Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Balik Nota
Hari terakhir di Dinas Pendapatan Daerah tiba dengan suasana yang campur aduk. Kantor yang biasanya bising dengan suara mesin tik dan diskusi pajak, hari ini terasa sedikit lebih hangat. Pak Hendra bahkan memesan nasi kotak spesial dan es cendol untuk acara perpisahan kecil-kecilan di ruang rapat.
Kenan tampil rapi, sangat rapi. Kemejanya yang sekarang sudah tidak lagi terlihat sesak, dipadukan dengan celana kain yang pas di badan. Transformasi fisiknya selama tiga bulan ini benar-benar bikin semua orang di kantor menggelengkan kepala. Kenan yang dulu datang sebagai "raksasa jerawatan", kini berdiri sebagai pemuda tegap dengan aura vokalis yang mulai terpancar.
"Ayo, Kenan! Katanya mau kasih persembahan? Jangan cuma makan cendol saja kau," goda Kak Doni sambil menepuk-nepuk pundak Kenan.
Kenan berdiri, mengambil gitar akustik yang sejak pagi sudah dia sandarkan di pojok ruangan. Dia melirik ke arah Kala. Gadis itu duduk di barisan depan, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Perpisahan memang selalu berat, apalagi setelah semua drama yang mereka lalui di kantor ini.
"Cek... satu, dua. Selamat siang Bapak, Ibu, dan Kakak-kakak semua," Kenan memulai dengan suara baritonnya yang mantap. "Terima kasih sudah membimbing kami yang masih bau kencur ini. Sebagai tanda terima kasih, saya mau membawakan sebuah lagu. Lagu ini... sebenarnya lagu rahasia yang saya tulis bareng Kala di sela-sela waktu istirahat."
Semua mata tertuju pada Kala. Kala menunduk malu, tapi senyum manisnya tidak bisa disembunyikan.
Kenan mulai memetik gitar. Nadanya lembut, mengalun seperti aliran sungai yang tenang.
"Di antara tumpukan kertas dan angka yang kaku...
Ada satu senyum yang selalu ku tunggu...
Lantai dua menjadi saksi bisu,
Tentang rasa yang tumbuh, di antara debu arsip dan waktu..."
Liriknya sederhana, tapi karena dinyanyikan dengan penuh perasaan oleh Kenan, suasana ruangan mendadak hening. Pak Hendra bahkan sampai berhenti mengunyah cendolnya, tersihir oleh melodi yang dimainkan anak magangnya itu.
"Biarlah magang ini berakhir dengan pelukan angin...
Namun melodi ini akan tetap ku simpan dingin...
Jangan lupakan aku, di antara hiruk pikuk sekolah nanti...
Karena di sini, hatiku telah menemukan tempat untuk menanti."
Pas di bagian penutup lagu, Kenan menatap tepat ke mata Kala. Kala tidak lagi menunduk. Dia menatap balik Kenan, air mata haru jatuh di pipinya. Baginya, lagu itu bukan sekadar tugas seni, tapi sebuah pernyataan bahwa Kenan benar-benar ada untuknya di masa-masa tergelapnya.
Tepuk tangan meriah pecah di ruang rapat. "Waduh! Kenan, kau jangan jadi akuntanlah, jadi artis saja kau! Sayang suaramu itu kalau cuma dipakai buat hitung pajak!" teriak salah satu staf kantor.
Setelah acara selesai, saat mereka sedang merapikan barang-barang di meja masing-masing untuk terakhir kalinya, Pak Hendra menghampiri mereka.
"Kenan, Kala. Kalian anak-anak yang hebat. Pesan saya satu, tetap jadi orang baik ya. Kenan, jagain Kala. Saya tahu kau naksir dia, tak usah kau bohong sama kumis saya ini," ujar Pak Hendra sambil tertawa besar.
"Eh... iya, Pak. Siap, laksanakan!" jawab Kenan salah tingkah, sementara Kala hanya bisa nyengir menutupi malu.
Mereka pun berjalan keluar kantor menuju parkiran. Ini adalah terakhir kalinya mereka melewati gerbang kantor itu sebagai "staf magang".
"Nan... makasih ya buat lagunya tadi. Aku nggak nyangka kamu bakal nyanyiin di depan semua orang," ujar Kala saat mereka sampai di samping motor Supra Kenan.
"Lagu itu kan hak milik kita, Kal. Aku mau mereka tahu kalau kita pernah bikin sesuatu yang indah di sini," Kenan memakai helmnya. "Besok kita sudah balik ke sekolah. Siap-siap ya, pasti bakal banyak yang kaget tengok perubahan kita."
"Aku sih nggak apa-apa, Nan. Tapi aku masih kepikiran omongan Revan kemarin. Dia mau kesekolah kita," Kala terlihat cemas lagi.
Kenan memegang kedua pundak Kala, memberikan tatapan yang sangat menenangkan. "Kal, tengok aku. Tiga bulan ini aku sudah latihan angkat jerigen air tiap malam. Aku juga sudah belajar sabar menghadapi Pak Hendra. Kalau cuma Revan, kecil itu. Percayalah, raksasa ini takkan biarkan dia ganggu kamu lagi."
Kala tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih kuat. "Iya, aku percaya."
*******
Malam itu, Kenan duduk di kamarnya, menatap seragam SMK-nya yang sudah bersih dan wangi. Dia mengambil flashdisk berisi rekaman lagu mereka tadi siang yang sempat direkam oleh Kak Doni.
Kenan memutar lagu itu berulang kali. Dia merasa, magang ini telah mengubah hidupnya. Dia tidak lagi merasa sebagai cowok yang "tak kasat mata". Dia punya bakat, dia punya semangat, dan yang paling penting, dia punya Kala di sampingnya—meskipun status mereka masih menggantung di awang-awang.
Kenan mengirim pesan terakhir malam itu sebelum tidur.
Kenan: "Besok pakai parfum bunga matahari ya, Kal. Biar aku gampang nyari kamu di antara ribuan murid di sekolah."
Kala: "Siap, Tuan Vokalis! Tidur yang nyenyak ya. Sampai ketemu di gerbang sekolah besok!"
Kenan memejamkan mata dengan senyum kemenangan. Namun, di kejauhan, di gedung sekolah mereka, Revan sedang duduk bersama teman-temannya, merencanakan sesuatu untuk menyambut kedatangan Kenan dan Kala kembali ke sekolah. Revan tidak terima posisinya digantikan oleh seseorang yang dulu dia anggap remeh.
Pertarungan yang sesungguhnya bukan lagi soal pajak atau jaringan komputer, tapi soal mempertahankan kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.