NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah Malam Itu, Qinghe Tidak Kembali Sama

Serangan malam itu tidak berakhir saat fajar datang. Qinghe memang selamat. Tidak ada rumah yang runtuh dan tidak ada korban jiwa. Namun sesuatu telah berubah. Bukan pada bangunan, melainkan pada kenyataan bahwa dunia luar telah menemukan Yun Ma—dan dunia luar tidak pernah datang tanpa alasan.

Pagi itu, balai obat penuh. Bukan oleh orang sakit, melainkan oleh para tetua Qinghe. Wajah-wajah tua yang biasanya santai kini tampak tegang. Yun Ma berdiri di depan mereka, tenang seperti biasa. Xuan berdiri di sisi kirinya, sementara Ye duduk di belakang dengan sikap waspada. Hui bertengger di balok langit-langit dengan ekor bergoyang pelan, Ayin duduk dengan tangan menyilang, dan Gu Changfeng berdiri paling belakang—bukan sebagai tamu terhormat, bukan pula sebagai pemimpin, melainkan sebagai seseorang yang menunggu keputusan.

“Kami tidak bodoh,” kata Tetua Lin akhirnya. “Mereka datang karena kau.”

Yun Ma mengangguk pelan. “Benar.”

“Dan mereka akan datang lagi?”

“Iya.”

Keheningan menyelimuti ruangan. Bukan hening karena ketakutan, melainkan hening orang-orang yang sudah siap mendengar kenyataan buruk.

“Apa yang kau rencanakan?” tanya salah satu tetua.

Yun Ma menatap mereka satu per satu sebelum menjawab, “Aku akan mengakhiri ini. Sampai ke akar.”

Beberapa orang menarik napas tajam.

“Itu bukan urusan Qinghe,” lanjut Yun Ma sebelum ada yang menyela. “Karena itu aku tidak meminta izin.”

Xuan menoleh cepat ke arahnya, tetapi Yun Ma tetap melanjutkan ucapannya.

“Aku hanya memberi tahu. Karena Qinghe adalah rumahku. Dan rumah tidak boleh terseret ke dalam perang yang bukan miliknya.”

Tetua Lin menatapnya lama. “Kau akan pergi?”

“Iya.”

“Dan kalau kau gagal?”

“Mereka tidak akan datang ke sini lagi.”

Itu bukan ancaman, melainkan kepastian.

Tetua Lin menutup mata sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, Qinghe akan menunggu.”

-----

Mereka berangkat sore itu. Tidak banyak—hanya Yun Ma, Xuan, Hui, Ye, Ayin, dan Gu Changfeng. Tidak ada warga Qinghe lain yang ikut. Tujuan mereka jelas: wilayah selatan, tempat jaringan segel dan para pemburu bermula.

Di perjalanan, Gu Changfeng akhirnya bicara. “Akar segel itu bukan organisasi kecil. Mereka menyebut diri mereka Penjaga Keseimbangan.”

Hui mendengus. “Nama paling mencurigakan sedunia.”

“Mereka percaya dunia harus dikontrol,” lanjut Gu Changfeng. “Orang sepertimu… anomali.”

Yun Ma mendengarkan tanpa komentar.

“Apa tujuan akhirnya?” tanya Xuan.

“Mengikat sumber-sumber kuat,” jawab Gu Changfeng. “Atau menghancurkannya.”

“Dan Shen Yu,” kata Hui pelan, “jelas masuk daftar.”

Yun Ma berhenti berjalan, membuat yang lain ikut berhenti.

“Aku tidak akan membiarkan Shen Yu disentuh,” katanya datar.

Xuan menoleh padanya. “Kami tahu.”

Gu Changfeng menunduk. “Aku dulu membantu mereka. Tidak langsung. Tapi aku tahu jalurnya.”

“Kenapa berhenti?” tanya Ayin.

Gu Changfeng tertawa pahit. “Karena aku melihat apa yang mereka lakukan pada orang-orang yang tidak bisa melawan.”

Hui menatapnya tajam. “Dan Yun Ma?”

“Dia bukti hidup bahwa dunia tidak perlu dikurung.”

Tak ada yang menanggapi. Namun langkah mereka berlanjut.

------

Markas itu tersembunyi di lembah batu. Tidak megah dan tidak mencolok, tetapi penuh lapisan segel. Begitu mereka mendekat, Ye langsung berhenti. Bulu punggungnya berdiri.

“Banyak,” gumam Hui. “Dan tua.”

Xuan mengamati pola di batu. “Segel pengikat jiwa.”

Yun Ma menatap ke depan. “Aku yang masuk dulu.”

Xuan langsung menahan lengannya. “Tidak.”

“Aku yang mereka cari.”

“Justru itu,” jawab Xuan tegas. “Kita masuk bersama.”

Yun Ma menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

Mereka masuk, dan perang pun dimulai. Bukan perang besar, melainkan rangkaian pertarungan cepat, sunyi, dan mematikan. Ye menerjang bayangan, Hui memecah formasi dengan ilusi, Ayin bergerak cepat dan presisi tanpa ragu, sementara Xuan bertarung seperti benteng tidak mundur dan tidak goyah. Gu Changfeng bertarung paling keras, seolah setiap ayunan pedangnya adalah permintaan maaf.

Inti markas berada di tengah: ruang segel utama. Di sanalah mereka bertemu pemimpin Penjaga Keseimbangan, seorang pria tua dengan mata yang terlalu tenang.

“Yu Mailan,” katanya lembut.

Yun Ma melangkah maju. “Nama itu mati.”

“Tidak,” jawab pria itu. “Nama itu menunggu.”

Shen Yu bergetar di dalam ruang dimensi Yun Ma bukan karena gelisah, melainkan marah.

“Kau mengikat dunia dengan ketakutan,” kata Yun Ma. “Dan menyebutnya keseimbangan.”

“Kami mencegah kehancuran.”

“Kalian menciptakannya.”

Pria tua itu menghela napas. “Kalau begitu, buktikan.”

Segel di sekeliling ruang itu aktif bersamaan. Xuan langsung berdiri di depan Yun Ma.

“Lakukan.”

Yun Ma menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak menahan Shen Yu. Api sunyi muncul—tidak membakar dan tidak menghancurkan, melainkan memutus. Satu per satu segel retak, bukan meledak, hanya… mati.

Pria tua itu tersenyum tipis. “Begitu rupanya.”

Tubuhnya runtuh menjadi abu tanpa perlawanan terakhir dan tanpa ledakan, karena seluruh sistem segel bergantung padanya. Saat ia mati, semuanya berakhir.

-----

Butuh waktu berminggu-minggu untuk memastikan semuanya benar-benar selesai. Sisa-sisa jaringan runtuh sendiri, para pemburu kehilangan sumber, dan segel-segel rusak menjadi tak aktif. Tidak ada lagi pengejaran, tidak ada lagi peluit malam. Dunia kembali bernapas.

Mereka kembali ke Qinghe di pagi yang cerah. Tidak ada sorak sorai, hanya senyum lega. Tetua Lin menepuk bahu Yun Ma.

“Selamat datang pulang.”

Gu Changfeng berdiri di gerbang. “Aku akan pergi.”

Yun Ma menoleh. “Ke mana?”

“Ke tempat yang bisa kuperbaiki tanpa mengganggumu.”

Yun Ma mengangguk. “Hati-hati.”

Itu saja. Gu Changfeng tersenyum kecil, lalu pergi tanpa penyesalan tersisa.

Dunia yang Tenang

Beberapa bulan berlalu. Qinghe kembali seperti dulu. Anak-anak berlari, pasar ramai, dan balai obat sibuk. Suatu sore, Yun Ma duduk di depan rumah dengan Xuan di sampingnya. Hui tidur di atap, Ye berbaring malas, dan Ayin menyeduh teh.

“Jadi,” kata Hui setengah menguap, “dunia sudah selesai.”

“Untuk sekarang,” jawab Yun Ma.

Xuan menoleh. “Dan kau?”

Yun Ma menatap langit. “Aku di rumah.”

Xuan tersenyum. Untuk pertama kalinya, tidak ada bayangan masa lalu—tidak ada kejaran dan tidak ada nama lama. Hanya hari-hari biasa.

Dan itu cukup.

Bersambung

1
Narimah Ahmad
makasih thor ,👍akhirnya selasai juga
Shai'er
end 🥺🥺🥺
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
Shai'er
karena memang........bahagia itu tak perlu dijelaskan🥰🥰🥰
Shai'er
🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Shai'er
suami + ayah siaga🥰🥰🥰
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
ikutan lega 😌🥰🥰🥰🥰
Shai'er
lahir😱😱😱🥰🥰🥰🥰
Shai'er
🥰💪🏻💪🏻💪🏻
Shai'er
jadi rileks sedikit, untung ada Hui 🥰🥰🥰
Shai'er
ikutan dagdigdurser😣😣😣
Shai'er
😱😱😱😱😱
Shai'er
🥺🥺🥺🥺🥺
Shai'er
🥰🥰🥰🥰🥰
Shai'er
capek😣😣😣
tapi menikmati 🥰🥰🥰
Diah Susanti
disini 3 hari sama dengan 1 tarikan napas/beberapa detik. terus diatas penjaga ruang dimensi bilang '1hari disana = 10 hari diluar' yang benar yang mana
Biyan Narendra
Terimakasih thor
yeti kurniati1003
menarik
Narimah Ahmad
masa lalu biarlah berlalu , yang penting masa depan hadapi seadanya
Shai'er
sudahlah 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!