Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Pak Aksa mau ajak saya ke mana?" Tanya Dini ketika sudah di atas motor masing-masing. Dini tentu senang pergi bersama Aksa, tapi harus tahu dulu kemana tujuannya
"Katanya kamu mau kenalan sama Ibu saya" Aksa hendak mengantar Dini silaturahmi ke rumah orang tuanya sesuai permintaan Dini beberapa waktu yang lalu.
"Boleh Pak, tapi tidak hari ini," Dini sebenarnya senang sekali pada akhirnya Aksa mengajaknya ke rumah ayah dan ibunya, tapi ia tidak mau datang tanpa membawa buah tangan.
"Memang kenapa kalau sekarang?" Aksa kira Dini tidak akan menolak, mengingat hari-hari sebelumnya ia antusias.
"Tidak apa-apa Pak, besok hari minggu saja," Dini tidak mau jujur apa alasannya justru pamit pulang.
Aksa hanya mengangguk, kedua motor itupun melaju ke arah yang berbeda. Aksa mengurungkan niatnya ke kediaman kedua orang tuanya, memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Sementara Dini pulang ke rumah nenek. "Mbah Putri... Aku dapat hadiah..." Dini tersenyum menunjukkan bunga mawar merah ketika baru saja tiba, tapi sudah duduk di samping mbah Ambar.
"Waah... dari siapa bunga ini?" Mbah Ambar ikut senang menatap sang cucu yang sedang berbahagia. "Dari Handoko, Pramono, atau Warsito?" Cecar mbah Ambar. Ia absen semua pria yang mencintai Dini karena cucunya ini sering menceritakan siapa pria di sekolah yang mengutarakan perasaannya.
"Bukan Mbah" Dini di sekolah memang menjadi idola, tapi hatinya terpaut dengan satu pria yaitu Aksa sang guru. "Kalau bunga ini dari mereka mah aku nggak akan senang begini Mbah."
"Terus... siapa lagi pria itu?" Desak Mbah. Mbah tentu ingin tahu siapa pria yang mampu membuat cucunya berbunga-bunga seperti itu.
"Itu loh Mbah, guru yang pernah aku ceritakan," lanjut Dini tersenyum lebar. Walaupun Aksa tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri, tapi bunga tersebut merupakan sinyal bagi Dini.
"Dini... sebaiknya jangan terlalu berharap dengan gurumu itu, nanti kamu akan kecewa sayang..." nasehat mbah Ambar tampak ekpresi wajah tua itu berubah kecewa. Ia usap rambut panjang cucunya lembut.
"Memang kenapa Mbah, guru aku itu baik sekali kok," Dini sudah yakin bahwa Aksa pria terbaik yang pernah ia temui.
"Guru kamu itu memang baik sayang... tapi..." Mbah Putri tidak melanjutkan ucapannya.
"Ada apa, Mbah?" Dini merasa ada rahasia yang mbah Ambar sembunyikan.
"Oh... Tidak..." Mbah mengatakan bahwa tidak ada apa-apa, tapi Dini merasa jika mbah Ambar tidak mau jujur.
"Ya sudah Mbah, aku istirahat dulu" Dini membawa bunga tersebut lalu pamit mbah Ambar wati ke kamar.
Mbah Ambar menatap nanar langkah Dini yang mendorong pintu kamar diiringi senandung lirih. Mbah senang cucunya bahagia seperti itu, tapi juga resah entah apa yang mengganggu pikirannya.
.
Tibalah hari minggu pagi, seorang pria paruh baya datang ke rumah mbah Ambar. Ia bawa ikan basah yang ia tanggok dari tambak milik mbah Ambar yang ia kelola.
"Sekalian potong ayam kampung nya, No..." titah mbah Ambar.
"Baik Mbah."
Yatno pergi memotong ayam dari kandang, sementara mbah Ambar membawa ikan yang sudah bersih ke dapur.
Sementara di dapur, Dini yang tidak biasanya memasak pun berusaha keras membuat urap sambil melihat resep di handphone.
"Sudah matang sayang..." mbah Ambar tersenyum menatap Dini yang sedang berusaha memasak sendiri akan dia bawa ke rumah orang tua Aksa.
"Tolong dicicipi ya Mbah," Dini ingin memastikan bahwa masakannya tidak mengecewakan orang tua Aksa.
"Kamu kalau memasak buat orang tua gurumu kok semangat sekali" gerutu mbah Ambar sambil mencicipi. Selama tinggal bersamanya Dini belum pernah memasak untuknya kecuali hanya membantunya.
Dini tersenyum melirik mbah. "Kalau masakan ini enak, mulai besok aku yang akan memasak setiap hari, Mbah" Dini harap-harap cemas ketika sang nenek mencicipi hasil karya pertamanya.
"Enak kok, tapi tambah gula sama garam sedikit" jujur mbah Ambar.
"Siap Mbah" Dini menambahkan bumbu, kemudian melanjutkan memasak ikan goreng, ayam goreng, dan yang terakhir sambal. Setelah matang ia menata di dalam rantang.
Dengan semangat gadis cantik itu menghubungi Aksa. "Tunggu saya di tapal batas ya, Pak," pintanya di telepon genggam.
"Siap."
Mendengar jawaban Aksa, Dini pun akhirnya bersiap-siap. "Dini berangkat Mbah" pamitnya lalu pergi dengan motornya. Sepanjang perjalanan, Dini mengangguk sopan kepada siapapun yang ia jumpai. Seiring berjalannya waktu, dia sudah tahu adap bagaimana tinggal di desa yang penuh keramah tamahan.
Sawah membentang luas, padi mulai menguning, Dini tiba di tapal batas seperti yang dijanjikan kepada Aksa.
"Kamu membawa apa?" Tanya Aksa memandangi rantang yang Dini sangkutkan di motor.
"Saya ingin Ibunya Pak Aksa mencicipi masakan saya, tapi masih belajar sih, Pak. Hihihi..." Dini tertawa untuk menutupi rasa tidak percaya diri.
"Kamu mau menyogok calon mertua?" Kelakar Aksa tertawa renyah.
Dini segera naik ke atas motor, menyembunyikan wajahnya yang tersipu mendengar kata calon mertua. Dalam hatinya hanya bisa mengaminkan.
Dua motor itupun melaju sedang melalui jalanan desa. Rumah sederhana yang tidak ada bedanya dengan rumah penduduk desa yang lain. Sekeliling ditanami jagung yang sudah tinggi nyaris menutup bangunan tersebut. Begitulah tempat tinggal orang tua Aksa.
Aksa parkir di bawah pohon jambu air yang rindang diikuti Dini.
"Ini rumah orang tua saya Dini, tidak mewah seperti milik orang tua kamu."
"Siapa bilang rumah saya mewah, Pak," Dini merasa jika Aksa selalu sok tahu. Padahal dia sama sekali belum pernah tahu seperti apa keadaan rumahnya. Dini akui, rumah peninggalan almarhum ayahnya lumayan besar, tapi dalam ancaman Ringgo yang tidak mau diceraikan oleh Ratna.
"Mata saya itu ada empat Dini..." Aksa mentertawakan kata-katanya sendiri.
"Serem banget dong, Pak" Dini pura-pura ketakutan lalu menjauh.
"Ayo" Aksa menjauhi motornya bergerak ke teras rumah. Dini mengekor sembari membawa rantang. Tiba di depan pintu yang memang sudah terbuka, mata Aksa menangkap dua pria yang tengah ngobrol di ruang tamu.
"Assalamualaikum..." ucap Aksa.
Dua pria di dalam sana menoleh ke arah Aksa dan Dini. Satu pria menjawab salam tapi yang satu lagi hanya menatap wanita di sebelah Aksa.
Mata Dini membulat sempurna ketika membalas tatapan pria di dalam sana. Tanganya pun gemetar hingga akhirnya.
Praaank...
Rantang yang Dini pegang pun terlepas dan jatuh ke lantai teras.
...~Bersambung~...