Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyatuan Tak Disengaja
Tepat pada pukul 22.30 wib mobil daihatsu terios berwarna silver tiba di apartemen kawasan elite yang disewa oleh Agashtya bertahun-tahun lamanya.
Alex dengan cekatan menopang tubuh Agashtya memasuki kawasan apartemen. Ia masih dibantu oleh Kaniya yang berjalan di depannya untuk membukakan pintu dan menunggu perintah lainnya dari Alex.
"Berapa pinnya pak Alex?" Tanya Kaniya saat mereka tiba di depan pintu apartemen Agashtya.
"260696..." Jawab Alex tegas
Setelah pintu apartemen terbuka, mereka pun masuk secara bersamaan. Alex memerintahkan Kaniya untuk membukakan pintu kamar Agashtya. Direbahkanlah tubuh Agashtya diatas ranjang king size dengan bedcover berwarna biru muda.
"Huft...berat banget badan loe pak bosss..." Gumam Alex setengah terengah-engah
"Kaniya...." Ucap Agashtya lirih dengan mata terpejam
"Kaniya...tolong aku sayang..." Ucap Agashtya semakin tak terarah
"Mas bro sadar mas bro..." Ucap Alex lantang sembari menggoyangkan tubuh Agashtya agar tersadar
Dibibir Agashtya hanya menyebut nama Kaniya, Kaniya dan Kaniya tak ada nama lain yang ia sebut saat ini. Hal itu membuat Kaniya merasa serba salah. Gadis itu hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya saat Alex menatap dirinya.
Alex pun teringat akan sesuatu, bosnya itu mengatakan bahwa dirinya tengah menyukai seorang gadis siang tadi. Ia pun manggut-manggut mengingat hal itu dan akhirnya berpamitan keluar kamar sebentar.
"Bu Kaniya saya permisi dulu ingin menelepon tuan muda Bintang supaya menangani kakaknya..." Pamit Alex tak sepenuhnya berdusta
Kaniya pun hanya bisa mengiyakannya saja. Alex keluar dari kamar Agashtya menuju dapur untuk mengambil minum dan menyiapkan kompres es batu.
Usai meneguk setengah gelas air putih kini dirinya menelepon Bintang yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Namun ponsel Bintang tak bisa dihubungi saat ini. Alex mencobanya berulang kali tetap saja hasilnya nihil.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau sedang di luar jangkauan, coba beberapa saat lagi..." Suara notif operator ponsel
Sudah berbagai cara Alex gunakan mulai dari mengirim pesan whatsapp, video call dan telepon seluler namun hasilnya tetap saja nihil.
Sementara diseberang sana Bintang tengah dinas di luar kota yang wilayahnya tak terjangkau oleh jaringan sama sekali ditambah lokasi yang didatanginya tengah terjadi banjir.
Dikarenakan upayanya menghubungi Bintang tak membuahkan hasil. Akhirnya Alex pun berniat kembali ke kamar Agashtya dengan membawa semangkuk kompres yang sudah diberi es batu.
Belum sempat ia masuk ke dalam kamar Agashtya yang tidak tertutup sempurna. Kini dirinya mengurungkan niat untuk mengganggu tuannya itu.
Saat akan meraih handle gagang pintu, Alex melihat Agashtya tengah berada di atas tubuh mungil Kaniya. Dia takut untuk masuk ke dalam sana. Tapi dirinya juga bingung jika terjadi sesuatu pada anak gadis orang.
"Astaga...masuk gak ya kira-kira? Kalo masuk takut salah tapi kalo gak masuk gimana nasib mbak Kaniya?" Gumam Alex tampak menanting-nanting keputusan
"Tapi tadi siang mas Agashtya bilang dia naksir cewek, terus dari tadi yang disebut cuma nama Kaniya mulu, terus mas bos juga pengen terlepas dari perjodohan gak jelas yang dibuat sama tuan dan nyonya besar..."
"Begitu juga dengan mbak Kaniya dia juga pernah bilang kalo pengen bebas dari perjodohan bisnis yang diadakan kedua orang tuanya. Ahh...apa aku biarin aja kali ya mereka bercocok tanam?" Gumam Alex kembali mempertimbangkan dan meraih handle pintu kamar Agashtya tapi kembali berjalan mundur
"Bodoamat lah ntar kalo udah sadar juga biar dia yang beresin sendiri semuanya. Mending ke kamar tamu aja tidur pasang headset daripada dengerin suara orang lagi indihoy...mata gue juga udah ternoda siang tadi gak mungkin sekarang juga bakal ternoda lagi lihat kelakuan mas boss..." Gumam Alex yang kemudian memutuskan untuk pergi ke kamar tamu yang berada di sebelah kamar Agashtya
Di apartemen ini memang sudah di desain oleh Agashtya seperti rumah kedua baginya semuanya tersedia disini. Selain dapur dan ruang tamu, apartemen mewah ini pun memiliki dua buah kamar tidur yang sama luasnya.
Agashtya mengambil satu unit apartemen mewah ini dikarenakan dirinya malas pulang kerumah sejak adanya rencana perjodohan yang diadakan oleh kedua orang tuanya itu.
Terkadang juga Bintang kerap datang menginap di apartemen ini saat dinas pulang kemalaman. Itulah sebabnya Agashtya mengambil unit yang paling besar yang dilengkapi dengan dua ruang kamar.
***********
Benar saja Agashtya yang sudah tak terkendali itu memang menjatuhkan tubuh Kaniya ke atas ranjang lembutnya itu.
"Kaniya please...tolong bantu aku, aku udah gak tahan lagi Niya..." Ucap Agashtya lirih
Kepalanya semakin terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, tubuhnya mulai meremang, keringat mulai bercucuran dari tubuhnya yang proporsional.
Bahkan wajahnya pun sudah mulai sayu dan yang tak bisa dikendalikan oleh Agashtya tak lain adalah juniornya yang sudah begitu menegang.
Secara reflek Agashtya menonjok tembok dengan sekeras tenaga dikarenakan tak kuasa menahan gejolak hasratnya itu namun terkadang dia juga teringat tidak ingin merusak anak gadis orang.
"Akhhhh..." Teriak Agashtya yang melampiaskan emosinya ke dinding kamarnya
Disisi lain Alex yang sedang menscroll layar benda pipihnya itu merasakan getaran tonjokan Agashtya ke dinding kamar sehingga imajinasi Alex pun menjadi tak menentu.
"Busyet dah...pak boss mainnya sadis juga..." Gumam Alex terperanjat
Disisi lain lagi Kaniya tampak bingung harus bagaimana saat ini dihadapan Agashtya yang tidak sepenuhnya bisa dikatakan sadar diri.
"Oh God aku harus gimana sekarang? Ah...ini semua gara-gara si nenek sihir itu jadi kayak gini kan akhirnya. Tapi kasihan juga sih pak Agashtya kalo gak aku tolong tapi mahkota berhargaku..." Gerutu Kaniya kesal dengan spontan ia menampar pipi kanan Agashtya supaya tersadar
Bukannya tersadar justru membuat Agashtya semakin menggila. Agashtya mencium bibir Kaniya penuh gairah. Hal itu tentu membuat Kaniya terkejut membelalakan matanya.
Pasalnya Kaniya belum pernah berpacaran sebelumnya dan malam ini ciuman pertamanya justru harus dalam keadaan seperti ini.
"First kiss gue..." Gumam Kaniya sembari memegang bibirnya yang masih lembab saat ciuman itu dilepas oleh Agashtya
"Ok...Kaniya bukannya loe pengen terlepas dari perjodohan gila itu? Mungkin ini saatnya, tapi cara ini salah gak ya?" Ucap Kaniya yang masih terus mempertimbangkan semuanya
Suhu panas yang dirasakan oleh Agashtya semakin meningkat sehingga dirinya pun melepaskan setiap helai kain yang menempel ditubuhnya.
Disaat itu pula lah Kaniya dengan susah payah menelan salivanya karena terpukau melihat dada bidang dihiasi oleh otot perut yang berbentuk kotak-kotak.
'Wow...sixpack banget. Astaga...mata gue bener-bener ternoda malem ini, tapi gue harus apa? Alex mana sih lama banget...' Ucap gadis ini dalam hati yang sudah tak menentu
Tanpa berpikir panjang lagi akhirnya gadis satu ini pun mengikuti permainan Agashtya yang tengah terpengaruh efek obat yang diberikan oleh Sherly.
Kaniya membiarkan Agashtya menggerayangi tubuhnya. Bahkan dirinya pun mulai terbawa arus. Dibiarkannya jemari Agashtya dengan lihai menanggalkan semua kain yang membalut tubuh mungilnya itu.
Lagi lagi dan lagi Agashtya menciumi bibir Kaniya dengan ritme yang tak menentu. Hal itu pun membuat tubuh Kaniya juga ikutan meremang dan akhirnya gadis itu pun pasrah dengan keadaan.
"Akh...aws...pediiiihhhh..." Rintih Kaniya saat Agashtya melakukan penyatuan
"Maaf sayang. Aku coba pelan-pelan yah...sayang..." Ucap Agashtya lembut
Penyatuan kedua insan yang sama-sama berstatus jomblo ini pun berlangsung begitu bergairah. Bahkan kini sprei ranjang Agashtya menjadi kusut dan ternoda oleh bercak cairan merah. Apalagi jika bukan darah milik Kaniya.
************
Mentari pagi telah bersambut tanda hari telah berganti. Cahaya kuning itu menembus kaca jendela kamar apartement Agashtya yang berada di lantai 20.
Kaniya menggeliat dikarenakan netranya merasa silau dengan cahaya mentari yang terasa menusuk netranya pagi ini. Sempat ia mengira kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi belaka.
Namun pada kenyataannya kini dirinya tengah tidur disamping Agashtya. Pemuda tampan itu memeluk tubuh Kaniya dengan erat dan sama-sama polos tak ada sehelai benang pun yang membalut tubuh mereka.
Hanya ditutupi oleh sebuah selimut halus berwarna biru muda lebih tepatnya selimut bedcover. Gadis itu pun berusaha membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya dan melihat tubuh bagian bawahnya yang ternyata juga polos.
Saat hendak bangkit berdiri tiba-tiba saja ada rasa nyeri seperti rasa terbakar dibagian intinya. Kaniya pun mengurungkan niatnya dan memperhatikan wajah pria yang saat ini masih terlelap di sampingnya.
"Aw....sssh...sakit banget..." Rintih Kaniya saat akan bangkit dari posisinya
"Aku kira semua ini cuma mimpi. Tapi ternyata semua ini nyata. Sekarang aku harus gimana pengalaman pertama ku kenapa harus seperti ini, apa kata orang kalau sampe tahu atasan dan sekretarisnya pernah tidur bareng. Malu banget sumpah, harga diri gue..." Gumam Kaniya sedikit menyesali perbuatannya semalam
"Tapi emang sih...dia ganteng banget, disaat masih tidur begini pun ganteng banget. Tapi dia kan atasan gue..." Lanjutnya lagi sembari memperhatikan setiap lekuk wajah dan dada bidang Agashtya
"Hmmph..." Tiba-tiba saja Agashtya melenguh dan mulai membuka matanya yang semula terpejam
Tentu hal ini membuat Kaniya merasa terperanjat bingung akan berkata apa dan mau lari kemana dalam keadaan seperti saat ini.
"Ka...Kaniya? Kamu? Ke...kenapa kamu ada disini?" Tanya Agashtya bingung tak percaya
Bagaimana Agashtya tidak bingung dikarenakan dirinya semalam tengah terpengaruh obat dan apapun yang dia lakukan pada Kaniya itu dilakukan secara tidak disengaja.
Dengan hati-hati dirinya membuka selimutnya itu dan melihat tubuh bagian bawahnya yang polos sama seperti Kaniya yang masih saja menutupi bagian tubuhnya dengan selimut.
"Aa...tadi malam bapak___" Ucap Kaniya belum sempurna sudah disergah oleh Agashtya
"Sudah tidak perlu dibahas lagi. Maafkan saya Kaniya jika saya bersikap kurang ajar padamu. Saya janji apapun yang terjadi ke kamu nanti saya akan bertanggungjawab..." Ucap Agashtya bijaksana
Pemuda itu hanya bisa memijit pelipisnya yang masih sedikit berdenyut hingga saat ini. Ia berusaha mengingat semua kejadian semalam.
Namun yang dia ingat hanyalah Alex dan Kaniya datang bersama untuk menyelamatkannya dari Sherly. Rasa canggung juga menyelimuti dirinya saat ini. Agashtya berusaha meraih pakaiannya yang ia kenakan semalam.
Walaupun mereka sudah berhubungan badan semalam namun Agashtya masih tetap menghargai Kaniya. Ia menyuruh Kaniya untuk menutup matanya disaat dirinya memakai kembali pakaiannya.
Usai Agashtya memasang kemeja putih dan juga celana kainnya walaupun masih tampak sedikit berantakan khas orang bangun tidur. Agashtya pun masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub.
Ia pun akhirnya kembali lagi ke ranjang mendekati Kaniya yang masih terduduk diam dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kaniya...saya sudah siapkan air hangat untuk kamu. Ayo..." Ucap Agashtya lembut
Kaniya menggelengkan kepalanya begitu saja tanpa adanya kata-kata yang diucapkannya hanya pipinya saja yang memerah menahan rasa malu. Sementara Agashtya hanya bisa berdecak kesal namun juga merasa bersalah pada Kaniya.
Tanpa aba-aba Agashtya menggangkat tubuh mungil Kaniya yang masih berbalut selimut tebal itu menuju bathtub.
"Saya keluar dulu. Sekarang kamu lebih baik berendam dulu ya, itu handuknya..." Ucap Agashtya santun sembari menunjuk sebuah handuk yang tergantung digantungan kamar mandi
Kaniya tetap saja tak menjawab sepatah kata apapun hingga tubuh jangkung Agashtya keluar dari kamar mandi. Saat ia meraih ponselnya di atas nakas ia melihat sebuah titik noda darah disprei bedcovernya.
Agashtya mengusap wajahnya dengan kasar dan menyugar rambutnya dan mengacak-acaknya sendiri. Barulah Agashtya keluar mencari Alex sang asisten pribadi.
"Lex...Alex...kemana dia? Alex...Alex..." Panggil Agashtya menyusuri setiap koridor diruangan apartementnya
Saat hendak menelepon asisten pribadinya itu. Tiba-tiba saja Alex sudah datang menenteng paket makanan yang dipesannya secara online.
"Pagi mas bos...udah selesai mainnya?" Sapa Alex tengil
"Ckk...sialan loe, kenapa gak loe cegah gue semalem hah? Kemana loe disaat gue lepas kendali? Akhhh...gue jadi ngerasa bersalah ke Kaniya, gue udah ambil pengalaman pertama dia..." Ucap Agashtya sedikit kesal juga bercampur rasa bersalah
"Maaf mas bos, habis mas bos nyebut nama mbak Kaniya mulu semalem. Pas saya mau masuk ekh...mas bos udah___" Belum selesai ucapan Alex itu sudah disergah oleh Agashtya
"Udah cukup gak usah di terusin. Jadi sekarang menurut loe, gue harus gimana?" Ujar Agashtya sembari memijit pelipisnya dan menyugar rambutnya kasar kembali
"Ah...itu mah gampang mas bos, tinggal mas bos tanggungjawab aja nikahin mbak Kaniya udah beres..." Jawab Alex asal ceplos
"Nikah?" Ucap Agashtya yang otaknya masih loading
"Iya mas bos, sekalian kan kalian bisa lepas dari perjodohan yang gak jelas itu. Ya udah saya ke dapur dulu mau mindahin makanannya selagi masih hangat..." Ujar Alex masih tetap tersenyum tengil
Ucapan Alex barusan berhasil membuat Agashtya berpikir keras. Ia pun tersenyum setelah otaknya kembali conect dengan ucapan Alex itu.
Walaupun Agashtya tidak mengetahui latar belakang Kaniya dengan jelas namun dirinya sudah menaruh hati pada gadis itu bahkan dia pula lah yang telah mengambil pengalaman pertama gadis itu.
Kaniya memang menyembunyikan identitasnya agar bisa menikmati hidup tanpa embel-embel putri orang terkaya urutan ketiga dikota ini.
Sementara Agashtya hanya mengetahui bahwa Kaniya bukan berasal dari keluarga terpandang sesuai pengakuan gadis itu padanya.
Jelas berbeda dengan Alex yang merupakan sahabat Agashtya sejak kecil yang merupakan putra dari sahabat papa Agashtya.
Namun setelah dewasa Alex yang kondisi ekonominya berada ditingkatkan kelas menengah itu melamar kerja sebagai asisten pribadi Agashtya. Sebab itulah tidak ada bahasa yang begitu kaku dan formal diantara bos dan asisten pribadinya itu.
Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka? Ikuti terus ya guys...
Bersamboo dulu...