NovelToon NovelToon
Bos Tampan Itu Kekasihku

Bos Tampan Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Fantasi Wanita
Popularitas:215
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemilik Hati

Malam itu, Arka akhirnya menyerah pada desakan kedua sahabatnya. Mereka bertiga berakhir di sebuah warung sate kambing legendaris di pinggiran Jakarta, tempat favorit mereka sejak awal masuk kuliah. Suasananya berbeda dengan rooftop tempat Arka membawa Alana tempo hari, tapi disinilah Arka bisa menjadi dirinya sendiri tanpa embel-embel nama besar.

Asap sate yang mengepul dan suara bising kendaraan menjadi latar belakang percakapan mereka.

"Nah, gini dong. Makan sate, keringatan bukan makan cantik di Mall terus," cetus Budi sambil sibuk melepaskan daging sate dari rusuknya.

Satria menyesap teh botolnya, lalu menatap Arka dengan penuh selidik.

"Jadi gimana rasanya jadi pahlawan kesiangan yang akhirnya dapat tuan putri? Cerita dong, sejak kapan seorang Arka Aditama yang 'alergi' cewek kampus bisa jadi sebucin itu?"

Arka terkekeh sambil mengaduk kecap di piringnya. "Gak tahu ya. Awalnya cuma merasa dia unik karena berani bentak aku. Tapi setelah tahu dia di jebak Christian, rasanya... aku nggak bisa diam aja. Ada menginap buat melindungi dia terus."

"Dih, bahasanya 'melindungi'. Bilang aja takut kehilangan," goda Budi sambil menyenggol lengan Arka. "Tahu nggak, Ka? Kemarin pas kamu nggak masuk gara-gara nganter Alana kontrol kesehatan, si Shinta sama genknya sampai nanya ke kita. Mereka bilang, "kok Arka mau sih sama anak baru yang nggak jelas bibit bobotnya?"

Wajah Arka langsung berubah serius. "Kalian jawab apa?"

"Ya kita jawab jujurlah," kata Saria santai. "Kita bilang, Alana itu jelas bibit bobotnya, buktinya dia bisa bikin es kutub kayak Arka jadi cair. Langsung bungkam mereka semua."

Tiba-tiba ponsel Arka di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dengan nada khusus yang berbeda dari yang lain. Arka refleks meraih ponselnya, dan sedetik kemudian, senyum tipis yang sangat tulus muncul di wajahnya.

Budi dan Satria serentak berhenti mengunyah. Mereka saling pandang, lalu menggelengkan kepala bersamaan.

"Na.. kan, na... kan? senyumnya keluar lagi," sindir Satria sambil nunjuk wajah Arka dengan tusuk sate. "Baru juga diomongin eh "alarm" cintanya sudah bunyi."

"Dari Alana?" tanya Budi.

Arka mengangguk pelan. "Dia cuma bilang sudah selesai belajar dan mau tidur. Dia ngingetin aku jangan pulang kemalaman dan jangan lupa minum air putih."

"Ya ampun, Ka. Itu mah pesan biasa!" seru Satria gemas. "Tapi kenapa muka kamu kayak baru dapat lotre 10 miliar? Kamu benar-benar sudah nggak tertolong, ya?"

Arka meletakkan ponselnya kembali. Tapi binar di matanya tidak hilang. "Kalian mungkin lihat ini lebay. Tapi buat aku yang dari kecil terbiasa dengan orang-orang yang mendekat karena ada maunya, perhatian kecil kayak 'jangan lupa minum' itu rasanya beda kalau datang dari Alana. Dia nggak peduli aku Aditama atau bukan, dia cuma peduli aku haus apa nggak."

Budi terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Arka dengan tulus. "Oke, oke, kita paham. Jujur, kita senang lihat kamu kayak gini, Ka. Lebih hidup daripada Arka yang dulu cuma fokus.pada angka dan bisnis Bokapnya.

Tapi tetep ya!" Satria menyela sambil nyengir. "Jatah mabar sama kita jangan dipangkas total. Bisa-bisa kita demo ke rumah Alana kalau pangeran kita ini di culik terus-terusan!"

Arka tertawa lepas, tawa yang sangat jarang terdengar di kampus. Di tengah kepulan asap sate dan godaan para sahabatnya, ia merasa sangat bersyukur. Ia memiliki keluarga yang mendukung, sahabat yang setia, dan seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya dengan cara yang paling sederhana namun luar biasa.

Setelah menghabiskan sate kambing dan puluhan tusuk candaan, malam itu di tutup dengan tawa. Arka, Budi dan Satria akhirnya berpisah di parkiran.

"Hati-hati Tuan muda, jangan sampai mampir ke rumah Alana lagi, ini sudah hampir tengah malam!" Seru Satria dari atasan motornya.

Arka hanya melambaikan tangan sambil masuk ke mobil hitamnya. Di sepanjang jalan pulang, ia teringat kata-kata sahabatnya. Memang benar, ia merasa "lebih hidup" sekarang. Tak lama kemudian mobil hitam mewahnya sudah memasuki area penthouse Orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Arka pun berjalan masuk penthouse dan langsung menuju ke kamarnya.

"Baru pulang, gantengnya Mama?" Arka di kaget kan oleh suara Mamanya yang ternyata belum tidur.

"Mama, belum tidur? Udah malam lho ini," kata Arka lalu meraih tangan Mamanya dan menciumnya dengan takzim.

Mama Aulia mengacak rambut Arka. "Belum, Mama nungguin kamu, abis dari mana kok pulangnya malam banget?"

"Abis makan-makan sama Budi dan Satria, Ma. Udah lama nggak makan-makan sama mereka jadinya mereka demo," kata Arka sambil tertawa kecil.

Mama Aulia dan Papa Ryan cukup kenal dengan kedua sahabat putra mereka itu. Karena Arka sering membawa mereka datang ke penthouse.

"Oh, kirain abis jalan sama Alana. Ingat ya, kalau bawa anak gadis orang jangan sampai terlalu malam dan harus selalu di jemput dan antar kembali sampai rumahnya, ketemu sama orang tuanya. Itu baru namanya Laki-laki gentle," kata Aulia lagi.

"Siap Ibunda Ratuku yang cantik. Udah aku mau mandi dulu rasanya gerah banget. Mama tidur gih, Papa pasti udah ngorok tuh," kata Arka lagi.

"Papa belum lama masuk ke kamar, tapi mungkin udah tidur karena kelihatannya Papa kamu itu cape banget hari ini. Abis mandi langsung tidur ya, jangan begadang."

Aulia kemudian berjalan menuju kamarnya. Arka juga berjalan menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri, Arka langsung melemparkan dirinya di atas ranjang King sizenya yang super empuk. Sebelum ia memejamkan matanya, Arka merencanakan sesuatu untuk esok hari.

********

Keesokan harinya, suasana Kampus Universitas Internasional Jakarta sedang ramai-ramainya karena pergantian jam kuliah. Seperti biasa sekelompok Mahasiswi termasuk Sinta dan gengnya, sedang berkumpul di lobi utama, tempat strategis untuk memantau siapa saja yang lewat.

"Katanya Arka bakal telat hari ini karena ada urusan perusahaan," bisik salah satu dari mereka.

Namun mereka salah Sebuah mobil bak terbuka dari toko bunga baru saja berhenti di depan lobi. Petugas toko bunga itu menurunkan sebuah buket bunga mawar pink yang sangat segar dan indah.

Tak lama kemudian, Arka muncul demgan kemeja putih yang lengannya di gulung hingga siku, terlihat sangat tampan dan berwibawa. Bukannya masuk ke kelas, ia justru menghampiri petugas bunga itu, mengambil buketnya, dan berdiri tegak di tengah lobi.

Semua mata tertuju padanya. "Buat siapa bunga itu? Shinta, apa buat kamu?" bisik teman Shinta penuh harap. Shinta sudah mulai merapikan rambutnya, merasa percaya diri.

Namun, saat Alana muncul.dari arah tangga dengan wajah bingung karena melihat kerumunan, langkah Arka langsung tertuju padanya.

Arka berjalan membelah kerumunan, mengabaikan tatapan iri yang seolah ingin membakar tempat itu. Ia berhenti tepat di depan Alana dan menyodorkan buket besar itu.

"Selamat pagi, Alana," ujar Arka dengan suara yang cukup keras, hingga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. "Aku ingat, kemarin kamu bilang suka bunga mawar warna pink, karena ketika menatap bunga mawar pink perasaan menjadi nyaman dan positif, sama seperti aku yang merasa nyaman dan berpikiran positif saat dekat denganmu."

Alana terbelalak, wajahnya seketika merah padam. "Arka... ini, semua orang melihat kita."

"Biarkan saja," jawab. Arka santai. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ternyata isinya bukan perhiasan mewah, melainkan gantungan kunci kustom berbentuk miniatur alat gambar arsitektur dengan inisial nama mereka. "Dan ini untuk tas barumu, supaya semua orang tahu siapa pemilik hati pemilik tas ini."

Bersambung.......

1
mamayot
haiiiii aku mampir thor. semangat
Rachel Imelda: Makasih.....😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!