NovelToon NovelToon
Lies Of Marriage

Lies Of Marriage

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pelakor / Romansa / POV Pelakor / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?

"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"

"Kenapa kalian bohong kepadaku?"

"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 : Kebenaran untuk Liana

Setelah menunggu cukup lama, ibunya Liana akhirnya datang. Wanita itu memasuki rumah dengan langkah yang tergesa-gesa dan melihat Yudis yang sedang duduk di ruang tamu dengan keadaan yang kacau. Pakaiannya kusut, wajahnya berantakan dan, seperti ada luka pada tangannya.

"Dis...? Kamu kenapa?" Wanita itu mengernyit dan menatap penuh tanda-tanya kepada Yudis.

"Liana ngamuk lagi, dia mencoba untuk melukai dirinya sendiri dengan pecahan gelas...," jawabnya dengan napas berat.

"Lalu, Liana di mana? Dia baik-baik saja 'kan?" Wanita itu langsung panik setelah mendengar pengakuan Yudis. Pikirannya tentu langsung tertuju kepada sang anak. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Liana.

"Tenang saja, dia lagi ditangani sama Dimas...," ucapnya sambil memandang ke arah pintu ruangan kamar Liana yang masih tertutup.

Tak lama pria itu keluar dari ruangan kamar. Liana sepertinya sudah berhasil ia tenangkan kembali. Dimas berjalan mendekati Yudis serta ibunya Liana yang menatapnya dengan pandangan cemas sekaligus penasaran.

"Dimas, Liana bagaimana?" Wanita itu langsung bertanya tentu saja.

"Dia sudah tenang, tak usah khawatir, tapi emosinya memang sulit untuk dikendalikan...," jawab Dimas sambil menarik napas. "Bu, kalau bisa, Liana harus diberitahu semuanya, jangan biarkan dia tenggelam dalam halusinasi terlalu lama, itu justru akan memperburuk, saya khawatir dia bisa lebih nekad dari sekarang...," ucap Dimas dengan jujur.

"Tapi kalau terjadi apa-apa sama Liana, Ibu harus bagaimana?" Wanita itu menatap Dimas dengan hati tak tenang. Semua sudah terlanjur ia lakukan, kalau sampai harus terbongkar sekarang, khawatir Liana akan marah padanya.

"Saya akan bantu mendampingi jadi tenang saja," jawab Dimas yang bersedia untuk membantu kali ini, karena menurutnya kejiwaan Liana saat ini sangat terguncang.

Ibunya Liana dan Yudis saling menatap dalam diam setelah mendengar penjelasan Dimas. Keduanya sedang mencoba untuk meyakini sesuatu kalau ucapan Dimas adalah jalan terbaik bagi mereka.

"Saya setuju dengan Dimas, karena saya sudah lelah menjalani kebohongan dan harus mengkhianati hati sendiri," ucap Yudis dengan yakin kali itu.

"Ba-baiklah kalau begitu..., Ibu ikut dengan kalian...." Wanita itu pun akhirnya bersedia untuk ikut jujur tanpa menutupi apapun lagi kali ini.

.

.

Liana kembali terbangun, kali ini dengan kamar yang sudah dipenuhi oleh beberapa orang. Yudis dan Dimas sedang berdiri di hadapannya, sementara sang ibu yang ternyata datang segera duduk di samping ranjang.

"Li, kamu gimana? Apa yang kamu rasain sekarang?" Ujarnya lembut sambil merangkul bahu sang putri dari belakang.

"Kok, Ibu kemari? Mas, Yudis yang bilang?" Tanya Liana curiga dengan nada kesal.

"Bukan, tapi Dimas...," jawabnya dan melirik ke arah Dimas.

"Hmph, Ibu seharusnya gak usah kemari. Aku baik-baik saja!" Liana melipat tangan di dada, menatap ketus pada Yudis.

"Li, ada yang harus kita bicarakan di sini...." Nada suara wanita itu berubah serius.

Liana yang menyadari perubahan sikap dari sang ibu akhirnya menatapnya dengan penasaran. Jantungnya jadi berdegup keras seperti ia yakin, tak lama lagi akan ada sesuatu yang menyakiti hatinya.

"Ibu minta maaf sama kamu, nak..., karena sebenarnya Ibu yang meminta Yudis untuk berpura-pura jadi suami kami di masa kacau...," ujarnya sambil membelai lembut kepala Liana dari puncaknya.

"Liana tau, makanya Liana gak bisa memaafkan dia!" Liana menatap tajam Yudis sambil menunjuknya dengan penuh emosi. "Dia udah mempermainkan perasaan Liana dan tertawa di atas kebodohan Liana sendiri!"

"Apa maksud kamu, An?" Yudis tampak tak terima dengan penghakiman sepihak yang ia terima selama ini dari Liana, juga saat ini. Jujur saja, kalau bukan karena ibunya Liana yang memohon dan melihat betapa menyedihkannya Liana saat itu, Yudis gak bakal setuju untuk ikut masuk dalam panggung sandiwara yang direncanakan oleh keluarganya Liana sendiri.

"Selama ini kamu berpura-pura baik sama aku waktu di kampus. Mendekatiku untuk menghancurkan ku! Untuk apa kita berpacaran selama ini kalau pada akhirnya kamu tinggalkan aku karena kamu milih Tiara? Kamu Munafik!" Cecar Liana tanpa henti.

"Aku gak pernah pura-pura baik sama kamu, An! Aku memang ingin berteman sama kamu, apa itu salah?" Yudis bicara jujur, namun meski begitu, Liana tampak tetap tidak terima.

"Kalau kamu gak suka sama aku, gak seharusnya kamu baik ke aku, Mas!" Balas Liana yang merasa tertipu oleh sikap Yudis.

"Itu masalah kamu, An! Kamu menyalahartikan sikap baik seseorang sebagai sesuatu yang berbeda! Karena kamu berharap!" Yudis hampir saja meledak kalau bukan Dimas yang menepuk pundaknya untuk tenang. Napas pria itu sudah memburu. "Aku hanya bersikap baik kepada teman dan peduli sama kamu, An...." Pria itu menghela napas kecil. Ia gak pernah melakukan tindakan di luar batas kepada Liana, hanya saja gadis itu salah-paham.

"Saat itu aku sudah dekat dengan Tiara, tapi..., kami takut kamu gak bisa terima semua itu karena kita bersahabat, jadi terpaksa kami menutupinya..., An, aku minta maaf...." Satu kata itu akhirnya terucap dari bibir Yudis. Ia sudah sangat lelah dengan semua salah-paham ini.

Liana menangis, dia kesal tapi tak bisa marah karena sadar semua ini salahnya. Dia belum bisa melepaskan Yudis, kebaikan pria itu yang memang membuatnya jatuh cinta dan merasa aman.

"Pergi!" Liana berteriak lantang. "Pergi sekarang juga, aku gak mau lihat kamu!! Pergi!!" Ujarnya sekali lagi sambil menunjuk ke arah pintu.

"Aku akan pergi, An, tapi setelah ini, sudah gak ada hutang di antara kita," ucap Yudis sedikit geram dengan perlakuan Liana. "Aku sudah melakukan tugasku dari orangtuamu, dan kamu..., semoga lekas sembuh, An, maaf gak bisa bantu banyak...,dan cukup, ini saya kembalikan...." Yudis menyerahkan cek sebesar 1 milyar itu kepada ibunya Liana. "Saya permisi...."

Yudis akhirnya benar-benar pergi dari sana. Ya, kali ini dia pergi dan tidak akan kembali tanpa membawa semua barang-barang miliknya yang ada di dalam rumah itu. Semua masalah akhirnya jelas meski dengan cara yang tidak terlalu diharapkan oleh Yudis. Tapi apa boleh buat, itu resiko yang harus diterimanya.

Liana dapat mendengar suara mobil pria itu, dan seketika tubuhnya reflek bergerak. Ia bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar sambil berteriak, memanggil nama Yudis kembali.

"Mas Yudis! Tunggu, Mas!!" Liana berlari ke arah halaman parkir depan rumahnya dan melihat mobil itu mundur perlahan.

Dimas dan ibunya Liana ikut keluar. Keduanya berusaha menahan Liana yang hampir saja berlari keluar pagar untuk mengejar Yudis.

"Kenapa kamu tetap memilih Tiara, Mas?! Aku orang yang pertama kenal dan dekat sama kamu, kenapa harus Tiara!!" Liana meraung di jalanan depan rumahnya sambil dipegangi oleh Dimas dan sang ibu.

"Bu, kita bawa masuk Liana ke dalam saja," ujar Dimas saat suara tangisannya mulai menarik perhatian tetangga sekitar.

Apa yang akan terjadi dengan nasib Liana setelah ditinggalkan oleh Yudis yang selama ini hanya anggap dia teman?

.

.

Bersambung....

1
sutiasih kasih
jgn lm" hmpaskn para pnghianat....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
Panda: siapkan jiwa raga kak

makasih sudah mampir
total 1 replies
sutiasih kasih
klo km ngotot cerai.... setidaknya punya lah hrga diri yudis.... srcara sadar keluar dri zona nyamanmu slm ini yg mmberimu ketenaran karir...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sutiasih kasih
knapa km msih mau prtahanin laki" macam yudis....
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!