Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Senang sekali rasanya tatkala beberapa video yang ku upload di toktok di stich bahkan di komentari beberapa aktris. Di tambah beberapa brand ternama mulai menghubungiku dan meminta kerja sama denganku, aku bersyukur sekali.
Perlahan-lahan konten memasakku mulai terkenal, beberapa orang juga ada yang me-recook masakanku dan mengomentarinya yang baik-baik, walau tak sedikit juga ada yang menjelekan masakanku dan juga benci dengan kontennya. Kontennya terlalu basi lah, hanya makan-makanan itu saja lah dan banyak lagi__tentu saja tak ku hiraukan ujaran-ujaran kebencian itu dan tetap fokus pada tujuan utamaku, yaitu mencari uang lewat tayangan bermanfaat yang ku sajikan dalam bentuk konten di toktok.
“Ma, lagi apa sih?.“Suara Bintang anakku terdengar serak, tampaknya Buntang baru saja bangun dari tidur siangnya, aku pun membalik tubuhku, tersentum lebar dan memandang wajahnya yang terlihat masih berantakan sekali, ada bekas iler di pipi dan di dekat dagu, pun rambutnya yang masih acak-acakan, tapi tidak masalah. Anakku tetap anakku, dia pria yang paling tampan dan selalu membuatku bersyukur karena bisa melahirkan dan menghadirkannya ke dunia ini.
“Lagi kerja sayang.“
Anak itu pun ikut duduk di samping tubuhku, kedua tangannya yang kecil mengelap matanya beberapa kali sampai Bintang terlihat memeloto layar laptopku, di mana terpampang nyata beberapa video di akun toktokku yang sudah menembus jutaan.
“Mama dapet uang dari laptop, ya?.“Tanyanya sambil menunjuk salah satu videoku yang sudab fyp, di tonton jutaan dan di komen jutaan juga.
Aku mengangguk”Iya.“
“Kalau gitu, Bintang mau kerja juga, mau bantuin mama.“Tukasnya dengan menatapku dengan tatapan polosnya dan membuatku menghela nafasku panjang__hei, dia masihlah anak kecil, walau terkadang sempat beberapa kali terlihat agak sedikit dewasa dengan kata-katanya, terlebih setelah punya kakak (Arthur) tapi lihatlah, memang Bintang ini masih kinyis-kinyis, polos dan belum paham.
kepalaku menggeleng keras lalu menepuk-nepuk pucuk kepalanya lembut dan mendaratkan beberapa kali kecupan di sana.
“Enggak sayang, mama aja yang kerja. Mamu mah main aja sama kakak Arthur atau nenek.“
“Tapi mama kan lagi hamil!.“
Aku mengulas senyum”Gak papa, adek mah anteng kok, dia gak rewel, katanya adek senang ikut kerja sama mama.“Tukasku sambil meniru suara anak kecil, Bintang menggeleng, kedua matanya terlihat berkca-kaca dan sudut matanya berair, anakku menangis.
“Lho lho, kamu nangis sih. Kenapa hm?.“Tanyaku baik-baik sambil mengunci tatapannya, kedua bahu anakku naik turun seiring hembusan nafas yang terdengar lewat mulutnya.
“Mama, gak usah kerja. Biar papa Darel yang kerja!! Kasihan mama sama adek..hiks hiks..“
Kok jadi bawa-bawa Darel sih? Mana bisa? Darel itu orang asing, masa iya aku meminta uang pada dia? Astaga.. Bintang ini, jangan bilang kalau dia masih menganggao Darel betulan sudah menjadi papanya alias suamiku, ya?!
“Udah-udah, kerjaan mama ringan kok, cuman masak-masa sama edit video aja. Kalau mama gak kerja, mama gak bisa beli ice cream, robot-robotan, mobil-mobilan sama jajan Bintang.“
“Papa Darel ngasih aku uang kok, papa Afif juga!.“
Ck.. hanya lima ratus ribu rupiah dan tentu saja tidak akan sanggup untuk mencukupi semua kebutuhan aku dan Darel.
“Uangnya di tabung aja.“
Bintang mengangguk, namun terdengar menghela nafas panjang.
“Kalau gitu Bintang bantuin, ya?.“
Aku menggeleng sambil masih tersenyum”Biar mama aja, Bintang masih kecil, belum waktunya.“
Terlihat raut wajah anakku masam dan seolah tak terima.
“Tapi Bintang pingin bantuin mama.“
“Bagaimana kalau Bintang telepon kakak Arthur?.“Usulku untuk mrngalihkan keinginan Bintang yang akan merecokiku, Bintang terlihat terdiam, kedua bola matanya bergerak memutar, sampai anggukan terlihat di kepalanya.
Ku hela nafasku lega, lantas aku pun menarik ponselku fan mengetik sesuatu di sana, sampai terdengar kata 'hallo' lalu ku berikan teleponku pada Bintang.
Selagi Bintang mengobrol dengan kakaknya, aku kembali melakukan edit di salah satu video yang ada di laptopku,beberapa menit setelahnya aku meng-uploadnya.
Keningku mengeryit dalam ketika ekor mataku melihat sebuah pesan yabg ku dapat, saat ku klik untuk membuka serta membaca, kedua mataku membeliak drngan mulut setengah menganga karena kaget__.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Sebuah endors yang masuk ke dalam inbox di toktokku dan memintaku untuk melakukan akting bersama pasangan dengan kaos couple dan kami memasak bersama.
Bayarannya lumayan besar juga, lumayan kalau aku tolak. Cukuplah untuk jajan Bintang selama sebulan penuh. Tapi__Arka, ya. Adik sepupuku yang harus ku paksa supaya mau menjadi pasanganku.
****
Matahari terlihat begitu terik sekali hari ini. Panas membara, membust tubuh letih dan kehausan selalu. Pada akhirnya aku pun terpaksa turun dari mobil dan memilih singgah pada salah satu mall yang menjadi tempat pertemuan kami.
Aku seorang diri dan tidak memberitahu bibi atau siapapun, aku tak mau mereka cemas. Lagi pula ini tempat ramai, tidak akan ada sesuatu yang akan terjadi, atau lebih tepatnya takan ku biarkan sesuatu terjadi kepadaku.
Kakiku melangkah pelan, kedua mataku menyusuri tempat itu sampai aku sampai di lantai tiga, tempat janjian kami. Ku susuri secara perlahan-lahan, sampai rkor mataku menemukan seseorang dengan dress hitam dan rambut yang memang di gerai seperti yang ia bilang, dia memunggungiku, sebelum aku ke sana, ku tarik nafasku panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan.
“Ehm..“Aku berdehm pelan setelah sampai tepat di depannya dan membuat seseorang itu kini mendongak dan menatapku dengan tatapan yang mmebuatku risih.
Aku duduk dan dia menyeruput minumannya lalu kembali menatapku dengan seduktif.
“Kamu telat.“Ujarnya, aku mengangguk pelan sambil meringis.
“Maaf.“Sesalku, aku bukan sengaja untuk telat, tetapi mau bagaimana lagi, aku ketiduran karena kecapean, dan ya. Aku buru-buru ke sini karena sudah ingat tentang janjiku pada wanita yang daat ini masih memandangku dengan tatapan yang membuatku dangat risih sekali.
“Kamu mau pesan apa?.“Tanyanya, aku menggeleng.
“Eum jus alpukat aja, aku udah makan kok.“
Dia mengangguk lalu memanggil waitress dengan melambaikan tangan, tak lama seorang waitress perempuan pun datang dan menuliskan pesananku lalu meninggalkanku dan wanita itu.
“Dapet nomorku dari mana?.“Tanyaku, dia tersenyum sinis.
“Mas Afif.“
“Dan untuk apa kamu menyuruhku datang ke sini?.“Tanyaku lagi, tentu saja aku tidak akan percaya kalau dia bilang hanya ingin bertemu denganku, kami tidak sedekat itu untuk saling bertemu dan mengobrol layaknya teman. Kami tidak dekat selama ini, aku juga mengira kalau dia memang tidak menyukaiku, beberapa kali dia bahkan terlihat menatapku sinis dan tersenyum kecil tatkala kejadian-kejadian yang tak mengenakam terjadi padaku__namun beberapa waktu lalu, tidak angin dan hujan tiba-tiba dia mengirimiku pesan dan meminta bertemu dengannya. Aku yang penasaran pun tentu saja mengiyakan saja.
“Bisa enggak kamu ke luar kota aja?.“
What, buat apa? Lagian aku sudah tidak tinggal di dekat rumahnya apalagi satu sekolah dengan anaknya dan kenapa harus?
Dengan kening mengeryit aku pun menatapnya.
“Aku akan beri kamu uang berapapun, itu!!.“
“Kenapa memangnya aku harus pergi? Apakah kamu terganggu denganku?.“Tanyaku, dia mengangguk dengan tatapannya yang seakan mengunci tatapanku
Aku tersenyum meringis”Kamu terganggu denganku? Padahal aku tidak melakukan apapun__.“
“Kamu merecoki rumah tanggaku.“Ujarnya yang membuatku terbahak, tak salah? Harusnya itu kalimat yang aku ucapkan padanya, tetapi tidak__aku sadar, seberapa pun keras aku menyalahkan pelakor, dia masuk ke rumah tanggaku bukan karena kemauan dia saja, tetapi ada sang tuan rumah yang juga ikut mempersilahkan, makanya waktu itu aku tidak mau bertemu dengannyq berdua lalu melabraknya, untuk apa? Toh Afif dan dia juga sudah menikah.
“Apa yang ku lakukan?.“Tanya penasaran, merecoki dari sebelah mananya? Bahkn aku memblokir nomor Afif dan menutup akses komunikasi dengan pria itu.
“Kamu membuat Afif goyah.“Keningku semakin mengeryit dalam, goyah? Maksudnya?
“Sepertinya Afif berniat mempertahankan rumah tangga kalian, dia bilang sama aku, kalau dia sebetulnya masih cinta sama kamu.“