Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 31_Meminta Bantuan
Hujan di pegunungan tidak pernah benar-benar berhenti tapi ia hanya berganti rupa.
Pagi ini, ia datang sebagai rintik halus yang membungkus estate kolonial itu dalam selimut abu-abu yang dingin.
Di dalam ruang kerja Marco yang berdinding kayu ek gelap, aroma kopi pahit bercampur dengan bau mesiu yang samar yaitu sebuah kontras yang tajam antara domestisitas dan peperangan yang sedang disiapkan.
Marco berdiri di balik meja besarnya, menatap serangkaian monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari berbagai sudut propertinya.
Matanya merah karena kurang tidur, dan rahangnya yang tegas tampak semakin kaku, di depannya Bram berdiri tegak dengan laporannya.
"Hendry sudah tiba di vila bawah Tuan." lapor Bram dengan suara datar.
"Dia membawa tiga pengawal, semuanya dipersenjatai, tapi unit kita sudah mengepung area tersebut tanpa mereka sadari." lanjutnya.
Marco menyesap kopinya, namun matanya tetap tertuju pada monitor.
"Dia pikir dia bisa datang ke sini dan berpura-pura setia setelah dia menjual rincian rute logistik kita ke pihak Moretti? Keberaniannya patut diapresiasi, atau mungkin itu hanya kebodohan yang luar biasa."
"Apa instruksi Anda, Tuan?"
Marco meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang terdengar seperti lonceng kematian.
"Bawa dia masuk, tapi jangan lewat pintu utama. Aku ingin dia merasakan udara dingin di gudang penyimpanan anggur bawah tanah. Di sana suara teriakan tidak akan sampai ke telinga Anya."
Di lantai atas, Anya berdiri di balik tirai kamarnya, menyaksikan mobil hitam Hendry memasuki gerbang.
Ia tahu apa yang akan terjadi, meskipun ia tidak melihat senjata atau mendengar ancaman secara langsung, ia bisa merasakan perubahan suhu psikologis di rumah itu.
Marco telah kembali menjadi sosok yang ia takuti di awal pertemuan mereka yaitu seorang algojo yang efisien.
Anya tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu sementara dunianya kembali berlumuran darah.
Ia teringat kata-kata Vittorio tentang eliminasi, jika Marco menghabiskan seluruh energinya untuk membersihkan pengkhianat di dalam, ia akan terlalu lemah untuk menghadapi serangan dari luar.
Ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar tempat ia menyimpan buku-buku hukumnya.
Namun, di balik salah satu sampul buku tebal itu, ia menyembunyikan sebuah ponsel satelit kecil yang ia pinjam dari salah satu laci kerja Marco minggu lalu saat pria itu sedang mandi.
Anya tahu ini berbahaya, jika Marco tahu dia akan menganggapnya sebagai pengkhianatan.
Namun Anya tidak sedang mencoba melarikan diri, ia sedang mencari sekutu.
Selama hari-hari terakhirnya di Jakarta sebelum pindah ke gunung, ia sempat mendengar Bram berbicara tentang seorang wanita bernama Liora.
Liora adalah mantan kepala intelejen ayah Marco yang diasingkan karena dia mengetahui terlalu banyak tentang rahasia The Syndicate.
Liora bukan musuh Marco, tapi dia juga bukan teman, dia adalah "Hantu" yang hidup di antara celah-celah hukum.
Anya mengetikkan nomor yang ia dapatkan dari secarik kertas yang terselip di dokumen lama Marco, tangannya gemetar.
"Aku Anya cahaya milik Marco, kita butuh cara untuk menjatuhkan Vittorio tanpa membakar seluruh kerajaan. Apakah Anda masih memiliki kunci itu?"
Pesan terkirim dan Anya segera menyembunyikan ponsel itu di balik tumpukan kain di dalam lemari.
Jantungnya berdegup kencang, ia merasa seperti sedang menyeberangi jembatan tali di atas jurang yang dalam.
Satu kesalahan kecil, dan ia akan jatuh menghancurkan dirinya sendiri dan Marco.
Di gudang bawah tanah, suasananya jauh lebih gelap, cahaya lampu bohlam yang tergantung di langit-langit berayun pelan, menciptakan bayangan yang mengerikan di dinding batu yang lembap.
Hendry, seorang pria bertubuh gempal dengan setelan jas mahal yang kini tampak berantakan, diikat di sebuah kursi besi di tengah ruangan.
Marco duduk di depannya, memegang sebilah pisau bedah kecil yang berkilau di bawah cahaya redup.
"Kau tahu, Hendry," ucap Marco dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
"Ayahku dulu selalu bilang bahwa pengkhianatan adalah seperti kanker, jika kau tidak memotongnya sampai ke akar, ia akan menyebar dan membunuh seluruh tubuh."
"Marco... tolong... ini salah paham!" ratap Hendry, keringat bercucuran di wajahnya.
"Vittorio mengancam keluargaku! Aku tidak punya pilihan!" serunya memohon ampun.
Marco mencondongkan tubuhnya ke depan, ujung pisau bedah itu kini menyentuh dagu Hendry.
"Kita selalu punya pilihan, Hendry. Kau memilih untuk menukar kesetiaanku dengan janji perlindungan dari seorang pria tua yang akan membuangmu begitu urusannya selesai. Kau memilih untuk membahayakan wanita yang paling berharga bagiku."
Tatapan Marco berubah menjadi sangat dingin, jenis kedinginan yang bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Dan untuk pilihan itu, harganya sangat mahal." seru Marco.
Bram yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa melihat saat Marco mulai menjalankan "pembersihan" itu.
Tidak ada amarah yang meledak-ledak, semuanya dilakukan dengan presisi yang mengerikan.
Marco ingin informasi, dan dia tahu persis bagaimana cara mendapatkannya.
Dua jam kemudian, Marco keluar dari gudang bawah tanah, ia mencuci tangannya di wastafel kecil di ruang transisi.
Air yang mengalir di tangannya berubah menjadi warna merah muda pucat sebelum akhirnya bening kembali.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, namun tangannya sedikit gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang memuncak.
"Dia sudah bicara, Tuan?" tanya Bram sambil memberikan handuk bersih.
"Vittorio sudah mengerahkan tim pembunuh dari faksi Moretti," jawab Marco sambil mengeringkan tangannya.
"Mereka akan bergerak malam ini, mereka tidak menunggu seminggu Bram. Vittorio berbohong ultimatum itu hanya pengalih perhatian agar kita lengah."
"Kita harus memindahkan Nona Anya sekarang," ujar Bram sigap.
"Tidak, jika kita bergerak di jalan raya, kita akan menjadi sasaran empuk, kita akan bertahan di sini. Estate ini adalah benteng. Aktifkan protokol Delta dan matikan semua komunikasi keluar kecuali jalur internal kita."
Marco berjalan menuju tangga, tujuannya satu yaitu Anya, ia harus memastikan cahayanya tetap menyala sebelum kegelapan benar-benar mengepung mereka.
Anya sedang duduk di tepi tempat tidur saat pintu kamar terbuka, ia segera berdiri dan menyadari aura kematian yang masih menempel pada sosok Marco.
Marco berjalan mendekat, dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Anya dengan sangat erat.
Anya bisa mencium aroma sabun yang kuat, namun di bawahnya, masih ada bau amis darah yang tak bisa disamarkan sepenuhnya.
Ia tidak melepaskan diri tapi ia justru membalas pelukan itu, membiarkan kepalanya bersandar di dada Marco.
"Ada apa, Marco?" bisik Anya.
"Badainya datang lebih awal dari perkiraanku," jawab Marco, suaranya terdengar sangat lelah.
"Kamu harus tetap di sisiku malam ini, Anya. Jangan pergi ke ruangan lain dan jangan jauh-kan dirimu dariku."
Anya menatap wajah Marco. "Apa yang kamu lakukan di bawah tadi?"
Marco terdiam sejenak, ia membelai pipi Anya dengan ibu jarinya.
"Aku melakukan apa yang harus dilakukan seorang raja untuk melindungi ratunya. Jangan tanya lebih lanjut, Anya. Cukup percayalah padaku."
"aku percaya padamu Marco, tapi aku tidak ingin kamu kehilangan kemanusiaanmu demi melindungiku," ucap Anya dengan nada sedih.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪