya dalam.
Tenang.
Seolah sudah mengenal tempat ini sejak lama.
“Assalamu’alaikum.”
Suara itu lembut… tapi berat.
Seperti membawa sesuatu yang lebih tua dari malam.
Beberapa warga ragu menjawab.
“Wa… wa’alaikum salam…”
Damar membuka pintu penuh.
“Bapak… siapa?”
Pria itu menatap sekeliling desa.
Kabut.
Simbol di tanah.
Energi ketakutan yang menggantung di udara.
Ia menghela napas panjang.
“Akhirnya sampai juga.”
Rina berdiri.
Instingnya langsung aktif.
Ia merasakan sesuatu berbeda.
Simbol di lantai… tidak bereaksi negatif.
Justru stabil.
Itu belum pernah terjadi sebelumnya pada orang asing.
“Bapak datang dari mana?” tanya Rina.
Pria itu menatapnya.
Lama.
Matanya melembut.
“Jadi… kau anak yang menjaga ritme.”
Rina membeku.
Ia tidak pernah memperkenalkan diri.
Tidak seorang pun di luar desa tahu tentang simbol.
Damar langsung waspada.
“Tunggu dulu. Kami tidak tahu siapa kalian.”
Pria itu tersenyum kecil.
“Namaku Ustadz Rahman.”
Beberapa warga saling pandang.
Nama itu terdengar asing bagi mereka.
Tak ada yang mengenalnya.
Namun aura pria itu membuat ruangan terasa lebih ringan.
Anak kecil yang tadi menangis… tiba-tiba diam.
Ustadz Rahman melangkah masuk.
Ia berhenti tepat di tengah simbol.
Semua orang menahan napas.
Biasanya orang luar langsung pusing atau ketakutan ketika masuk lingkaran.
Namun ia berdiri santai.
Bahkan simbolnya menyala lebih stabil.
Rina menatap tajam.
“Bapak tahu tentang ini?”
Ustadz Rahman tersenyum.
“Aku melihatnya dalam mimpi.”
Semua terdiam.
“Malam demi malam… desa ini memanggil.”
Ia menatap langit melalui atap retak.
“Hujan yang tidak suci.”
“Hujan yang membawa perjanjian lama.”
Rina merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Kami bahkan belum tahu apa penyebabnya…”
Ustadz Rahman menatapnya lembut.
“Karena penyebabnya bukan dari dunia manusia saja.”
Ia menutup mata sebentar.
Angin di dalam ruangan bergerak halus.
Beberapa warga merasakan dada mereka hangat.
Seorang ibu menangis tanpa sadar.
“Ada rantai,” lanjutnya pelan.
“Rantai jin yang mengikat tempat ini.”
Kata jin membuat beberapa warga langsung membaca doa pelan.
Damar mengerutkan dahi.
“Kalau begitu… mereka yang menyerang?”
Ustadz Rahman menggeleng.
“Tidak semuanya.”
Ia membuka mata.
Tatapannya tajam sekarang.
“Ada manusia yang membuka pintu itu.”
Ruangan menjadi dingin.
Rina langsung memahami.
Seseorang.
Di desa ini.
Membawa bencana.
Ustadz Rahman menatap sudut ruangan kosong.
Lalu sedikit menunduk.
Seolah berbicara kepada sesuatu yang tidak terlihat.
Ia berbisik sangat pelan.
“Tenang… aku tahu kalian ada.”
Beberapa warga merinding.
Rina memperhatikan.
Ada sesuatu bergerak di udara.
Seperti bayangan tipis mengikuti langkah ustadz.
Kodam.
Pendamping gaib.
Ia tidak melihat jelas, tapi ia merasakannya.
Energi putih.
Tidak menekan.
Tidak mengancam.
Melindungi.
Ustadz Rahman mengangguk kecil seolah mendapat jawaban.
Lalu berkata,
“Mereka sudah lama menjaga kalian… hanya saja kalian tidak bisa melihat.”
Pak Wiryo gemetar.
“Maksudnya… ada makhluk lain di sini?”
Ustadz Rahman tersenyum.
“Tidak semua yang tak terlihat itu jahat.”
Ia lalu berjalan mengelilingi simbol.
Tangannya mengusap udara.
Seperti membaca sesuatu.
“Anak ini,” katanya sambil menunjuk Rina, “menjaga keseimbangan lewat ritme manusia.”
Ia menutup mata lagi.
“Dan kalian bertahan… bukan karena kuat.”
Ia membuka mata.
“Tapi karena belum ditinggalkan.”
Rina merasa dadanya sesak.
Ia tidak tahu kenapa kata-kata itu terasa sangat dalam.
Tiba-tiba angin luar berhenti.
Kabut di luar balai bergerak liar.
Damar langsung siaga.
“Mereka datang lagi.”
Ustadz Rahman tetap tenang.
Ia berdiri menghadap pintu.
Tanpa senjata.
Tanpa simbol.
Hanya mengangkat tangan.
Ia membaca doa pelan.
Tidak keras.
Namun setiap kata terasa berat.
Udara bergetar.
Suara jeritan makhluk di luar langsung terdengar.
Seperti terbakar oleh sesuatu yang tak terlihat.
Warga menatap tak percaya.
Belum pernah mereka melihat makhluk mundur tanpa perlawanan.
Kabut tersibak.
Langkah makhluk berhenti.
Sunyi.
Doa selesai.
Ustadz Rahman menurunkan tangan.
Ia terlihat sedikit lelah.
Namun tersenyum.
“Hanya pengintai.”
Damar ternganga.
“Itu… bagaimana bisa?”
Ustadz Rahman duduk pelan.
“Ada kekuatan putih yang diberikan jika seseorang menjaga niatnya lama sekali.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Tidak menyombongkan diri.
Rina duduk di depannya.
Matanya serius.
“Bapak bilang ada manusia penyebabnya.”
Ustadz Rahman mengangguk.
“Hujan kutukan ini bukan sekadar gangguan jin.”
Ia menatap langit.
“Ada perjanjian.”
Ia menutup mata.
Matanya bergerak di balik kelopak.
Seolah melihat sesuatu jauh.
Kodam pendampingnya berdiri di belakang.
Tak terlihat jelas.
Namun udara berubah berat.
“Dia masih di desa ini.”
Semua orang menahan napas.
“Orang yang membuka gerbang.”
Seorang wanita tiba-tiba menangis.
“Jadi… ada pengkhianat?”
Ustadz Rahman menggeleng.
“Belum tentu jahat.”
Ia membuka mata perlahan.
“Bisa jadi seseorang yang putus asa… meminta pertolongan kepada hal yang salah.”
Rina teringat sesuatu.
Hujan pertama.
Hari ketika desa mulai berubah.
Ada seseorang yang hilang semalaman.
Namun ia belum berani menyebut nama.
Ustadz Rahman menatapnya.
Seolah membaca pikirannya.
“Kau juga mulai melihatnya, bukan?”
Rina menunduk.
Tangannya menggenggam kapur lebih erat.
“Kalau begitu… apa yang harus kita lakukan?”
Ustadz Rahman berdiri.
“Besok sebelum fajar.”
Ia menatap seluruh warga.
“Kita akan memutus rantai.”
Damar mengangguk.
“Bagaimana caranya?”
Ustadz Rahman tersenyum tipis.
“Kalian menjaga ritme manusia.”
Ia menunjuk simbol Rina.
“Aku menghadapi yang tidak terlihat.”
Angin malam kembali bergerak.
Namun kali ini…
Tidak sedingin sebelumnya.
Anak-anak mulai tertidur.
Beberapa warga akhirnya bisa bernapas lebih tenang.
Harapan kecil muncul.
Namun Rina masih gelisah.
Ia mendekati ustadz saat yang lain beristirahat.
“Bapak…”
Ustadz Rahman menoleh.
“Kau takut.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Rina mengangguk pelan.
“Aku merasa makhluk itu bukan musuh utama.”
Ustadz Rahman tersenyum.
“Kau cepat belajar.”
Ia menatap kegelapan desa.
“Ada sesuatu lebih tua dari mereka.”
Rina menelan ludah.
“Apa itu?”
Ustadz Rahman berbisik,
“Pengikat hujan.”
Angin tiba-tiba berhenti.
Kodam di belakang ustadz bergerak gelisah.
Untuk pertama kalinya…
Wajah ustadz tampak serius.
“Dan dia sudah sadar aku datang.”
Di kejauhan—
Petir menyambar tanpa suara.
Langit gelap membentuk pusaran besar.
Hujan mulai turun lagi.
Namun kali ini…
Airnya berwarna sedikit kehitaman.
Rina berdiri.
Damar keluar balai.
Warga menatap langit dengan takut.
Ustadz Rahman menatap hujan itu.
Lalu berkata pelan,
“Kita terlambat sedikit.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi belum kalah.”
Tangannya menggenggam tas kecil.
Ia mengeluarkan tasbih kayu tua.
Butirannya bercahaya redup.
Doa mulai dilantunkan lagi.
Dan malam itu—
Untuk pertama kalinya sejak kutukan turun…
desa tidak hanya bertahan.
Mereka mulai melawan balik.
Namun jauh di balik hujan hitam…
Seseorang sedang memperhatikan.
Seseorang yang tahu…
kedatangan ustadz itu adalah ancaman terbesar bagi rahasia yang selama ini tersembunyi.
Perang antara ritme manusia, cahaya putih, dan kegelapan yang mengikat hujan…
akhirnya benar-benar dimulai.